Search This Blog

Thursday, December 31, 2015

Dijual: Keajaiban

Judul: Dijual, Keajaiban
Pengarang: Gao Xinjian, Orhan Pamuk, Salman Rushdie, dkk
Editor: Ainini
Penyelaras Akhir: RN
Sampul: Wulan Nugra
Cetakan: 1, Desember 2015
Penerbit" DIVA Press
Tebal: 228 hlm



Ketika sembilan karya besar para sastrawan kenamaan Asia dikumpulkan dalam satu buku, maka hadirlah sebuah keajaiban. Sebuah keajaiban yang kemudian dapat dibeli oleh para pembacanya dengan membeli buku ini (atau dengan meminjamnya juga boleh deh. Tapi masak buku sebagus ini pinjem, kudu punya ah!). Sembilan sastrawan Asia dengan sembilan karyanya: sembilan cerita dengan corak, kekhasan, dan warnanya masing-masing. Juga, dengan keajaiban yang diusung setiap penulis. Membaca buku ini ibarat mengambil kepingan permata dari sebuah kantung uang (seperti yang terlihat pada sampul depannya), kita tidak tahu akan menemukan apa setiap kali tangan kita masuk ke dalamnya, atau setiap kali pikiran kita masuk dalam salah satu cerita di dalam buku ini.

Bagaimana membaca kumcer ini? Dinikmati saja tanpa terlalu mempermasalahkan pilihan kata si penerjemah yang kadang ajaib, tapi efeknya lebih mengena. Seperti biasa, saya selalu tidak urut kalau membaca buku kumcer (*nggak ada yang nanya) karena cara ini menurut saya lebih bikin deg-degan (*makanya minum white coffee #malahiklan) dan seru, kayak memasukkan tangan ke dalam kantung uang berisi sembilan permata, kita tidak akan pernah tahu apakah dapat batu rubi, safir, kecubung, atau akik. Tapi, apa pun warna dan jenisnya, Sembilan cerpen dalam buku ini memiliki keistimewaannya masing-masing sehingga tidak selayaknya dibanding-bandingkan. Apa pun yang diusungnya, karya-karya ini telah mendapatkan tempat di hari para pembaca dunia.

“Memang, ada begitu banyak hal yang seharusnya diterima begitu saja.” (hlm. 25)

Siapa saja Sembilan penulis Asia yang karyanya terkumpul dalam buku kumcer ini? Pertama adalah Gao Xingjian dengan cerpennya ‘Di Sebuah Taman’ yang berkisah tentang kisah di errr sebuah taman. Dari Sembilan cerpen di buku ini, saya kok merasa cerpen ini yang paling ‘biasa’ walaupun saya yakin saya saja yang memang belum bisa menangkap keindahan cerpen ini. Kedua adalah Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf dengan cerpennya "Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai.” Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf ini adalah sastrawan kelahiran Makkah dan juga editor perempuan pertama di Saudi Arabia. Jarang-jarang kan kita baca karya sastrawan dari Saudi Arabia. Untuk tema dan isinya, mungkin bisa ditebak: tentang ketertindasan perempuan di Arabia. Pedih rasanya membaca nasib si tokoh yang bahkan dipaksa untuk membenci keluarganya sendiri atas pilihan hidupnya.

“Oh, betapa Maha Besarnya Engkau, Allah! Kau ciptakan hatiku, perasaan-perasaanku! Tak seorang pun dapat memiliki hati orang lain, demikian Firman-Mu!” (hlm. 39)

Selanjutnya ada karya Naguib Magfouz, pemenang Nobel Sastra tahun 1988. Sastrawan Arab yang konon paling produktif ini memang memiliki karya-karya yang khas dan sayang untuk dilewatkan. ‘Qismati dan Nasibi’, cerpennya dalam buku ini, masih menghadirkan antara unsur religiusitas serta latar Timur Tengah yang kental. Di balik kisahnya yang terlihat sederhana, terkandung pertanyaan-pertanyaan besar tentang takdir dan kehidupan.

"Kebahagiaan itu tak sulit ditemukan bagi sesiapa yang mencarinya." (hlm. 61)

Tidak lengkap rasanya kalau sebuah buku kumcer sastra dari Timur tidak menghadirkan karya dari Orhan Pamuk, sang maestro tulisan dari Turki. Dalam cerpennya ‘Memandang ke Luar Jendela,’ penulis membawa ciri khas ke-Istambul-annya. Membaca cerpen ini mengingatkan saya pada novel karyanya Istambul yang belum juga selesai saya baca sampai sekarang (padahal belinya sudah setengah tahun yang lalu). Pamuk memiliki gaya khas dalam bercerita, terutama dengan menghadirkan latar Istambul semasa kecilnya. Dalam cerpennya yang panjang ini, Pamuk seperti mengajak kita ke masa kecilnya, ikut mendengarkan kisahnya saat masih anak-anak. Kelihatannya mungkin biasa, tapi selalu ada sesuatu yang indah namun tak terjelaskan saat kita membaca karya-karyanya.

