Search This Blog

Showing posts with label petualangan. Show all posts
Showing posts with label petualangan. Show all posts

Monday, May 4, 2015

Balada si Roy #1: Joe Avonturir



Judul : Balada si Roy 1, Joe Avonturir
Pengarang : Gol A Gong
Sampul : Martin Dima
Cetakan : 1, 2012
Tebal : 366 hlm
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 

http://www.gramediapustakautama.com/uploads/dirimg_buku/re_buku_picture_86351.jpg

                Seandainya saya membaca novel ini semenjak remaja, pastilah ada banyak seklai pelajaran hidup yang bisa saya pelajari dari kehidupan Roy. Kisah inspiratif remaja bandel dari tahun 80-an ini memang pernah dimuat di majalah Hai sebagai serial bersambung sejak 1989, tapi kala itu sepertinya saya masih belum lancar membaca, belum kenal majalah lain selain Bobo, dan juga lebih suka bermain kejar-kejaran di sendang ketimbang membaca buku. Kata generasi 80-an, novel ini nge-hits banget pada masanya, tapi rupanya itu bukan masa saya, belum. Saya kebagian booming serial Lupus yang ternyata lebih banyak kocaknya ketimbang bab-bab tentang pelajaran hidupnya.  Ya sudah, saya akhirnya jadi cowok humoris saja dan bukannya seorang avonturir seperti Roy. 

Friday, December 26, 2014

Petualangan di Sirkus Asing

Judul : Petualangan di Sirkus Asing
Pengarang : Enyd Blyton
Penerjemah : Agus Setiadi
Cetakan : Ketiga, 2011

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


6786332


Enid Blyton adalah seorang pengarang buku petualangan anak-anak yang memahami indahnya petualangan dan serunya kehidupan di masa kanak-kanak. Melalui kepiawaiannya dalam menulis cerita, pengarang Inggris satu ini mampu menangkap dengan sangat cekatan kisah-kisah seperti apa yang ingin dibaca (dan diimpikan) oleh banyak anak-anak. Tidak heran kalau kemudian karya-karyanya begitu dicintai para pembaca yang pernah membacanya saat masih kecil atau remaja dulu, bahkan banyak orang dewasa yang membacanya ulang (maupun baru membacanya saat dewasa) hanya untuk sekadar bernostagia kembali mengenang masa kecilnya yang indah. Saya sangat berharap, akan lebih banyak anak-anak yang membaca seri petualangan Lima Sekawan atau seri Petualangan karangan Enyd Blyton ini sehingga masa kecilnya sempat tersentuh oleh serunya petualangan yang sangat menyenangkan.

Petualangan di Sirkus Asing adalah buku ketujuh dari seri Petualangan karya Enyd Blyton. Saya dulu membaca versi Inggrisnya (terbitan tahun 1960-an) dengan kertas yang sudah lapuk dan menguning. Tapi, kala itu, petualangan Jack, Lucy Ann, Phillip, Dinah, dan Kiki begitu menariknya sehingga saya sama sekali tidak keberatan dengan kondisi kertas yang jadul, yang penting bahasa Inggrisnya enak dibaca. Saya ingat membaca seri ini melompat-lompat karena sangat susah mencari buku-buku tua ini di perpustakaan kampus UNY. Ketika akhirnya saya berkesempatan menemukan buku ini dalam bahasa Indonesia dalam sebuah event pameran buku, maka tanpa pikir panjang langsung saya sambar. Kelebatan memori saat dulu saya membaca novel ini langsung membanjiri pikiran. Betapa dulu, saya sempat begitu terpesona pada sebuah buku, dan buku ini adalah salah satunya.

Petualangan di Sirkus Asing bisa dibilang sebuah judul yang membohongi pembaca. Kenapa begitu, karena peran sirkus di sini hanya seperti “numpangg lewat” saja. Sejatinya, petualangan Jack dan kawan-kawan jauh lebih seru ketimbang hanya di sirkus. Petualangan kali ini melibatkan seorang pengeran yang diculik, persekongkolan politik di sebuah negeri asing, serta petualangan menjelajahi lorong-lorong rahasia di sebuah puri kuno yang jauh dari Inggris. Bill (dari buku sebelumnya pembaca tahu bahwa dia lalu menikah dengan Ibu Cunningham) mendapat tugas untuk mengawasi Guss, seorang anak laki-laki gondrong yang sangat menyebalkan, cenggeng, sekaligus suka menyuruh-nyuruh. Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya anak itu, yang jelas anak-anak tidak suka dengan keberadaannya yang dirasa telah mengganggu liburan mereka.

Tapi, siapa sangka keberadaan Guss malah menyeret anak-anak dalam sebuah petualangan baru yang benar-benar berbeda. Malam ketika mereka menginap di Pondok Batu, segerombolan orang asing diam-diam datang dan menyekap Bill dan Ibu Cunningham, lalu meringkus dan menculik anak-anak. Hanya Jack yang selamat karena waktu itu dia tengah menyelinap ke luar untuk mengamati satwa liar. Melihat kawan-kawannya ditangkap, Jack bersama Kiki pun mengikuti komplotan penculik itu hingga akhirnya mereka tiba di sebuah negeri asing bernama Tauri Hessia. Tanpa sadar, anak-anak telah terlibat dalam suatu konflik politis di negara lain yang sangat berbahaya.

Sendirian dan hanya bersama Kiki di negara asing, Jack harus memutar otak demi menyelamatkan teman-temannya. Untunglah ada Kiki, burung kakatua yang pandai menirukan suara apapun. Kiki ibarat tiket emas yang bisa digunakan Jack untuk menyelamatkan kawan-kawannya. Dengan kepandaian Kiki, Jack berhasil bergabung dengan sebuah sirkus keliling yang hendak menuju Borden, lokasi tempat Phillip dan kawan-kawan ditangkap. Petualangan Jack dan Kiki di buku ini adalah yang paling seru. Tidak seperti di buku-buku sebelumnya, Jack ibarat pahlawan di buku ini karena dia harus bergerak sendirian, meskipun kemudian takdir dan juga Kiki membuatnya memiliki teman-teman baru di sirkus yang kelak akan banyak memberikan bantuan kepadanya. Berhasilkan Jack menyelamatkan teman-temannya dan Guss? Mari bernostalgia membaca lagi kisah-kisah petualangan karangan Enyd Blyton ini.

Membaca buku ini, pembaca akan diajak bernostalgia ke tahun 1990-an, masa-masa ketika petualangan anak-anak benar-benar bersifat fisik. Main ke sawah, berkemah di depan rumah sambil berpura-pura tengah berpetualangan ala Lima Sekawan, bermain petak umpet, memasuki rumah yang baru dibangun sambil menganggapnya sebuah puri kosong, hingga jalan-jalan ke kebun (yah anggap saja hutan). Kala itu, belum ada media sosial yang mengambil alih sebagain besar porsi kehidupan anak-anak sehingga rata-rata kita bisa tumbuh sebagai orang-orang imajinatis seperi sekarang #eaaa. Untuk terjemahannya, kerasa banget kalau buku ini diterjemahkan oleh Pak Agus Setiadi yang fenomenal itu. Beliau menggunakan teknik pemadanan budaya sehingga banyak muncul kata-kata jadul di buku ini, seperti pondok tetirah dan juga selada (untuk mengartikan salads). Tapi, hal itu malah menjadikan novel ini semakin terasa aroma 90-annya.


Tuesday, December 3, 2013

Mockingjay

Judul : Mockingjay
Pengarang : Suzanne Collins
Penerjemah : Hetih Rusli
Cetakan : Sembilan, Nov 2012
Halaman : 423 hlm
Penerbit: Gramedia



13408579


 “Api sudah tersulut. Dan jika kami terbakar, kau terbakar bersama kami!” (hlm 113)


