Search This Blog

Sunday, February 9, 2014

Lockwood and Co, Undakan Menjerit


Judul : Lockwood and Co, Undakan Menjerit
Pengarang: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy D Chusfany
Cetakan: 1, 2013
Tebal: 419 hlm
Sampul : Martin Dima
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama       
     

20351591
              
           Karya baru dari Jonathan Stround, sang pengarang Barty nan kocak , ini memang benar-benar berbeda dari karya-karyanya sebelumnya. Tidak seperti Rowling yang langsung “murtad” dari menulis fantasi lewat The Casual Vacancy dan Cuckoo’s Calling, Stroud tetap bertahan di jalur fantasi dengan menulis kisah yang benar-benar berbeda. Upayanya melepaskan diri dari sosok Barty yang sudah telanjur membuat pembaca jatuh hati adalah dengan menulis kisah fantasi yang baru, yang benar-benar berbeda, tapi masih berbau-bau keajaiban lewat Lockwood and Co. Temanya masih agak-agak mirip sih, tentang dunia supranatural. Jika dulu dalam trilogi Bartimaeus, Stroud mengubek-ubek dunia jin, maka di seri Lockwood and Co ini menggunakan tema yang agak spooky, tentang hantu.

                Kelebihan utama atau mungkin sesuatu yang telah menjadi karakter khas tulisan Stroud adalah kepiawaiannya dalam memadukan antara tema fantasi dan realita. Dalam seri Barty, pembaca disuguhi London yang mengenal penyihir dan jin (bahkan sampai pihak pemerintah yang juga ada penyihirnya), maka dalam seri ini dia dengan apiknya memadukan antara dunia modern dengan dunia hantu. Dikisahkan, London dan seluruh kepulauan Britania diserang oleh wabah hantu yang telah berlangsung selama lima puluh tahun lebih. Spirit yang selama ini hanya bisa melayang-layang transparan di kegelapan, oleh Stroud diubah menjadi entitas berbahaya yang mampu melukai manusia, bahkan membunuh. Hanya anak-anak dan remaja yang mampu melihat penampakan ini, sementara orang-orang dewasa dicekam ketakutan oleh bayangan atau entitas tak kasat mata yang menimbulkan udara dingin dan perasaan depresi seiring dengan kemunculannya.

                Tidak tanggung-tanggung, Stroud menggunakan beragam elemen bersifat supranatural dalam ceritanya. Setting London modern yang berhantu dibangun begitu rupa, sehingga pembaca benar-benar bisa membayangkan settingnya. Ladam kuda dari besi ditempel di pintu, pembangunan saluran air mengalir yang mengelilingi mal (dipercaya hantu tidak bisa menyeberangi air yang mengalir), jendela-jendela yang digantungi lavender, penjualan bubuk garam dan besi (hantu dipercaya dapat tersakiti oleh dua senyawa ini), dan pemasangan lentera hantu yang memancarkan lampu magnesium dan berpijar-padam setiap 3 menir sekali. Semuanya lengkap, benar-benar dipersiapkan, sehingga pembaca merasa benar-benar percaya kalau Inggris memang tengah diserang wabah hantu. Konsep hantu yang spooky kini diubah menjadi sesuatu yang horor oleh Stroud, tapi tidak terlalu horor karena unsur fantasi masih mendominasi.

                Tiga anak muda, Lucy Carlyle, Anthony Lockwood, dan George; tiga remaja abg yang berprofesi sebagai penyelidik paranormal harus menghadapi spirit dan arwah penasaran yang menghantui berbagai tempat seram di Inggris. Karena orang dewasa sudah tidak “sensitif” dengan mahkluk-mahkluk gaib, maka banyak anak dan remaja yang dipekerjakan sebagai pembasmi hantu. Dengan senjata berupa pentungan besi, sejumlah anak juga dipekerjakan sebagai penjaga malam untuk menghalau hantu-hantu dari pabrik serta industri. Anak-anak dengan bakat khusus seperti Lucy dan Anthony dipekerjakan sebagai semacam pembasmi hantu karena kelebihan yang mereka miliki.  Lucy bisa mendengar hantu sementara Anthony bisa melihat mereka, George—yah dia sebagai tenaga riset dan penyedia donat. Orang dewasa biasanya bertindak sebagai penyelia.

