Search This Blog

Wednesday, August 10, 2011


Judul                            : Giganto, Primata Purba Raksasa di Jantung Borneo
Penulis                         : Koen Setyawan
Editor                           : E. Rakajat Azura
Pewajah Sampul           : Reza Alfarabi
Pewajah Isi                   : pewajahbuku@yahoo.com
Cetakan                       : 1, Agustus 2009
Penerbit                        : Edelweis
Tebal                            : 440 halaman


            Setelah mengubek-ubek mitologi di hutan-hutan Jawa di Gunung Kelud, Koen Setyawan kembali mengajak pembaca menjelajahi dan menguak misteri Hutan Larangan di rimba Kalimantan. Dalam fiksi terdahulunya, Kemamang, penulis dengan apik mengkaitkan mitologi kemamang dengan UFO dan makhluk prasejarah. Dalam Giganto, Koen dengan lebih apik lagi memadukan konsep hutan larangan dengan makhluk prasejarah yang lain, Gigantophitechus blacki. Bisa Anda bayangkan, di hutan-hutan perawan pulau Borneo masih hidup sesosok makhluk mitologis raksasa yang telah punah 100.000 tahun yang lampau? Dalam dunia ilmiah, memang dikenal konsep bahwa sesuatu yang dianggap mitos bisa jadi merupakan fakta yang belum diketahui. Beragam makhluk yang dulu dikira hanya ada dalam dunia mitos ternyata benar-benar ada.

            “Sebelum ditemukan, banyak yang menganggap gorila dan okapi hanyalah isapan jempol belaka. Mitos dan dongeng penduduk pigmy Afrika. Sekarang kita  tahu bahwa kedua binatang itu benar-benar ada … Spesies-spesies baru masih terus ditemukan. Masih banyak yang belum terpecahkan. (hlm 58).

            Erwin Danu, seorang peneliti orangutan secara tidak sengaja ikut terseret dalam permainan maut yang bermula pada satu tempat: Hutan Larangan—sebuah tapal batas yang telah disepakati antara manusia kuno dengan makhluk raksasa primitif. Sudah ratusan tahun penduduk Sekayan menjauhi hutan angker tersebut. Mereka tidak mengetahui apa yang ada di hutan larangan—dan juga tidak mau tahu—mengingat beragam mitos dan cerita seram yang melingkupinya. Namun, pantangan itu dengan berat hati terpaksa mereka langgar ketika Ruhai—salah satu anak dari Sekayan—smenghilang ke hutan itu. Penjelajahan ke dalam hutan larangan semakin tak terhindarkan ketika seorang peneliti, Chaudry Teja, datang dari Jawa dengan alasan untuk mencari rekan sejawatnya yang telah lama menghilang di hutan larangan, Dr. Komara.

            Ekspedisi pun dilakukan. Dipimpin oleh Chaudry Teja dan orang-orangnya, Erwin bersama sejumlah pemberani dari Sekayan nekat memasuki hutan larangan. Berama mereka, turut serta pula Dr. Tran, seorang ahli Gigantophitechus dari Vietnam bersama asistennya Ruth. Seiring dengan makin pekatnya kegelapan hutan larangan, Erwin menjumpai bahwa masing-masing anggota ekspedisi ternyata memiliki tujuan lain. Alih-alih sebagai sekelompok peneliti, kelompok itu lebih terlihat seperti sekelompok pemburu yang bernafsu menemukan salah satu relik hidup dari masa purba. Dan, hutan larangan benar-benar membuktikan kepada rombongan itu bahwa wilayah itu memang seharusnya dihindari oleh manusia.

            Kejadian aneh pun datang beruntun, mulai dari hilangnya beberapa anggota ekspedisi hingga serangan-serangan misterius. Puncaknya adalah ketika rombongan itu pecah dan terpencar, Erwin mendapati dirinya berpetualang bersama Tran dan Ruth menyusuri sungai dan gua prasejarah. Dari lukisan di dinding gua, Erwin dan Tran mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi, Hutan Larangan memang benar-benar terlarang. Sebuah perjanjian kuno antara makhluk primate raksasa dengan manusia kuno. Ada batas yang jelas di antara  mereka—dunia manusia dan dunia makhluk raksasa liar. (hlm 278), dan mereka telah mengusik perjanjian kuno itu.

            Korban pun berjatuhan. Rahasia mulai terkuat, dan pertempuran besar pun tak terelakkan. Rimba Borneo yang damai seolah terkoyak oleh gema pertarungan makhluk purba dan juga peperangan antar-manusia. Ketika akhirnya ketiga belah pihak dipertemukan—Giganto, Erwin dkk, dan Chaudry Teja—maka semua rahasia mulai terkuak, awal dari pertempuran menegangkan denganending yang agak dipaksakan namun sangat memuaskan. Melalui Giganto, kita tersadarkan sejenak pada apa yang telah dilakukan oleh Homo sapiens (alias manusia modern) terhadap binatang-binatang raksasa dari masa lampau yang tengah punah. Melalui Giganto pula teriakan hutan-hutan di pulau Borneo seolah terwakilkan, bahwa tempat itu adalah secuil dari surga hutan hujan tropis yang harus dilindungi.

            Bila dibandingkan dengan Kemamang,  novel Giganto itu jauh lebih matang, baik dari segi penggarapan naskah, data-data yang disajikan, alur cerita, maupun konflik yang dihadirkan,  Meskipun masih mengusung tema “hutan”, “mitos”, dan “makhluk purba”; Giganto jauh lebih memuaskan—di samping jumlah halaman yang lebih banyak sehingga bisa lebih menikmatinya. Keunggulan utamaGiganto terletak pada kekayaan data dan penyusunan data-data ilmiahnya yang oleh penulis mampu disusun sedemikian rupa menjadi serpihan-serpihan nan manis dalam sebuah karya fiksi. Karya fiksi yang baik tidak melulu hasil dari pemikiran kreatif dari si empunya karya. Ketika penulis mampu mengembangkan fiksinya menjadi fiksi-ilmiah, maka karya itu naik satu tingkatan menjadi karya yang tidak hanya menghibur, namun juga “mendidik” serta  “memberi tahu”. Inilah yang menurut saya, merupakan salah satu bentuk pembacaan yang lengkap. Sebuah gizi bagi jiwa sekaligus makanan bagi intelektualitas.

No comments:

Post a Comment