Search This Blog

Sunday, November 1, 2026

Kisah kehidupan Perempun di Desa Hindia Belanda tahun 1901

Judul: Kisah kehidupan Perempun di Desa
Penulis: Marie Ovink-Soer
Penerjemah Titik Andarwati
QRCBN: 62-1677-3366-623
Cetakan: Pertama-2026 
Halaman: 132 
Penerbit: BukuKatta



Selalu menarik sekaligus mengusik rasa penasaran mengetahui bagaimana kehidupan para bumi putra atau WNHB (warga negara Hindia Belanda) Tempo Doeloe. Kisah - kisah mereka turut dituturkan dari berbagai tulisan, salah satunya (yang banyak dijumpai) adalah dari tulisan-tulisan para pelaku atau saksi mata yang berasal dari kalangan Belanda. Tidak dapat dipungkiri, bangsa Belanda dan Inggris memang rajin mencatat dan mendokumentasikan. Dari merekalah kita mendapatkan banyak bahan untuk penulisan dan pengetahuan sejarah bangsa ini.

Pengarang buku ini adalah sahabat R.A Kartini. Namanya Marie Ovink-Soer, seorang istri  Asisten Residen Jepara, Marie tinggal dekat dengan kediaman orang tua Kartini. Dan mereka sering bertemu dan bertukar gagasan. Dari Marie inilah Kartini sedikit banyak mulai berkenalan dengan pemikiran feminisme ala Barat.

Pandangan dari orang barat inilah yang juga menjadi sudut pandang penulisan kumpulan cerita ini. Tersusun atas 9 kisah, buku ini menceritakan pengamatan seorang wanita Belanda terhadap kehidupan keseharian warga pribumi di Hindia Belanda kurun waktu awal abad ke 20 atau sekitar tahun 1901. Untuk lokasinya, kemungkinan di Jepara karena pengarang menyebut kota di tepi pantai di Jawa. Dan juga ada inisial kota D dan K yang kemungkinan Demak dan Kudus. Klop, 3 kota ini memang saling berdekatan.

1. Kehidupan Perempuan di Desa
Lewat POV seorang barat, cerpen ini mengisahkan kehidupan wanita pribumi di perdesaan dengan segala permasalahannya. Yang mengejutkan, apa yg dialami Wagini (tokoh utama cerita ini) masih bisa ditemukan di banyak pelosok Indonesia sekarang. Pernikahan terlalu muda sehingga membahayakan nyawa sang ibu, peran ayah yang hilang dalam pengasuhan, pemaksaan kehendak kepada anak dengan dalih untuk kebahagiaan mereka sendiri, serta kemiskinan struktural yang terus dipelihara.  Belum lagi peran wanita yang semakin tersisihkan akibat budaya dan kurangnya pengetahuan. Kisah singkat Wagini menjadi bukti bagaimana Barat memandang kehidupan pribumi saat itu yang memang masih sangat jauh dari layak. Untungnya, kisah ini berakhir bahagia khas romansa Barat juga.

2. Istri Seorang Zendeling
Kisah pendek ini menarasikan perasaan seorang wanita muda yang harus mengikuti suaminya sebagai misionaris yg harus berkarya di sebuah komunitas Kristen di Jawa. Bagaimana yang Barat menyesuaikan diri dengan yang Timur dengan segala 'kurangnya'. Kebanyakan kisah di buku ini memang menyoroti Barat yg seolah selalu lebih baik dari Timur. Sehingga di timurpun mereka berusaha membawa yang barat barat, termasuk bagaimana mengelola rumah dan gereja agar tetap terasa Barat.

3. Anak Gembala Kerbau
Seperti kisah pertama, cerpen ini memandang kisah seorang pribumi kecil di Jawa lewat POV Barat. Bagaimana kehidupan sederhana dan dipaksa apa adanya berusaha dimaklumi dari sudut pandang Eropa yang tinggi dan berjarak. Kacong adalah seorang pengembala kerbau kecil berusia 5 tahun(?)  yang ditugasi menjaga kerbau raksasa. Ketika suatu kejadian membuat kerbaunya hilang, Kacong yang kecil itu harus menghadapi hukuman yang benar benar keras untuk anak seusianya. Tidak hanya kehidupan yang keras kepada anak anak Hindia Belanda, bahkan orang dewasa pun sudah keras kepada mereka. Dari kisah lumayan panjang ini, pembaca bisa sedikit banyak mendapatkan gambaran tentang kehidupan seorang pribumi dari kecil hingga menjadi pegawai Hindia Belanda.

4.Jalan jalan Senja
Kisah amat pendek ketika pengarang melakukan tamasya keliling desa di senja hari. Suasana perdesaan tropis di senja hari dilukisan dengan syahdu namun kurang mendetail. Tapi suasana Indisnya lumayan kental kerasa di kisah ini. Bayangkan bagaimana berjalan jalan di Hindia Belanda era 1901 dengan segala keindisannya.

5. Sebuah Proefsnit
Dari kisah mata orang zaman itu, kita bs mengetahui bagaimana pajak dan pemerintahan di jalankan. Pengarang mengikuti suaminya menjalankan tugas pengawasan pemotongan pajak padi di wilayah yang agak jauh. Dengan berperahu perjalanan itu dijalankan, melewati perkampungan perkampungan miskin dan kumuh khas pribumi. Digambarkan bagaimana keindahan alam tropis saling bersinergi dengan kehidupan warga pribumi yang terlalu nrimo ing pandum.

6. Hujan Pertama
Bagaimana hujan di negeri tropis memang terasa berbeda dengan hujan di Eropa digambarkan dengan POV sangat personal di kisah ini. Musim kemarau panjang membawa debu dan penyakit, membuat segala sesuatu terasa kering panas dan tidak tertahankan. Kemudian hujan pertama pun turun. Hujan khas wilayah tropis yang segera menghijaukan segala dan membersihkan semua.

7. Sendirian di Rumah
Kisah ini sekali lagi terasa sangat barat sentris. Wajar karena pengarang merindukan rumahnya yang teratur di Belanda sana, dibandingkan dengan segala sesuatu di Jawa yang masih serba bodoh, kotor, sepi, dan kurang berpendidikan. Beberapa kali pengarang juga menyatakan ketidaksukaan pada kehidupan, masakan, dan hidangan Jawa yang selama ini kita anggap disukai oleh orang Barat atas nama eksotisme timur. Sedikit banyak kita mendapatkan pandangan jujur tentang bagaimana yang dirasakan seorang Belanda di Hindia Belanda saat tinggal di pelosok Jawa.

8. Kebakaran di Kampung
Lihai sekali pengarang menangkap dan menarasikan ulang bagaimana sikap dan pandangan hidup orang Jawa kawula alit. Lewat sebuah peristiwa kebakaran (yang seharusnya bisa dicegah dan dihindari), pengarang dengan telak menggambarkan apa yang selama ini mungkin telah keliru orang jaman dulu pahami tentang apa itu takdir. Bahwa beberapa musibah seharusnya masih dapat dicegah dengan pengetahuan yang baik. Di sisi lain, pengarang juga terkesan dengan bagaimana cara orang Jawa mengahadapi tekanan hidup dan tetap menjalani hidup walau setelah mendapatkan musibah berat.

9. Keberanian Margo
Kisah petualangan wanita Belanda yang tinggal di Hindia Belanda dengan segala bahayanya. Setelah berturut turut mendapatkan kisah yang naratif, kisah penghujung ini menutup buku dengan cerita sedikit mendebarkan tentang bagaimana seorang Barat memandang Hindia Belanda sebagai sebuah lahan petualangan dan variasi dalam kehidupan.

Sebuah catatan sederhana seringkali menjadi referensi luar biasa penting tentang kehidupan di suatu masa. Bagaimana pemerintahan dijalankan, kehidupan dijalani, pemikiran dipahami, dan alam lingkungan dirasakan. Kumpulan kisah di desa Jawa pada 1901 di buku ini menjadi sebuah dokumentasi yang sedikit banyak mambantu kita membayangkan bagaimana pribumi dan orang Barat saling berinteraksi pada masa itu. Tidak melulu tentang penderitaan akibat penjajahan, tetapi juga tentang bagaimana orang Jawa memandang kehidupan dan bagaimana orang Eropa melihat timur yang katanya eksotis tersebut.


No comments:

Post a Comment