Search This Blog

Wednesday, July 3, 2013

His Majesty’s Dragon (Naga Sang Kaisar)

Judul                   : His Majesty’s Dragon (Naga Sang Kaisar)
Pengarang          : Naomi Novic
Penerjemah        : Ine Milasari H
Cetakan              : 1, 2012
Tebal                   : 529 hlm
Penerbit              : Elex Media
               

His Majesty's Dragon (Naga Sang Kaisar)
               
             Setelah seri Eragon yang buku-bukunya hampir setebal bantal itu, sepertinya kisah fantasi yang mengangkat tentang naga sudah habis dieksplorasi. Sejak era Tolkien, makhluk mitologis yang satu ini memang seolah begitu laris dijadikan sebagai bahan cerita di buku-buku fantasi. Mungkin, ini sebabnya pasar pembaca kemudian mulai jenuh dengan cerita naga-naga yang begitu saja. Kemudian, datanglah His Majesty's Dragon menyelamatkan naga dari kemonotonan pembaca. Buku ini begitu fresh, begitu special, begitu "baru" dalam memperlakukan binatang naga dalam cerita. Lalu, apa yang membedakan naga dalam HMD dengan naga-naga lainnya? Ada satu hal yg paling mencolok, yakni unsur historical fiction-nya yang kental!

Mengambil setting era perang Napoleon pada abad ke-19, HMD menyuguhkan sebuah babak sejarah yang seru ketika Napoleon secara perlahan mulai menguasai seluruh Eropa dan hendak melengkapi kegemilangannya dengan mengusai Kerajaan Inggris. Antara Eropa dan Kepulauan Inggris, hanya dipisahkan oleh sebuah selat sempit yang dijaga dengan ketat oleh blockade armada angkatan laut kerajaan Inggris. Kita tahu, armada AL Inggris adalah salah satu yang terkuat di dunia selama beratus-ratus tahun. Maka, Napoleon menggunakan satu-satunya alternatif yang ada, yakni lewat angkasa.  Para prajurit dan penerbang Inggris pun bangkit dengan gagah berani demi membela negaranya. Mereka naik ke angkasa … bukan dengan menunggang pesawat, tetapi dengan naga!

 Dalam HMD, keberadaan pesawat sepenuhnya digantikan oleh para naga. Mereka adalah makhluk-mahkluk raksasa yang dalam buku ini dikisahkan benar-benar ada dan berhasil dikembangbiakkan oleh negara-negara besar dunia sebagai angkatan udara mereka. Maka, perang udara pun diganti dengan perang naga di angkasa, seluncuran bom diganti dengan semburan napas api, dan pilot pesawat tempur diganti dengan para penunggang naga. Alih-alih membersihkan badan pesawat, para pembersih membersihkan sisik naga. Alih-alih membangun lapangan udara terapung, mereka membangun landasan terapung sebagai pijakan bagi para naga. Lucu juga melihat naga dalam HMD diperlakukan laiknya sebuah pesawat, dengan bagasi yang dibawa di cakarnya, serta para penembak dan pembawa bendera sinyal yang bergelantungan dengan lincah pada sisik-sisik dan duri-duri di badannya. Tapi, kelucuan ini hilang juga ketika pembaca larut dalam pesona cerita yang begitu luews dan lancar dalam buku ini.

Kapten Laurence adalah kapten dari kapal HMS Reliant milik Kerajaan Inggris. Dalam salah satu patrolinya, mereka berhasil mencegat dan mengambil alih kapal fregat milik Prancis yang membawa sebutit telur naga yang hampir menetas. Sebagaimana di Eragon, nagalah yang akan memilih penunggangnya, dan naga yang kemudian diberi nama Temeraire itu pun memilih Kapten Laurence sebagai penunggangnya. Sang kapten pun harus memilih untuk meninggalkan kariernya yang cemerlang di Angkatan Laut untuk menjadi seorang penerbang sekaligus penunggang naga. Sebuah pilihan yang sulit di awal, namun akhirnya terbukti merupakan pilihan yang sangat bijak karena hidup Laurence tidak akan pernah sama lagi. Hilang sudah kehidupan yang jenuh dan monoton di tengah laut, digantikan dengan keseruan menjelajahi angkasa dengan menunggang naga.

Berangkat dari nol, Laurence pun harus segera memulai sesi latihan panjangnya untuk menunggang naga, sekaligus menjalin hubungan yang akrab dengan naganya. Karena seorang naga dan penunggang yang terpilih ibarat dua hal yang satu dan saling mengisi.  Dan, kemudian, bersama naga-naga lainnya, mereka harus bangkit membela Inggris untuk menghadapi serbuan Napoleon yang juga dilengkapi dengan armada-armada naga dari daratan Eropa.

Kalau penulis sekaliber Stephen King saja sampai bilang bahwa novel ini “Sangat menghibur”, maka His Majesty’s Dragon (HMD) memang layak untuk coba dibaca. Ini, plus komporan dari resensi Ren dan pasokan dana ultah dari Alvina, membuat saya tidak ragu lagi untuk segera membaca buku ini. pertama, ini buku tentang naga. Bukan sekadar naga, tapi bumbu perang Napoleon dan setting waktu dalam HMD –lah yang membuat novel ini begitu memikat. Penulis mampu menulis sebuah kisah fantasi yang tetap berpijak pada situasi dan kondisi yang benar-benar ada dalam sejarah dunia. Bahkan, seragam, tata krama, serta adat kebiasaan formal yang begitu dijunjung tinggi pada abad ke-19 juga tetap dipertahankan. Mungkin, inilah yang membuat gaya bahasa dalam novel ini seperti terasa kaku dan formal, tapi memang begitulah percakapan di era itu. Modelnya hampir mirip dengan pengisahan di novel Jane Austen. Ini diperjelas dengan model-model  “penceritaan ala sindiran halus atau komentar miring dibalik tata krama” yang banyak kita temukan dalam banyak novel klasik Inggris abad -19.  


Bacaan yang hebat, sangat direkomendasikan bagi para pecinta bacaan fantasi sekaligus sejarah!

1 comment: