Search This Blog

Thursday, November 1, 2012

ParaNorman


Judul               : ParaNorman
Pengarang      : Elizabeth Cody Kimmel
Ilustrator        : Ross Stewart
Penerjemah   : Reni Indardini
Penyunting    : Rina Wulandari
Cetakan          : Agustus 2012,
Penerbit         : Mizan Fantasy



           


            “Tidak ada salahnya merasa takut, Norman, asalkan kau tidak membiarkan rasa takut mengubah dirimu.” (hlm 97)

            “Terkadang ketika orang-orang sedang takut sekali, mereka mengatakan dan melakukan hal yang buruk. Kita semua berbuat begitu kadang-kadang.” (hlm 229)

            Apa yang kira-kira akan kamu lakukan ketika tidak ada seorangpun yang mau mempercayaimu, bahkan termasuk orang tua dan saudaramu sendiri, padahal kamu benar-benar tidak sedang berbohong? Abai, cuek, dan tetap menjalani hidup dengan apa adanya, seperti itulah yang dilakukan oleh Norman Babcock. Bocah SD ini memang special karena kelahirannya juga spesial. Konon, seluruh lampu di bangsal bersalin mendadak konslet dan anjing-anjing di sepenjuru kota serempak melolong dan muncul pelangi berbentuk tanda tanya di langit, semua itu terjadi tepat dengan waktu kelahiran Norman ke dunia. Dan, sebagai buktinya, Norman memang dapat melihat hantu dan bahkan berkomunikasi dengan mereka.

            Sayangnya, bakat ini dianggap aib oleh keluarga dan teman-temannya. Jika dipikir-pikir, siapa sih yang tidak pingsan di tempat kalau ada orang yang bisa memberi tahu kita bahwa di perempatan yang itu ada hantu korban kecelakaan yang mengemudikan mobil hantu, atau di cabang pohon yang besar di sana itu ada arwah penasaran yang mengulang-ulang ritual yang sama setiap hari. Elizabeth Cody Kimmel, yang juga penulis seri buku Suddenly Supernatural rupanya masih membawa konsep yang sama dalam ParaNorman ini, yakni tentang seorang medium atau individu yang memiliki bakat untuk melihat dan berkomunikasi dengan arwah, yang kemudian bertugas untuk membantu para arwah penasaran itu menyelesaikan urusan yang belum selesai di dunia. Mungkin tema dan jalan ceritanya terdengar mengerikan. Tapi, yakinlah bahwa penulis yang satu ini sangat piawai menjadikan dunia supernatural yang kelam menjadi sesegar dunia remaja yang konyol dan membuat orang menepuk jidatnya sendiri.

            Kembali kepada Norman. Suatu hari, Norman mendapat peringatan dari seorang hantu mantan penjaga kuburan bahwa tepat pada malam perayaan pengadilan penyihir yang ke-300, akan ada serangan zombie ke kota tercintanya. Kota Blithe Hollow memang memiliki sejarah kelam dengan pengadilan penyihir sebagaimana yang terjadi di kota Salem tahun 1700 -1800-an. Salah seorang terduga penyihir konon mengutuk tujuh juri yang mendakwanya sebagai penyihir, menjadikan mereka tewas secara mengenaskan untuk kemudian dibangkitkan lagi pada perayaan ke -300 kota Blitte Hollow.

            Sayangnya, tidak ada yang percaya dengan  peringatan Norman bahwa zombie-zombie akan menyerbu kota malam itu. Maka, ia pun memutuskan untuk mengatasi masalah berbau supranatural ini sendirian. Dan, ketika para zombie itu benar-benar menyerang kota, sudah terlambat bagi Norman untuk memperingatkan seluruh warga. Dengan dibantu teman, mantan musuh, tetangga, dan juga kakaknya (yang super judes dan bawel), kelompok anak-anak ini harus bahu membahu menyelamatkan kota dari serangan para zombie. Dan, pada akhirnya, Norman pun dihadapkan pada satu tugas yang hanya dia sendiri yang mampu melakukannya. Sebuah tugas berbau supernatural yang akan menyingkap sejarah kelam dari pengadilan penyihir kota Blitte Hollow 300 tahun sebelumnya.

            ParaNorman ditulis oleh Elizabeth Cody Kimmel, sang pengarang  seri Suddenly Supernatural,  berdasarkan naskah film versi animasinya yang ditulis oleh Chris Butler. Novel ini diluncurkan berbarengan dengan rilis film 3 dimensinya di AS bulan Agustus 2012 lalu. Walau kesannya mengerikan, yang mengingatkan pada seramnya film-film zombie tahun 1980-1990-an (semisal Night of the Living Dead—yang kebetulan juga disukai Norman), buku ini benar-benar jauh dari kesan horor. Malahan, kesan horor yang mungkin timbul langsung segera ditepis oleh si pengarang lewat celetukan-celetukan Norman yang konyol. Belum lagi kehadiran Courtney—kakak perempuan Norman—yang alaynya minta ampun. Kehadiran-kehadiran para remaja alay inilah yang membuat ParaNorman begitu menyenangkan—alih-alih menyeramkan—untuk dibaca dan ditonton.   

Penulisannya juga sangat segar, khas film-film slapstick model Amerika dengan tingkah para remaja yang “ngak penting banget”. Ada adegan di mana sesosok vampire mengapai-gapaikan tangannya yang hanya tulang ke rambut Courtney. Bukannya takut atau menjerit ngeri, si Courtney ini malah marah-marah dan memukul balik si zombieyang dianggapnya merusak rambut indahnya yang susah-susah ia rawat di salon. Padahal, saat itu ia sedang satu mobil bersama calon pacar idealnya (tidak perlu disebutkan bahwa mobil itu dibuntuti oleh tujuh zombie yang bergerak mengerikan ke arah kota dan salah satunya tengah nangkring di atap).

            Pada akhirnya, buku horor namun konyol ini memang diperuntukkan bagi remaja. Tentang percaya pada kemampuan diri sendiri, tentang menjadi dirimu sendiri, dan tentang pengetahuan bahwa selalu ada teman yang bersedia membantumu di luar sana. Inilah nilai-nilai yang ada dalam buku ini. Inilah nilai-nilai hebat yang seharusnya dipelajari dan dipegang teguh oleh para remaja masa kini.

            “Semua orang kadang butuh bantuan. Jangan pernah takut meminta pertolongan. Untuk itulah kau mempunyai keluarga dan teman. Itulah yang terpenting.” (hlm 97)

            “Selalu ada seseorang di luar sana yang bersedia mendampingimu. Di suatu tempat. Kau semata-mata harus memperkenankan mereka membantumu.” (halaman 231)

6 comments:

  1. commentku cuma satu kapan tulisannya mas dion di edit sama orang lain...
    sekali2 bok ya nulis buku sendiri, kok senang mbaca karya orang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. #jlebbb# hihihihi saya kan tugasnya mengedit tulisan orang mbak. Tapi, yup, tahun depan harus sudah bisa menulis buku lagi. Semangatttt

      Delete
  2. aih, suka kutipan 2 baris terakhir dan suka simpulan Dion tentang buku ini untuk remaja ;-). Baca di awal aku kira serem, untunglah Dion meyakinkan bahwa ini bukan cerita serem. Beneran nggak serem kan? Hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak mbak, lucu pisannnnnn dan inspiratif buat remaja.

      Delete
  3. mas kalo mau baca online novel ini linknya dimana ya ??

    ReplyDelete