Search This Blog

Thursday, June 30, 2011

Uttuki Sayap Para Dewa


Judul                : Uttuki Sayap Para Dewa
Pengarang        : Clara Ng
Editor               : Hetih Rusli
Tebal                : 402 halaman
Cetakan           : Ketiga, Juni 2011
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama


Tujuh ribu tahun yang lalu, di lembah subur Mesopotamia,
manusia mencapai peradabannya yang pertama.
Mereka membangun kota, menciptakan kepercayaan dan agama,
menemukan tulisan, membangun irigasi, menggunakan roda,
dan mendongengkan mitos kepada setiap anak keturunan manusia

Tujuh ribu tahun yang lalu, bangsa Mesopotamia kuno bercerita tentang delapan monster, seorang pendeta lelaki, dan dewa-dewi yang karena satu dan lain hal
harus  menentukan jalan hidupnya dan menggenapi nasibnya.



            Terus terang, petikan kalimat back cover berbau mitologis di ataslah yang langsung berhasil membujuk saya untuk membeli dan membaca novel tentang kisah cinta ini. Ditambah dengan nama besar mbak Clara Ng, serta judul yang tidak biasa, saya pun melahap Uttuki dan, untungnya, pilihan saya memang tidak mengecewakan. Novel ini menawarkan sensasi, pengetahuan kuno, serta fantasi yang berbeda bagi novel-novel cinta Indonesia yang kebanyakan hanya tentang hubungan cinta antarmanusia. Uttuki menawarkan lebih dari itu: hubungan cinta antara manusia dengan para Dewa, antara Mesopotamia 7000 yang lalu dengan Jakarta di masa kini.

            Kisah dimulai dengan Thomas yang mencintai Celia dan Celia yang mencintai Thomas. Dua remaja siswa SMU itu saling jatuh cinta seolah mereka berdua memang telah ditakdirkan untuk bersama. Begitu eratnya jalinan kisah mereka berdua, hingga waktu 7.000 tahun pun masih belum mampu memutus benang-benang kasih yang merekatkan keduanya. Benang-benang kasih yang sejak dulu berupaya diputuskan oleh para dewa-dewi Mesopotamia. Cerita berlanjut ke kisah Dewi Antu—sang Dewi Bumi—yang melahirkan tujuh eh bukan delapan monster Uttuki. Nannia, monster kedelapan, ternyata bersayap dan luar biasa cantik. Ia sering menjelma ke Bumi, bercakap-cakap dengan seorang manusia, dan kemudian jatuh cinta kepada pendeta muda penjaga Kuil Dewa Anu, yang bernama Enka. Dari sinilah petaka itu dimulai. Petaka yang berwujud pengasingan dan penghilangan memori, sebuah pengorbanan luar biasa besar dan lama yang sekaligus menguji keteguhan cinta Nannia dan Enka.

            Masih bingung? Begini inti ceritanya. Nannia (anak Anu dan Antu) jatuh cinta pada Enka (manusia biasa). Nah,  repotnya si Istar (Dewi cinta) ternyata juga jatuh cinta kepada Enka, walau harus bertepuk tangan. Konspirasi Langit pun berjalan sehingga 7.000 tahun kemudian Enka adalah Celia dan Nannia adalah Thomas. Keadaan semakin kacau ketika Antu turut campur dan menggunakan kekuatan dan anak-anak monsternya—para Uttuki—untuk mengatasi Thomas <nannia>. Celia pun diculik ke langit, seluruh kenangan dan memori orang-orang tentang gadis ini dihapuskan oleh Ishtar. Tapi, cinta tidak mudah dihapuskan begitu saja. Sekuat tenaga, Thomas berjuang mencari dan menemui Celia.  Begitu pula Celia (Enka) yang berupaya keluar dari penjara yang dibuat Ishtar untuknya.</nannia>

            Dan, perjuangan cinta mereka berdua pun mendapat simpati dari Ea, dewa Ea (dewa air) serta Marduk (dewa sihir dengan rasa humor yang aneh). Dewa Ea bahkan mengorbankan dirinya demi melindungi Thomas yang telah diubah menjadi seekor kucing oleh Ishtar. Di bagian akhir, pembaca akan dikejutkan oleh sosok dewa Marduk yang luar biasa ngocol. Baru kali ini saya bertemu dengan karakter dewa yang benar-benar membumi, saya yakin banyak pembaca yang akan menyukai Marduk. Marduk pula yang membantu Celia dalam perjuangannya keluar dari Dunia Atas untuk menemui Thomas di Bumi. Begini salah satu adegan ketika Marduk berseteru dengan dewa Ellil yang menjaga Kitab Takdir:

            <n>gomong jangan bertele-tele lil> sergah Marduk <mereka tidak="" mengerti=""></mereka></n>
            Dahi Ellil berkerut kesal. Dia nyaris membuka mulut mencegah Marduk agar diam sejenak. Tapi sebelum mulutnya sempat berkata-kata, marduk memotong cepat.
            maksud bapak satu ini adalah kalian diijinkan putaran karma sekali lagi. geto loooh (hlm. 386)



            Kehadiran Marduk seolah-olah adalah untuk mengimbangi agar pembaca tidak larut terlalu dalam pada kisah cinta Thomas dan Celia yang mengharu biru di sepanjang novel ini. Oh ya, tanda kurang dari () digunakan sebagai penganti tanda petik pembuka dan petik penutup (“…”) untuk membedakan bahwa para dewalah yang berbicara. Suatu kreasi unik dari mbak Clara Ng. lalu, bagimanakah akhir dari kisah cinta Thomas (Nannia) dan Celia (Enka)? Apakah langit akhirnya luluh dengan melihat pengorbanan Thomas? Ataukan Antu semakin kalap dan ingin menghabisi keduanya? Akankah Anu sang dewa utama ikut turun tangan dalam masalah ini? Jawabannya terwakili dalam dua kalimat indah ini:

            Cinta—pada akhirnya—menjadi penyelamat
            Cinta—pada akhirnya—memang sepasang sayap. (hlm 323).


            Terima kasih kepada mbak Clara Ng yang memberikan Uttuki cetakan ketiga  (cetakan terbaru) lengkap dengan tanda tangan dan cap bibir seksinya sebagai hadiah kuis hehehehe. Membaca Uttuki, satu hal besar yang terungkap, yakni bahwa indra kedelapan adalah cinta. (hlm.. 389)

4 comments:

  1. Aku ga terlalu suka buku ini... menurutku terlalu lebay n maksa :( Aku lebih suka Clara Ng kalo nulis yang lucu ato horor sekalian :P

    ReplyDelete
  2. nannia anak anu dan antu, mbak ... cb tulisannya dikoreksi lagi ... makasih ...

    ReplyDelete
  3. saya belum baca malahan buku ini, udah dihibahin hehehe

    ReplyDelete
  4. @ Melisa: hehehe aku pertama kali baca punya mbak Clara ya buku ini hehhe

    @MAria: Oops iya makasih ralatnya

    @Helvry: hehehe kalao saya menang kuis jadi dapat edisi terbaru a.k.a cetak ulang

    ReplyDelete