Search This Blog

Tuesday, March 29, 2011

The First Chapter of The Book of Babylon


Chapter 1 The Book of Babylon
by Dion Yulianto



Penemuan Pertama


 Awal tahun 2009 ditandai dengan peristiwa-peristiwa aneh yang menguncang kaum akademisi di seluruh dunia. Tidak kurang dari puluhan perpustakaan terkenal yang ada di seluruh dunia diacak-acak dan dimasuki oleh pihak-pihak tertentu yang mendapat sokomgan dana cukup kuat dari pihak tertentu. Beberapa perpustakaan di Eropa termasuk British Library dan Perpustakaan Vatikan juga kehilangan manuskrip-manuskrip berharga yang ditulis semenjak zaman pra-Kristen. Bahkan, dokumen-dokumen mengenai pelayaran Columbus di abad pertengahan dan era Renaisance hilang dan tidak diketahui rimbanya. Beberapa perpustakaan di Turki dan Al Azhar di Mesir juga tidak luput dari tangan-tangan penjarah ini. Peta Piri Reis yang legendaris itu dikhawatirkan menghilang, walaupun Pemerintah Turki belum mengeluarkan pernyataan resmi. Sejumlah manuskrip tulisan tangan yang berasal dari zaman Khulafaur Rasyidin hingga karya besar zaman keemasan Islam di Baghdad turut menguap ditangan-tangan para penjarah tersebut. Tidak ketinggalan salinan asli dari dokumen-dokumen kuno yang ditemukan di sekitar Laut Mati dan Palestina turut raib.
sampai sekarang belum diketahui tujuan dari pencurian dan pengumpulan berbagai manuskrip, buku-buku dan catatan–catatan kuno tersebut. Dugaan sementara, para penjarah itu ingin menjualnya di pasar gelap. Namun alasan ini banyak dibantah oleh para ahli dan penyelidik karena pencurian terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan di seluruh dunia semata-mata hanya untuk dijual akan terlalu riskan. Si pencuri akan kesulitan dalam mencari pembeli ketika seluruh pemerintahan yang ada di dunia sedang melakukan penyelidikan besar-besaran terhadap manuskrip-manuskrip kuno mereka yang hilang. Tidak….ada agenda lain yang lebih besar dari itu. Agenda yang mungkin berkaitan dengan berakhirnya peradaban manusia itu sendiri.
Pihak berwenang termasuk badan PBB yang berwenang untuk melindungi benda-benda dan objek peninggalan masa lalu, UNESCO, turut kelabakan. Penyelidikan besar-besaran telah dilakukan di seluruh penjuru Eropa dan Amerika. Bahkan di pelosok-pelosok negeri. Namun penyelidikan selalu menemui jalan buntu. selain karena berbagai hambatan dan aturan “aneh” yang tiba-tiba ditetapkan oleh beberapa pemerintahan Besar di dunia, para pencuri tersebut sangat lihai dan sedikit sekali meninggalkan jejak. Tampaknya, para pencuri yang khusus beroperasi di seluruh perpustakaan besar dunia itu memiliki sebuah organisasi tersembunyi dan rahasia serta mendapatkan dukungan dana yang kuat dari pihak-pihak yang tidak terlihat dan tidak mau memperlihatkan diri. Saking maraknya pencurian itu terjadi, Koran dan berita di seluruh dunia mengangkat kejadian ini sebagai judul utama. Mereka menjulukinya “The Invinsible hand”, Invinsible karena sampai sekarang belum diketahui siapa pihak yang telah mencuri dan mengobrak-abrik gudang-gudang ilmu itu, hands karena diduga pelakunya ada lebih dari satu dan memiliki organisasi yang tersebar diseluruh dunia.
            Disaat polisi, penyelidik, para ahli filologi kuno, pustakawan terkenal, ahli-ahli kebudayaan kuno, para professor Universitas besar dunia, bahkan UNESCO gagal menekuk pelakunya; harapan ternyata ada di pundak empat anak tak dikenal yang tinggal di sebuah kota kecil di Pulau Jawa. Keempatnya : Doni, Beni, Saki, dan Ando memang hanya empat remaja biasa. Remaja-remaja umumnya yang sedang dalam masa pertumbuhan dan mencari jati diri serta cinta. Tapi, mereka akan segera masuk dalam jajaran sedikit orang yang pernah mengalami  peristiwa luar biasa, menyangkut intrik-intrik internasional dalam upaya mereka berpacu dan mempertahankan warisan peradaban manusia dari incaran tangan-tangan yang tak kelihatan serta mencoba untuk sedikit menguak sinyal-sinyal akan datangnya akhir zaman. Serta tugas merekalah untuk mencari dan melindungi warisan paling berharga dari peradaban manusia, dan di saat yang sama, menjalani kehidupan mereka sebagai remaja umumnya.

**********

Bukan pertama kalinya suasana perpustakaan umum Kota siang itu nampak lenggang dan tidak terlalu banyak menunjukan adanya tanda-tanda kehidupan. Keadaan  masih sama dengan hari kemarin, atau hari kemarinya lagi, atau kemarinnya kemarin; tapi tidak untuk beberapa minggu kedepan. Ruangan sempit yang dipenuhi dengan ribuan buku-buku bukanlah tempat yang tepat untuk mendinginkan badan dihari yang panas menyengat seperti Jum’at siang itu. Beni  Praditya, remaja cowok yang masih mengenakan seragam SMA Negeri 1 kota Tepi Muara, nampak sedang terpekur menekuni bertumpuk-tumpuk buku-buku tebal tanpa ilustrasi sama sekali di meja baca. Dihembuskannya napas dengan berat dan penuh kekesalan untuk yang kedua puluh kalinya. Beni, sedang berada di perpustakaan Kota Tepi Muara yang delapan puluh persen koleksi bukunya aseli terbit pada zaman pra colonial itu untuk mencari materi untuk menyelesaikan laporan tugas sejarah tentang kehidupan para penjelajah Eropa pada abad pertengahan. Rasa panas dan penat yang menyelubungi ruangan itu membuatnya terus menerus menghembuskan napasnya kuat-kuatnya seolah, dengan penuh harap, itu bisa membuat buku-buku super tebal itu musnah terbawa angin tenggara.
            Sudah hampir dua jam ia terduduk di ruang baca perpustakaan itu dengan setumpuk buku-buku tebal mengenai sejarah Eropa dan dunia namun ia belum juga mengerti apa yang dimaksud dengan abad pertengahan itu. Tepatnya di tengah-tengah antara apa. Sebenarnya ia tidak memiliki keluhan lain. Perpustakaan itu termasuk lengkap untuk ukuran kota kecil seperti Tepi Muara. Buku-buku di sana cukup beragam dari mulai yang easy reading seperti bahasa Latin dasar hingga buku super berat berjudul Cornubullus Heaviwitgeennen Kloosetchenens yang sampai sekarang belum ada satu pengunjung pun yang berani membaca apalagi berniat untuk meminjamnya.
             Sesungguhnya bangunan perpustakaan yang menyerupai gedung loji tua bergaya Barok itu merupakan bangunan sisa peninggalan zaman Belanda. Sebagian besar koleksi buku-buku di sana pun merupakan tinggalan dari beberapa tuan tanah belanda yang dulunya termasuk kalangan bangsawan di negeri Holland. Mungkin, karena bentuk bangunannya yang antic dan bergaya agak nyeleneh untuk ukuran bangunan  model minimalis yang sedang ngetren, maka Pemda setempat memutuskan untuk tetap mempertahankan dan menjadikannya perpustakaan sekaligus museum. Itulah mengapa  di perpustakaan tersebut banyak ditemukan buku-buku ngak jelas  semacam itu. Dan, Beni jelas makin kesal karenanya.
            Dua menit berlalu tanpa ada perubahan. hanya jarum jam dinding yang terus berdetak lah yang membuat orang yakin bahwa ruangan itu masih dihuni oleh dua manusia : Beni dan Nona Penjaga Perpus eh lebih tepatnya Madam Penjaga Perpus. Kepala Beni berdenyut-denyut. Berulang-ulang ia menatap tajam ke deretan huruf-huruf dalam salah satu halaman buku gede yang ia gelar di depannya. Setiap kali ia mencoba membaca dan memahami setiap kalimat dalam buku tersebut, makin pusing kepalanya. “Modar gue!” teriaknya parau. Masalahnya hanya satu : buku-buku itu ditulis dalam bahasa Inggris dan Beni hanya hafal sekitar dua puluh lima kata dalam bahasa Inggris (dua diantaranya yakni “thank you” dan “I love you”), dia bahkan belum bisa mengeja kata “approximately” dan “pluperfect” dengan tepat. Semakin beni mendelikan matanya kepada buku yang terbuka didepannya, serta kamus besar Inggris-Indonesia disampingnya; makin putus asa ia. namun Tuhan tidak akan pernah membiarkan hambanya yang sedang memelas dan menderita. Pertolongan pertama pada kepeningan akhirnya datang. Hore…..
            Gubrak…kedatangan si juru selamat itu ditandai dengan  teriakan melengking tinggi dari Madam Penjaga Perpustakaan yang sedang tugas jaga siang itu. Nona cerewet berusia separuh baya dan berkaca mata model runcing itu sangat terkenal di kalangan khayalak ramai saking galaknya yang pokoknya ampun deh.  Beni dan kawan-kawan menjulukinya Miss Perpus.

“RUSAK LAGI…RUSAK LAGI. ENTAH MAU BERAPA KALI LAGI AKU MUSTI MEMPERINGATKAN KAMU ANAK MUDA : JANGAN GUNAKAN BUKU UNTUK MATUK ULAR!!!!!!”

“Tapi Bu, saya kan enggak make buku itu buat dongkrak mobil, cuman buat nguliti kelapa aja kok! soalnya linggisnya lagi diservis di bengkel”, jawab si anak muda sambil bercanda dengan mimik diserius-seriusin. Bukannya makin adem, si nona penjaga perpus benar-benar makin berang dibuatnya dan pletakkks…dua buah jitakan mendarat dengan runyam dikepala si anak muda. Beni yang mendengar dan melihat secara langsung kejadian musykil ini cuman bisa ngakak sengakak-ngakaknya, “Heran gue…kok maseh ada aja yang orang-orang yang cupis (culun pisans) bangets kayak mereka, huahuahua, weks”. Yah paling tidak Beni bisa terhibur.
            Sambil meringgis kesakitan, anak muda tadi melangkah gontai menuju meja Beni diselingi dengan umpatan-umpatan kasar dari nona pustakawati yang bunyinya semacam, “Dasar anak-anak muda sekarang tidak menghargai ilmu pengetahuan, Perusak peradaban, pemusnah Kemajuan, Tidak menghargai dokumen histories pembangun kehidupan dan yang lain-lain sejenisnya”.
“Sukses Dol jitakannya hihihi”, sindir Beni ketika anak muda yang bernama Doni itu duduk semeja dengannya. Doni setahun lebih tua daripada Beni tapi postur badannya jauh lebih kerempeng dari Beni. Usianya sekitar delapan belas tahunan, nama lengkapnya Doni Yahya Prasetya, tapi sering dipanggil Dol sama Beni. Doi kuliah semester dua jurusan ilmu sejarah alam di sebuah universitas negeri pantas aja wajahnya juga rada-rada mirip manusia prasejarah gitu pokoknya.
Walaupun bodinya ngak tegap-tegap amat, wajahnya juga pas-pasan (agak sedikit putih seh) tapi otaknya cukup encer…ya paling tidak jauh lebih encer dari otak Beni yang isinya penuh situs-situs internet yang ngak jelas itu. Baik Doni maupun Beni, serta dua orang lagi teman mereka yang insya Alloh nanti akan disebutkan, merupakan anggota dari sebuah perkumpulan yang tidak bernama, tidak diketahui, tidak terkenal, tersembunyi dari public dan tabloid gossip. Sebuah ordo persaudaraan purba yang mana tidak ada seorang pun di dunia ini yang tertarik untuk menamainya ataupun mengenalnya, apalagi mengelu-elukannya hiyyyy……….. amit-amit deh pokoknya.

