Search This Blog

Tuesday, December 23, 2014

A Girl who Loves a Ghost

Judul : A Girl who Loves a Ghost
Pengarang: Alexia Chen
Penyunting : Shalahuddin Gh
Pemindai Aksara : Muhammad Bagus SM
Sampul : Iksaka Banu
Cetakan : 1, November 2014
Tebal: 551 hlm
Penerbit : Javanica

23459532

Saat kau mencintai seseorang, kau tidak bisa hanya merasa suka kepadanya. Kau memerlukan sesuatu yang lebih dalam, yang lebih kuat.” (hlm. 385)

Pertama, walau judulnya agak horor tapi novel ini bukanlah novel horor, melainkan novel romance. Kedua, saya jarang membaca novel romance tapi sejenak novel ini mampu merebut perhatian saya yang selama ini didominasi oleh bacaan fantasi-petualangan. Sebagaimana Yuto yang perlahan mampu merebut perhatian Aleeta , novel romantis ini juga berhasil merebut perhatian saya, membuat saya termenung-menung seharian setelah menyelesaikan membaca novel ini, larut dalam pesona cinta kasih antara Leeta Jones dan Nakano Yuto yang berbeda dunia. Sekali lagi, ini bukan sebuah novel horor, tetapi novel romantic. Sebuah novel manis yang merupakan perpaduan manis antara drama Korea dengan novel teenlit yang menyenangkan untuk disimak, bahkan oleh mereka yang jarang membaca novel romantic. Oh iya, walau nama keduanya berbau luar negeri, tetapi keduanya asli warga Indonesia. Ini salah satu yang membuat novel ini menarik.

Kau berada di Indonesia, tinggal di Indonesia, kuliah di salah satu universitas di Indonesia. Semua orang yang berada di tanah air Indonesia adalah orang Indonesia dan tentu saja bisa berbahasa Indonesia. Memangnya ada yang aneh dari itu? Aku juga lahir dan besar di Indonesia.” (hlm 384)

Semua bermula dari doa yang dipanjatkan Leeta untuk Yuto. Suatu pagi sebelum masuk kuliah, dibacanya sebuah berita di koran tentang musibah yang menimpa Nakano yuto, seorang anak pengusaha kaya asal Bandung yang dirampok dan dibunuh di jalan. Entah bagaimana, seusai mengucap doa, semilir angin dingin menerpa Leeta, dan arwah Yuto tiba-tiba sudah ada di sana, mengikutinya. Jangan bayangkan Yuto sebagai hantu penasaran yang pucat dan berdarah-darah (eh dia memang pucat sih). Penampakan Yuto adalah sosok yang tinggi dan oriental, tidak jauh beda dari sosok artis Korea-Mandarin-Jepang yang sedang digilai banyak gadis di negeri ini. Tingkahnya pun sama dengan cowok-cowok protagonis di film Korea: cenderung tenang dan tidak meledak-ledak, bijaksana, dan suka mencemooh serta mengoda Leeta. Dari mata turun ke hati. Rasa suka mulai tumbuh dalam diri. Pesona Yuto (yang adalah hantu) mulai mempengaruhi Aleeta yang selama ini judes.

Leeta, selama ini bukan orang-orang yang menjauhimu. Kau sendirilah yang tidak membuka diri, kau membuat tameng kokoh di sekitarmu, sehingga tidak memungkinkan orang lain mendekat.”(hlm 382) 

Mengetahui bahwa hanya Aleeta yang bisa melihatnya, Yuto pun “menghantui” gadis itu, memaksanya agar mau membantunya menyelesaikan beberapa urusan yang belum selesai di dunia. Jangan dibayangkan menghantui di sini seperti di TV-TV yang seram itu, tidak. Yuto menghantui Aleeta dengan sosoknya yang menawan, dengan celetukan-celetukannya yang nyinyir, juga dengan dengusan mencemooh khas tuan muda-nya yang entah mengapa sangat dia rindukan. Interaksi Yuto dengan Aleeta ini mengingatkan saya pada drama-drama Korea di mana seorang cewek dan cowok yang tidak saling menyukai dihadapkan dalam satu situasi yang sama. Jadinya, banyak sekali pertengkaran, saling ledek, dan perdebatan kecil yang lucu sekaligus menghibur. Jenis pertengkaran yang biasanya menghasilkan sorakan “cieee” bagi orang-orang yang melihatnya. Pertengkaran yang manis.

