Search This Blog

Monday, July 7, 2014

Kedai 1001 Mimpi

Judul : Kedai 1001 Mimpi
Penulis : @vabyo
Editor : Alit Tisna Palupi
Proof : C. Simamora
Sampul : Jeffri Fernando
Cetakan : 1, 2011
Tebal : 442 hlm
Penerbit : Gagasmedia



http://3.bp.blogspot.com/-LEycfrhr9Gs/U3R5bsMydBI/AAAAAAAAFl4/iLCe2FLrOA8/s1600/Kedai+1001+Mimpi.jpg


Ada yang bilang, kita baru mengenal luar dalamnya seseorang setelah kita tinggal bersama atau berdekatan dengannya selama lebih dari satu minggu. Untuk awal-awal mungkin masih agak gensian dan jaim, tapi kalau sudah berminggu-minggu kenal, baru ketahuan deh baik dan busuknya. Seperti pengalaman si penulis, @Vabyo yang nekat menyamar menjadi TKI ke Saudi Arabia demi mewujudkan impiannya untuk menulis negeri Tanah Suci itu dari dalam, bukan dari luarnya saja. Apa yang terlintas di benak kita saat mendengar  Negara Saudi Arabia? Haji, Mekkah, Kabbah, umrah, unta, kurma, dan TKW. Ya, selain terkenal sebagai Tanah Suci Umat Islam, negara ini adalah salah satu Negara tujuan para TKW asal Indonesia yang kebanyakan (kalau tidak bisa dibilang hampir semua) bekerja di bidang nonformal. Kisah tentang berbagai keajaiban Ilahi di kota suci Makkah dan Madinah kita sudah sering mendengar dan meyakininya. Tapi, ada juga kisah-kisah ajaib yang mungkin belum kita ketahui (atau sengaja tidak boleh kita ketahui) seputar kota-kota besar di Saudi Arabia selain di kedua kota suci tersebut.

                Kerajaan Saudi Arabia termasuk salah satu Negara paling kaya di dunia. Selain pemasukan dari para jamaah haji setiap tahunnya, negeri padang pasir ini dikaruniai oleh kandungan minyak yang sangat melimpah. Harga bensin sangat murah, rata-rata penduduknya pun bisa dibilang di atas “berkecukupan”. Tuhan memang Maha Adil, negeri gurun yang panas, tapi di bawahnya adalah deposit kandungan emas hitam. Sejak ditemukan tahun 1900-an, warga padang pasir ini sontak menjadi OKB-OKB yang—sayangnya—bisa dibilang masih belum meninggalkan attitude kelas bawahnya. Secara materi, uang bukanlah masalah bagi mereka, tetapi benar seperti kata sebuah pepatah, ada banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, dan attitude adalah salah satunya.

                Sudah lama kita begitu menyucikan negeri di mana baginda Nabi Saw ini dilahirkan. Sebagai jantungnya agama Islam, memang sudah sepantasnya kerajaan Arab dijunjung sebagai negeri yang adil, makmur, islami, masyarakatnya tekun beribadah, dan sebagainya sebagainya. Well, ternyata tidak semuanya begitu. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, setiap bangsa setiap Negara pasti punya kelebihan dan kekurangan. Dan Saudi Arabia, terlepas dari Negara tempat dua kota suci berada, pun memiliki boroknya sendiri. Dari berita, sudah begitu sering kita mendengar TKW-TKW kita yang dianiyaya, diperkosa, bahkan harus dihukum pancung padahal dia sekadar melindungi dirinya. Mungkin merasa geregetan atau entah penasaran, penulis @vabyo nekat menyamar menjadi seorang TKI untuk bekerja di Saudi Arabia sekitar tahun 2008 – 2009, tepatnya di kota Alkhobar dan Dammam. Tujuan utamanya adalah melihat secara langsung bagaimana sebenarnya kondisi Negara yang oleh Barat sering dikategorikan sebagai salah satu pelanggar HAM berat dunia itu.

