Search This Blog

Sunday, January 19, 2014

Xar dan Vichatan




Judul : Xar dan Vichatan
Pengarang : Bonmedo Tambunan
Penyunting : Lutfi Jayadi, R. Adityarani, Arie Prabowo, dan Leony Siregar (rupanya buku ini disunting sampai dua kali sodara-sodara)
Sampul : Imaginary Friends
Tebal : 341 hlm
Cetakan: 2, Juli 2010
Penerbit : Adhika Pustaka



               
 Saya baru pertama kali membaca karya Bonmedo Tambunan, meskipun buku ini sudah hampir setengah tahun berada di timbunan.Entah kenapa kovernya membuat saya under estimate sama isinya. Kovernya bagi saya sangat game banget, meskipun saya sangat suka perpaduan warnanya yang ungu-ungu-unyu tapi tetap elegan (hanya saja itu pakaiannya kenapa kelihatan bagian pahanya #abaikan). Anyway, karena saya termasuk yang sok vokal mendukung terbitnya karya-karya fantasi anak negeri, maka dengan meminjam kekuatan tekad dari para pendeta Xar, saya akhirnya berhasil merobek segel buku ini dengan epiknya (halah) sebelum kemudian baru tahu kalau buku ini bagus … kemudian saya tidak bisa berhenti membacanya.

                Alkisah ada dua buah kuil dengan dua aliran ilmu yang berbeda, yakni kuil Xar dan kuil Vichattan. Kedua kuil ini adalah sisa-sisa dari kekuatan Kuil Cahaya yang telah runtuh ketika melawan Kuil Kegelapan puluhan tahun sebelumnya. Settingnya mengambil tempat di kawasan antah-berantah, yang berarti penulis harus membangun sendiri dunia fantasi yang baru. Ini pilihan yang bagus, karena penulis dibebaskan untuk berkreativitas dalam mencipta dunianya—asal tidak ada bolong logika yang menginjak-injak hukum alam dan sebab akibat *opo iki?* Lanjut, dua kuil ini melatih ilmu yang berbeda. Bila Kuil Xar berfokus pada kekuatan dalam diri, maka Kuil Vichattan berfokus pada kekuatan alam. Kalau lebih mudahnya, Xar ini melatih tenaga dalam (telekinetis, aura tubuh, tembakan tenaga, chi) sementara Vichattan memanfaatkan energi alam (api, air, tanah, angin) sebagai sumber kekuatan. Mirip si Aang the last air bender. 

                Cerita dimulai ketika dua petinggi dari Kuil Xar dan Vichattan, yakni Biarawati Agung Mirell dan dan Tiarawati Magdalin diserang oleh kuasa gelap yang misterius. Kedua tokoh dengan kekuatan terhebat di kedua kuil itu kewalahan dan bahkan pasukan dan prajurit mereka tidak menyadari adanya serangan itu. Satu hal yang jelas, kedua orang hebat itu langsung melemah dan menuju ambang ajal akibat kutuk kegelapan. Maka penyelidikan pun dilakukan. Mirell dan para pasukan Kuil Xar bertamu ke Vichattan untuk mendiskusikan apa yang terjadi. Dari terawangan dan ilmu batin, mereka mengetahui bahwa kegelapan tengah bangkit dan melepaskan kutuknya. Kuil kegelapan, antitesa dari Kuil Cahaya, telah bangkit dan hendak kembali menebarkan ancaman kepada dunia.

                Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan kecuali membangun kembali Kuil Cahaya. Perpaduan kekuatan pasukan Kuil Xar dan Vichattan sendiri sangat kuat, tetapi tetap saja belum mampu menandingi kuasa Kuil Kegelapan, karena kegelapan hanya bisa dilawan oleh cahaya. Kuil Cahaya sendiri runtuh setelah pertempuran besar melawan pasukan kegelapan puluhan tahun lalu. Kuil itu hanya bisa dibangkitkan kembali dengan cara menemukan sang ahli waris cahaya yang akan menggantikan Pendeta Cahaya yang telah tewas dalam pertempuran melawan Kuil Kegelapan. Lalu, bagaimana jika para pewaris cahaya itu ternyata adalah 4 orang anak kecil? Dua anak dari Kuil Xar, dan dua lagi dari Kuil Vichattan.

                Gerome, Antessa, Kara, dan Dalrin hanyalah empat murid muda dari Kuil Xar dan Vichattan. Mereka masih asyik dengan masa kecilnya ketika tiba-tiba sebuah kekuatan gaib membimbing dan menunjuk mereka menjadi ahli waris Kuil Cahaya yang berikutnya. Namun, sebelumnya mereka harus membangunkan Amor dan Pietas, dua binatang suci penjaga Kuil Cahaya. Dengan kekuatan yang belum sempurna, keempat anak itu harus berjuang membangkitkan kembali Kuil Cahaya sementara antek-antek Kuil Kegelapan terus berupaya menghalangi langkah mereka. Sementara itu, gabungan pasukan Kuil Xar dan Vichattan juga harus berjuang menghadapi serbuan pasukan kegelapan yang mulai bangkit.

                Seru dan rapi, dua kata untuk menggambarkan buku ini. Tidak banyak bolong logika dan ceritanya begitu nikmat untuk dibaca. Keunggulan novel ini adalah pada kesederhanaan yang lalu diolah secara matang dan detail. Kegelapan melawan cahaya, tema yang sudah klise. Tapi jika diolah dan dipadukan sedemikian rupa dengan elemen-elemen fantasi serta alur yang menawan, tema klise ini bisa tetap menghasilkan sebuah kisah yang seru dan tidak membosankan. Adegan pertempurannya yang banyak juga membuat pembaca tidak ngantuk dibuai narasi. Kalimat-kalimatnya pun pendek-pendek, mengena, dan deskriptif. Alur bergerak maju secara rapi. Dan ada glosariumnya lagi, Yeay. Ini buku yang bagus!
                 

No comments:

Post a Comment