Search This Blog

Wednesday, June 29, 2016

Bookish Confession: Indahnya Buku Obralan




Saya bisa menahan godaan bakso tusuk yang penjualnya embak-embak berpakaian menantang, atau sale sepatu casual di Sport Station yang hits banget itu. Tapi, saya menyerah kalau sudah ketemu sama buku-buku obralan. Untuk 'jajajan' yang satu ini, I cannot! Buku obral dengan rentang harga kelipatan 5rb (5rb, 10rb, 15rb, 20rb, 25rb, dan 30rb) adalah jenis buku yang paling susah untuk ditolak, apalagi bukunya bagus, ditulis oleh penulis bagus, dan diterbitkan oleh penerbit tepercaya. Kalau saya menemukan buku-buku semacam ini, saya tidak lagi memikirkan kapan akan membacanya, apakah saya benar membutuhkannya, atau apakah masih ada sisa ruang di bawah tempat tidur saya yang sekarang lebih banyak buku ketimbang debunya itu. Saat menemukan buku bagus diobral murah, rasa iba sontak memenuhi kepala saya. Betapa sangat kasihan buku-buku obralan itu, yang dengan sampul sayu dan halaman unyu seperti melambai-lambai untuk minta dibawa pulang ke komunitas timbunan. Maka, saya boronglah buku-buku obralan bagus itu. Haloooo ... buku bagus dan murah geto loh. *dilempar Mahabharata versi wattpad.

Saya ini sensitif, mudah tersentuh, dan terharu kalau melihat hal-hal yang membuat treyuh hati. Nah, jadi jangan salahkan saya kalau saya selalu tersentuh dan tergerak untuk mengadopsi buku-buku obralan itu. Mengapa buku-buku obralan memiliki efek sedemikian dahsyat? Karena saya tahu dan merasakan sendiri betapa rumit dan (kadang) beratnya perjuangan sebuah naskah hingga akhirnya terbit menjadi buku. Sejak 2007 hingga sekarang, saya kecemplung bahagia di dunia editor. Dunia yang membuat saya jadi dekat dengan buku-buku. Jika dulu hanya bisa memeluk buku yang sudah jadi, sekarang memeluk monitor karena naskah editan yang belum jadi-jadi. Kalau dulu pengen banting buku jelek yang harganya kemahalan, sekarang pengen banting naskah jelek yang penulisnya pun belum bisa membedakan 'diatas' dan 'di makan'. Menjadi editor membuat saya jadi lebih menghargai buku, karena saya mengalami sendiri betapa menulis dan menyunting buku itu tidak mudah. Seperti kata Stephen King, jika menulis adalah pekerjaan manusia maka menyunting adalah pekerjaan para dewa. Kalau macam peribahasa itu men sana menggok mrene wae alias di balik sebuah buku yang hebat terdapat editor yang kumat darah tingginya.



Karena tahu bahwa menulis buku itu susah, inilah yang lalu membuat saya antara miris campur sesek setengah seneng saat melihat buku-buku diobral. Saya bayangkan malam-malam yang dihabiskan penulis sendirian untuk menulis naskahnya, jam-jam panjang ketika editor mungkin sampai eneg karena harus membaca satu naskah yang sama sebanyak lima kali (dan itu pun masih ada aja typo yang terlewat), juga perjalanan panjang yang harus ditempuh si buku kesayangan sebelum sampai ke tangan pembaca. Betapa sungguh tidak adilnya ketika buku itu kemudian dijumpai di obralan dengan harga lima ribuan dalam kondisi masih segel rapi serapi kesucian diri ini. Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk buku-buku indah itu selain memborongnya untuk dijual lagi dikoleksi meskipun saya sudah punya (dan beli dengan harga asli #nyesek ganda campuran). Jadi, intinya, saya menimbun buku obralan karena kasihan sama buku-buku itu *alasan macam apa ini!* Sekian untuk posting bareng bulan ini.


borong buku-pendidikan.kampung-media.com


“Collect books, even if you don't plan on reading them right away. Nothing is more important than an unread library.” (John Waters)


20 comments:

  1. Aku juga suka banget buku obral! *kutu bokek*

    ReplyDelete
  2. Hahahaha.. Ngakak2 baca postingan ini.. Ngomong2 ttg buku di kolong kasur kayaknya kita perlu tuh bikin postingan tentang tempat2 cerdas untuk menimbun (dan atau menyembunyikan timbunan) buku ;p

    ReplyDelete
  3. masdi beli buku obralan karena kasihan sama bukunya.. aku malah ngakak baca ini... wkwkwk.. duh!

    ReplyDelete
  4. I feel you *sambil Ngakak miris

    ReplyDelete
  5. Ngakak kejungkel baca : kecemplung bahagia, men sana menggok mrene wae.... BWAHAHAHAHA...

    Mosok to, Yon, mbak2 berbaju menantang ngga menarik untukmu? Jangan2 KangO atau dekNgab berbaju menantang lebih menantang? bwahahahaha....

    ReplyDelete
  6. jam-jam panjang ketika editor mungkin sampai eneg karena harus membaca satu naskah yang sama sebanyak lima kali (dan itu pun masih ada aja typo yang terlewat)


    Iya yang ini bener. suka heran deh. :))))

    ReplyDelete
  7. Ngahahaha *lirik timbunan yang makin menggunung*

    Obralaaaan

    ReplyDelete
  8. Ngahahaha *lirik timbunan yang makin menggunung*

    Obralaaaan

    ReplyDelete
  9. Ini sikap masdi, mangan ora mangan (bakso) sing penting nimbun (buku obralan) *penting* :)

    ReplyDelete
  10. Ini sikap masdi, mangan ora mangan (bakso) sing penting nimbun (buku obralan) *penting* :)

    ReplyDelete
  11. Ya...ini sih semua juga tahu, Yon. :)))
    Btw, jadi penasaran Mahabharata versi wattpad seberat apa sih?

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Tuhan bersama para editor yang melahirkan buku-buku berkualitas.

    ReplyDelete
  14. Astagahhh, ngakak parah baca ini, wkwkwk.... Ayo masdi, terus selamatkan buku2 itu.... *trus nagih GA ;P

    ReplyDelete
  15. baru kmarin beli buku obralan. seneng, miris, wis koyo mas di

    ReplyDelete
  16. Duh Mas Di, saya ini juga kalau udah yang namanya Book Sale, selalu nomor satu jadi jamaah Nitipiyah, pokoknya kudu banget nitip :D ahahaha ternyata dapet temen deh saya

    ReplyDelete
  17. Kalo menulis pekerjaan manusia, menyunting pekerjaan para dewa, terus kalo menerjemahkan pekerjaan siapa, Mas? Para kunyuk? Heuheuheu *nangis di pojokan*

    ReplyDelete
  18. Penulis yg belum bs membedakan diatas dan di makan. Hahahha.. Pukpuk mas dion >.^

    ReplyDelete
  19. Mas Dion, ya ampun sampai segitunya xD *Gemesh sama buku obralan*

    ReplyDelete