Search This Blog

Friday, August 22, 2014

Fyre (Septimus Heap #7)




Judul Buku : Fyre (Septimus Heap #7)
Ilustrasi Dalam dan Cover : Mark Zug dan Joel Tippie
Pengarang : Angie Sage
Penerjemah : Reni Indardini
Penyunting :Rina Wulandari
Tebal : 690 hlm
Cetakan : Pertama, April 2014
Penerbit : Mizan Fantasi

22083793


Seri Septimus Heap ditutup oleh buku pamungkas Fyre yang merupakan buku paling tebal di antara seluruh buku seri Magyk ini. Sebagaimana sebuah buku penutup dari suatu rangkaian, Fyre menjawab seluruh pertanyaan tentang dunia Kastel dan kehidupan orang-orang di dalamnya, juga keberlanjutan Magyk dan juga ilmu alkemis. Dalam Fyre, pembaca akan bisa melepas Septimus Heap dengan penuh kebanggaan dan rasa hangat di hati. Dengan efek korban yang minimal, seri ini memang bisa disebut sebagai buku sihir yang ramah. Tidak seperti Harry Potter yang semakin gelap dan muram di belakang, Angie Sage rupanya lebih memilih menuliskan ending yang lembut, agak bertele-tele di depan tetapi langsung ngebut begitu di tengah, dan dipuncaki oleh semacam ending yang “mengakhiri segalanya” dalam cerahnya sorotan cahaya Magyk yang berpendar di Menara Penyihir.

Dalam Darke (yang menurut saya merupakan buku puncak dari seri ini), Kastel terkurung oleh Gelap yang memakan banyak korban. Tapi, kerjasama antara Septimus Heap dan kawan-kawan berhasil mengenyahkan kuasa Gelap. Mereka juga berhasil mengisolasi Cincin Bermuka Dua yang merupakan relik jahat peninggalan DormDaniel. Nah, dalam Fyre, pembaca akhirnya akan mengetahui sejarah dari cincin hitam tersebut, yang merupakan asal-muasal dari berbagai peristiwa gelap yang pernah terjadi di sepanjang sejarah keberadaan Kastel. Dan, Cincin Bermuka Dua hanya bisa dilebur oleh api Fyre, yang hanya bisa dibuat lewat keahlian sang alkemis Marcellus Pye. Tapi, Fyre tidak seperti api biasa. Api ini sangat kimiawi, rapuh, dan juga hidup. Untuk menyalakannya hingga maksimal, diperlukan perangkat pelik dan berbagai syarat kimiawi—yang semuanya dipersiapkan sendiri oleh Pye di ruang tersembunyi di Ruang Agung Fyre. Hebatnya lagi, penulis dengan detail mampu memperinci segala tetek-bengek teknik isi ruangan seorang alkemis dan perangkat di dalamnya dengan begitu sederhana dan--entah bagaimana--bisa diterima pembaca.

Inilah kepiawaian utama Sage. Dia menulis cerita dengan alur sederhana, namun sederhana yang sempurna. Seluruh detail dijabarkan dengan sabar (termasuk fungsi terowongan es di bawah kastel, kuali dan tanur Fyre, berbagai perangkat ala laboratorium seorang alkemis, bagaimana mendapatkan cahaya kimiawi di bawah tanah, hingga sejarah Menara Sihir). Hampir tidak ada satu tokoh pun yang sia-sia, semua memiliki peranannya. Dalam buku ketujuh ini, hampir semua tokoh yang pernah muncul di buku-buku sebelumnya DimunculkanUlang dan hebatnya, Sage masih mampu menjaga konsistensi alur tanpa membuat bingung pembaca dengan ini siapa dan itu siapa (banyak sekali tokoh sentral di seri ini). Apa yang terjadi di buku 2 misalnya, ternyata berkorelasi dengan timbulnya suatu peristiwa di buku 7. Penggarapan seri yang terlihat sederhana ini sesungguhnya rumit. Saya membayangkan Sage memiliki sebuah papan tulis besar tempat dia menggambar sebuah diagram pohon berisi skema alur dari seluruh 7 buku seri Septimus Heap, menjaganya tetap runtut dan runut sehingga tidak ada karakter atau data yang terlewat.