Mereka adalah Doni, Beni, Saki dan Ando. Keempat anak unik ini sudah beberapa kali membantu polisi dalam berbagai kasus kecil yang tidak bisa ditangani oleh petugas maupun detektif dari kepolisian. Mungkin karena polisi harus memecahkan berbagai kasus lain yang lebih penting dan mendesak. Dalam kasus hilang-menghilang, keempat remaja kasep ini telah dengan sukses menemukan berbagai solusinya, seperti kasus menghilangnya Sertu Bambang Saleh yang setelah diselidiki ternyata beliau sedang dalam tugas menyamar sebagai orang biasa. Saking hebatnya beliau dalam menyamar, sampai-sampai polisi bener-bener kehilangan jejaknya dan terpaksa harus diselidiki lagi he he he. Keempatnya juga telah berjasa besar dalam pemecahan berbagai kasus hilangnya benda-benda berharga milik tetangga-tetangga Beni, seperti kasus hilangnya Tusuk Konde Emas milik Nyonyah Kemanah-Manah yang ternyata keselip di dalam gelungan rambutnya yang sudah lima tahun ngak diurai itu hi hi.
            Ando siang itu masih berada di perpustakaan sekolah untuk memeprsiapkan materi mengenai kromosom dan DNA yang akan menjadi topic bahasan pada mata pelajaran biologi Senin depan. Dia dan Beni masih bersekolah di SMA N 1 Tepi Muara, dua-duanya ngambil jurusan IPA walo Beni yakin setengah mati kalo dia pasti dihipnotis habis-habisan sama Saki dan Ando pake ilmu kimia terapan  agar ia mau memilih masuk ke IPA. Beni sih sebenernya juga ngak pinter-pinter amat di pelajaran ekonomi, apalagi akuntansi, tapi dia pengen banget masuk jurusan IPS alias Ilmu Pengetahuan Sport, jadilah ia nyangkut di jurusan IPA alias Ilmu Pengetahuan Alamaaak pusingnya hehehe. Sementara Saki yang merupakan satu-satunya cewek dalam komplotan mereka, masih berada di Jakarta untuk menyelesaikan kuliahnya yang baru tiga bulan masuk.  Empat belas jam sebelum dia berangkat ke Jakarta, Beni menembaknya dan keduanya sekarang udah resmi jadian. Walaupun keempatnya terpisah jarak yang merentang jauh namun mereka masih tetap saling menyayangi dan mengunjingi antara yang satu dengan yang lain.
Di Jakarta, Saki mengambil jurusan Manajemen Akuntansi dan di sela-sela waktu luangnya, dia juga mengisi rubrik konsultasi  sastra literer di sebuah majalah pertanian hehe ngak nyambung ya! Dia pernah mengegerkan dunia pertomatan di tanah air dengan artikelnya yang berjudul “Tomat Bikin Beni Kuat, eh Bikin Mata Kuat hi hi…yang hanya diterbitin sebagai sebuah cerita pendek di majalah mototrax. Selain itu dia juga mengambil kursus sore bidang kriminologi dan kursus masak memasak, dua keterampilan yang menurutnya ngak bisa dipisahkan. Ditambah dia juga mengajar sebagai guru privat fisika tiap sore. Begitu sibuknya Saki sekarang sehingga dia hanya pulang ke Tepi  Muara sebulan sekali, meninggalkan Beni yang sedang nafsu-nafsunya di Tepi Muara….Rasain lo Bend.



Sudut Pandang Beni
            Kembali ke suasana perpus yang bikin puser gue berjengit. Sumpah…gua  masih terkekeh ngeliat Doni yang barusan dimarahin habis-habisan. Gila…nih anak emang reseh bangets. Memang salah satu kebiasaan Doni yang amat positif di antara pikirannya yang selalu ganjil itu adalah membaca. Yoi…dia itu sukaaaa banget sama yang namanya buku, melebihi apa pun yang ada di dunia ini (kecuali uang semilyar, mobil ferari, permen gratisan, rumah mewah bertingkat tiga, dan naik haji ke Mekkah). Nih anak sama buku setebal seribu halaman pun bisa rampung dibacanya dalam waktu sejam-dua jam, apalagi kalo bukunya agak-agak menyimpang dan rada menggoda iman gitu wuuh lima menit pun jadi. Langsung dipraktekin malah hehe… Selain rajin ngebaca, dia juga nempel banget ma yang namanya perpus…hiiiy denger namanya aja dah bikin hidung gua berniat bersin. Sayangnya, hobinya yang positif entu  tidak dibarengi dengan sikap yang sepantasnya bagi seorang calon cendekiawan muda. Selain males bangets beli buku sendiri, Doni hobi banget pinjem buku tapi rajin banget telat ngembaliinnya. Mending kalo buku yang dikembaliin masih dalam kondisi bagus. Kebanyakan buku yang dipinjamnya suka jadi kucel akibat kebiasaan Doni yang suka melempar buku sembarang setelah habis kebaca. Konon katanya Saki, bukunya kadang digunai buat ngejanjel perut yang kosong, atau untuk kerokan…dasar biadab… gak abis pikir gua, pantes aja si nona penjaga perpus jadi cepet tua. Hihi seneng banget gua.

