Search This Blog

Friday, July 15, 2011

The Evolution of Calpurnia Tate

Judul                : The Evolution of Calpurnia Tate
Penulis              : Jacqueline Kelly
Penerjemah      : Berliani M.Nugrahani
Korektor          : Nani
Tata letak         : MAB
Tebal                : 383 halaman
Cetakan           : Pertama, November 2010
Penerbit            : Matahati



            Buku ini adalah novel yang terilhami oleh buku Darwin yang berjudul The Origins of Species atau Asal-Usul Spesies. Setiap babnya diawali oleh kutipan dari buku karya Darwin yang pernah menggemparkan dunia itu, yang mengingatkan kita kembali pada pertanyaan mendasar bahwa apakah makhluk hidup itu diciptakan sudah dalam bentuk demikian ataukah telah mengalami tahapan-tahapan seleksi alam sehingga menjadi bentuknya yang sekarang? Novel ini juga tidak berupaya menjawab isu pertentangan klasik antara sains dan agama, karena sejatinya keduanya saling mendukung dan melengkapi. Untuk sekarang, tinggalkan dulu perdebatan dan marilah kita simak novel unik dengan sampul yang sangat menyegarkan ini.

Alam…tidak memedulikan penampilan, kecuali itu jika bermanfaat bagi makhluk  hidup. (halaman 209).

Mari berkenalan dengan seorang gadis lincah bernama lengkap Virginia Calpurnia Tate. Gadis cilik dengan  rasa keingintahuan yang sangat tinggi ini tinggal di Texas pada penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dan bersama kakeknya, dia adalah penemu spesies tumbuhan baru bernama Vicia tateii. Bagaimana bisa gadis kecil berusia 11 tahun bisa turut andil dalam sebuah penemuan besar ilmu pengetahuan? Ceritanya demikian. Calpurnia Tate adalah seorang gadis yang sehat, lincah, suka berenang dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Sebagaimana gadis-gadis lain di Texas pada masa itu, Calpurnia tengah menanti takdirnya untuk dididik menjadi seorang perempuan terhormat yang pandai mengerjakan segala jenis pekerjaan rumah tangga. Selain itu, ia juga harus mengalah karena ia adalah satu-satunya anak perempuan dari tujuh bersaudara. Calpurnia hanya bisa pasrah menjalani hari-harinya yang membosankan dengan berlatih piano, memberi makan ternak, dan membantu orang tuanya sambil sesekali berendam di sungai yang merupakan kesukaannya. Semua rutinitas ini berubah ketika Calpurnia diajak oleh kakeknya, Walter Tate, yang misterius untuk menjelajahi laboratorium pribadinya. Sejak saat itu, Calpurnia pun memulai tahap evolusinya.

Kita telah melihat bahwa manusia yang sudah terseleksi bisa dipastikan akan memberikan hasil yang hebat, dan bisa beradaptasi dengan memanfaatkan organisme-organisme lain untuk kepentingannya sendiri …(halaman 63)

Kakek dari Calpurnia adalah mantan pengusaha-pemilik kebun pecan yang telah sukses. Ia mewariskan rumah, lahan pertanian, dan kebun pecan yang luas—yang semua itu lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga besar mereka. Lebig dari itu semua, sang kakek adalah seorang naturalis. Calpurnia serasa mendapatkan tujuan hidup ketika menyadari fakta ini. Seiring dengan semakin akrabnya mereka berdua, Calpurnia mulai menyadari evolusi yang tengah berlangsung dalam dirinya. Tidak, dia tidak sekadar ditakdirkan untuk menjadi seorang wanita rumahan yang hanya bisa memasak, menisik, menyulam, dan membersihkan rumah. Tidak, Calpurnia bertekad bahwa dirinya ditakdirkan untuk menjadi lebih dari itu semua. Ia adalah calon ilmuwan di masa depan.


Keunikan ulat sutra diketahui terlihat pada ulat sejenis atau pada fase kepompong. (Halaman 127)

Sayangnya, kondisi sosial dan budaya pada masa itu seorang menutup peluang bagi gadis kecil seperti Calpurnia untuk belajar di universitas dan menjadi ilmuwan. Seperti biasa, pria dibebaskan menjadi apa saja tetapi wanita diwajibkan menjadi ibu rumah tangga. Dan, Ibunda Calpurnia termasuk golongan orang yang menganut paham tersebut. Maka, Calpurnia pun mulai mengalami tahap pengurangan dalam kepompongnya ketika ia berupaya sekuat tenaga menghindar dari berbagai tugas dan latihan “wanita terhormat” yang ditujukan untuknya. Ia merasa tidak cocok dalam pekerjaan jahit menjahit atau membuat pai apel. Ia lebih suka mengumpulkan specimen, mengamati binatang, dan mencatat serta menggambar sketsa dari binatang atau tumbuhan temuannya. Dan, ibunya sangat tidak menyukai hal itu. Dari sini, konflik itu muncul dan Calpurnia harus menjalani bagian paling pahit dalam proses evolusinya menjadi seorang calon ilmuwan.

Seleksi alam akan memodifikasi struktur hubungan anak denga orang tuanya, dan orang tua dengan anaknya (halaman 169)

            Sang ibu berupaya menjauhkan Calpurnia dari kakeknya. Gadis cilik yang lincah dan ingin tahu itu dijejali dengan beragam kegiatan, mulai dari berlatih piano, memasak, menjahit, dan membersihkan rumah—pokoknya berbagai pekerjaan yang pantas untuk wanita. Semua pekerjaan itu membuatnya kelelahan sehingga ia tidak lagi penya waktu untuk berjalan-jalan mencari specimen makhluk hidup baru di hutan. Namun, naluri ilmuwannya memberontak. Diam-diam, ia menyempatkan diri untuk menjumpai kakeknya, membantu beliau melakukan uji coba membuat minuman keras dari biji pecan. Keadaan seolah terus menyulitkan bagi Calpurnia ketika jawaban dari “seleksi alam” itu datang. Bersama kakeknya, Calpurnia menemukan satu spesies vetch berbulu yang belum pernah didaftarkan dalam daftar taksonomi tumbuhan. Keduanya lalu memotret, mengambil sampel dan mengirimkan foto Tumbuhan itu ke Smithsonian Institute di Washington DC untuk meneliti lebih lanjut apakah benar Tumbuhan itu termasuk spesies baru yang belum ditemukan.


Kerak bumi adalah sebuah museum raksasa. (hlm 107)


Membaca Evolusi Calpurnia Tate, pembaca harus sedikit bersabar. Alur ceritanya memang cenderung lambat sebagaimana proses evolusi yang juga pelan dan perlahan-lahan. Novel ini juga kurang cocok untuk dibaca cepat, lebih enak menikmatinya dengan santai, sambil terus mengamati dan menyelami kehidupan pertanian di Texas di penghujung abad ke-19 yang dilukiskan dengan begitu hidup oleh penulisnya. Di dalamnya, kita akan  bisa membaca ulang bagaimana dinamika kehidupan orang-orang di Texas pada zaman itu. Ketika etika masih dipegang teguh, ketika keluarga masih menjadi yang utama, ketika kehormatan masih begitu dijunjung tinggi, dan ketika pacaran di usia 17 tahun pun masih harus malu-malu (sebagaimana kasus Harry, kakak tertua sekaligus kakak kesayangan Calpurnia). Detail-detail tentang kehidupan di Texas pada zaman itulah yang justru menjadi menu utama dari buku ini, meskipun terpaksa harus mengabaikan bau-bau biologi sebagaimana yang dituliskan oleh judul novelnya.

Manusia lemah bisa melakukan banyak hal jika memiliki kemampuan  untuk melakukan seleksi buatan. (halaman 327)

Saya agak kurang puas mendapati kurangnya pemaparan tentang dunia evolusi, pengumpulan specimen, dan pengawetan specimen yang seolah terkalahkan oleh putaran kehidupan di rumah keluarga Tate. Kisah cinta Harry, kenakalan adik-adik Calpurnia, sekelumit kisah tentang pembantu mereka yang setengah kulit hitam, serta penggambaran suasana sosial budaya pada zaman itu seolah mengalahkan unsur-unsur “evolusi” dalam buku ini. Sebagaimana sampulnya yang segar dan berbau makhluk hidup liar, saya berharap menjumpai kisah ala perjalanan Darwin ke Galapagos atau perjalanan Alfred Wallacea ke Kepulauan Nusantara. Bagian yang berbau-bau evolusi makhluk hidup ini lebih sering muncul di bagian awal buku, sementara di bagian akhir adalah tentang Calpurnia dan keluarganya. Namun, evolusi di sini adalah tentang si Calpurnia itu sendiri, tentang evolusi watak, karakter, serta kepribadian. Untungnya, evolusi “dalam diri” itu juga disajikan dengan begitu segar. Buku ini menjadi begitu segar untuk dinikmati karena penutupnya cukup memuaskan—walaupun agak nanggung. Ada surat dari Washington yang mungkin isinya sudah bisa Anda tebak sendiri. Perhatikan pula bagaimana penulis dengan lihai mengaitkan teori-teori Darwin dengan cerita yang ia bangun. Inilah yang membuat The Evolution of Calpurnia Tate lebih dari sekadar novel biasa. Buku ini kreatif.  Mari kita tutup resensi ini dengan kata-kata penyemangat dari kakek tercinta:

“ Kita harus merayakan kegagalan kita hari ini, karena ini adalah pertanda nyata bahwa petualangan kita di dunia penemuan belum berakhir. Hari ketika eksperimen berhasil adalah hari ketika eksperimen berakhir. Dan, mau tidak mau, aku harus mengakui bahwa kesedihan dalam mengakhiri sebuah eksperimen lebih berat daripada perayaan keberhasilannya (halaman 262-263).

Begitulah sosok ilmuwan yang sejati!

            

3 comments:

  1. awalnya menarik, tapi begitu ngebahas sampai dalam tentang evolusi itu aku jadi sedikit bosan. Tapi kalau udah bercerita tentang keluarganya, aku suka banget. Sampai ngikik dibuatnya. Semua scene yang melibatkan Calpurnia dan Ibunya jadi favoritku :D

    aku juga dah ngereview bukunya di sini
    http://bacaan-ally.blogspot.com/2011/01/evolution-of-calpurnia-tate.html

    ReplyDelete
  2. lah aku malah pengen cari yg evolusi-evolusi itu, agak sebel kok malah yg diceritain keluarganya gt hehehe but iya buku ini keren

    ReplyDelete
  3. jadi sambil baca fiksi, sambil belajar biologi ya? Menarik nih kayaknya...

    ReplyDelete