                Salah satu kasus pertama Lucy setelah ia diterima bekerja di Lockwood and Co adalah untuk “membersihkan” sebuah rumah berhantu di Sheen Roada no 62. Hantu di rumah itu telah membunuh pria tua pemiliknya, entah bagaimana si pemilik jatuh dari tangga karena “didorong” oleh kekuatan tak kasat mata. Menganggap mereka sudah biasa menghadapi hantu tipe dua (hantu yang dapat melakukan kontak fisik dengan manusia), keduanya ceroboh dan hampir saja kehilangan nyawanya. Rumah seram itu terbakar, tapi mereka berhasil mengusir hantu di rumah itu. Dasar anak muda, kebiasaan. Sering kali hanya memandang proses “pokoknya rampung” tanpa memikirkan matang-matang rencananya. Kasus yang awalnya biasa ini ternyata berkembang menjadi luar biasa ketika arwah yang mereka temui ternyata adalah arwah korban pembunuhan puluhan tahun yang lalu, seorang arwah artis.

                Lockwood and Co segera saja mengalami berbagai kejadian aneh setelah insiden di Sheen Road. Anehnya lagi, insiden ini tidak melibatkan hantu sama sekali. Ada orang yang mengobrak-abrik markas mereka. Kemudian, esoknya, datang seorang asing yang menawarkan uang dalam jumlah besar untuk mengusir hantu ganas yang menghantui sebuah rumah paling angker di Inggris. Tidak hanya menjadi sumber gangguan mistis, rumah itu terbukti menjadi tempat kematian dari pemilik-pemilik sebelumnya. Dua bagian paling mengerikan dari rumah itu adalah Kamar Darah dan Undakan Menjerit (yang menjadi judul buku ini). Beberapa tahun sebelumnya, tiga orang anak dari agensi pembasmi hantu terkenal ditemukan sudah tewas di dalam rumah. Dan kini, giliran Lockwood dan Co yang harus masuk ke sana.
                Dengan persiapan yang singkat dan peralatan agak lengkap (mereka dilarang membawa suar magnesium agar rmah antik itu tidak terbakar), Lucy beserta dua temannya harus “menginap” selama satu malam di sana. Keanehan-keanehan mulai muncul, tidak hanya dari dunia seberang tetapi juga dari orang yang menyewa mereka. Ketika hantu-hantu ganas itu muncul, baru ketiga remaja itu menemukan sebuah fakta yang sangat mengejutkan tentang rumah angker tersebut. Sambil berjuang melawan sekaligus menyelamatkan diri dari serbuan hantu-hantu yang ganas dan bisa membunuh, Lockwood and Co juga harus  berjuang menguak konspirasi tua dibalik rumah itu. Dan sementara mereka melakukannya, undakan yang mereka lewati mengeluarkan suara lirih menyerupai jeritan. Bukan jeritan biasa, itu adalah jeritan kematian.

Tentang Buku:  
Salut untuk sang penerjemah yang—seperti biasa—terjemahannya mulus dan luwes sekali, sangat nyaman dibaca. Salut juga untuk sampul covernya yang unik tapi spooky.  Ceritanya mungkin kurang spooky bagi orang Indonesia yang jenis hantunya berebda. Tapi, coba saja lihat sampul dalam dari buku ini pada tengah malam. Dijamin, kalian pasti tidur dengan lampu menyala malam itu.Dari endingnya yang berbau-bau serial, tampaknya serial Lockwood and Co. ini akan dilanjutkan dalam seri berikutnya, dengan kasus yang hantu yang berbeda. Kita tunggu saja. *Kemudian menebar garam di depan pintu*

3 comments:

  1. aku serem baca yang di kamar darah itu mas Dion. dan pas awal2 baca agak-agak merinding gitu. Stroud dapet banget menggambarkan suasananya. mana hantunya model-model hantu penasaran, hiiii....
    mau bikin review buku ini ga jadi-jadi juga :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener2 fresh ya ceritanya. Ayo dibikin repiunya

      Delete
  2. Ini salah satu yang direkomendasiin orang-orang di thread pembaca Misteri dan Thriller di Goodreads.
    Tadinya kirain ini semi-semi humor kayak Ghosbuster, ternyata....
    Penasaran... >_<

    ReplyDelete