Search This Blog

Monday, November 7, 2011

The Boy Sherlock Holmes, Eye of the Crow

Judul               : The Boy Sherlock Holmes, Eye of the Crow
Pengarang       : Shane Peacock
Penerjemah      : Maria Lubis
Peny. Aksara   : Ananta
Ilustrasi isi       : Sweta Kartika
Cetakan           : I, Oktober 2011
Tebal               : 351 halaman
Penerbit           : Qanita



            Kita mungkin sudah mengenal siapa dan bagaimana sosok Sherlock Holmes, seorang tokoh fiksi ciptaan Sir Artur Conan Doyle yang telah begitu rupa menginspirasi munculnya genre novel detektif  dalam sejarah. Tingkah polah Holmes bersama sahabatnya, Dokter Watson, begitu mempesona jutaan pembaca melalui detail penceritaan yang luar biasa akurat, teknik pemecahan kasus yang begitu dahsyat, serta kejutan-kejutan yang sungguh memikat. Jika Anda sempat membaca novel Sherlock Holmes dalam edisi bahasa Inggris yang asli, Anda pasti akan mampu merasakan bagaimana kalimat-kalimat yang dituliskan oleh Conan Doyle melalui pengamatan Dr. Watson begitu klasik dan mengagumkan. Tapi, tidak ada orang yang sempurna. Terlepas dari kehebatan analisanya, Sherlock Holmes juga memiliki kebiasaan-kebiasaan yang mungkin bisa dibilang aneh atau nyentrik. Ia seka sekali mengisap madat, terutama kalau tengah mengalami kebuntuan dalam berpikir atau menemui masalah. Detektif ini juga sering menghilang tiba-tiba, menyuruh kliennya melakukan sesuatu yang aneh dan tak terbayangkan, bahkan kadang juga terlalu egois serta penyendiri.

            Masa kecil Sherlock Holmes lah yang oleh Shane Peacock kemudian coba ditelusuri. Sifat dan kepribadian Sherlock Holmes yang nyentik pastinya dibangun oleh masa kecil dan masa remajanya yang kemungkinan juga “tidak biasa”. Pembaca tidak pernah tahu, kecuali sedikit, dari masa lalu detektif ulung ini sehingga bagian inilah yang menawarkan eksplorasi menarik untuk dijelajahi, untuk coba diraba-raba. Novel seri The Boy Sherlock Holmes ini adalah salah satu yang terbaik dalam upaya menghidupkan kembali masa muda detektif fiksi legendaris ini.

            London pada abad kesembilan belas adalah kota yang luar biasa padat dan berkabut. Entah kabut akibat asap cerobong pabrik produk Revolusi Industri ataupun memang karena cuaca London yang identik dengan hujan dan kabut, serta lampu gas, kota ini menawarkan setting yang tepat untuk membangun sebuah kisah misteri dan detektif. Di kota inilah seorang bocah kecil tengah digodok dengan kasus pertamanya, sebuah persiapan untuk membentuknya menjadi seorang pengamat sejati. Sejak kecil, Sherlock muda telah dianugerahi dengan mata yang awas serta pikiran yang luar biasa tajam. Ia mampu mengamati orang-orang dan dengan tepat menyimpulkan apa pekerjaannya, di mana tempat tinggal dan asalnya, apakah ia sudah menikah atau belum; hanya dengan melihat sepatunya. Kemampuan analisa ini rupanya diwarisi dan diajarkan oleh ayahnya.

            “Pengamatan”, Wilber selalu berkata. “bukan hanya suatu keahlian primer seorang ilmuwan, tapi bakat mendasar makhluk hidup. Gunakan matamu sepanjang waktu Anakku. Matamu tidak akan berbohong kepadamu jika kamu benar-benar berfokus. Gunakan seluruh indramu; pendengaran, penciuman. Perasa, dan peraba. … Melihat segala hal dengan saksama adalah kekuatan yang sangat besar. Itu akan memberimu kekuatan, bahkan meskipun nasib terasa melemahkanmu. (hlm 99)

            Kasus pembunuhan di  sebuah lorong gelap di sudut kota London adalah kasus pertama yang ia tangani. Suatu kasus yang luar biasa, yang bahkan sampai menjebloskan ia ke penjara dan terpaksa bermain-main dengan sang pembunuh yang kejam. Sudah bisa kita tebak, Sherlock berhasil memecahkan kasus ini dengan brilian. Ia berhasil menyelamatkan nyawa seorang tukang daging yang tidak bersalah, namun untuk itu, Sherlock juga harus menanggung kehilangan yang sangat besar di akhir cerita. Sebuah pengalaman traumatis yang mungkin kelak akan turut membentuk sosok Sherlock Holmes yang nyentrik, suka madat, dan cenderung  penyendiri.

            Melalui kemampuan pengamantannya, Shelock berhasil melarikan diri dari penjara. Caranya pun sangat unik dan tak terbayangkan. Lalu, pembaca akan diajak untuk menyusuri lorong-lorong gelap kota London, di mana kabut menyembunyikan bangsawan yang mabuk, wanita kelas atas yang senang berkeliaran, pengemis dan orang-orang asing, serta pembunuh itu sendiri. Ketika polisi kemudian menangkap orang yang keliru, Sherlock muda menemukan bukti tak terbantahkan lewat mata kawanan burung gagak. Yah, burung-burung itu menyaksikan pembunuhan itu. Sherlock juga mendapat bantuan dari anak-anak jalanan, yang hingga ia menjadi detektif hebat kelak, akan tetap menjadi sumber informasi dari “jalur belakang”nya yang sangat terpercaya. Sherlock kemudian juga menyamar untuk menghindari polisi sekaligus menyelidiki, yang hal ini menjelaskan kehebatan Sherlock Holmes dewasa yang sangat piawai dalam menyamar. Jika bakat pengamatan diwarisi dari ayahnya, maka penyamaran adalah bakat yang diturunkan oleh ibunya.

            Berani menjamin, pembaca akan terbawa kembali ke masa ketika Conan Doyle mengetikkan naskah Sherlock Holmes yang asli di abad ke-19 ketika membaca kutian berikut,

            “…Jika  kau memikirkan solusinya dulu sebelum berurusan dengan suatu masalah ilmiah, kau mengerjakannya secara terbalik. Kita membutuhkan fakta-fakta, Irene. Setelah memiliki sekumpulan petunjuk, sebuah jejak yang bisa kita ikuti, kita bisa menemukan solusinya.” (hlm. 166).

            Sungguh hebat, The Boy Sherlock Holmes menawarkan pilihan masa muda dari sang detektif legendaris ini dengan begitu hidup. London dengan kabut, lampu gas, dan kereta kudanya, semuanya diterapkan sebegitu canggih oleh Shane Peacock sebagai properti fiksi yang tidak boleh tidak terpakai dalam karya-karya berbau Holmesian. Saya menyarankan novel ini sebagai bacaan pengiring bagi Anda yang telah membaca habis seluruh seri petualangan Sherlock Holmes dan menginginkan versi lebih detail dan lebih utuh dari kehidupan salah satu master detektif terhebat dalam sejarah fiksi dunia ini.

3 comments:

  1. eh aku baru tau ada buku ini, kayaknya menarik ya! sebagai penggemar sherlock holmes bisa jg jadi alternatif =)

    ReplyDelete
  2. Huum, bs jd alternatif u/ mencoba mereka2 masa muda Sherlock Holmes

    ReplyDelete
  3. kasihan sherlock jolmes...di usianya yang masih belia harus di tinggal ibunya untuk selaamanya!!!

    ReplyDelete