Search This Blog

Monday, April 20, 2015

LPM Kopdar BBIers Jogja bersama Korum BBI

                Sabtu, 18 April 2015 menjadi hari luar biasa bagi BBI Joglosemar karena bang Helvry Sinaga, sang koordinator umum BBI nan termasyoer itu tengah singgah ke Jogja dalam rangka tugas kenegaraan. Walau cibuk, beliau masih menyempatkan diri untuk ‘jumpa pens’ dengan BBIers Jogja. Luar biasa! Tentu saja, saya yang mendapat kabar gembira ini dari Mbak Desty pada hari Rabu (atau Kamis saya lupa) langsung angguk-angguk gayeng untuk mengadakan semacam kopdar jilid dua bagi BBIers Jogja. Bayangkan, bang Epi yang cibuk gilak aja masih sempat-sempatin menyapa teman-teman di Jogja, masak saya yang seringnya pura pura sibuk ini hanya gelundungan bohay saat ada tamu agung berkunjung?  Karena itulah, meskipun terjemahan Odysey memanggil-manggil untuk segera dirampungkan, saya putuskan untuk mengabaikannya (sebagaimana di hari-hari yang lain saya juga akan mengabaikannya. *Kapan itu rampungnya woy?).

                Jam setengah sepuluh, saya ada janji sama Mbak Evi di kostan Oky. Siapa Mbak Evy dan mengapa saya harus apel pagi dengannya di Sabtu pagi, biarlah saya, Oky, dan semesta yang tahu (anak-anak BBI Joglosemar juga tahu nding!) Yang jelas, jam 10 saya sudah mangkal cantik di depan Wisma Ratih, tepat di utara Stasiun Tugu Yogyakarta.  Di bangunan klasik bergaya antik tapi tidak gotik walau sangat unik dan menarik (halah) inilah bang Epi menghabiskan malamnya di Jogja. Saya segera meng sms  bang Epi, memberitahu saya sudah ada di luar. Agak waswas juga sih saya mangkal disitu, bukan apa-apa, nanti kalau saya ditawar gimana? Trus kalau saya mau ditawar gimana? (Masih siang woy!). Sekitar lima menit kemudian, Bang Epi muncul dengan gagahnya, berbalur sweater dan tas punggung keren. Hebohnya lagi, saya lupa bawa helm untuk bang Epi. (Iya, saya memang salah, saya egois, tampar aku Mas, tapi tolong jangan biarkan aku tidur sendiri malam ini #fokus woy fokus).

                Sebagai mantan preman jalanan (jalanan gang depan rumah sih!), kami nekat boncengan nggak pakai helm. Baru kali ini dalam sejarah BBI, ada tamu agung dijemput dan nggak dikasih helm. Katanya Alvina sih, nanti kalau ada polisi di perempatan, suruh saja Bang Epi turun trus jalan kaki ngahahahaha *dikeplak pengurus. Untung Alhamdulillah, kami tiba di Toga Mas Kota Baru tanpa melihat satu rompi ijo polisipun (walaupun pas di jalan sempet ngintil mobil patrol polisi). Di café sejuk yang masih satu kompleks sama Toga Mas itu ternyata Mbak Desty dan Azmi sudah menunggu dengan tjantiknya, sudah pesan kopi pula. Saya nggak suka kopi sih (nggak ada yang nanya, Yon) jadinya pesan the blackcurrat (mana blackcurrant-nya coba, cuma the celup gitu?  Kalau kata orang mah itu teh di-blackcurrent-in, mending pesen kopi dah kalau pas kesitu. Tapi kalau pesan kopi takutnya peyut saya yang sensitif kayak kembang kantung semar ini mangap-mangap. Yon curhatmu kepanjangan, Yon. Gak penting! Maafkeun abdi teh.

http://1.bp.blogspot.com/-KIIpcKZe86c/UlEXFnDVb0I/AAAAAAAAAHw/fQU4Jfwqeak/s1600/IMG_1282.jpg
lokasi: Kafe TM Kota Baru

                Dimulailah diskusi apik antara kami berempat. Topiknya kemana-mana, tapi teteup tentang dunia buku. Kami sempet gosipin toko buku Gramedia yang sekarang mulai tidak adil kepada penerbit lokal. Ngomongin buku-buku terbitan Jogja yang sebenarnya bagus tapi sayangnya tidak berhakcipta. Juga, cerita unik bang Epi tentang kisah kasih para penimbun buku lama, juga cerita bang Epi saat berpetualang mencari buku bekas dan ketemu majalah Intisari tahun 1968! Bang Epi ini memang korum yang super, pengetahuannya luas dan setiap patah bicaranya sangat berisi, persis kayak review-reviewnya. Tidak salah kalau BBI memilihnya jadi korum. Hidup Bang Epi! Salah satu sharing-nya tentang kondisi perpustakaan umum dengan buku-buku nggak lengkap sehingga pembaca Indonesia kesulitan saat mencari buku, tema ini adalah yang paling menarik. Saya sangat suka waktu Bang Epi bilang: “Sangat penting bagi masing-masing kita untuk memiliki sebuah perpustakaan pribadi karena memang Pemerintah gagal memberikan perpustakaan yang memadai untuk rakyatnya. Buku-buku timbunan itu adalah investasi, referensi dan sumber pengetahuan. Tapi, jangan asal timbun, timbunlah buku-buku yang sekiranya bisa dibaca kapanpun dan tidak terbatasi masa.” Siap laksanakan, Komandan. Saya sudah  melakukan. Sampai-sampai ada tagline khusus di otak saya yang bunyinya: “Sudah nimbun buku apa hari ini?” #plak

                Satu jam kemudian, grup rumpik kami ketambahan satu lagi, yakni MbakWardah yang asal Bangka Belitung. Waw, keren kan ya BBI Jogja, dari mana-mana. Makin ramelah kami gosip-gosip sambil mendengarkan banyak hal bermutu dari Bang Epi. Selanjutnya, sesi mulai agak serius ketika kami membahas tentang BBI. Tentang acara keren tanggal 25 April nanti, tentang kepengurusan BBI secara umum, juga tentang sejarah BBI dari awal hingga ke sini. Mbak Desty mewakili divisi riset dan saya mewakili divisi humas juga sempat curhat serta konsultasi, memberikan sejumlah masukan dan juga saran. Trus giliran Azmi dan Wardah sebagai member baru yang kami wawancarai, kira-kira BBI itu kurang apanya (yang jelas kurang cowoknya wkwkwk). Saya sebagai Humas merasa senang bisa bertemu Bang Epi karena bisa jadi tahu hebohnya BBIers JABODETABEK yang begitu militant saat menangani IRF 2014 kemarin dan acara HUT BBI tanggal 25 besok. Salut untuk teman-teman. Kalian HEBAT. Tanpa kalian, kami hanya butiran batu akik yang belum terpoles.

                Akhirnya, obrolan seru kami harus berakhir jam 3 sore karena saya mendapat panggilan alam (a.k.a jadi sopir jemputan) sehingga kami harus berpamitan. Oh iya, Mbak Desty minta izin pulang dulu karena Yobel lagi rewel. Sayang sekali Yobel sebagai mascot lucuk BBI Jogja tidak bisa ikut hari itu karena lagi sakit. Sayang sekali padahal Yobel ini bikin gemes minta ampun dan selalu jadi korban cubit-cubitan anak-anak BBI Joglosemar. Cepat sembuh ya sayang. Walau singkat, err nggak singkat-singkat juga sih soalnya dari jam setengah 11 sampai jam 3 itu rekor, tapi banyak yang kami dapatkan dari pertemuan dengan bang Epi. Satu yang jelas, beliau menyemangati kami untuk tetap konsisten ngeblog, juga menasehati kami tentang bagaimana agar timbunan kita juga bermanfaat bagi orang lain. Apapun caranya, mempromosikan buku bagus dan menularkan kegemaran untuk membaca adalah tanggung jawab kita sebagai penimbun buku. Jangan sampai sebuah buku bagus hanya teronggok sepi di sudut kamar, tertutup debu dan tertimpa buku-buku lain yang tidak pernah terbaca. Terima kasih atas kedatangannya ke Jogja, bang Epi. Maaf atas ojekannya yang bikin waswas. Semoga bisa gentian kami yang berkunjung ke Bandung. Salam buku!

Calon-calon pemikir bangsa LOL

11 comments:

  1. **sungkem ke bang epi
    Maaf bang epi... tapi








    Saya






    **ketawa gilak baca lpm dion**

    ReplyDelete
  2. Klo buku yg dideskripsikan bang Epi itu bukan timbunan, tapi KOLEKSI, tolong diperhatikan

    XD

    Kapan2 Solo mesti dikunjungi nih :)

    ReplyDelete
  3. Oke deeeh Bzee... ((koleksi))

    Trims atas LPM-nya yang cetar membahana, MasDi. Kapan-kapan pengen ikut mangkal dekak-dekat situ ah, kali aja ditawar. #eh #salahfokus

    ReplyDelete
  4. Hahaha...ngakak bacanya, seru LPM nya mas Dion :D

    ReplyDelete
  5. Seru kopdarnya.. Pasti banyak pencerahan mengenai dunia perbukuan :)

    ReplyDelete
  6. "Sudah nimbun buku apa hari ini?” Duh ini x)

    Hihi kopdarnya pasti seru ya kak?

    ReplyDelete
  7. eeeh makasih ya Mas Dion udah dibikinin LPMnya..
    makasih juga udah antar jemput Wisma Ratih-TogaMas..meski deg-degan juga disemprit pak pol gegara nggak pakai Helm..:)))

    ReplyDelete
  8. Eh? Yobel maskot lucuk BBI Jogja? Kok manajernya belum tahu ya?*hitung2 honor* *lumayan buat nimbun....eh koleksi*

    Itu majalah Intisari-nya tahun 1966, Yon.

    ReplyDelete
  9. Seruuuuu, lain kali mampir ke Solo ya bange Epi :D

    ReplyDelete
  10. Mas Dioon. Hahahaha. Aduh aku nahan ketawa ini lagi baca di kantor sampe nulis komen pun buru-buru karna ngeri bos lewat #eh

    ReplyDelete