               Akhirnya, inilah seri terakhir dari trilogi bestseller yang sempat menghebohkan dunia perbukuan Indonesia tahun 2011 yang lalu, The Hunger Games : Mockingjay.  Di seri terakhir ini, pembaca tidak lagi disuguhi arena Hunger Games atau Quarter Quells yang—menurut saya—merupakan daya tarik utama dari seri ini. Setelah Katniss Everdeen selamat dari dua kali pertandingan Hunger Games, di mana pada permainan yang terakhir ia juga telah mengacaukan—bahkan menghentikan—permainan biadab yang telah terselenggara selama 75 tahun. Quarter Quells terakhir rusak, banyak peserta menjadi korban. Tetapi ini barulah awal dari pemberontakan besar melawan Capitol. Dengan dipimpin oleh Distrik 13 yang dikira sudah musnah, seluruh distrik di Panem mulai bergolak untuk melawan Capitol. Semuanya bersatu dan tersatukan oleh aksi dramatis Katniss dan Peeta. Sebagai lambang pemberontakan, Katniss berhasil diselamatkan, tetapi Peeta jatuh ke tangan Capitol. Maka dimulailah pertempuran gerilya antara para pemberontak melawan Capitol. Panem sekali lagi menjadi wilayah yang bergolak.

Map of Panem www.hungergameslessons.com
 sumber: hungergameslessons.com



                Tidak seperti buku-buku sebelumnya, Mockingjay tidak lagi menampilkan arena pertarungan epic ala Hunger Games. Alih-alih, pertempuran kini berpindah ke seluruh Panem. Satu demi satu distrik mulai berjatuhan ke tangan pemberontak. Distrik 12 sudah musnah, dibombardir oleh Capitol ketika Katniss lolos dari Quarter Quells, menyusul Distrik 8, yang juga di bom padahal rakyat di sana sudah menderita. Langkah kalap Presiden Snow (diktator Capitol) inilah yang berbalik menghantam kekuasaannya. Satu per satu distrik lepas dan menyatakan memberontak terhadap Panem, kecuali Distrik 2 (yang akhirnya jatuh juga ke tangan pemberontak). Setelah itu, Peeta-lah yang menjadi target penyelamatan selanjutnya. Tapi sayang, Peeta kini tidak lagi sama dengan Peeta yang dulu. Capitol telah mencuci otak pemuda itu. Peeta yang dulu rela berkorban demi Katniss kini menjadi musuh terbesarnya.


                Secara aksi, Mockingjay kurang seru bila dibandingkan Catching Fire atau  The Hunger Game. Perasaan deg-degan atau terpesona oleh teknologi yang mewarnai arena Hunger Game tidak lagi ditampilkan disini. Buku ketiga ini lebih menyorot pada perkembangan pribadi Katniss sebagai Mockingjay, sementara adegan pertempuran hanya sesekali muncul seperti saat Distrik 8 diserang atau saat pemberontak menghantam Distrik 2. Itupun, scene pertempuran digambarkan “sambil lalu” dan tidak sedetail seperti pada buku sebelumnya. Baru pada menjelang akhir, ada adegan kejar-kejaran dengan para mutan, yang sayangnya tidak “sesadis” pada buku pertama *dikeplak komisi perlindungan pembaca anak dan remaja* Ini sesungguhnya patut disayangkan karena Mockingjay sepertinya kehilangan ciri khasnya dan menjadi seperti novel-novel “pemberontakan” kebanyakan.


                Tetapi, Mockingjay bisa dibilang berhasil sebagai seri yang menutup trilogi Hunger Game ini. Seluruh jawaban dan persoalan terpecahkan. Siapa yang akhirnya dipilih oleh Katniss? Gale atau Peeta. Bagaimana nasib Presiden Snow dan Capitol? Siapa orang penting yang tewas dalam seri ketiga ini? Atau, benarkah bahwa seluruh permainan ini hanyalah intrik politik dengan Katniss dan orang-orang bawah yang menjadi pionnya? Yang jelas, bakal ada twist tak terduga di bab-bab akhir. Saya sampai harus membaca dua kali sebelum ngeh pada apa yang sebenarnya terjadi. Buku yang memikat, tema yang segar, dan penggarapan menawan. Ketiga seri buku ini wajib dibaca dan dikoleksi bagi para penggemar cerita petualangan.

Wednesday, November 20, 2013

Fablehaven 5 : Kunci Penjara Iblis

Judul : Kunci Penjara Iblis
Pengarang : Brandon Mull
Penerjemah : Reni Indardini
Penyunting : @putranugroho
Sampul : Windu
Cetakan : Pertama, Oktober 2013
Tebal : 671 halaman
Penerbit : Noura Books/Mizan Fantasi

18692322


                Tidak ada bedanya membaca ebook asli berbahasa Inggris dengan membaca (ulang) versi terjemahan dalam bahasa Indonesia, Fablehaven 5 tetap layak mendapat bintang lima.  Brandon Mull memang jagonya pencerita fantasi yang piawai menawan pembaca untuk tidak melepaskan buku sebelum selesai membacanya. Bahkan meskipun saya sudah terlebih dulu membaca versi Inggrisnya lebih dari setahun yang lalu, saya masih mendapati betapa sulitnya meletakkan buku versi terjemahan berbahasa Indonesia ini sebelum ceritanya selesai. Tidak heran jika master kisah fantasi modern sekaliber Rick Riordan pun memberikan pujian untuk seri fantasi yang luar biasa menawan ini. Anda tidak akan tahu benar-tidaknya pernyataan Om Rick atau kata-kata saya jika belum mencoba membaca serial ini. Bacalah dan engkau akan tahu.

                Selain ceritanya yang menawan, keunggulan novel ini adalah dalam hal penerjemahannya. Salut saya ucapkan kepada sang penerjemah yang telah menghasilkan sebuah karya terjemahan yang luar biasa dari sebuah karya hebat. Sejak seri kedua, saya telah jatuh hati pada metode penerjemahan yang digunakan dalam serial Fablehaven yang diterbitkan oleh Mizan Fantasi. Terjemahannya dinamis sekali, sangat jarang pembaca menemukan kata-kata asing yang “mencemari” bahasa Indonesia dalam buku ini. Penerjemah menggunakan kosakata Nusantara yang sangat kaya dalam menerjemahkan buku ini, dan hasilnya bagus sekali. Terutama saya sangat menyukai terjemahan Singing Sisters yang diterjemahkan sebagai Sindhen Bersaudari. Padanan ini luar biasa, dengan telak mampu mengejawantahkan makna sekaligus mempertahankan aroma mistis dan misteriusnya. Bayangkan jika frasa itu diterjemahkan jadi Penyanyi Wanita Bersaudari atau Penyanyi Bersaudari yang sangat-sangat tindak indah. Bintang tujuh untuk sang penerjemah.
               
                Kembali ke Fablehaven 5 yang menjadi buku pamungkas dari serial ini, Mull masih memanjakan pembaca dengan aneka petualangan yang berjalan bak kereta peluru, adegan-adegan melesat kuat sampai-sampi pembaca seolah tidak diberi kesempatan untuk meletakkan buku ini. Banyak tokoh yang bermunculan, tokoh lama maupun tokoh baru, dan hebatnya pembaca tidak kesulitan untuk mengingat siapa si A dan siapa si B. Alur cerita yang bergerak cepat, satu adegan menjurus pada adegan lainnya, menciptakan semacam film petualangan gerak cepat yang seru. Belum lagi unsur-unsur kejutan yang mewarnai kisah dalam buku kelima ini. Yang dulu musuh kini jadi rekanan, yang dikira sekutu ternyata musuh dalam selimut. Bagi yang belum membaca versi bahasa Inggrisnya, siap-siap saja kaget menjumpai berbagai twist nan elok dan tak tertebak.

                Dalam upaya pencarian artefak keempat, yakni translocator, kelompok Ksatria Fajar datang ke suaka Batu Obsidian di Australia. Belum apa-apa, sudah terjadi adegan pertempuran dan kejar-kejaran dengan makhluk mitologis. Pun setelah masuk ke ruang penyimpanan artefak, mereka harus berjuang lagi demi membobol sistem keamanan. Setelah itu adegan berpindah cepat ke suaka Fatamorgana Hidup yang ada di tengah gurun pasir di Turki, di mana artefak kelima disembunyikan. Lalu berpindah lagi bersama Seth kembali ke Fablehaven, dimana ia kembali melakukan kesalahan fatal yang kelak akan mengubah hidupnya. Seth masih menjadi tokoh utama dalam buku kelima ini. Karakternya yang cenderung sembrono jauh lebih berwarna dan menarik untuk diikuti ketimbang karakter Kendra. Sepertinya, banyak pembaca yang lebih menyukai Seth ketimbang Kendra.