          Eh iya…sedikit tentang Doni ya,….ehmmm…Doni memiliki tampang yang bisa dibilang agak sedikit mengharukan gitu deeh. Dengan  gak bermasuk ngina lo ya. Gua lebih tinggi 15 cm disbanding Doni namun postur kami hampir-hampir mirip seadainya saja dia mau ikut fitness setahun di tempat Dakocan hehehe. Wajahnya berbentuk persegi dengan rahang bersudut tajam dan mata sayu kelabu yang selalu menampakan kesan serius dan inisiatif yang tinggi (idiih hoek… …ini nyotek dari omongan Saki juga looo, gue ngatainnya juga kepaksa…demi kebaikan pembaca). Doni memiliki dahi lebar dan rambut panjang bergelombang dan jarang diatur, mengelambir kesana kemari, ke kiri dan ke kanan lalalalalalalalalala. Satu-satunya kelebihan Doni adalah otaknya yang agak encer, jauh lebih encer bila dibandingin gua tentu saja. Banyak yang bilang kalo (setelah diancem dulu ma Doni) anak rese ini juga memiliki suatu karisma kepemimpinan, logika berpikir, serta kemapuan berkonsentrasi yang sangat kuat. Memiliki sikap sok detektif, jiwa petualangan dan rasa ingin tahu yang kadang ketinggian dan sembrono pisan. Itulah makanya dia sering disebut sebagai tokoh utama di balik kelompok detektif kapiran yang sangat kita banggakan ini.

            Kembali ke perpus. Sementara pemirsa dapat saya laporkan…si nona pustakawati si seberang meja depan masih mengoceh tentang  “Pencoleng Peradaban, Tidak memahami kebudayaan, Mati rasa, ……”, eh kok malah.  Doni terlihat menyongsong kejam kearah gue. Kayaknya dia gak rido gimana gitu liat gua tertawa puas. Cara terbaik mengalihkan bahan pembicaraan adalah dengan bertanya, begitu kata Saki kmaren dulu, jadi gue usul tanya-tanya buat mengubah mood Doni yang semula bermuram durja menjadi riang gembira.
“Ini Dol, gua dapet kerjaan dari guru sejarah, Pak Arsitoteles entu, suruh bikin karangan tentang Eropa abad pertengahan. Suer bos gue setrok bangets. Mana bahannya banyak banget, bahasa Inggris semua lage. Bantuin donkkkk pleaseee?” seru gua memelas seraya mengedip-ngedip nakal sama Bu Pustakawati. Hihi..tampang Doni jadi jijay gimana gitu. Kayaknya nih anak juga masih trauma, Pak Aristoteles dulu juga bekas gurunya. Nama beliau sebenarnya Bapak Aris, tapi dijulukin Aristoteles sama anak-anak didiknya karena kebiasaannya ngomong dan menceritakan ulang kronik-kronik sejarah dengan cara yang ternyata sangat membosankan dan bikin mata gepeng saking ngantuknya.
Setelah beberapa jenak, nih anak ngebales atao istilah kerennya reply, “Yah…gue bisa ngerasain kok penderitaan loe hehe…ok gue bantu tapi dengan syarat lu juga musti bantuin gue natain dan ngembaliin buku-buku pinjaman yang bertumpuk ini ke raknya masing-masing. Deal?” tawar Doni. Apaan lagi deal…deal, emang dealer? Oh ya pemirsa yang berbahagia, eh pembaca dink, Doni memang nyambi jadi petugas  outsourcing alias free lance di perpus itu, (ah…gua bener-bener setress ma istilah-istilah). Sayangnya perilaku Doni yang kurang seronok dengan buku itu membuatnya tidak pernah digaji. gajinya habis untuk memperbaiki buku-buku yang dirusaknya dengan sakses.
“Yes bos!” jawab gua tanpa ragu lagi. Sumpah…bagi gua mending kecapekan lari kesana kemari menata buku, naik-naik dan berjumpalitan sampai rak bagian atas ketimbang harus bikin satu paragraph karangan tentang penyerbuan Napoleon Bonaparte ke Rusia pada abad kedelapan belas. Siapa juga Bonapartai itu. Maka terjadilah barter paling gak mutu pertama dalam sejarah peradaban manusia antara Doni dan Gue. hehe