Aku menyukai Ben. Itu saja. Namun belakangan ini aku menyadari bahwa menyukai tidaklah cukup untuk membuat aku mencintainya. Tidak ada hubungan dengan ketertarikan fisik. Yuto kebetulan memiliki paras yang memesona. Tapi bukan hal itu yang membuatku jatuh cinta. Aku mencintai Yuto, Senna. Hanya karena dia adalah Yuto.” (hlm 437)

Akhirnya, Aleeta setuju membantu Yuto. Dan bersama-sama, keduanya bergerak ke Bandung, menyusuri setiap tapak kehidupan seorang Nakano Yuto, termasuk menghadiri upacara berkabung keluarganya, menyusup ke kantornya, hingga masuk ke dalam kamarnya. Rupanya, masih banyak masalah yang belum terselesaikan ketika Yuto dibunuh. Dan, Aleeta, mau tak mau harus terlibat dalam sejumlah intrik perusahaan demi membantu Yuto. Semuanya mengalir dan dikisahkan begitu lancar. Walau settingnya Indonesia dan ditulis oleh orang Indonesia, membaca novel ini seperti membaca novel terjemahan dengan alurnya yang sangat khas. Seluruh drama dan upaya menyelinap, serta pertengkaran kecil tapi unyu antara Aleeta dan Yuto dikisahkan dengan sangat rapi dan asyik disimak. Beneran seperti sedang menonton versi tulisan dari sebuah drama Korea yang bagus.

"Semua yang kau katakan kepadaku, semua tentang apa yang seharusnya kurasakan saat aku mencintai seseorang, sebenarnya itu jugalah yang kau rasakan. Aku tahu kau tidak membacanya di tempat lain. Itu adalah perasaanmu yang sebenarnya." (hlm. 390)

Apa yang membuat Yuto mendatangi Aleeta? Hal ini akan disinggung di belakang, ketika Aleeta bertemu dengan sosok dari masa lalu yang akan menjelaskan alasan mengapa seorang manusia bisa berinteraksi dengan sesosok hantu. Hal yang paling menarik dari buku ini, yang telah dibocorkan dalam judulnya, adalah ketika akhirnya baik Aleeta maupun Yuto saling jatuh cinta antara satu sama lain. Awalnya, keduanya sama-sama menyadari kenyataan bahwa keduanya adalah berbeda dunia dan tidak mungkin bersatu. Tetapi, cinta memang egois dan kadang tidak mau mengerti. Cinta kadang begitu usilnya sehingga menyatukan dua orang dari dua asal yang sangat berbeda, kadang malah sangat bertentangan. Sekuat tenaga Aleeta berharap bisa menolak pesona Yuto, sekuat kemampuan pula Yuto bertahan menolak kehangatan yang dipancarkan oleh gadis itu. Tapi, cinta memang terlalu kuasa untuk diabaikan.

Kau akan selalu merindukannya jika dia jauh darimu. Matamu tidak bisa lepas darinya…. Kau akan melakukan apa saja untuk melihat senyumannya. Selalu ingin tahu bagaimana kabarnya, apa yang dia lakukan, apa yang ada di pikirannya. Dan saat kau bersamanya, segalanya menjadi indah. Kau tidak butuh yang lain … karena dia sudah cukup bagimu.” (hlm 386)

Bagaimana kisah ini akan berakhir? Bak dram-drama Korea yang pendek-pendek musim tayangnya namun meninggalkan kesan yang mendalam pada penontonnya, begitu pula novel yang sangat manis ini. Sebagaimana dimaklumi, manusia dan hantu tidak mungkin dapat bersatu. Pada akhirnya, ketika hal yang tidak bisa secara kodrati tetap dipaksakan untuk menjadi bisa, maka harus ada yang menderita untuk menjadi bahagia. Pengorbanan harus dilakukan, dan salah satu dari keduanya harus merelakan diri untuk melepaskan yang lainnya, demi kebahagiaan sang kekasih. Karena, apalah artinya mencintai jika itu hanya membuat orang yang kita cintai menjadi menderita. Sebagaimana kata sebuah ungkapan, cinta itu seharusnya membebaskan, dan bukannya membelenggu. Sungguh sebuah novel yang sangat manis tanpa harus jatuh ke kisah yang menye-menye. 

"Bukan karena aku tidak menginginkanmu. Melainkan karena aku menginginkanmu untuk diriku sedemikian besar sehingga hal itu membuatku justru ingin melihatmu hidup dan bahagia." (hlm. 532)

3 comments: