Search This Blog

Thursday, June 9, 2011

Terampil Mendengarkan

Judul                : Terampil Mendengarkan, Rahasia Anda Disukai Siapa Saja
Penulis              : Muhammad Ibrahim al-Nughaimish
Penerjemah      : Muhammad Zaenal Arifin
Penyunting        : Muhammad Husnil
Pewajah Isi       : Siti Qomariyah
Desain Sampul: Teguh B.Putro
Cetakan           : I, 2011
Tebal                : 157 hlm
Penerbit            : Zaman
Harga               : Rp20.000,00


              Sebelum Anda membaca ulasan ini, tolong dengarkan saya yang hendak mengungkapkan beberapa fakta penting dalam buku ini:
  1. Orang yang tak mau mendengarkan, takkan bisa belajar(hlm. 22)
  2. Jika dibandingkan dengan laki-laki, perempuan jauh lebih menyukai  dan butuh didengarkan. (hlm. 80)
  3. Perempuan lebih tertarik pada laki-laki yang sering memakai kata-kata yang mendorong mereka agar terus berbicara, seperti kata “benar”, “ok”, dan “aku mengerti”.(hlm 82)


             Membuka buku kecil namun bernas ini, kita akan langsung disentil dengan sebuah fakta fisiologis yang sungguh luar biasa. Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa  kita diberi dua telinga dan satu mulut? Jawabannya adalah agar kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Bukankah lidah yang hanya satu itu berada di dalam mulut serta dihalangi oleh gigi dan bibir? Mungkin, inilah cara Tuhan untuk menasihati manusia agar mengendalikan bicara dan lebih banyak mendengarkan. Sungguh, mendengarkan ternyata merupakan aktivitas yang luar biasa penting.

             Demikianlah, ada perbedaan yang sangat signifikan antara mendengar dan mendengarkan. Mendengar bersifat tidak sengaja, sambil lalu, dan tidak masuk ke benak. Sebaliknya, mendengarkan (atau “menyimak”) bersifat sadar, dilakukan dengan penuh perhatian, dan diolah dalam benak. Proses mendengarkan inilah yang mampu menghasilkan output berupa komentar serta saran yang bernas. Sekadar catatan, kemampuan kita dalam berbicara dan menulis—langsung atau tidak—bertumpu pada kemampuan kita untuk mendengarkan. Bukankah kita terlebih dahulu mendengar dan melihat sebelum bisa berbicara dan menulis?

Lewat buku kecil namun sarat manfaat ini, penulis seolah ingin membuka telinga kita pada aktivitas mendengarkan. Betapa aktivitas yang seolah terlihat sederhana ini ternyata memiliki peran penting. Kemampuan mendengarkan sangat penting artinya karena menjadi tumpuan utama bagi kemampuan berbicara, membaca, dan menulis. Sayangnya, walau sudah banyak sekali pelatihan berbicara, les membaca, dan  kursus menulis; pengajaran “mendengarkan” masih sangat jarang.

             Buku kecil ini cukup lengkap mengulas berbagai hal yang berhubungan dengan aktivitas mendengarkan. Mulai dari bagian-bagian telinga serta proses yang berlangsung saat kita mendengarkan, tips cara menjadi pendengar yang baik, cara berbicara dan mendengarkan celotehan anak-anak, hingga kiat-kiat agar orang lain mau menyimak apa yang kita katakan. Bagian paling menarik menurut saya adalah Bab 4. Bab ini membuka mata saya tentang apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita. Tahukah Anda bahwa wanita itu lebih suka didengarkan alih-alih diberi solusi. Ketika mereka sedang ingin curhat atau mengutarakan suatu permasalahan, maka itu lebih karena mereka ingin berbagi dan mengeluarkan unek-unek. Sebuah tips hebat dari buku ini untuk para pria:Laki-laki [yang] disukai perempuan adalah  yang terampil mendengarkan, bukan yang memamerkan kemampuan berbicaranya. Jadi bagi para pria, berikan perhatian Anda sepenuhnya ketika ada wanita sedang berbicara kepada Anda.

              Masih banyak lagi hal-hal kecil namun penting dan sering kali kita lupakan terkait dengan aktivitas “mendengarkan” yang diungkap oleh buku ini. Seperti misalnya, memandang mata lawan bicara Anda akan dapat membuat orang tersebut mau mendengarkan Anda (hlm. 71), atau bahwa gerakan menggaruk/menyentuh telinga ternyata menunjukkan bahwa lawan bicara Anda sudah bosan dengan pembicaraan tersebut (hlm. 102), atau bahwa membicarakan diri sendiri—walaupun sangat menyenangkan—adalah hal yang sangat membosankan bagi orang lain jika hal itu dilakukan secara berlebihan dan panjang lebar.

Baca juga bab tentang pentingnya mendengarkan anak-anak ketika mereka ingin berbicara. Menurut penelitian, anak akan terlebih dahulu menanyakan sesuatu kepada orang tuanya sebelum bertanya kepada temannya. Inilah salah satu bukti bahwa mendengarkan anak bisa menentukan erat tidaknya hubungan kita dengan anak-anak kita di masa depan. Orang tua yang hebat adalah orang tua yang selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan anak-anaknya.


               Dengan gaya terjemahan ala Zaman yang ringan dan lincah, buku ini tidak membuat kening berkerut saat membacanya. Sungguh, saya dapat belajar banyak hal tentang kegiatan mendengarkan dari membaca buku kecil ini. Tapi, saya kurang sreg dengan penulisan catatan kaki yang diulang-ulang walaupun diambil lewat sumber yang sama. Di halaman 104 dan 106, sumber referensi pada catatan kaki ditulis ulang meskipun buku dan penulisnya sama persis di halaman yang sama. Akan lebih baik jika Zaman menggunakan ibid., sesuai ketentuan penulisan catatan kaki yang baku. Namun demikian, hal ini tidak mengurangi kebernasan buku kecil ini. Dengan harga yang cukup murah namun isinya sangat berbobot, Anda harus membacanya. 

No comments:

Post a Comment