Setengah jam telah berlalu semenjak kedatangan Doni. Udara masih tetep panas hampir menyamai padang Sahara di Afganistan sana…(eh Sahara di Afgan pa di Afrika ya? Sori gua lupa…cari ndiri di peta gih), nona pustakawati masih terus ngomel-ngomel, Doni nampaknya masih berupaya sekuat tenaga menerjemahkan paragraf ketiga dari buku tebel yang niatannya mau dijadiin bahan untuk karangan tugas gua, sementara gua ndiri masih kebingungan dimana musti ngebalikin buku Kiat Sukses beternak jangkrik ini! Apakah ke rak buku bagian Fauna atau Manajemen Pengembangan Diri ya? kok gak ada rak khusus buat buku-buku Wirausahawan Kurang Kerjaan ya? Saking bingungnya, dengan cuek gua susupin aja tuh buku ke rak buku-buku komputer…perduli amat. Perpustakaan ini makin menjadi semacam neraka duniawi dengan udaranya yang lembab, apek bin sumpek lagi ngak karu-karuan pisan deh baunya, terutama karena bau si penjaga perpus yang memakai parfum beraroma ubi jalar yang menurutnya menimbulkan kesan membumi, di samping orangnya yang emang udah bau tanah (eh maaf nggak sopan banget sih gue). Parfum favorit Miss perpus yang lain adalah Navy Mud alias Lumpur laut Keinjek-injek keluaran CK alias Culun Kasep Company hihihi.

9 comments:

  1. Monggo dikoment, ini novel saia blm nemu ending nya hahaha

    ReplyDelete
  2. wah seru bagete tuh... kpn klajutannya bos.
    jangan lupa brkunjung ke http://infobrilliant.com/ ya, banyak info2 seru dan bagus lho...

    ReplyDelete
  3. xixixxixxi dari segi cerita, boleh lah, tp diedit dulu si, paragrafnya ga rapi tuh

    ReplyDelete
  4. Yoi bos, td aku dah blajar kirim sms gratis...makasih

    ReplyDelete
  5. nisrina: aduh malu, ini aja bingung mo dibawa kmana critanya hiks

    ReplyDelete
  6. menurutku, setelah baca dengan super cepat.
    1. lebih seru kalau diawali dengan kejadian/ aksi. Misal keempat anak itu dikejar-kejar orang yang mau memecahkan misteri babilon juga. Baru nanti sekilas-sekilas ada flashback yang menerangkan latar belakang.
    2. sudut pandang mau berapa ya? sudut pandang Doni, Beni, Ando dan Saki? takutnya kebanyakan dan pembaca bingung hehe...
    itu saja semoga berkenan.
    Salam
    esti

    ReplyDelete
  7. Anonim: heheh iya ni mo nya juga begitu, tp belum rampung...ntar deh q selipin...makasih ya

    eh iya sudut pandangnya 4 orang aja kok jd biar ngak rame xixixi

    ReplyDelete
  8. ngalir aj kli yon, klu mang bab pertama blom ad adegan serunya ya jangan dipaksain. let it flow

    ReplyDelete
  9. hehehe tp adegan prtama kan kalo bisa menguncang pembaca *ceilee hahah sip tengkyuh

    ReplyDelete