Search This Blog

Thursday, July 14, 2011

Kemamang



Judul Buku       : Kemamang
Penulis              : Koen Setyawan
Editor               : Nita Taufik
Desain sampul  : www.kebun-angan.com
Ilustrasi isi         : Studio  610
Tata letak isi     : gores_pena
Tebal                : 315 halaman
Cetakan           : 1, Desember 2009
Penerbit            : Goodfaith


            Apa yang Anda lakukan jika terjebak di tengah hutan, tanpa makan dan tanpa minum, jauh dari pertolongan, di malam hari pula? Hari dan Panji adalah dua peneliti yang tengah menyelidiki keberadaan harimau jawa di hutan Gunung Kelud ketika sebuah kecelakaan kecil membuat mereka terpisah dari rombongan. Mereka tersesat di tengah hutan, terancam oleh binatang buas, dan—yang lebih menakutkan lagi—mendapatkan penampakan kemamang alias cahaya-cahaya gaib dari makhluk halus Danau Bakalan. Keduanya akhirnya diketemukan oleh penduduk di desa sekitar dalam keadaan bingung dan tercekam. Mereka selamat, yah tapi cerita ini belum berakhir.

            Desa kecil tempat mereka pertama kali ditemukan ternyata tengah dihantui oleh sebuah kasus tak terpecahkan. Bukan hanya itu, Hari dan  Panji pun mengalami disorientasi waktu dan kelelahan akut di mana mereka terserang insomnia selama 3 hari, dan tiba-tiba tidur selama 2 hari. Dari sini, misteri mulai bergulir. Keduanya lalu memutuskan kembali ke desa tersebut demi menyelidiki apa yang terjadi. Panjilah yang pertama kali mengaitkan apa yang mereka alami dengan gejala perjumpaan dengan UFO. Di desa terpencil itu, bukannya mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang selama ini begitu merisaukan, Panji dan Hari malah dihadapkan pada misteri baru. Misteri kali ini datang secara beruntun dan lebih mengerikan.

            Diawali dengan ditemukannya ternak yang mati dengan cara mengenaskan di pinggir Danau Bakalan yang memang dikenal angker. Disusul dengan penemuan mayat orang yang diduga si pencuri sapi, lalu masih ada lagi beberapa anak yang hilang di hutan, serta Merebaknya suatu penyakit aneh. Hari dan Panji mau-tak-mau ikut terseret dalam kengerian yang melingkupi desa. Ketika mereka hendak mencari anak-anak yang hilang bersama warga, keduanya kembali tersesat dan terjebak dalam jurang. Selain kegelapan dan kemamang, kini keduanya terancam oleh bahaya baru: sesosok makhluk purba bermoncong mirp buaya dan bergigi runcing, Baryonyx walkeri. Binatang purba yang telah punah jutaan tahun yang lalu itu kini berkeliaran mencari mangsa di hutan-hutan sekitar danau. Dan. Misteri semakin pekat ketika keduanya ditolong oleh pihak yang tidak disangka-sangka.

            Kembali ke desa, suasana ketakutan belum mereda. Mulai di bagian ini, pembaca akan dipacu untuk ikut membaca demi menuntaskan jawaban dari misteri-misteri yang begitu rupa mewarnai bagian awal buku ini. Pertempuran seru, adegan kejar-mengejar, proses infeksi dan inkubasi sampai hipnotis, hingga tembakan laser dari pesawat UFO memenuhi bagian yang paling menegangkan dalam buku ini. Pada akhirnya, Hari, Panji dan seluruh penduduk desa harus bersiap terhadap serangan dahsyat yang selama ini hanya bisa ditemukan dalam film fiksi-ilmiah dari Barat. Mereka harus memutuskan dan berjuang, melawan atau dimakan, bersahabat atau dijadikan korban. Dan, pada akhirnya, bergantung kepada kemamang. Apakah kemamang itu sebenarnya? Lalu, bagaimana caranya sesosok binatang purba bisa menyelinap di hutan-hutan Jawa? Jawabannya ada di buku seru ini.


            Para penggemar misteri dan konspirasi UFO pasti akan tertarik membaca Kemamang. Terselip di antara halaman-halamannya, penulis menjabarkan secara panjang lebar tentang tanda-tanda perjumpaan dengan UFO, jenis-jenisnya (mulai dari yang First Kind hingga Third Kind Encounter), hingga beragam data dan informasi seputar UFO di negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Dengan lihai, penulis mampu mengkaitkan antara gejala UFO, spesimen dunia purbakala, dengan misteri pedesaan di pedalaman Jawa. Siapa yang mengira jika suara gamelan di malam hari dari dalam hutan dan cahaya-cahaya gaib di Danau Bakalan itu bisa dijelaskan menggunakan fenomena ilmiah.

            Membaca Kemamang, pembaca akan diajak berputar-putar dalam sebuah misteri yang dijalin secara runtut dan rapi. Gaya penceritaan si penulis pun begitu khas, agak sedikit thriller namun tetap menampilkan gaya, karakter, dan unsur-unsur lokal masyarakat pedesaan di Indonesia. Saya sangat terkagum-kagum dengan kepiawaian penulis membawa isu-isu global seperti UFO dan percobaan genetika ke dalam misteri gaib yang melingkupi masyarakat Jawa. Semuanya dikaitkan secara lancar di bagian awal, namun terkesan agak dipaksakan di bagian akhir.

Penulis sepertinya menggarap bagian terakhir dan paling menengangkan dari buku ini secara terburu-buru sehingga ada beberapa hal yang terasa mengganjal dan terkesan dipaksakan. Misalnyanya, dinosaurus yang memiliki kemampuan menghipnotis dan menciptakan ilusi yang—walaupun atas nama perubahan genetika dan evolusi spontan—sulit untuk dipahami. Namun demikian, kepiawaian penulis dalam meramu topik-topik berat ke dalam ranah fiksi Indonesia patut diacungi jempol. Sungguh,Kemamang memiliki alur yang tak terduga, di mana pembaca akan dibuat bertanya-tanya, apakah benar ini fiksi karya anak bangsa mengingat tema dan jenisnya yang begitu “fiksi-Barat”. Sungguh bacaan yang luar biasa, merombak habis anggapam bahwa Indonesia kekurangan fiksi-ilmiah yang bermutu. 

No comments:

Post a Comment