                Selanjutnya, pembaca akan diajak @Vabyo ke sebuah cafĂ©, karena di kedua kota itu dia memang “menyamar” menjadi seorang barista atau pelayan dan sering kali tukang bersih-bersih. Pengakuan pertamanya tentang negeri ini adalah banyak om-om yang suka sama cowok-cowok Asia (eh Saudi kan di Asia juga ya, ralat) … om-om berbulu dan berbadan gede yang suka sama cowok-cowok Asia Tenggara, terutama pinoy alias cowok Filipin. Kebetulan @vabyo ini rada-rada putih dan tinggi, jadi dia sering dikira kabayan atau orang Filipina, makanya datang-datang dia langsung ditawar Om-om muahahaha. Tentang hal ini, saya juga pernah mendengarnya langsung dari salah satu teman saya yang menjadi TKI di Qatar. Katanya, banyak om-om berkumis di sana memang nafsu banget kalau liat cowok dari Asia sampai teman saya itupun juga “ditawar” wkwkwk.
                Kedua, banyak perempuan ber­-abaya alias semacam burka warna hitam yang menutup sleuruh tubuh. Rupanya, sesuai pengamatan @vabyo, tidak semua wanita di sana ber-abaya secara sadar karena banyak yang menggenakan pakaian sexy di balik kerudung hitam dan sangat longgar itu. Tentang nafsu, si @vabyo juga mengatakan (dari cerita teman-temannya) bahwa para perempuan kaya raya di sana juga kadang keterlaluan nafsunya sampai sopirpun diembat sementara suaminya sibuk gandengan sama cewek-cewek idaman lain). Saya sampai geleng-geleng, awalnya nggak percaya bahwa semua kejadian “ajaib” di buku ini hanyalah fiksi atau dongeng semata. Tetapi, semakin saya membaca buku ini, kok rasanya kecenderungan orang-orang sana kok memang seperti itu ya. Saya mungkin belum pernah ke sana, tetapi melihat dari makanan pokok mereka yang panas (daging kambing you know!) dan ketatnya peraturan yang membatasi hubungan pria dan wanita yang bukan mukhrim, kemungkinan segala sesuatu yang diceritakan di buku ini bisa jadi ada benarnya.
                Lebih ngenes lagi kalau kita mengamati profesionalisme orang-orang Arab di bidang pekerjaan.  Menurut @vabyo, pantas saja jika negeri ini membutuhkan tenaga pembantu dari Negara-negara lain karena konon harga diri mereka terlalu tinggi. Terlahir dari lingkungan yang kaya, dari Negara yang dihormati oleh seluruh umat di dunia, membuat orang-orang ini malas untuk memegang sapu atau mengepel lantai, padahal mereka dibayar untuk itu. Belum lagi kesukaan segelintir orang yang suka banget bilang “ini haram, kamu kafir, kamu calon penghuni neraka” kalau melihat orang yang menyantap minuman merek Barat. Padahal, jam rolex mereka, telepon gengam dan laptop mereka, sampai mobilnya yang mentereng, adalah bikinan Barat semuanya. Belum lagi kecenderungan mengebut di jalan, tidak menghargai rambu dilarang merokok atau tradisi antre dengan alasan “tenang, saya warga Saudi Arabia” (jadi karena warga sana, jadinya bisa melanggar aturan seenaknya gitu ya? Enak betul!).
                Buku ini benar-benar membuka borok dari Saudi Arabia. Untuk mereka yang masih belum bisa berpikiran luas, buku ini mungkin akan membuat mereka kalap. Masak si begini dan begitu. Tapi, harap diingat, buku ini tidak mengungkap borok agama Islam, tetapi borok orang-orang Saudi Arabia yang nota bene beragama Islam. Saya salut sama seorang bule asal Texas yang menjadi pelanggan setia @Vabyo. Di saat si penulis hampir gila karena kelakuan orang-orang Saudi itu, si bule menenangkannya dengan berkata (saya lupa, tapi kira-kira seperti ini) kamu boleh marah sama mereka, tapi jangan marah sama Islam. Agama Islam tidak mengajarkan hal-hal seperti ini. Kita juga harus ingat, walaupun Islam diturunkan pertama kali di negeri Saudi Arabia ini, tetapi Islam bukanlah Arab. Ada perbedaan antara Islam dan budaya Arab. Menutupi tubuh bagi perempuan itu Islam, tapi menggenakan cadar dan  abaya hitam yang sangat panas itu (mungkin) adalah budaya. (Sebagian besar) Bangsa Arab mungkin beragama Islam, tetapi Islam bukanlah bangsa Arab. Sebuah petikan dari khutbah terakhir Rasulullah SAW di halaman terakhir buku ini dengan manis menjadi kesimpulan pamungkas dari keseluruhan buku yang sangat membawa pandangan baru ini.
                All mankind is from Adam and Eve, an Arab has no superiority over a non-Arab nor a non-Arab has any superiority over an Arab; also a white has no superiority over black nor a black has any superiority over white except by piety and good action.”

The Prophet Muhammad’s Last Sermon

4 comments:

  1. Kisah perjalanan ya, bukan novel...?

    ReplyDelete
  2. Masa iya sih Arab seburuk itu? Padahal baru baca reviewnya, gimana isi bukunya? Malah makin menampakkan keburukannya dong yah? Tapi bagus sih, buat nambah wawasan.

    ReplyDelete
  3. Bener-bener nggak nyesel langsung nyari buku ini setelah baca review ini (plus beberapa review di GR). Benar-benar bikin merinding. Berharap itu cuma fiktif belaka~ :(

    ReplyDelete