Search This Blog

Thursday, August 4, 2016

Animal Farm, sebuah Satire atas Sosialisme?

Judul: Animal Farm
Pengarang: George Orwell
Penerjemah: Bakdi Soemanto
Tebal: 140 hlm
Cetakan: kedua, Juli 2015
Sampul: Fahmi Irwansyah
Penerbit: Bentang Pustaka



24945435

Seorang sastrawan adalah saksi dari zamannya. Begitu juga George Orwell yang menjadi saksi dari era Perang Dunia Kedua--yang disusul dengan Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Penulis ini kemudian mengabadikan apa yang disaksikannya itu dalam monumen paling indah di dunia: melalui karya sastra. Animal Farm lahir atas pengamatan dan ketidaksetujuannya pada totaliterisme Uni Soviet. Pasca Perang Dunia Kedua, dunia memang terbelah menjadi dua kubu, yakni Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat serta Blok Timur yang dikomando oleh Uni Soviet. Merentang mulai dari Eropa Timur hingga Siberia, Uni Soviet merupakan wilayah luar biasa luas yang dikendalikan oleh satu komando yang berpusat di Moscow. Negara persekutuan ini dibangun atas asas Sosialisme dan Komunisme, di mana kepemilikan bersama dijunjung tinggi dan semua adalah setara. Poin Ketujuh dari Tujuh Perintah yang harus ditaati semua binatang di Peternakan Binatang adalah "Semua Binatang Setara." Pengunaan kata "kamerad" di novel tipis ini semakin menegaskan pihak mana yang coba dikritik Orwell lewat tulisannya ini.


Apa yang akan terjadi ketika sebuah pertanian dikudeta dan lalu diambil alih oleh binatang-binatang ternak di dalamnya? Peternakan Manor milik Tuan Jones awalnya adalah sebuah peternakan yang terbengkalai. Meskipun luas dan subur, pemiliknya adalah pemalas yang suka minum sampai mabuk (apakah ini melambangkan keluarga Tsar?) sehingga binatang-binatang ternaknya tidak terurus. Si Tua Mayor, seekor babi putih terhomat, mengawali pemberontakan dengan pidatonya yang mengebu-gebu tentang sebuah komunitas di mana semua binatang di dalamnya adalah setara, tempat binatang tidak lagi diperbudak oleh manusia. Dia lantunkan syair 'Binatang Inggris' yang segera saja menyulut perasaan perlawanan pada binatang-binatang di peternakan Manor:

Binatang Inggris, binatang Irlandia
Binatang di setiap negeri dan musim
Dengarlah kabar gembiraku
Tentang masa keemasan di hari mendatang

Cepat atau lambat  saatnya akan tiba
Tirani Manusia akan ditumbangkan
Dan ladang subur Inggris
Akan ditapaki  oleh binatang saja

Maka, pemberontakan pun tersulut. Tuan Jones sekeluarga terusir dari rumah dan peternakannya sendiri oleh binatang-binatang peliharaannya. Kuda, babi, ayam, angsa, ayam, biri-biri, dan merpati bersatu mengusir para manusia dari Peternakan Manor (yang namanya kemudian diubah menjadi Peternakan Binatang atau Animal Farm). Seluruh binatang di dalamnya adalah setara, gandum dan jagung dibagi merata, pekerjaan dilakukan bersama-sama, dan hasil panenan pun dibagi dengan adil tanpa ada yang diistimewakan atau direndahkan. Terlihat seperti sebuah negeri eh peternakan yan utopis memang.

Masalah mulai datang ketika nafsu manusia (eh nafsu binatang) turut campur. Dua ekor babi yang awalnya adalah para pemimpin pemberontakan tiba-tiba saling bersaing. Melalui upaya yang licik, kendali peternakan jatuh ke salah satu babi itu, Napoleon mengangkat dirinya sebagai pemimpin dan mengusir babi saingannya ke luar dari peternakan. Dari sinilah bibit-bibit totaliterisme itu mulai muncul. Merasa didukung penuh oleh 'rakyat binatangnya', Napoleon mulai menerapkan peraturan-peraturan baru sesuai kehendaknya sendiri. ketika ada binatang yang protes, dia menurunkan seekor babi bawahannya yang jago berbicara untuk meredamnya. Ini macam kampanye agar rakyat tetap mendukung pemerintahannya, dengan menggunakan metode hoax dan pembalikan fakta. Apa pun ditempuh Napoleon dan tim babinya agar kekuasaan mereka langgeng.

Apa yang semua negeri impian berubah menjadi negeri petaka. Lambat laun, para binatang mulai sadar betapa kondisi mereka di bawah kendali Napoleon tidak ada bedanya (bahkan lebih buruk) dengan kondisi ketika mereka masih dipelihara oleh manusia. Namun, kampanye masif yang dijalankan Napoleon dan antek-anteknya seperti mengunci pemikiran mereka. Para binatang itu tetap yakin bahwa semua perkataan dan perintah Napoleon adalah benar dan wajib ditaati. Lambat laun, mereka kembali kehilangan kebebasan mereka. Bahkan, bertahun-tahun kemudian, para binatang di Peternakan Binatang sudah lupa dengan apa kebebasan itu sendiri.

Animal Farm menarik karena peternakan ala Orwell ini melambangkan negara sosialis murni dengan pemerintahan yang totaliter. Di era modern ini memang masih ada beberapa negara Sosialis, seperti Tiongkok dan Kuba, namun satu-satunya negara sosialis yang mungkin masih menyerupai Animal Farm adalah Korea Utara. Luar biasa betapa apa yang ditulis Orwell lebih dari setengah abad yang lalu ternyata masih bisa kita temukan di era modern saat ini. Orwell dengan presisi sekaligus menawan mampu menggambarkan apa pandangannya tentang sosialisme. Sayangnya, subyektivitas Orwell ini tidak diimbangin dengan obyektivitasnya tentang nilai-nilai positif dari sosialisme, atau mungkin iya karena di awal-awal berdirinya Peternakan Binatang tampaknya semua binatang sama setara dan bahagia. Di bagian akhir cerita, Orwell malah menyinggung sedikit tentang borok kapitalisme (yang menjadi dasar negara-negara Blok Barat) yang ternyata sama buruknya dengan paham yang dia kritik.

"Mahkluk-mahkluk di luar memandang dari babi ke manusia, dan dari manusia ke babi lagi; tetapi mustahil mengatakan mana yang satu dan mana yang lainnya." (hlm. 140)

Terjemahan Pak Bakdi Soemanto luar biasa keren seperti biasanya, mengalir dan luwes banget. Enak dibaca dan dinikmati. Sampulnya juga keren, warna pink tapi ada simbol-simbol sosialis yang tersamar, membentuk moncong babi sekaligus sosok seragam negeri sosialis tertentu.  

6 comments:

  1. Suka dengan kalimat pembukanya, bahwa seorang Sastrawan merupakan saksi mata yang berasal dari zamannya.

    Membaca buku ini membuat saya bisa membayangkan kembali bagaimana kondisi dunia saat itu, seperti juga buku lainnya 1984, yang juga mengisahkan bagaimana perang dan segala macam bentuk kepemimpinan saat itu.

    Dan lucu memang, ketika salah satu kubu digambarkan seperti babi yang rakus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, saya juga merasa Orwell agak kurang imbang dalam hal ini. Menilai kubu yang dikritik dengan lambang babi tapi sedikit sekali menyinggung soal kapitalisme Barat.

      Delete
  2. saat baca novel itu yang terpikirkan adalah kritik terhadap totalitarian. Ya, mungkin menyinggung juga sosialisme.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Totaliter tidak melulu di negeri Sosialis, mbak, kadang negeri demokrasi juga bisa. Aku kok malah ngebayanginnya Korea Utara ya? Tapi, ya ini novel satir yang cerdas.

      Delete
  3. esai keren ya! menurut aku, orwell mengkritik "kekuasaan". kalau manusia berkuasa, binatang2 terus-menerus menderita...dan jika babi berkuasa, binatang2 masih menderita. aku kurang tahu dalam bahasa indonesia ada gak peribahasa "power corrupts" (?)... apa mas punya goodreads??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada, cek aja di Goodreads --> Dion Yulianto

      Delete