Search This Blog

Tuesday, August 16, 2016

Buku Kedelapan Harry Potter



Title: Harry Potter and the Cursed Child - Parts I & II (Harry Potter, #8)
Author: J.K. Rowling, Jack Thorne & John Tiffany
Publisher: Little, Brown
Pages: 343 pages
Format: Hardcover
Published: July, 2016



Setelah bertahun-tahun, dengan diselingi dengan munculnya beragam fanfic lanjutan tentang kisah Harry Potter, Tante JK. Rowling dengan resmi memilih dan merilis satu seri lanjutan dari serial penyihir kesukaan dunia ini. Mungkin dengan tujuan agar tidak melanggar sumpahnya untuk tidak lagi menulis tentang Harry Potter, Rowling menyiasatinya dengan menulis versi dramanya. Dengan kata lain, buku ini sama sekali bukan novel seperti 7 buku Harry Potter sebelumnya. Buku ini ibarat naskah drama yang dibukukan. Dalam menyusun naskah yang kemudian dipentaskan ini, Rowling bekerja sama dengan John Tiffany dan Jack Thorne untuk menulis buku yang kemudian resmi dirilis sebagai buku seri Harry Potter yang kedelapan.
Karena digarap bertiga, tentunya ada sedikit rasa yang berbeda saat membaca buku ini.  Juga, karena ini drama, kita tidak akan menemukan narasi-narasi panjang khas Rowling tentang dunia sihir yang menakjubkan itu. Sebagaimana umumnya drama, buku ini lebih mementingkan alur dan adegan ketimbang latar, jadi akan lebih banyak aksi dan percakapan ketimbang narasinya. Pembaca juga harus siap diajak loncat-loncat antar adegan, kadang dengan kecepatan yang mengejutkan. Sekali lagi perlu diingat, ini naskah drama dan bukan novel, tapi kita tetap bisa menikmatinya sebagaimana menikmati novel—hanya saja lebih cepat dan lebih ringkas.  

Alkisah, 19 tahun setelah cerita di buku ke-7, Harry Potter tengah mengantarkan anak-anaknya naik Hogwart Express. Putra keduanya, Albus Severus Potter (yang sudah baca buku ke-7 pasti masih ingat adegan memorable ini) bertanya kepada sang ayah, bagaimana jika Topi Seleksi memasukkannya ke asrama Slytherin. Sang ayah menenangkan putranya bahwa tidak masalah seandainya pun Albus masuk Slytherin, karena nama tengahnya diambil dari nama kepala asrama Slytherin paling berani yang pernah dikenalnya. Dan coba tebak, Topi Seleksi memang memasukkan Albus ke asrama dengan lambang warna hijau itu #spoiler.

“I know what you got in there. Slytherin, Gryffindor, whatever label you’ve given—I know—know that heart is a good one.” (hlm. 328)

Susah untuk mengulas buku ini tanpa spoiler, karena sejak awal memang banyak hal mengejutkan yang akan kita temukan. Banyak juga jawaban yang petunjuknya diberikan di buku ini sehingga bisa sedikit mengobati kerinduan kita akan seri Harry Potter. Tokoh utama di buku ini mestinya juga sudah bisa ditebak, yakni Albus. Dan, di buku ini dia akan punya teman karib yakni si anu, dan harus melawan musuh yang ternyata adalah itunya si ini dan lalu begini dan begitu. Petunjuk utama, mereka akan bertualang dengan Time Turner atau alat pembalik waktu yang dulu pernah digunakan Hermione di buku ketiga. Secara garis besar, isi buku ini dapat dirangkum oleh kata-kata Dumbledore yang--seperti biasa--sangat dalem itu:

“Harry, there is never a perfect answer in this messy, emotional world. Perfection is beyond the reach of humankind, beyond the reach of magic. In every shining moment of happiness is that drop of poison: the knowledge that pain will come again. Be honest to those you love, show your pain. To suffer is as human as to breathe.”

Satu lagi, tokoh utama yang akan membuat pembaca jatuh cinta di buku ini bukan Albus, namun kawan karibnya yang ternyata adalah anaknya si itu. Tokoh-tokoh lama yang dulu saling benci akan saling dipertemukan kembali di buku ini untuk bekerja sama menyelamatkan dunia yang sekali lagi berada dalam ancaman dikuasai oleh sihir gelap. Makin ke belakang makin seru, dan persahabatan antara kedua anak utama di buku ini pokoknya awww banget! Lalu, siapa sebenarnya si Anak yang Terkutuk? Ya itu, anaknya si anu yang ternyata begini begitu. Apakah dia yang jadi sahabatnya Albus? Siapakah sebenarnya si musuh dalam selimut? Silakan baca spoiler-nya di Goodreads. Walau tidak seutuh seperti saat membaca versi novelnya, buku ini bisa menjadi obat kangen yang cukup menyenangkan bagi para fans Harry Potter. 

“… but the lesson even your father sometimes failed to heed is that bravery doesn’t forgive stupidity.” (hlm. 215)

*Maafkan, ulasan buku kali ini sangat tanggung demi untuk menghargai para pembaca yang belum membaca buku ini. Tampaknya, spoiler untuk buku ini berpotensi bakal mengurangi kenikmatan serta keseruan para pembaca. Untuk ulasan lebih lengkap, silakan bisa dibaca  sendiri ulasan penuh spoilernya di Goodreads. You have been warned!*

3 comments: