Judul: Tentang Kucing
Pengarang: Doris Lessing
Penerjemah: An Ismanto
Tebal: 255 hlm
Cetakan: 1, Desember 2016
Penerbit: Basabasi
"Menulis, penulis, tidak muncul dari rumah yang tak punya buku." (hlm. 236)
Buku 'Tentang Kucing' ini sedikit banyak mengingatkan saya pada Istambulnya Pamuk. Jika Pamuk menggunakan kota sebagai refleksi memoarnya, maka Lessing menggunakan kucing. Lebih tepatnya, menggunakan kucing-kucingnya. Ada banyak sekali kucing di buku ini jadi mungkin kalau dibaca sekaligus bisa bikin bosan. Tapi, Lessing menghadirkan cerita tentang kucing-kucingnya dengan cara yang istimewa. Pecinta kucing bakal manggut-manggut membaca tuturannya, sementara bahkan bagi yang bukan penyuka kucing pun akan terpikat oleh teknik bercerita Lessing yang serasa akrab sekali.
"Juru kisah ada di kedalaman diri kita. Juru kisah selalu bersama kita," begitu kata Doris Lessing. Bagaimana kita mengeluarkan dan menyalurkan potensi sang juru cerita dalam diri inilah yang membedakan yang nulis dan yang nggak nulis. Lessing membuktikan, ketika si juru cerita dalam diri terbangkitkan, maka apa pun cerita yang kita tulis akan terasa istimewa. Buku ini buktinya. Siapa sangka, cerita tentang kucing peliharaan bisa diolah jadi seluar biasa ini. Di tangan seorang penulis yang piawai, yang biasa selalu bisa jadi tulisan yang istimewa.
Search This Blog
Showing posts with label Nobel Sastra. Show all posts
Showing posts with label Nobel Sastra. Show all posts
Friday, December 23, 2016
Thursday, November 17, 2016
Evolusi Penulisan Fiksi ala Gao Xingjian
Judul: Membeli Batang Pancing untuk Kakekku
Pengarang: Gao Xingjian
Penerjemah: An Ismanto
Tebal: 147 hlm
Cetakan: 1, November 2016
Penerbit: basabasi
Sampul: Ferdika
Rasa penasaran setelah membaca cerpen Gao Xingjian dalam kumcer Dijual Keajaiban yang rasanya ‘kok gitu aja?’ maka terbitnya buku ini tentu saja adalah sebuah kabar gembira. Karya lain penulis ini, novel Gunung Jiwa juga sudah susah banget nyarinya. Banyak pembaca baru macam kita-kita ini akhirnya bingung saat hendak mencicipi rasa dalam karya si penulis peraih Nobel yang memilih eksil ke Prancis ini. Apa yang khas dari karya-karyanya? Apakah senada dengan Mo Yan, ataukah ada rasa asli lain yang khas dari penulis asal Tiongkok ini?
Membaca cerpen-cerpen di buku ini, kita seperti diajak menanjak menuju ke sebuah puncak gunung. Awalnya lumayan mudah dan dengan pemandangan yang indah. Etape kedua sudah agak menanjak. Bagian selanjutnya lumayan menanjak, dan bergitu berturut-turut hingga menanjaknya ekstrem banget sampai ngos-ngosan bacanya. Dua cerpen terakhir adalah yang paling menguras pikiran, mana panjang pula itu dua cerpen ck ck ck. Akhirnya, setelah menamatkan membaca seluruh cerpen di buku ini (dengan dua cerpen yang sedemikian sulit diikuti di bagian akhir), pembaca akan mengetahui jawaban tentang mengapa buku ini begini. Buku ini menjadi contoh sekaligus bukti bahwa evolusi dalam penulisan fiksi ternyata masih belum selesai.
Pengarang: Gao Xingjian
Penerjemah: An Ismanto
Tebal: 147 hlm
Cetakan: 1, November 2016
Penerbit: basabasi
Sampul: Ferdika
Rasa penasaran setelah membaca cerpen Gao Xingjian dalam kumcer Dijual Keajaiban yang rasanya ‘kok gitu aja?’ maka terbitnya buku ini tentu saja adalah sebuah kabar gembira. Karya lain penulis ini, novel Gunung Jiwa juga sudah susah banget nyarinya. Banyak pembaca baru macam kita-kita ini akhirnya bingung saat hendak mencicipi rasa dalam karya si penulis peraih Nobel yang memilih eksil ke Prancis ini. Apa yang khas dari karya-karyanya? Apakah senada dengan Mo Yan, ataukah ada rasa asli lain yang khas dari penulis asal Tiongkok ini?