                Ketika akhirnya Perhimpunan Bintang Malam berhasil merebut semua artefak, apakah dunia akan segera berakhir begitu saja? Bersama-sama, Seth dan Kendra berjuang dengan anggota Ksatria Fajar yang masih tersisa untuk menyelamatkan dunia. Dalam buku ini, mereka juga mendapatkan seorang teman baru, yakni Bracken yang ternyata adalah sosok yang kelak akan mengejutkan semuanya. Buku kelima ini diakhiri dengan adegan pertempuran epic melawan para iblis yang akhirnya keluar dari Zzyzx. Seluruh kekuatan kebaikan bersatu: astrid, peri, naga, penyihir, dan manusia; semua datang bahu-membahu melawan derasnya arus iblis yang keluar dari penjara Zzyzx. Sebuah pertarungan epic yang pasti tidak akan terlupakan oleh para pembaca. Bintang lima untuk buku ini dan penerjemahnya.


Winnetou, the Wild West Journey

Judul : Winnetou, the Wild West Journey
Pengarang : Karl May
Alih Bahasa : Melody Violine
Cetakan : pertama, Oktober 2013
Halaman : 348 hlm
Penerbit : Visi Media



18743320


                Winnetou adalah  paruh kedua dari buku Winnetou 1 karangan penulis Jerman termasyhur Karl May. Jika dalam buku pertama, Old Shatterhand¸ pembaca diajak untuk mengenal lebih dekat tentang Charlie atau Old Shatterhand dan awal  petualangannya di Wild West, maka di buku ini kita akan diajak mengenal lebih dekat Winnetou. Secara prinsipil, buku kedua ini tidak jauh berbeda dari buku pertama, yakni sama serunya. Kisah masih didominasi oleh petualangan Old Shatterhand di Wild West yang diwarnai dengan perjalanan di alam liar, mencari dan melacak jejak, berburu, dan adegan tembak-tembakan. Yang membedakan, di buku kedua ini kita akan belajar lebih banyak tentang suku India Apache dan ritual mereka. Dari pertama, penulis sudah mengajak pembaca untuk mengunjungi perkampungan Indian di Pueblo di dekat Rio Pecos, mendatangi rumah-rumah mereka yang dibangun di bahwa ceruk tebing, hingga menyaksikan beragam ritual tradisional khas suku Indian. Semua digambarkan dengan begitu luwes dan deskriptif, seolah-olah pembaca diajak bertamasya ke perkampungan suku Indian.

                “Keberanian adalah sifat yang selalu dihargai dan diakui oleh Indian, bahkan walaupun musuh mereka yang menunjukkannya. “ (hlm 39)

                Menyambung buku sebelumnya ketika Old Shatterhand ditangkap oleh Winnetou dan sukunya, cerita dimulai di pueblo suku Indian Apache. Dalam keadaan terluka, Old Shatterhand harus tetap bisa berpikir tenang agar bisa lepas dari kesalahpahaman dengan suku Apache ini. Bersama Sam, Dick, mereka menjadi tawanan oleh orang-orang yang justru telah mereka selamatkan. Namun, pada saat-saat genting seperti inilah, Old Shatterhand membuktikan kembali ungkapan bahwa ketenangan dan pikiran yang dingin sering kali adalah senjata yang paling ampuh. Ia masih menyimpan kartu terakhirnya (rambut Winnetou yang ia potong saat menyelamatkannya) dan ia tahu semua kesalahpahaman ini akan diluruskan pada waktu yang tepat, yakni menjelang saat penghukuman mereka oleh suku Indian Apache. Ia memang seorang “tanduk hijau” (orang yang belum berpengalaman), tetapi ia banyak membaca buku dan ia jadi tahu banyak hal dari situ, termasuk taktik meloloskan diri.