“Jikalau tidak ada yang bisa dipandang dan tak ada kisah-kisah untuk didengarkan, hidup niscaya akan boyak—atau membosankan.” (hlm 65)

Kemudian ada karya dari seorang sastrawan asal India R.K. Narayan dengan judul ‘Anjing Buta.’ Bagi yang sudah membaca karya-karya penulis India macam Divakaruni atau Arundhati Roy pasti akan langsung bisa merasakan ke-khas-an lokal yang sepertinya hanya dimiliki oleh para penulis dari anak benua ini. Cerpen ini dengan latar kemiskinannya yang sangat hidup berkisah tentang seekor anjing yang tetap mendatangi mantan tuannya meskipun binatang ini sering diperlakukan dengan buruk. Cerpen ini mengajak kita merenung tentang sifat manusia yang kadang lebih suka menderita di tempat yang sudah kenal ketimbang mencoba membebaskan diri dengan sesuatu yang baru. Terlalu terpaku di zona nyaman itu kadang memang tidak selalu baik.

“ … merupakan suatu anugerah besar bagi seorang lelaki untuk mempunyai sahabat-sahabat yang darinya dia bisa belajar sesuatu yang baru tiap-tiap hari.” (hlm 122)

Cerpen karya Salman Rushdie yang berjudul 'Di Selatan Dua Lelaki Tua India' juga turut hadir di buku kumcer sastrawan Asia ini. Penulis pemenang Booker Prize ini pernah menulis novel 'Satanic Verses (1988)' yang sempat menghebohkan dunia muslim. Beberapa bajakan dari buku ini konon bisa dipinjam di beberapa kolektor buku di Tanah Air. Salman Rusdie termasuk produktif dalam menghasilkan karya-karya sastra tingkat dunia, termasuk Midnight's Children dan Imaginary Homelands. Cerpennya di buku ini termasuk agak panjang—dan membosankan—buat saya, tapi keistimewaannya ada pada detail. Silakan dibaca sendiri, Tuan dan Puan.

“Kepercayaan, adalah korban usia juga.” (hlm. 132)

Sastrawan selanjutnya adalah Taufiq el-Hakim, yang cerpen karyanya 'Dijual: Keajaiban' dipilih sebagai judul kumcer keren ini. Saya—seperti juga editornya—menfavoritkan cerita ini dalam kumcer ini. Ada sesuatu yang menyentil tetapi sangat halus dalam cerpen ini, cara penulis untuk menggugah kesadaran pembaca begitu luar biasa: antara pengen ketawa sekaligus merenung setelah membaca cerpen ajaib ini. ’Dijual: Keajaiban’ berkisah tentang seorang Rahib yang diminta datang ke suatu desa dan mendoakan penduduknya. Sebuah anugrah bagi seseorang seringkali adalah musibah bagi orang lain. Inilah pentingnya memiliki pandangan yang luas, tentang perlunya memandang dari kedua sisi. Pada ending cerpen ini, pembaca yang teliti akan mengerti bagaimana ceritanya sebuah keajaiban dapat dijual.

“Iman telah membuat kalian mencapai semua ini. Kalian tak tahu kekuatan yang terhampar dalam jiwa pemeluk teguh. Iman adalah kekuatan, Anakku!” (hlm 152)

Selanjutnya, kita dibawa ke Jepang bersama Yukio Mishima. Ini pertama kali saya membaca karyanya (dan tahu namanya) tetapi cerpennya elok nian menghadirkan suasana Jepang dengan kentalnya. Elemen-elemen wajib dari Jepang semacam kimono, kuil, jembatan, dan sendal teklek-nya turut hadir dan menjadi penguat rasa untuk cerpen 'Tujuh Jembatan' ini. Terakhir namun tidak kalah asyik untuk disimak adalah cerpen 'Nampan dari Surga' karangan Yusuf Idris yang berasal dari Mesir. Dalam cerpen ini, pembaca akan dihibur oleh seorang bahlul yang mengecam Tuhannya sendiri, yang lalu membuat manusia menjadi gerah dan mereka pun mencoba untuk menghentikannya. Lewat cerpen di kumcer ini, para penulis akan mengajak pembaca untuk bertanya kepada diri, sudahkah kita baik-baik saja sebagai manusia.

“Keajaiban-keajaiban itu terkubur dalam hati kalian, laksana air di dalam batu, dan hanya iman yang bisa membangunkan mereka!” (hlm. 152)

Sebagai penutup, dihadirkan pidato Gao Xinjian saat menerima penghargaan Nobel untuk bidang Sastra tahun 2000. Penulis yang diasingkan sendiri oleh rezim pemerintahnya sendiri ini banyak menulis dari ‘persembunyian’ dan dia termasuk penulis yang mengobarkan kata-kata dibalik ancaman politik yang tidak menyukai tulisannya. Meskipun nyawanya sendiri terancam, tapi penulis ini tetap menulis dan menulis walau dari luar negeri karena dia percaya bahwa penulis tidak akan pernah mati selama orang-orang masih membaca karyanya. Sebuah keberanian yang layak diganjar hadiah Nobel Sastra.

"Setiap penulis memiliki tempatnya sendiri di rak buku dan dia hidup sepanjang mempunyai pembaca. Tak ada pelipur yang lebih besar dari penulis ketimbang bisa meninggalkan sebuah buku dalam harta karun besar sastra manusia yang akan terus dibaca di masa depan."
(hlm 220)

5 comments: