Search This Blog

Friday, December 14, 2012

The Lord of the Rings: Sembilan Pembawa Cincin


Judul               : The Lord of the Rings: Sembilan Pembawa Cincin
Pengarang       : J.R.R. Tolkien
Penerjemah     : Gita Yuliani K
Cetakan           : Keempat, Februari 2003
Tebal               : 501 halaman
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama


Tiga cincin untuk raja-raja Peri di bawah langit,
Tujuh untuk raja-raja kurcaci di balairung batu mereka,
Sembilan untuk Insan Manusia yang ditakdirkan mati,
Satu untuk Penguasa Kegelapan di tahtanya yang kelam.
Di Negeri Mordor di mana Bayang-bayang merajalela.
Satu cincin ‘tuk menguasai mereka semua, satu cincin ‘tuk menemukan mereka
Satu cincin ‘tuk membawa mereka semua dan dalam kegelapan mengikat nereka
Di Negeri Mordor di mana Bayang-bayang merajalela.

            
            The Lord of the Rings: Sembilan Pembawa Cincin, inilah epic pembuka dari trilogi novel The Lord of the Rings yang masuk dalam daftar buku terbaik sepanjang masa. Dikisahkan dengan begitu mendetail dan lengkap, trilogi petualangan fantasi karya J.R.R Tolkien ini seperti sudah ditakdirkan untuk menjadi sebuah karya besar nan melegenda sejak kali pertama diterbitkan menjelang pertengahan abad ke-20. Dalam seri ini, Tolkien dengan lihai mampu meramu sebuah kisah fantasi yang benar-benar memenuhi ekspektasi dan harapan pembaca akan sebuah kisah ajaib dan seru. Dengan cermat ia menyusun sebuah kisah di dunia lama, zaman ketika Bumi belum terlalu tua dan Eropa masih disebut dengan Middle Earth. Itulah masa-masa ketika sihir masih berkecamuk, ketika pedang adalah lambang harga diri, ketika daratan masih diliputi hutan dan aneka legenda, ketika sikap ksatria dan keberanian adalah harta tak  terbeli, ketika janji masih dijunjung tinggi.

            “… dan pada zaman dulu, hanya makhluk-makhluk paling jahat yang berani ingkar janji.” (hlm 23).

            Kisah besar ini terjadi pada Zaman Keempat—yang rincian kalender di Dunia Tengah dapat dilihat di buku The Return of the King. Kala itu, Dunia Tengah masih diliputi kedamaian karena Sang Kegelapan masih lemah di pusat kekuasaannya di timur. Hanya sesekali terjadi perang atau gangguan keamanan, atau kemunculan beberapa orc dan troll di sudut-sudut terjauh Bumi Tengah, di Mirkwood, dan di Pegunungan Berkabut. Kaum Hobbit (nama “hobbit” merupakan istilah ciptaan Tolkien yang kemudian masuk di dalam kamus Bahasa Inggris) hidup tenang dalam rumah-rumah lubang mereka di Shire. Kaum manusia masih bertahta dan menjalankan tugasnya dengan penuh kebanggaan sebagai calon pewaris peradaban Bumi Tengah. Kaum kurcaci sibuk dengan perkakas dan kehidupan mereka di gunung-gunung batu serta terowongan. Sementara, kaum elf memutuskan untuk mengasingkan diri dari dunia dan mencoba mengabaikan segala apa yang terjadi di Dunia Tengah. Dunia seakan berputar dengan begitu biasa, padahal di timur kegelapan tengah bangkit dan mengumpulkan kuasa jahatnya.

            Adalah Frodo Baggins, seorang hobbit yang juga keponakan dari Bilbo Baggins (kisah lengkap Bilbo bisa dibaca pada buku The Hobbit), yang mewarisi sebuah cincin keramat ari sang paman. Cincin inilah rahasia dari kekayaan, kejayaan, dan kehebatan keluarga Baggins di Hobitton. Kunjungan sang penyihir kelabu Gandalf mengubah segalanya, termasuk mengubah takdir hidup Frodo dan juga nasib Dunia Tengah. Cincin itu ternyata adalah pusat kekuatan dari Sang Gelap yang tengah bangkit di timur. Jika cincin itu jatuh ke tangannya, maka berakhirlah kehidupan di seluruh penjuru Dunia Tengah. Keputusan telah dibuat. Dewan penyihir dan kaum elf sepakat bahwa cincin itu harus dihancurkan. Frodo pun terpilih sebagai sang pembawa cincin karena sebagai hobbit ia dinilai paling tidak mempan tergoda oleh bujukan si cincin.

            Maka dibentuklah aliansi pertama untuk melawan kembali kebangkitan Sang Gelap. Dari masing-masing ras di Dunia Tengah, ditunjuklah sejumlah perwakilan. Aragon dan Boromir dari ras manusia, Gimli dari ras kurcaci, Legolas dari kaum elf, Gandalf sang penyihir, serta ketiga sahabat Frodo yakni Merry, Peppin, dan Sam sebagai wakil dari ras hobbit. Maka, dimulailah perjalanan akbar sembilan pembawa cincin menuju Gunung Mordor demi menghancurkan cincin keramat tersebut. Dari sini, cerita akan bergulir seiring dengan makin jauhnya perjalanan para pembawa cincin. Melewati kota-kota manusia dan kampung hobbit, menembus hutan belantara yang penuh jebakan, melewati terowongan-terowongan gelap yang menyesatkan, hingga berjuang melawan terpaan badai salju di lereng pegunungan terjal. Sebuah perjalanan yang berat, apalagi Sang Gelap juga merasakan ketiakberesan sehingga ia mengirimkan pasukan hitamnya.

            Ini adalah perjalanan fisik sekaligus perjalanan jiwa. Segala serangan dan kesulitan yang menghadang di perjalanan telah menjadikan sembilan pembawa cincin itu saling terikat erat satu sama lain. Persahabatan mereka terbukti ampuh dalam menghadapi dan menaklukkan apapun yang menghadang, termasuk monster dan kuasa jahat sekalipun. Tapi, tidak ada hasil yang besar tanpa cobaan yang berat dan tak tertangguhkan. Kuasa nafsu begitu sulit ditolak sehingga pada akhir buku pertama ini, berakhirlah kebersamaan sembilan pembawa cincin. Frodo dan Sam harus berpisah dari teman-temannya yang lain, karena masing-masing punya takdir yang harus dipenuhi dan dijalani demi menyelamatkan Dunia Tengah.

            The Lord of the Rings: Sembilan Pembawa Cincin berhasil melanjutkan kesuksesan  The Hobbit . Novel ini ditulis dengan begitu terperinci, begitu lengkap sehingga hampir-hampir menyerupai perjalanan sungguhan ke daratan tak bertuan. Tolkien begitu piawai mendeskripsikan Dunia Tengah dengan kondisi alam dan penduduknya, bahkan bahasa-bahasa, sejarah, hingga kronologis waktunya. Karena saking lengkapnya, banyak pembaca yang merasakan novel ini sangat lambat dan alurnya sangat pelan, padahal dari situlah bukti keseriusan sang penulis dalam menggarap novel ini. Seolah-olah, Tolkien hendak menuliskan sebuah dunia yang benar-benar nyata, yang lengkap dengan segala atributnya sebagaimana dunia yang bisa dibayangkan pembaca. Dan ia berhasil. Setelah pembaca menyelesaikan pembacaan The Lord of the Rings, mereka pasti akan merindukan kembali saat-saat “berjalan” menembus Old Forrest atau mendaki Pegunungan Berkabut atau mengunjungi Rivendell.

            Ada saat-saat hebat yang kita rasakan saat membaca buku ini. Seolah-olah, pembaca akan dipindahkan ke masa-masa kuno ketika sihir dan adu pedang adalah hal biasa. Tolkien juga memanjakan pembacanya dengan detail (yang mungkin dianggap bertele-tele oleh sebagian orang) dan inilah yang menjadikan gambaran dalam novel ini begitu vivid dan mengikat pembaca. Dan, tanpa sadar, kita seolah-olah diajak menjadi pembawa cincin yang kesepuluh, yang menemani sekaligus mengawal Frodo dalam perjalanan besarnya menyelamatkan Dunia Tengah.
            

No comments:

Post a Comment