Search This Blog

Tuesday, June 16, 2015

The House of Secrets



Judul : The House of Secrets
Pengarang : Chris Columbus dan 
Penerjemah : Lulu Fitri Rahman
Penyelaras Aksara : Nunung Wiyati
Tebal: 438 hlm
Cetakan: Pertama, 2015
Penerbit : Noura Books

25477385

"Orang-orang yang menyerah tak pernah menulis sejarah!"

Nama besar JK Rowling yang tertera di depan, plus nama agung Chris Columbus yang sukses menggarap beberapa film seri Harry Potter nan dahsyat itu rupanya (menurut saya loh) kurang bisa menjamin buku ini WOW. Buku ini ceritanya seru, itu poin plusnya. Susah sekali meletakkan buku ini kalau belum selesai. Saya sampai bawa ke kantor dan mencuri-curi baca agar bisa tahu bagaimana kelanjutan petualangan 3 bersaudara Walker bersama Will si penerbang dari masa Perang Raya. Tema dan pembukaan yang bagus, tapi sayang, eksekusinya kurang.

 
"Tak ada pilihan. Omong kosong. Pilihan selalu ada! (hlm 194)"

Buku ini seperti perpaduan antara Zathura dan Jumanji. Diawali dengan keluarga Walker yang membeli rumah bergaya Victoria yang sangat murah lengkap dengan segala perabotannya. Cordelia, sebagai anak yang paling suka membaca di keluarga itu, merasakan ada sesuatu yang aneh. Bagaimana rumah seindah dan semegah itu bisa mereka dapatkan dengan begitu murah? Tapi, kadang orang memang lupa sama logika kalau sudah ketemu harga yang murah. Dibelilah rumah itu, dan keluarga Walker pun mulai tinggal di dalamnya. Saat itulah, petualangan (atau musibah) itu dimulai.

"Kita belajar banyak dengan mendengarkan." (hlm.165)

Diawali dengan munculnya sosok wanita penyihir angin yang melempar anak-anak keluarga Walker ke antah berantah (mirip Oz), dan jatuhlah Cordelia, dan Eleanor Walker bersama rumah itu ke tengah-tengah hutan (kayak Zathura). Setelah itu, petualangan dimulai silih berganti. Rumah diserbu gerombolan penyerang kasar yang seolah dicuplik dari Abda Pertengahan, kemudian muncullah Will, seorang pilot muda dari masa Perang Dunia 1 yang menyelamatkan kakak-beradik Walker (oke, ini semakin mirip Zathura, hanya saja di sana si cowok adalah astronot), kemudian muncul binatang-binatang raksasa yang mengejar mereka, lalu gergasi.
"Senjata tidak otomatis menjadikanmu gagah. Kegagahan tidak bisa dicuri." (hlm. 223)
Satu petualangan yang disusul petualangan lainnya, metode ini pernah dipakai di Jumanji dan sepertinya dipakai lagi oleh Columbus di buku ini. Hanya saja, penulis tidak langsung menyelesaikan satu petualangan, melainkan ditumpuk-tumpuk untuk kemudian diselesaikan di penghujung cerita. Sepertinya, penulis berupaya mengumpulkan semua tokoh di penghujung buku, dan kemudian membuat semacam adegan akbar yang dahsyat. Hanya saja (menurut saya lagi loh), adegan akbar ini lebih cocok kalau divisualisasikan dalam film, tapi tidak untuk novel.

"Kita semua seperti kertas kosong saat dilahirkan, dan kita belajar berbuat jahat seiring bertambah usia." (hlm 202)

Saya membayangkan, betapa akan sangat epik dan serunya jika buku ini difilmkan seperti Zathura atau Jumanji, dengan petualangan seru kakak beradik Walker bersama rumah ajaibnya. terlempar dari hutan purba nan lebat, lalu ke tengah samudra bersama para perompak, dan akhirnya perang besar di kastil. Visualisasinya pasti akan sangat seru. Saya sangat mendukung kalau buku ini difilmkan.

"Buku ternyata bisa menjadi petualangan hebat." (hlm 445)

Hanya saja, untuk sekelas Chris Columbus yg mendapatkan endorsment dari JK Rowling, buku ini banyak sekali bolong-bolong logika dan detail yang terlewatkan, dengan penyelesaian yang begitu mudah untuk sebuah petualangan yang sedemikian rumit dan menegangkan. Misalnya saja, anak-anak ini mengalami berbagai luka-luka yang sangat berbahaya, dan harus melalui perjalanan yang menurut logika saya tidak cocok untuk anak-anak seusia mereka. Apalagi, dua diantaranya adalah anak perempuan. Tapi, ajaib, mereka selalu bisa lolos dengan mudahnya. Di sini seperti terjadi dilema, penulis membuat dunia rekaan dan tokoh-tokoh jahat yang keras, tetapi di sisi lain, anak-anak Walker selalu aman-sentosa-terselamatkan-dan-pasti-bisa! Semangat yay wkwkwk.

Tapi, saya suka sekali hubungan kekeluargaan di antara anak-anak Walker, dan ada banyak sekali kalimat-kalimat quotable di buku ini. Sampai bingung ini sebenarnya buku fantasi atau motivasi, tapi saya suka motivasi-motivasinya, keren.

1 comment:

  1. Sepertinya itu memang pakemnya buku atau cerita anak-anak, Mas Dion. Musuh boleh sejahat-jahatnya dan seekstrim-ekstrimya tapi jagoan anak-anak harus lolos dari maut dan tidak boleh menderita. Contoh paling simpel adalah Tom & Jerry. Biar diperlakukan super kejam, Tom & Jerry tetap full power.

    ReplyDelete