                “Aku tahu itu Sam. Aku juga tahu bahwa dalam beberapa situasi, setitik kecerdikan lebih berguna daripada sekuali kekuatan.” (hlm 50)

                Petualangan datang susul-menyusul dalam Winnetou 2. Ketika hari penghakiman tiba, Old Shatterhand kembali menunjukkan kecerdikan dan ketangkasannya. Sulit dipercaya, seorang Jerman yang tidak berpengalaman sepertinya bisa mengalahkan Kepala Suku Apache nan legendaris. Dalam hal ini, ia tidak menggunakan kekuatan otot, tetapi otak. Strategi dan kecerdikkan adalah kekuatan utama, yang ditambah dengan ketangkasan badan dan keterampilan bela diri. Semuanya ada dalam dirinya, Lepas dari hukuman, Old Shatterhand akhirnya menceritakan apa yang terjadi, dan Winnetou yang merasa berutang budi kemudian mengangkatnya sebagai saudara. Keadaan berbalik menjadi membaik, dan persahabatan legendaris antara WInnetou Sang Kepala Suku Apache dengan Charlie Old Shatterhand dari Jerman pun dimulai. Sebuah ikatan persahabatan yang kelak akan memunculkan berbagai petualangan paling hebat yang pernah dikisahkan di Wild West.

“Tidak ada orang yang pantas berpikir mereka lebih baik daripada orang lain hanya karena warna kulit mereka berbeda.” (hlm 112)

                Jika di buku Old Shatterhand pembaca dibuat gemes oleh kejahatan Rattler, di buku ini muncul penjahat lain yang lebih keji. Kejahatan yang dilakukannya begitu tak terbayangkan hingga akan mengubah kehidupan Winnetou maupun Old Shatterhand. Kelincahan penulis dalam mencipta karakter-karakter jahat dalam serial ini benar-benar membuat pembaca gemes. Karl May mampu menulis sosok-sosok yang langsung mudah dicintai atau langsung mudah dibenci sejak dari awal cerita, sehingga pembaca tidak dibuat bingung dan waswas oleh perubahan karakter yang mendadak. Uniknya, semua penjahat keji digambarkan berasal dari muka pucat (orang kulit putih) seolah ia hendak menyindir penjajahan orang kulit putih terhadap orang Indian di Amerika. Banyak ucapan-ucapan para suku Indian dalam buku ini yang niscaya menyentil peradaban kulit putih.

                “Itulah kata semua muka pucat. Mereka mengaku sebagai orang Kristen, tapi tidak berprilaku sesuai dengan ajaran Kristen. Tapi, kami memiliki Manitou agung yang ingin semua manusia berbuat baik. Aku berusaha berbuat baik, mungkin aku seorang Kristen, mungkin aku seorang Kristiani yang lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai pemeluk Kristen, tapi tidak menunjukkan kasih dan hanya mengejar keuntungan bagi diri sendiri.” (hlm 129)

Pembaca akan disuguhi oleh suasana kehidupan suku Indian Amerika pada abad ke-18. Semua digambarkan dengan detail yang indah dan menawan oleh Karl May. Detail seperti ini tidak bisa didapatkan kecuali si penulis pernah mengunjungi langsung pueblo di Wild West atau penulis membacanya dari buku-buku atau catatan perjalanan. Karl May sama sekali belum pernah ke Wild West, jadi kemungkinan ia mendapatkan deskripsinya dari buku-buku geografi yang ia baca. Sampai sekarang saya masih berpikir bagaimana bisa buku sedetail ini ditulis oleh seseorang yang belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Wild West saat dia menulis novel ini.

Satu pertanyaan dalam novel ini, penulis sepertinya terlalu mengagung-agungkan sosok Old Shatterhand. Hampir tidak ada yang kurang dari sosok ini: masih muda, cerdas luar biasa, memiliki pikiran yang dingin, badannya kuat dan tangkas, jago menembak dan berenang, plus umat Kristen yang taat. Keberuntungan juga selalu menaunginya. Hal-hal yang klise seperti ini biasanya membuat pembaca bosan, tetapi dalam buku ini anehnya tidak. Saya senang-senang saja melihat penggambaran Old Shatterhand sebagai sosok nan sempurna karena sudah telanjur jatuh cinta pada alur ceritanya yang seru.

