Search This Blog

Wednesday, March 30, 2016

Percy Jackson's Greek Heroes

Judul: Percy Jackson's Greek Heroes
Pengarang: Rick Riordan 
Penerjemah: Reni Indardini
Tebal: 508 hlm
Cetakan: 1, Maret 2016
Penerbit: Noura Books

29242276

Hercules, Atalanta, dan Perseus; banyak kita yang sudah pernah mendengar nama mereka (terutama Herkules, saya yakin). Namun, siapa sebenarnya orang-orang bernama aneh itu? Mengapa ada rasi bintang dinamai sesuai nama mereka, bagaimana kisah mereka ribuan tahun lampau? Bersama demigod cute kebanggaan kita bersama, Percy Jackson, mari kita kuak kisah kejayaan dan juga kemalangan orang-orang besar ini. Hercules dengan 12 tugas mahaberatnya, Orpheus dengan lira-nya yang bikin galau, percarian legendaris Jason dan para Argonaut, serta asal-usul para wanita amazon. Semua kisah itu dituliskan oleh Rick Riordan dengan gaya khasnya yang kocak dan bikin gegulingan di Padang Asphodel. Jika membaca sejarah membuatmu bosan setengah drachma, maka tirulah cara Percy dalam menceritakan sosok-sosok besar dalam sejarah di buku ini dengan begitu kekinian.

“Perhatian Aphrodite berkali-kali teralihkan gara-gara diskon di pusat perbelanjaan, cowok cakep, atau gaun dan perhiasan kinclong yang dikenakan gadis-gadis fana musim ini.” (79)



Para pahlawan dari kisah-kisah Yunani kuno adalah para demigod! Yah, setidaknya itulah penjelasan yang mungkin dari kekuatan fisik mereka yang luar biasa serta akhir tragisnya yang seperti demigod-demigod pada umumnya. Yah kita semua sudah tahu kecenderungan para demigod yang nggak bisa diam dan cenderung membuat dewa-dewi iseng melontarkan kutuk. Tapi, di buku ini, kita jadi benar-benar tahu mengapa Percy dan gengknya … yah seperti itu. Pertama, kita diajak kenalan sama Perseus. Inilah nama asli Percy jadi wajar saja kalau tokoh ini dapat jatah pertama. Wuuu Percy KKN deh *ditujes trisula plastik*. Selain Perseus dan Hercules; pembaca juga akan diajak berkenalan dengan demigod-demigod terkenal lain macam Kyrene, Daedalus, dan Orpheus.

Kaum Lapith kasar dan beringas, maka saat tumbuh besar Kyrene lebih menyukai tombak dan pedang dibanding boneka Barbie dan film Disney. Teman-temannya tahu jika mereka menyanyikan lagu yang terkenal dari Frozen, dia bakal menggebuki mereka sampai pingsan. (hlm. 294)

Banyak kisah di buku ini dibuka dengan ramalan oleh Oracle dari Deplhi, yang suka sekali cuci tangan atas ramalan-ramalan gaje mereka dengan kata-kata “Selamat siang dan semoga berhasil.” Ramalan-ramalan Deplhi memang sangat abu-abu, alhasil lebih sering membuat bingung para demigod alih-alih tercerahkan. Tapi, seperti dikatakan oleh Phineas, bahwa kadang mengetahui masa depan adalah sesuatu yang berbahaya (selain membuat hidup jadi tidak seru dan membuat para dewa marah karena bisnis ramal-meramal jadi sepi). Karena itu, banyak ramalan yang kemudian disampaikan dalam bentuk tersamar. Terbukti, banyak kisah besar dalam buku ini dimulai dengan ramalan (dan juga sapi) dan kemudian malah berakhir sebagai salah satu petualangan paling seru sepanjang linimasa. Contohnya perjalanan Jason dalam berburu bulu domba emas milik Chrysomallos.

“Menurut legenda, jika Chrysomallos mampir ke negeri kita, panen akan tumbuh lebih cepat, orang-orang sembuh dari segala menyakit, sedangkan sinyal Wi-Fi bakal lebih kuat kira-kira lima puluh persen ketimbang semula.” (425)

Ciri khas Rick Riordan yang dengan apik mampu memadukan antara mitologi dan elemen-elemen kekinian kembali terbukti di buku ini. Paling ngakak menurut saya ada pada kisah Orpheus yang dikisahkan sedemikian kocak. Riordan mampu menyajikan dewa-dewi bengis Yunani kuno dalam bentuk yang lebih ramah (dan juga kekinian). Kapan lagi bisa lihat dewa-dewi yang pamer di media social serta suka mengunggah video terbaru merela di Youtube kalau bukan di buku ini? Dikisahkan dari betapa kekuatan hebat pun akan berbahaya jika tidak didampingi dengan kebijakan dan pengendalian diri. Sering kali, para demigod tercinta kita ini terperosok dalam tragedi karena kesalahan yang mereka lakukan sendiri. Untung, Om Rick jago banget bikin ngakak. Ini penerjemahnya juga kudu diacungi jempol deh karena mampu menyajikan padanan yang ngena banget buat pembaca Indonesia.

Orpheus semakin lama semakin mahir. Hewan-hewan liar tidak berdaya menampik musiknya. Ketika dia berjalan di hutan, singa-singa mengelilinginya dan berguling meminta perut mereka dielus sementara dia bernyanyi. Serigala-serigala merapat ke kakinya dan menggoyangkan ekor ketika dia memainkan lagu yang mereka sukai, semisal lagi tema Ganteng-Ganteng Serigala. (hlm. 314)

Tokoh lain yang mendapat porsi cukup besar di buku ini (tentu saja) adalah Hercules. Gimana nggak besar orang tugasnya aja ada 12. Kisahnya, si Herakles ini dihukum dewa-dewi karena menjadi gila dan kemudian membunuh keluarganya sendiri (dewa-dewi memang deh), dan setelah itu dia harus mengabdi dan menjalankan apa saja perintah dari seorang raja. Di sini Percy (hoaahmmm) akan memaparkan 12 tugas Herkules yang angat terkenal itu, lengkap dengan peta Yunani kuno. Bersyukur banget ada peta di buku ini sehingga kita bisa kepo-kepo melihat tempat Icarus jatuh atau lokasi Batu Bertubrukan buat disetting di lokasi GPRS.



Orpheus memainkan “Sepanjang Jalan Kenangan” dengan aransemen yang teramat menyayat hati. Charon jatuh berlutut, “Itu … itu lagu kami! Aku masih seorang daimon remaja nan polos, sedangkan dia seorang gadis zombie yang manis. Kami, kami …” (320)

Dibanding buku sebelumnya, yakni The Greek Gods, dewa-dewi di buku ini relative lebih ramah. Atau, setidaknya mereka telah lebih adil dan tidak lagi sembarang melontarkan petir pada manusia fana yang mereka tidak suka. Hanya manusia yang berbuat sedemikian keji, seperti melanggar sumpah atau lupa memberi sesaji, atau sekadar mengotori altar persembahan dengan darah lah yang berhak dilontari kutukan keji. Bahkan Aphrodite sang Dewi Cinta tampak lebih garang dibanding Hera (siapa bilang cinta itu tidak kejam?). Hanya karena jumlah like di foto instagram terbarunya kalah banyak dibanding jumlah like di foto seorang demigod bernama Psyche, dia memutuskan untuk mengutuk gadis itu. Tapi, di tangan Om Rick, dewa-dewi juga bisa jadi manusiawi kekinian kok.

“Seisi kota menangis. Pohon-pohon mengucurkan tangisan getah. Awan menggelontorkan air hujan air asin nan deras. Di Gunung Olympus, Ares menangis ke pundak Hephaestus. Aphrodite dan Athena duduk bersama di sofa dalam balutan piama, menggasak coklat sambil tersedu sedan. Hestia mondar-mandir di ruang singasana sambil menyodorkan tisu kepada semua dewa-dewi.” (hlm. 319)

Masih tetap mempertahankan humor kekiniannya, Riordan berhasil menyajikan kisah-kisah tragis para pahlawan Yunani dalam bahasa yang anak muda banget. Sama sekali tidak membosankan membaca buku tebal ini. Humor yang dengan cerdik diselipkan om Rick sangat ampuh menghalau kantuk yang datang saat pembaca membaca deskripsi panjang tentang Daedalus yang membangun labirin untuk si Mino (*bukan Mino rappernya Winner loh*). Membaca kembali 12 tugas Herkules yang puanjang itu bahkan tidak terasa membosankan karena Om Rick mampu menuliskan ulang dalam versi yang lebih kocak (dan bisa ditautkan ke media social kekinian). Sungguh buku tebal yang sangat menyenangkan. Fans benar Percy Jackson kudu punya. Terima kasih kepada Penerbit Noura Books yang telah setia menerbitkan terjemahan-terjemahan seri keren ini. *kasih sesaji bakpia patuk ke penerbitnya*

4 comments:

  1. Mas Dion, ini beneran "lagu tema Ganteng-Ganteng Serigala"? Penerjemahnya iseng binggo, ya *LOL*
    Btw, Mas Dion penggemar kisah2 fantasi Riordan, ya? Saya belum pernah baca sama sekali, tapi setelah baca review ini, kok kayaknya seru...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku ngakak bener ini. Terjemahannya asyik sekali. Kebetulan aku ngikutin sejak Percy Jackson dan The Olympians buku 1. Awalnya beli, lama-lama dibuntelin #eh

      Delete
  2. Selama saya takut baca genre fantasi soalnya bukan kesukaan. tapi setelah baca review ini rasanya harus menjajal

    ReplyDelete