Search This Blog

Saturday, December 11, 2021

Jalan Menikung, Priyayi di Era Globalisasi

Judul: Jalan Menikung (Para Priyayi #2)

Pengarang: Umar Kayam

Tebal: 184 halaman

Cetakan: 1999

Penerbit: Pustaka Utama Grafiti, Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation



Sekuel Para Priyayi ini mungkin tidak semegah novel pendahulunya yang begitu detail menggambarkan jatuh bangun sebuah dinasti keluarga Jawa hingga menjadi keluarga Priyayi. Tema pokoknya pun bergeser, karena ada aroma pembaratan kental. Bahwa menjadi manusia masa kini adalah menjadi warga dunia juga. Jika dulu Lantip, kali ini adalah Eko, putra dari Harimurti yang bersekolah di Amerika. Jika dulu leluhurnya sudah luar biasa bisa masuk sekolah Belanda, kini cucu jauhnya meluaskan jangkauan hingga ke negeri manca. Begitulah manusia terus berjalan dan berkembang.

Dalam novel yang tergolong tipis ini, ada begitu banyak tema yang diangkat. Bahkan di awal pun Umar Kayam sudah menyeret pembaca pada kasus politik cukup pelik, tentang eks organisasi terlarang yang dilarang jadi PNS. Sayangnya, larangan ini merembet menjadi apa saja, bahkan anak cucu pun ikut menanggung akibatnya. Mereka bahkan tidak dibiarkan tenang walau bekerja di perusahaan swasta. Lalu ada tentang perkawinan Eko dan Claire yang tidak hanya beda bangsa, tetapi juga beda agama. Tidak main main, Claire adalah seorang Yahudi (walau masuk Yahudi yang liberal). Bagaimana seorang priyayi Jawa tulen dan Islam bisa menerima mantu seorang Yahudi? Tapi, dunia kini memang tak sama lagi, termasuk orang orangnya

Bahkan yang Jawa kaya pun pada akhirnya akan tersentuh oleh nilai nilai internasional dengan berbagai tuntutan mewahnya. Keluarga Tommi adalah contohnya. Di satu sisi ingin menunjukkan baktinya sebagai orang Jawa yang menjunjung tinggi leluhur, di sisi lain tidak tahan untuk menunjukkan gayanya sebagai orang kaya yang tidak ketinggalan mode. Maka jadilah rumah priyayi Jawa ini dikelilingi taman model Amerika. Maka, pernikahan Eko dan Claire pun seharusnya dan memang akhirnya bisa mereka terima.

Sama seperti di novel pertama, penulis kok ya jago banget mengupas luar dalam orang Jawa. Betapa Jawa yang masih begitu teguh memegang pertalian saudara sehingga hubungan kekerabatan begitu terjaga. Di satu sisi, ini baik karena keluarga besar saling berkumpul dan dianjurkan untuk kenal mengenal. Di sisi lain, sebagaimana yang dilihat Eko dan Claire sebagai generasi termuda, kumpul kumpul sering kali jadi ajang memamerkan harta, kadang memaksakan kekuasaan. Yang muda harus manut sama yang tua, yang kurang mampu harus sendika dalem dengan yang kaya. Jadilah dalam diri orang Jawa ini sering berkumpul sifat sifat bertentangan yang bikin orang luar bingung: bermulut manis tetapi bicara pedas di belakang, suka pamer tapi juga suka berderma, tidak individualistis tapi juga sering memandang terlalu tinggi diri dibanding orang di bawahnya. Pada akhirnya, manusia mana pun, dari suku bangsa apa pun, memang punya kelebihan dan kekurangan.

"Merantau itu pergi jauh. Kadang-kadang jauh, jauh sekali. kadang-kadang rasanya sewaktu-waktu akan dapat kembali. Rasanya. Padahal jalan yang telah dilalui dan akan ditempuh begitu banyak menikung. Kita akan terus merantau. Bagaimanapun, jalan akan terus menikung." (hlm. 178)

Sebagaimana jalan hidup yang tidak pernah sepenuhnya lurus dan sering menikung, novel ini menggambarkan sifat manusia yang selain beraneka ragam dan suka menikung eh juga memiliki sifat-sifat baiknya. 

1 comment: