Search This Blog

Tuesday, January 15, 2013

Pegasus


Judul                     : Pegasus
Pengarang          : Robin McKinley
Penerjemah       : Gusti Nyoman Ayu Sukerti
Penyunting         : Reni Indardini
Sampul                 : Tyo/RAI Studio
Cetakan               : 1, Agustus 2012, 483 halaman
Penerbit              : Mizan fantasi

Pegasus

                Pegasus, mahkluk mitologis ini selalu berhasil mempesona imajinasi manusia sejak zaman dahulu kala. Mahkluk ajaib yang dalam bahasa Indonesia sering disebut juga sebagai kuda sembrani ini mungkin muncul dalam pikiran orang-orang dahulu yang begitu mendambakan sesosok binatang yang bisa berlari cepat sekaligus terbang. Jadilah mereka menggabungkan dua binatang yang sangat mereka kagumi: kuda dan burung. Dalam Pegasus, Robin McKinley menegaskan kembali mengenai kecintaan manusia terhadap mahkluk yang satu ini. Dia menyusun sebuah cerita, lebih tepatnya sebuah kronik karena cerita dalam buku ini begitu panjangnya, begitu mendetailnya, dan juga begitu deskriptif. Dalam satu hal, novel ini adalah penggambarann lebih lanjut dan lebih lengkap mengenai sosok Pegasus menurut imajinasi penulis.

                Dalam Pegasus, dikisahkan manusia telah menjalin hubungan persahabatan dengan para Pegasus. Hubungan ini dimulai ketika rombongan pertama manusia datang ke Tanah Perawan yang kala itu menjadi alam liar tempat mahhluk Pegasus biasa mencari makan. Saat itu, Pegasus begitu rentan akan serangan makhluk-mahkluk seperti ladon, wyvern, taralian, dan norindour. Meskipun cerdas luar biasa, kaum Pegasus adalah mangsa empuk dari mahkluk-makhluk jahat tersebut, dan akibatnya populasi mereka pun semakin berkurang. Dengan datangnya manusia ke Tanah Perawan, kedua kaum pun saling bekerja sama. Manusia dengan senjata dan kemapuan tempurnya akan menghalau dan membasmi para predator Pegasus sementara kaum Pegasus mengizinkan manusia untuk mengelola Tanah Perawan. Sejak saat itu, berdirilah kerajaan Basiland.
               
                Untuk memperkokoh ikatan antara kedua ras, maka diputuskan untuk memasangkan setiap anggota kerajaan Basiland dengan seekor Pegasus. Raja Basiland otomatis akan dipasangkan dengan Raja  Pegasus. Keduanya kemudian akan selalu bersama-sama, dalam perang, perjalanan, maupun urusan kerajaan. Karena menggunakan bahasa yang berbeda, komunikasi antara manusia dan Pegasus pasangannya dilakukan melalui perantaraan seorang penyihir manusia atau syaman Pegasus, walaupun komunikasi yang dilakukan hanya mencapai kurang dari 20 persen. Agaknya, hubungan tersebut masih belum bisa berlangsung lancar, hanya via gerak-gerik dan isyarat saja.

                Ikatan dan hubungan isyarat seperti ini berlangsung selama kurang lebih 800 tahun sejak Kerajaan Basiland berdiri. Hingga, tibalah waktu ketika Putri Sylviianel untuk dipasangkan dengan Pegasus pasangannya. Pada hari pemasangan, sejenak setelah para penyihir dan syaman mengadakan ritual pemasangan, ia tiba-tiba bisa berbicara dengan Pegasus pasangannya yang bernama Ebon. Ini adalah sesuatu yang luar biasa, di luar kebiasaan, sekaligus berbahaya. Sudah ratusan tahun sejak ada orang pertama yang mengaku bisa mendengarkan atau berkomunikasi langsung dengan Pegasus pasangangnya. Selama ini, komunikasi antara kedua ras diperantarai oleh penyihir. Tapi, baik Silvi atau Ebon masing-masing bisa berbicara dan mendengar sejelas berbicara melalui telepati. Dan, dimulailah kegemparan itu.  Para penyihir marah, mereka menyusun intrik untuk melarang Silvi dna Ebon agar tidak saling berkomunikasi karena manusia dan Pegasus seharusnya tidak bisa saling berbicara. Tapi, Silvi menolak dan tetap maju.

                Maka, dimulailah petualangan Silvi dan Ebon. Persahabatan mereka yang erat merupakan perlambang eratnya hubungan manusia dengan kaum Pegasus. Keduanya bahkan sering terbang bersama, walau itu dilarang. Pada akhirnya, hubungan keduanya begitu dekat sehingga Silvi pun mendapat kehormatan besar yang bahkan belum pernah didapatkan oleh orang-orang sebelumnya, yakni mengunjungi negeri Pegasus. Apakah yang akan ia jumpai di sana? Apakah kenyataan di sana seindah yang ia bayangkan? Bagaimana pula dengan kaum penyihir? Apa yang akan Silvi lakukan demi mempertahankan persahabatan uniknya dengan Ebon? Semua dijawab dalam novel indah ini.

                Bersetting disebuah negeri antah berantah, novel Pegasus adalah novel yang luar biasa indah dan detail. Kekayaan detailnyalah yang sangat mengagumkan. Penulis berhasil mengeksplore mahkluk mitologis ini dan menjadikannya lebih manusiawi. Bahwa Pegasus punya tangan kecil di ujung sayapnya, bahwa mereka lebih kecil dari kuda, dan bahwa Pegasus sangat dilarang untuk ditunggangi oleh manusia; pengetahuan-pengetahuan seperti ini yang belum kita ketahui. Penulis juga mampu menggambarkan segala ritual dan prosesi di Kerajaan basiland dengan begitu detail, mulai dari acara penobatan, sistem politik istana, sejarah dan kronik bangsa manusia dan Pegasus, hingga rahasia-rahasia paling dalam dari mahkluk mitologis yang satu ini.

                Sayangnya, alur novel ini agak datar dan bisa-bisa membuat bosan para pembaca yang tidak sabaran. Meskipun menawarkan premis yang menarik, buku ini lebih menyerupai sebuah buku roman fantasi ketimbang buku petualangann fantasi. Adegan perangnya sangat minim! Untungnya, keindahan dan detail yang dipaparkan penulisnya, yang disebar merata dalam seluruh isi buku, akan mempesona pembaca. Buku ini ibarat sebuah pintu menuju dunia lain yang sangat eksotis dan indah, indah dan juga detail. Salut juga untuk sang penerjemah yang berhasil menghadirkan novel ini dalam bahasa Indonesia yang sangat luwes sekali. Rupanya, beliau memilih untuk mengambil padanan alih-alih menyerap langsung beberapa kata dalam novel aslinya. Alhasil, jadilah kita mendapati kata-kata unik dan cantik seperti paseban, balai agung, dan tabik. Novel ini juga minim typho. Selamat untuk penerjemahan yang bagus dari buku cantik ini.  

No comments:

Post a Comment