Search This Blog

Friday, October 28, 2011

The Vampire Diaries, The Return: Shadow Souls

Judul                : The Vampire Diaries, The Return: Shadow Souls
Pengarang        : L.J. Smith
Penerjemah      : Nengah Krisnarini
Penyunting        : Moh. Sidik Nugraha
Pem. Aksara    : Dian Pranasari
Pewajah Isi       : Dinar R.N.
Tebal                : 706 halaman
Cetakan           : 1, September 2011
Penerbit            : Atria


            “Ya ampun”, katanya. “Ada yang tidak beres! Elena memandang Bonnie. Bonnie memandang Meredith. Meredith memandang Elena.” (hlm 708). Ada yang benar-benar tidak beres pada Damon. Kok bisa? Ada apa  dengan vampire angkuh tapi mempesona itu? Mari kita ulang rekamannya dari awal.

            Sekedar sinopsis bagi pembaca yang belum membaca kisah cinta segitiga dalam Vampire Diaries. Elena adalah seorang gadis SMU cantik yang disukai oleh Stefan dan Damon—dua-duanya adalah kakak-beradik vampire berusia 500 tahun dari Italia. Namun, Elena tetap harus memilih, dan Stefan sang adik yang jauh lebih kalem, lebih romantis, lebih ramah pada manusia pun menjadi pilihan Elena. Vampire Diaries berkutat dengan kisah cinta vampire-manusia ini, dipadukan lagi dengan tema-tema perang melawan dunia kegelapan.  Kalau sudah telanjur menyimak dari awal, pembaca dijamin akan keranjingan mengikuti seri-seri berikutnya dari Vampire Diaries.

Dalam seri The Shadow Souls ini, Elena kehilangan Stefan yang diculik oleh sesosok makhluk kegelapan dan dibawa di Dimensi Kegelapan. Dengan modal tekad dan nekad, Elena bersama Damon pun memasuki Dimensi Kegelapan di mana hanya ada vampire, dedemit, dan kitsune—monster pencuri pikiran yang juga piawai mengambil alih pikiran seseorang. Sementara, kota tercinta mereka Fells Church juga terancam bahaya. Benih-benih yang ditebarkan kitsune telah menyebabkan teror kesurupan di seantero kota. Teman-teman manusia Elena pun berbagi tugas, Matt menjaga kota, sementara Meredith dan Bonnie ikut serta Elena dan Damon ke dimensi gelap. Di tempat ini pula, Elena mulai mengembangkan kekuatan aura dan sayap-sayap perlindungannya. Elena kini kuat dan punya kekuatan. Nah, ini baru menarik!

            L.J. Smith menambahkan warna baru dalam genre vampire Barat. Ia menambahkan monsterkitsune, roh dari Jepang yang menyerupai rubah atau musang. Pembaca mungkin bisa membandingkannya dengan rubah ekor sembilan dalam film Naruto. Kitsune memiliki kemampuan mencuri ingatan dan mengambil alih keinginan seseorang, dan siluman ini juga luar biasa kuat. Damon pernah menjadi korban. Masalah besar bagi Elena dalam perjalanan ke Dimensi Gelap ini bukan hanyaKitsune, tapi justru Damon yang selama perjalanan terus-menerus “menggodanya”. Bukan menggoda dalam arti nakal, tapi Damon lebih menampakkan sisi ramah dan rapuh yang selama ini ia sembunyikan—dan Elena berulang kali hampir jatuh pada pesona Damon, sekaligus membuatnya merasa mengkhianati Stefan. Sementara, Damon sendiri juga paling tidak tahan demi melihat leher Elena yang putih dan dihiasi renda-renda dari pakaiannya. Hiyaaaaa!

            Perjalanan ke dimensi gelap sangat panjang dan cukup membuat jemu. Berulang-ulang pembaca disuguhi dengan konflik telepatis antara Damon dan Elena, yang memuat virus galau makin berkicau dalam pikiran Elena. Inilah yang mungkin menguasai novel setebal 706 halaman ini. Namun, sesampainya di dimensi gelap, perjalanan Elena CS menjadi semakin menarik. Mereka berjumpa sekutu baru, bertarung melawan monster dan siluman kuat, hingga menghadiri jamuan pesta. Asyik pula mengikuti perburuan Meredith dan Bonnie yang hendak mencuri bola bintang untuk mengalahkankitsune, sementara Damon dan Elena tak henti menyelinap untuk mencari kunci yang disembunyikankitsune. Kunci itu penting untuk menolong Stefan sekaligus membawa mereka kembali ke Dunia Atas atau Bumi. Di sela-sela cerita, pembaca juga bisa sedikit mencecap rasa mitologi Jepang yang disisipkan penulis dengan apik dalam seri ini.

            Walau adegan pertempurannya kurang berdarah-darah dan lebih banyak bumbu romantismenya, The Shadow Souls menawarkan tema dan monster yang berbeda. Penulis mampu memadukan antara dunia vampire ala Barat dengan dunia siluman ala Timur, menghasilkan perpaduan  konflik dan pertempuran yang sangat unik. Dari seri ini, kita menjadi tahu ternyata ada juga kitsune yang baik—sebagaimana dalam film-film manga Jepang juga ada banyak siluman yang baik (seperti Inuyasha, Si Po, Musang Ekor Sembilan, dan lain-lain). Keren kan, hanya di Vampire Diaries saja kita bisa melihat siluman dari Jepang melawan vampire tampan. Hanya saja, konflik antara Elena CS dan kitsune ini kurang dieksplor, hanya di sepertiga bagian terakhir saja adegan pertempuran seru itu terjadi. Tapi, perjalanan Elena cs ke dimensi kegelapan sendiri juga tidak kalah asyik untuk disimak. Para pembaca cewek pasti akan gemas melihat tingkah laku Damon yang mendominasi hampir 90% bab di buku ini. Di sini pula, pembaca diajak untuk mengetahui lebih banyak tentang isi hati Damon sebenarnya.

            Lalu, apa kejutan yang ditawarkan oleh The Return: Shadow Souls? Di akhir bab, pembaca akan menemukan sebuah hadiah—atau malah kutukan—bagi Damon. Yang jelas, jangan baca halaman terakhir karena itu sangat spoiler luar biasa, bisa merusak jalan cerita kalau Anda membaca halaman terakhir (ß ini malah makin bikin penasaran). Bersabarlah dan nikmati halaman demi halaman buku tebal ini, agar kejutan di bagian akhir itu lebih menghentak. Pokoknya, para penggemar Damon pantang untuk melewatkan seri ini.


No comments:

Post a Comment