Penulis: Ricard Carlson
Penerjemah:
Cetakan: 3, 2006
Penerbit: Gramedia
sumber: gramedia.com |
Di antara deretan buku-buku
motivasi yang turut membentuk diri saya yang sekarang adalah seri Don’t Sweat Small Stuffs atau Jangan Meributkan Hal-Hal Kecil karya Ricard
Carlson. Buku utama ini karena disukai kemudian berkembang menjadi seri-seri
dengan segmen khusus namun tetap dengan fokus utamanya: tidak meribetkan
hal-hal kecil. Saya lebih dulu membaca yang Don’t
Sweat Small Stuffs for Men dan Don’t
Sweat Small Stuffs at Work sebelum bisa beli buku utamanya. Biasalah,
nunggu diskonan wkwkwk. Yang saya dapati, anak-anak dari seri Don’t Sweat Small Stuffs ini malah lebih
lengkap dan rinci, dan menurut saya seri-seri lanjutan inilah yang lebih banyak
mempengaruhi saya secara positif. Meskipun fokusnya khusus ke kantor dan juga
seputar masalah kehidupan pria, pembaca juga bisa belajar banyak tentang tidak
meributkan hal-hal kecil di seri-seri ini.
Kantor sudah
menjadi bagian dari kehidupan orang modern. Tidak bisa dipungkiri, meskipun kantor
telah lekat dengan pekerjaan dan sesuatu yang ‘membebani hari,’ di tempat
inilah sebagian kita menghabiskan hampir separuh harinya. Minimal 8 jam kita
ada di dalamnya, bekerja dan membanting tulang (dan pikiran), bersosialisasi, chattingan,
nonton Youtube, mengunduh drama Korea terbaru, … eh STOP! Pokoknya, betapa pun
tidak sukanya kita pada yang namanya kantor, tetap saja tempat itu punya andil
dalam membentuk kita yang sekarang dan kita di masa depan. Karena itulah—kata Ricard
Carlson—sungguh rugi jika ada orang yang ‘tersiksa’ di kantor hanya karena
meributkan hal-hal sepele yang seharusnya kita bisa berdamai dengannya.
Seri Don’t Sweat Small Stuffs memang ditulis
dengan ide dasar ‘jangan meribetkan hal-hal kecil demi manfaat yang lebih
besar.’ Di buku ini pun demikian. Berada di kantor selama hampir seharian penuh
tentu saja berpotensi memunculkan stres, baik karena tekanan pekerjaan, tugas
yang menumpuk, rekan sekerja yang bawel, hingga jalanan macet yang siap
menghadang setiap karyawan saat pergi-pulang kantor. Lewat buku ini, penulis kemudian menyarankan
kita untuk ‘menerima saja hal-hal yang memang tidak bisa kita tolak.’
Kedengarannya seperti sikap pasrah, sebuah sikap yang dihindari banget di abad
ke-21 ini. Pasrah, nggak berbuat apa-apa, hanya bisa diam dan merana; inikah
yang hendak diajarkan buku ini? Tidak sama sekali.
Carlson
menyorot pada apa-apa yang tidak bisa kita hindari, maka terimalah. Karena ketika
kita menolaknya, masalah-masalah itu tetap saja datang. Begitu pula ketika kita
menerimanya, masalah-masalah itu juga tetap datang. Logikanya begini, pulang
kantor pasti macet, jadi semarah-marah apa pun kita, jalanan tetap saja macet.
Carlson seperti memilihkan satu alternatif yang lumayan baik dari sesuatu yang
sudah mentok. Ketimbang marah-marah di mobil karena macet, kenapa tidak ‘menikmati
macet’ dengan mendengarkan musik di mobil, atau berbincang dengan rekan? Atau,
kenapa tidak pulang lebih lambat dengan pergi ke pusat kebugaran atau ke toko
buku, dan menunggu di sana sampai jam macet berlalu? Waktu kita memang sama-sama
habis karena macet, tapi ada pilihan bagaimana untuk menghabiskan waktu macet
itu. Dan, tidak seperti macet yang tidak bisa kita hindari, kita masih bisa
memilih cara untuk menghabiskan waktu macet ini.
Macet
ini hanyalah salah satu bab yang dibahas di buku ini. Lebih banyak bab-bab lain
yang telah membuka pandangan saya untuk menerima dan menjalani saja hal-hal
yang memang kita tidak bisa menolaknya, kemudian—kalau bisa—berusaha menikmatinya.
Penerimaan bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak bisa kita hindari ini
merupakan langkah awal agar hidup tidak kaku. Seperti pohon bambu, yang ikut
meliuk ke kiri dan ke kanan saat kena angin besar, sehingga tidak patah; maka
begitu juga sebaiknya manusia. Jika memang bisa, kita sekuat tenaga dan
kemampuan akan menghindari masalah-masalah yang akan merepotkan kita. Tetapi,
ada kalanya, ketika masalah-masalah kecil itu memang harus ada, maka terima dan
jalani saja dulu. Karena menolak atau menerimanya, beberapa masalah itu akan
tetap datang menghampiri.
Buku
ini juga mengajarkan kita untuk tidak meributkan hal-hal sepele. Kedengarannya
seperti mengajak kita untuk hanya mengalah—padahal mengalah adalah tanda orang
kalah. Benarkah demikian? Dengan pandangan yang baru dan lebih meyakinkan,
Carlson menghadirkan kepada kita bahwa mengalah tidak selamanya kalah. Kadang,
mengalah adalah kemenangan itu sendiri. Kadang, mengalah diperlukan demi
kesehatan kita sendiri. Kadang, lebih baik mengalah untuk hal kecil ketimbang
menang sendiri tapi mengorbankan hal yang lebih besar—seperti persahabatan.
Juga tentang kebahagiaan, Carlson menyebut bahwa tidak ada yang namanya jalan
menuju kebahagiaan, yang ada hanyalah bagaimana untuk menjalani hidup dengan
bahagia, untuk menghabiskan kehidupan dengan rasa bahagia tak peduli apa pun
hal berat yang menanti di depan. Hidup adalah takdir, tetapi bagaimana kita menjalaninya (dengan merasa bahagia)
adalah pilihan.
No comments:
Post a Comment