Membaca cerpen-cerpen di buku ini, kita seperti diajak menanjak menuju ke sebuah puncak gunung. Awalnya lumayan mudah dan dengan pemandangan yang indah. Etape kedua sudah agak menanjak. Bagian selanjutnya lumayan menanjak, dan bergitu berturut-turut hingga menanjaknya ekstrem banget sampai ngos-ngosan bacanya. Dua cerpen terakhir adalah yang paling menguras pikiran, mana panjang pula itu dua cerpen ck ck ck. Akhirnya, setelah menamatkan membaca seluruh cerpen di buku ini (dengan dua cerpen yang sedemikian sulit diikuti di bagian akhir), pembaca akan mengetahui jawaban tentang mengapa buku ini begini. Buku ini menjadi contoh sekaligus bukti bahwa evolusi dalam penulisan fiksi ternyata masih belum selesai.
Wednesday, October 31, 2012
Seratus Tahun Kesunyian
Judul :
Seratus Tahun Kesunyian
Pengarang :
Gabriel Garcia Marques
Penerjemah :
Nin Bakdi Soemanto
Penyunting :
Wendratama
Cetakan :
Pertama, Mei 2007
Halaman :
547
Penerbit :
Klub Sastra Bentang
Luar biasa! Begitulah kesan saya
(dan juga kesan rata-rata pembaca lainnya) yang berhasil menamatkan pembacaan
novel 100 Tahun Kesunyian karya
pemenang Nobel sastra Gabriel Garcia Marques ini. Bukan karena tebalnya yang
lebih dari 500 halaman dengan font padat dan rapat serta paragraf yang bisa
satu halaman panjangnya. Bukan pula karena pohon keluarga Jose
Arcadio Buendia dan Ursula
Iguaran yang begitu panjang dengan penggunaan nama-nama yang berulang. Ada
sesuatu yang sangat spesial dari novel ini, yang memusingkan dan ruwet. Tapi, membacanya seperti menemukan pesona luar biasa dari kepiawaian sang penulis
dalam meramu cerita.
Pada
garis besarnya, buku ini adalah tentang Jose Arcadio Buendia dan Ursula
Iguaran beserta ketujuh generasi anak-keturunan mereka. Kisah dimulai ketika Jose
Arcadio Buendia membuka kota Macondo di kawasan rawa-rawa tak terjamah—dan
perkembangan kota Macondo sendiri seperti mengikuti alur dari kisah keluarga Buendia.
Kegilaan Jose Arcadio Buendia terhadap mitos-mitos lama, seperti batu alkemi
dan magnet, akhirnya menurun pada dua anak laki-lakinya: Jose Arcadio dan
Aureliano Buendia (Mereka juga punya anak perempuan bernama Amaranta). Sementara
ayahnya menjadi gila dan dikekang di bawah
pohon, kedua putranya ini juga sibuk dengan kegilaan masing-masing. Baik
Aureliano dan Jose Arcadio kemudian jatuh cinta pada perang dan pemberontakan.
Mereka bergabung dengan gerilyawan melawan Pemerintah, dan berkali-kali
mengalami ketidakberuntungan dengan obsesi mereka akan perang.
Hanya Aureliano
Buendia yang bisa dibilang berhasil dalam hal ini. Ia telah menjadi semacam
pahlawan kaum pemberontak dan namanya dipuja-puji puluhan tahun setelah tidak
aktif lagi. Orang ini juga lebih beruntung karena berumur lebih panjang
daripada Jose Arcadio dan juga berhasil “membuahi” belasan wanita sehingga ia
memiliki sekitar 17 anak laki-laki beda ibu yang semuanya dengan bangga
menyandang nama Aureliano. Pada akhirnya, ke-17 pemuda ini juga mengalami
ketidakberuntungan, rata-rata mati muda.