Angie Sage bisa dibilang kembali pada selera lamanya untuk menulis dengan alur yang lambat di separuh awal Fyre. Sebelum melaju cepat di tengah, alur novel ini lambat sekali, mungkin disesuaikan dengan nyala Fyre yang harus dibiarkan menyala pelan-pelan dulu sebelum mencapai nyala yang pas untuk berkobar hebat. Bagian setengah awal ini hanya diisi oleh peristiwa-peristiwa minor yang belum terselesaikan di buku-buku sebelumnya, seperti pertemuan Jenna dengan hantu ibunya, berbagai persiapan teknis untuk menyalakan Fyre (bagian ini penuh dengan penjabaran teknis, tapi saya sangat menyukainya), kegalauan Septimus untuk memilih antara menjadi murid penyihir atau murid alkemi, serta penyembuhan kapal naga. Saya kadang mengantuk setiap kali membaca bagian ini. Tapi, menjelang pertengahan buku, alur mulai bergerak cepat dengan datangnya entitas jahat yang mengancam akan mengagalkan peleburan Cincin Bermuka Dua dengan mematikan Fyre. Kastel sekali lagi terancam oleh bahaya Gelap dan seluruh kekuatan yang ada pun disatukan.

Seluruh karakter yang muncul di buku-buku sebelumnya akan mengalami semacam reuni dalam buku terakhir ini. Sihir harus bersatu dengan Alkemi. Pihak ningrat harus menyatu dengan rakyat. Seluruhnya bersatu padu untuk melawan ancaman terbesar yang tengah mendekati Kastel. Kemunculan entitas kuno dari masa lampau dan hendak membalaskan dendamnya kepada seluruh penghuni Kastel. Kali ini, bahkan kekuatan Magyk seluruh penghuni Menara Penyihir tidak berdaya untuk menghadapi musuh pamungkas yang tak tertandingi kekuatannya, musuh yang bahkan dulu sempat membuat penyihir pertama Hotep Ra kewalahan dan mengasingkan diri. Pola alur di bagian tengah kedua di Fyre ini mirip seperti alur cerita di Darke, hanya saja ada lebih banyak karakter yang terlibat. Dan hebatnya, pengarang membuatnya tampak rapi dan tidak belepotan kemana-mana, tetap simpel seperti biasa. Pada penghujung akhir buku, ketika konfrontasi akhirnya terjadi, pembaca akan dibuat Terpesona sehingga sulit untuk berhenti membaca buku dengan ending yang—seperti di buku-buku sebelumnya—menyenangkan.

Penghargaan terbesar selayaknya diberikan kepada Penerbit Mizan yang telah berkenan menerbitkan dua seri terakhir dari Septimus Heap untuk melanjutkan lima buku pertama yang telah terlebih dulu diterbitkan Matahati. Salut sekali lagi karena Mizan tetap mempertahankan sampul edisi asli dan ukuran buku asli, sehingga ketika kita menjejerkan buku 1 – 7 dirak, seluruh sampulnya serasi dan satu tema. Sampul seri ini memang sangat indah dan artistic, atau bisa dibilang sangat magikal dan indah saat dipajang. Salut juga untuk penerjemah dan editor (saya sangat menyukai pilihan diksi dalam buku ini) yang telah bekerja keras untuk menghasilkan sebuah naskah yang elok, arkaik, dan—sekali lagi—magikal. Perbendaharaan kata-kata di buku ini serasa membawa kita kembali ke masa Abad Pertengahan dengan aneka perangkat unik dan kuno. Terjemahannya juga sangat luwes dan enak dibaca. Terima kasih, semoga kalian mendapatkan JimatKebahagiaan dalam kehidupan puan dan tuan sekalian. 

Akhirnya, berakhir sudah perjalanan kita mendampingi Septimus Heap. Banyak yang berubah di buku ketujuh ini, yang paling kentara adalah Jenna yang semakin galak dan semakin mirip Ratu. Di buku ini juga, pembaca akhirnya bisa sedikit mengetahui setting waktu dari dunia Septimus Heap. Dari beberapa data sejarah yang dituliskan penulis, bisa dipastikan bahwa Kastel adalah sebuah tempat di Bumi. Ini bisa ditilik dari kata “Romawi” serta nama penyihir pertama yang mirip nama pendeta Mesir. Sementara kapan kurun masa cerita ini berlangsung, jawabannya ada di penghujung buku ini. Silakan cari tahu sendiri. Dan, kembali saya menutup buku ini dengan perasaan plong karena terjawab sudah semua segala pertanyaan yang berpotensi memunculkan lagi sekuel dari Septimus Heap. Sebuah buku yang bagus, dan ditutup juga dengan sangat rapi. 

3 comments: