Search This Blog

Thursday, December 8, 2016

Banjir Karakter Ganjil dalam Jakarta Sebelum Pagi

Judul: Jakarta Sebelum Pagi
Pengarang: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie 
Penyunting: Septi WS
Cetakan: Mei, 2016
Tebal: 270 hlm
Penerbit: Grasindo 

30009042

Pertama, buku ini tentang babi ... ada banyak sekali kata babi di dalam novel ini.

"Bukan hal yang mudah, mengingat bagian bawah rambutku dicat berwarna jambon babi. JAMBON BABI APAAN SIH?" (hlm. 49) 

Kedua, kenapa ada babi? Karena karakter utama di buku ini, Emina Nivalis, uniknya kebangetan. Baru kali ini saya menemukan karakter yang tidak ragu menyerupakan diri dan orang-orang di sekitarnya sebagai babi. Temannya ia panggil babi, bahkan calon pacarnya pun disebutnya babirusa yang pintar. Ini kalau ada yang alergi babi bisa dipastikan terkaget-kaget saat membuka halaman-halaman awal Jakarta Sebelum Pagi. Sudah siap membaca novel kocak tapi sebetulnya cerdas ini?

"... karena kecerdasan hanya dimiliki orang-orang yang mau mendengar jawaban orang yang lebih cerdas darinya." (hlm. 97)

Kemudian, sampai di bab kedua, kita mulai merasa wajar kenapa babi-babi ini banyak sekali bermunculan. Bukan karena ini novel tentang satire babi macam Animal Farms, tetapi memang tokoh utamanya yang absurd banget, tetapi sekaligus malah bikin Emina ini khas, tak terlupakan. Ziggy benar-benar pandai dalam membikin karakter yang beda, yang bedanya pun nggak tanggung-tanggung. Saat membaca Seaside saya menemukan kalau penulis bernama asyik ini memang nggak pernah tanggung-tanggung dalam membuat karakter. Begitu juga tokoh utama dalam novel ini: anehnya sama sekali nggak nanggung. Dan bukan hanya Emina, tokoh-tokoh lain yang mewarnai buku ini juga luar biasa ganjil, nggak biasa, tapi seru. Ada Nissa, gadis berjilbab teman dekat Emina, yang kebangetan banget anehnya. Nissa ini mengingatkan kita pada teman-teman gaul di kantor yang cuek bebek tetapi sesungguhnya sangat menikmati hidup (paling tidak dengan caranya sendiri). Salut untuk Ziggy dalam hal karakterisasi. Ini contoh karakterisasi dari Emina yang wah itu:

"Kalau kedinginan, aku akan mulai kentut-kentut dan mengalami kenaikan minat untuk pup; dan ini adalah dua hal yang tidak aku inginkan ketika sedang melakukan hal serius bersama teman baru." (hlm. 95)

"Untungnya, aku nggak punya kebiasaan untuk pura-pura paham." (hlm. 86)

Lalu masih ada lagi, Saki dan Abel. Yang pertama adalah gadis 12 tahun pemilik sebuah cafe minum teh yang berada di seberang apartemen Emina. Saki ini kalau dibandingin boneka, adalah boneka Jepang yang mulus dan manis tetapi mulutnya serusuh duri dalam daging. Ia adalah representasi anak yang terlalu cepat dewasa sehingga jadi terlalu serius dalam memandang hidup. Emina yang 25 tahun aja sering melongo kalau diceramahin Saki. Saki ini juga jago bikin teh ala Jepang yang ribet itu, udah gitu dia sering banget nyindirin Emina yang disebutnya sangat tidak menghargai kebudayaan manusia yang adi luhung wkwkwk. Tapi, dari Saki ini kita jadi belajar banyak tentang upacara minum teh ala Jepang, termasuk cara mengaduk teh dan posisi memegang gelas saat meminum teh. Kemudian, ada Abel. Well, he is a different case. Kalau diumpamakan sebuah boneka, Abel ini adalah boneka eh manekin yang gagah tapi rusak di dalam. Masa kecilnya yang mengerikan telah menggoreskan semacam (eh dua macam) trauma yang sedemikian mendalam pada jiwanya. Dia sama sekali nggak kuat mendengarkan suara yang keras, juga akan merasa sangat kesakitan ketika disentuh. Masalahnya, Abel ini suka sama Emina sejak kecil. Kan, babi banget? Terus gimana coba?

"Just remember, prinsip kehidupan sosial itu sama seperti ketika berpapasan dengan ular: yang satu sama takutnya dengan yang lain." (hlm. 84)

Cerita besar inilah yang hendak diangkat Ziggy lewat Jakarta Sebelum Pagi. Mungkinkah mencintai tanpa pernah bisa menyentuh dan bicara kepada dia yang kita sayangi. Ini saja sudah rumit, eh Ziggy malah makin mempercantiknya dalam skema cerita yang berbau teka-teki. Sebenarnya alur cerita awalnya sederhana, tetapi dikembangkan jadi unik dan menarik oleh si penulis. Dan selain karakter-karakternya yang sangat nggak umum, narasi (karena memakai sudut pandang orang pertama, yakni si Emina) dan alurnya juga nggak umum. Ada manisnya, ada sedihnya, tapi kocaknya nggak kalah banyak. Bisa dibilang novel ini rame banget. Satu lagi, Ziggy banyak menyelipkan kalimat-kalimat yang quotable banget disela-sela kesablengan Emina atau keseriusan Saki atau kemelow-an Abel. Selain itu, perumpamaan yang digunakan Ziggy (lewat mulut ember Emina) benar-benar diluar dugaan, tapi sekaligus unik dan fresh. Bagi yang pernah membaca Comedy Apparation, nada-nadanya hampir mirip dengan di novel itu. Misalnya saja, si Emina ini menjuluki Abel yang jalannya begitu lambat sampai dia berharap manusia bisa menumbuhkan klakson. Perumpanaan yang cerdas ini sebetulnya, tapi kocak. Empat bintang penuh untuk novel random tapi unik ini.

"Jangan pernah membaca karena ingin dianggap pintar, bacalah karena kamu mau membaca, dan dengan sendirinya kamu akan jadi pintar." (hlm. 72)












6 comments:

  1. Banyak yang bilang novel ini absurd, tapi baru kali ini baca review-nya. Sepertinya aku dapat bayangan kenapa dibilang begitu haha. Jadi pengin baca segera.

    ReplyDelete
  2. Ziggy bisa dibilang penulis yang kadang nyeleneh. Tapi di novel San Francisco, saya belum merasak WOW dengan ide nyelenehnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum baca San Francisco, itu romance banget nggak?

      Delete
  3. Sependapat dengan Mas Adin. Saya uda baca San Francisco, tapi entah kenapa saya belum bener2 dapat yang Wow dari Ziggy. Yang bikin saya suka cuma latar belakang tokoh dan plot twist nya yang keren.

    Dan Jakarta Sebelum Pagi adalah salah satu wish list saya dari Ziggy selain Seaside. Rasanya ingin benar2 mendapat sesuatu yang WOW itu. Semoga bisa berkesempatan baca :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mau coba karya Ziggy yang agak beda, novel Seaside bisa dicoba tuh. Trims ya.

      Delete