Search This Blog

Thursday, December 18, 2014

The Colour of Magic


9424656


Di sebuah dunia yang disangga di atas punggung kura-kura raksasa (jenis kelamin tidak diketahui), sebuah ekspedisi yang penuh kegembiraan, eksplosif, aneh, dan lucu, dimulai.

Terry Pratchett dalam buku ini mampu menghadirkan fantasi yang fresh, baru, berbeda, agak nyeleneh, melanggar pakem standar novel fantasi petualangan yang umum. Karena itulah, sewaktu saya mengecek rating novel ini di Goodreads, banyak yang memberikan rating rendahk karena kurang klop dengan cerita, karena ceritanya yang ganjil dan sangat tidak logis (teringat saya pada dogma bahwa sefiktif-fiktifnya sebuah cerita, ia harus tetap logis). Beberapa bahkan menyalahkan penerjemahnya yang dianggap kurang berhasil mentransfer apa yang hendak dikisahkan oleh pengarang.

Saya malah menikmati novel ini. Entah bagaimana, dalam segala kesemrawutan dunia cakram yang disangga seekor kura-kura primordial ini, terasa menyenangkan untuk dibaca karena begitu fresh sekaligus lucu dengan caranya sendiri. Abaikan sejenak semua pakem dan jargon bahwa sebuah karya fantasi yang baik harus begini dan harus begitu. Dalam beberapa hal, kita kadang hanya harus duduk dan menikmati apa yang disuguhkan penulis. Berkomentar ini dan itu, mengapa ini kok bisa begini dan itu begitu boleh, tapi jangan lupa bahwa membaca itu menikmati. Ketika sebuah bacaan bisa dinikmati, maka itu sudah cukup bagi saya, dengan sejenak menyisihkan opini pribadi tentang bagus atau tidak teknik menulis dan struktur logikanya.

Ketika saya iseng baca-baca review di Goodreads, saya menemukan satu opini menarik dari pembaca luar kalau seri Diskworld ini adalah semacam satire terhadap genre high fantasy yang memang standart membangun dunianya cukup rumit dan pelik. Penulis dituntut untuk merupa sebuah dunia yang benar-benar baru dan “fantastis” tetapi dengan tidak melupakan struktur logika yang wajib dipatuhi. Misalnya saja, penulis bebas menciptakan mahkluk apa saja dalam dunianya tapi tetap saja elemen-elemen logika harus tetap dipelihara, misalnya saja seorang penyihir yang harus tetap makan walau sesakti apapun dia.

Dalam seri ini, pakem logika itu seperti diobrak abrik dengan cara yang lucu sekaligus elegan. Contoh paling mencolok adalah model dunia diskworld yang berupa cakram dan disangga oleh 4 gajah raksasa yang berdiri di atas punggung kura-kura yang lebih raksasa lagi. Sementara si kura-kura dengan tak acuhnya berenang menjelajahi keluasan semesta. Kisahnya sendiri tak kalah absurd dengan setting dunianya. Rincewind—yang adalah seorang penyihir gagal—terpaksa harus melindungi Twoflowers yang adalah seorang pengembara sembrono. Yang disebut terakhir ini orangnya (atau mahkluknya) sangat polos karena dia ibarat seorang wisatawan yang terkagum-kagum dengan peperangan berdarah di hadapannya, tak menyadari bahwa dia sendiri bisa menjadi korbannya. Semua kejadian barbar di Ankh-Morpork dianggapnya sebagai atraksi yang menarik. Dan Rincewind adalah si waras yang bertugas melindunginya.

Twoflowers juga membawa sebuah bagasi ajaib yang terbuat dari kayu sihir langka. Bagasi ini bisa bergerak sendiri mengikuti pemiliknya, dan kadang bisa sangat ganas kalau dia tidak bisa menemukan pemiliknya. Isinya, uang emas yang pastinya akan menarik perhatian para penjahat, pemyihir, dan monster di seantero Diskworld. Lagi-lagi, Rincewind harus menjadi si penjaga berpikiran waras untuk melindungi si Twoflowers yang teramat lugu. Lucunya, sepanjang cerita, keberuntungan selalu saja menyelamatkan di pengelana itu, entah Rincewind yang berusaha atau entah karena campur tangan penulis. Namun, agar tetap berbau fantasia, kurang afdol kayaknya kalau karakter utama tidak terancam bahaya. Di endingnya, petualangan ala-ala fantasi standar itu masih ada kok. Tapi, menurut saya, bukan itu yang utama dari buku ini.

Salut saya sampaikan kepada sang penerjemah yang (menurut saya) telah berjuang untuk menerjemahkan novel ini. Saya belum membaca versi Inggrisnya, namun saya yakin kalimat-kalimat dalam buku ini harus dibaca minimal dua-tiga kali sebelum bisa diterjemahkan dengan baik. Ada humor, kebijaksanaan yang ganjil namun entah bagaimana ada benarnya, serta hal-hal yang melabrak logika cerita yang—anehnya lagi—layak dinikmati dengan caranya sendiri. Sebuah buku yang perlu teknik khusus untuk menikmatinya, yakni teknik “cukup dinikmati aja.” #apalah

No comments:

Post a Comment