Kemudian,
saudaranya si Jose Arcadio memiliki istri, yakni Rebecca. Tapi, ia malah membuat
keturunan bersama wanita nakal Pilar Ternera. Putranya diberi nama Arcadio. Nah
Arcadio ini kemudian beristrikan Santa Sofia de la Piedad dan menghasilkan 3
anak, yakni Remedios, Aureliano Segundo, dan Jose Aureliano Segundo. Remedios
ini diceritakan sebagai gadis yang sangat cantik, yang bahkan keberadaannya
saja sudah cukup membuat para pria muda sakit jantung. Begitu cantiknya sampai
alam pun jatuh hati dan mengambilnya. Suatu siang, ia dibawa terbang oleh angin
saat tengah membawa selendang jemuran (????). Aureliano Segundo rupanya
menuruti jejak ayahnya. Ia juga terlibat dalam perang dan kemudian (sebagaimana
lainnya) gugur. Tapi, ia sempat beristrikan Fernada yang kemudian memberinya
tiga anak. Sementara, anak ketiga dari pasangan Arcadio + Santa Sofia de la
Piedad, yakni Jose Aureliano Segundo entah nasibnya bagaimana saya lupa dan
tidak mampu melacaknya.
Lanjut
ya, Aureliano Segundo dan Fernanda punya tiga putra, walaupun pada kenyataannya
Fernada sendiri yang membesarkan ketiganya karena suaminya yang terobsesi
perang akhirnya ditembak atau kalau ngak dieksekusi. Tiga putra ini adalah Jose
Arcadio (yang kemudian disekolahkan ke Roma agar bisa menjadi Paus tapi sialnya
ia malah jd gelandangan dan kembali ke Macondo hanya untuk ditenggelamkan oleh
remaja-remaja berandalan yang hendak merampok harta karun temuannya), Renata Remedios
(yang disekolahkan ke sekolah Katolik tapi akhirnya hamil di luar nikah dan
akhirnya diasingkan oleh Fernanda ke biara yang jauh), dan Amaranta Ursula (mungkin
satu-satunya anak wanita keluarga Buendia yang benar-benar berhasil menikah dan
menjadi wanita terhormat). Renata Remedios meninggalkan anak dari hubungan di
luar nikahnya dengan seorang pekerja kayu muda (yng juga mati muda). Anak itu dinamai Aureliano dan
dirawat oleh Fernanda dan sampai besarnya ia menjadi seorang kutu buku yang
suka mengurung diri di kamar rahasia milik kakek buyutnya, Jose Arcadio
Buendia. Sementara, Amaranta Ursula yg berhasil menikah dengan orang Eropa
akhirnya juga memiliki bayi laki-laki yang dinamai dengan …errr… Aureliano.
Pada
akhirnya, trah keluarga Buendia pun menghilang seiring dengan kegilaan-kegilaan
serta ketidakberuntungan mereka. Aureliano (anak dari Meme/Renata Remedios)
adalah satu-satunya keturunan yang menyaksikan sisa-sisa terakhir dari keluarga Buendia menghilang sebagaimana kata
ramalan. Ketika Amaranta Ursula meninggal saat melahirkan Aureliano (bayi),
maka Aureliano yang kutu buku (halah bingung!) kalut dan pergi menyusuri kota
Macondo yang juga kian kumuh dan lesu seiring dengan habisnya generasi ketujuh
keluarga Buendia. Ketika ia kembali, Aureliano dewasa menyaksikan sendiri
Aureliano bayi digondol kawanan semut sebagaimana kata ramalan. Ia sebagai
keturunan terakhir, menjadi saksi habisnya kota Macondo yang setelah itu
tersapu bersih oleh angin puyuh dan kemudian hilang dalam ingat orang-orang. “Karena ras-ras manusia yang dikutuk selama
seratus tahun kesunyian tak punya kesempatan kedua di muka bumi ini.” (hlm 547)
Anda
pusing? Jangan khawatir karena saya sendiri kadang pusing mengingat nama-nama
keluarga Buendia yang hampir mirip. Kelakuan mereka—terutama kaum prianya—juga
mirip sehingga ujung-ujungnya mereka habis dalam cara yang cukup tragis.
Satu-satunya pria yang agak waras mungkin Aureliano yang putranya Meme.
Sementara, topang utama dari keluarga itu sesungguhnya adalah Ursula, yang
sejak masa ketika suaminya Jose Arcadio Buendia menjadi gila, menjadi
sati-satunya orang waras di rumah itu. Dengan segala kegilaan dan absurbitas
dalam cerita ini, tidak heran jika 100
Tahun Kesunyian memang masuk sebagai buku yang sulit dipahami. Jangankan
saya, Wikipedia saja memberikan definisi yang njilmet untuk novel ini:
“Cerita ini jelas mengandung kenyataan
yang magis, namun lebih dari itu, karena juga merupakan sebuah refleksi
filsafati tentang hakikat waktu dan keterasingan. Sejumlah kritikus mengatakan
bahwa buku ini kurang mengandung sifat cerita rakyat, yang merupakan prasyarat
dari realisme magis, karena itu tidak dapat dikategorikan demikian…. Nilai
novel ini terletak bukan hanya dalam penggunaan realisme magis yang inovatif, tetapi juga penggunaan
bahasa Spanyolnya yang indah. Buku ini adalah sebuah tulisan epos yang
merentang selama beberapa dekade dalam kehidupan sebuah keluarga yang besar dan
kompleks.”
Sepenangkapan
saya, penulis menggunakan novel ini untuk mengkritik munculnya
kerajaan-kerajaan atau negara-negara baru di kawasan Amerika Selatan dan Tengah
selepas perang dunia pertama. Di mana, banyak dari negara-negara itu dipimpin
oleh tiran yang gemar berperang dan mabuk kekuasaan. Sebagaimana nasib keluarga
Buendia dan kota Macondo yang akhirnya habis, mereka yang terobsesi pada
perang, kekuasaan, dan kesenangan duniawi (dalam novel ini dilambangkan oleh
seks dan wanita) pada akhirnya akan hancur.
Ditambah dengan segala
absurbditasnya, novel ini memang luar biasa jika dibaca oleh orang yang tepat,
yang akan mampu lebih memahami berbagai perumpamaan dan maksud dari sang
penulis. Sayangnya, saya hanya baru bisa sampai para tahap menikmati, belum
bisa menemukan permata-permata kebijaksanaan itu. Pembaca yang lebih cerdas
pasti akan menemukan banyak harta dan kebijaksanaan dari novel ini. Sebagaimana
kata penjual buku dari Catalan yang menjadi langganan dan teman dari Aureliano.
“Dunia ini tentu sudah bobrok. Ketika orang
bepergian dengan kereta kelas satu, tetapi kesusastraan diperlakukan seperti
barang.” (hlm 525)
Ada banyak sekali kejadian tidak masuk akal
dalam keseharian keluarga ini, yang seolah merupakan sesuatu yang bias. Benar-benar
absurb kalau kita mempertanyakan ini dan itu saat membaca novel berat ini.
Dinikmati saja, biarkan cerita mengalir dengan sendirinya, itulah kunci untuk
bisa merampungkan pembacaan novel luar biasa ini. Saya mampu bertahan
menyelesaikan novel berat ini salah satunya karena terhemahan Nin Bakdi
Soemanto yang luar biasa menawan, luwes, dan indah. Bahkan dengan mengabaikan
ceritanya yang absurb, saya masih bisa menikmati keindahan detail dan
kelancaran bercerita dari penulis aslinya. Salut untuk penerjemahnya.
Gabriel José
García Márquez (lahir 6 Maret 1928) adalah seorang novelis, jurnalis,
penerbit, dan aktivis politik Kolombia.
Ia dilahirkan di kota Aracataca di departemen Magdalena, namun hidupnya kebanyakan
dijalaninya di Meksiko dan Eropa. Saat ini ia banyak
menghabiskan hidupnya di Mexico City. García Márquez
secara umum dipandang sebagai tokoh utama dari gaya sastra yang dikenal sebagai realisme magis. Novelnya yang paling terkenal, Seratus Tahun
Kesunyian, ditulis pada tahun 1976 dan telah terjual
lebih dari 10 juta eksemplar. Ia juga dianugerahi Penghargaan Nobel Sastra pada 1982 berdasarkan
cerita-cerita pendek dan novelnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)