“Namun, apakah berbicara itu perlu? Bukankah perbuatan adalah ajakan yang jauh lebih kuat daripada kata-kata? (hlm 129)

Dari Old Shatterhand, kita belajar tentang pentingnya membaca buku. Dalam cerita ini, penulis berulang kali menekankan bahwa si Tanduk Hijau belajar semuanya dari buku, dan nyatanya ia berhasil dan selamat. Membaca dan mengamati adalah dua hal yang wajib dilakukan ketika seseorang hendak mencoba terjun dalam sesuatu yang baru. Dengan bekal ini, otak akan otomatis berimprovisasi dan mengeluarkan ide-ide cemerlang, sebagaimana yang dialami sendiri oleh Old Shatterhand.


Jika Anda menginginkan petualangan ala koboi di Wild West, bacalah buku ini. Anda tidak hanya mendapatkan sebuah kisah hebat tentang tembak-tembakan, tapi juga sebuah kisah yang sarat petualangan, pembelajaran moral, ungkapan-ungkapan bijak, dan karakter-karakter terhebat yang pernah menghidupkan kawasan Barat Liar atau Wild West di Amerika Serikat. 

Wednesday, November 13, 2013

#5BukuDalamHidupku Berkelana Dalam Rimba, Lebih Dahsyat dari Lima Sekawan

Judul : Berkelana dalam Rimba
Pengarang : Mochtar Lubis
Tebal:186 hlm
Cetakan: Kedua, 2002
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia         

     

  Jauh sebelum saya mengenal Lima Sekawan dan Trio Detektif atau petualangan ala Indiana Jones, bahkan Harry Potter; buku klasik karangan sastrawan kenamaan negeri ini sudah membuat saya jatuh hati. Pertama kali dibaca saat SD (atau SMP saya lupa), Berkelana Dalam Rimba memadukan antara unsur petualangan, pelajaran moral, tanggung jawab, dan isu-isu lingkungan. Kisah anak-anak remaja bersama seorang dewasa (Paman Raokhtam) yang melakukan perjalanan menembus Rimba Gunung Hitam di Bukit Barisan yang menjulang rapat di tengah pulau Sumatra ini begitu memukau. Sungguh merupakan impian para petualang untuk bisa menembus hutan primer Sumatra yang masih asli dan bertabir misteri seraya belajar tentang flora dan fauna endemic yang melimpah di dalamnya. Dan, buku ini menjadi buku yang sangat tepat untuk mulai memunculkan kegemaran berpetualang di alam bebas dan juga untuk mengenalkan anak pada isu-isu kelestarian lingkungan. 
                Begitu membuka halaman-halaman pertama, aroma misteri sudah menyambut pembaca. Dan, apa lagi yang bisa menarik pembaca untuk masuk ke dalam cerita selain misteri?
                 "Sebaiknya Bapak dan anak-anak muda ini juga janganlah ke sana. Kau mau ke hutan, pergilah ke hutan yang lainnya. Orang di sini tidak ada yang berani ke rimba Gunung Hitam. Itu rimba sakti. Dahulu banyak anak-anak kampung yang pergi ke hutan, hilang tak pernah pulang lagi." (hlm 2)

                Mochtar Lubis menulis novel ini berdarsarkan pembacaannya pada buku Kepulauan Nusantara (The Malay Archipelago) karya Alfred R. Wallace, lengkap dengan ilustrasi dan gambar-gambar flora serta fauna khas Sumatra. Dalam pengantarnya, kisah ini sendiri terinspirasi oleh kegiatan menembus rimba yang dulu sering dilakukannya  bersama gurunya Bapal S.M Latif dan teman-temannya untuk mencari anggrek demi melenkapi koleksi anggrek sekolah. Dalam perjalanan itulah mereka menemukan harta karun kehidupan yang luar biasa.
Mulai dari harimau Sumatra, tapir, hingga anggrek bulan yang langka itu. Mereka juga bertemu dengan kantong semar serta bungai bangkai yang hampir mereka kira sebagai mayat manusia. Rupanya, bau busuk dari bunga bangkai inilah salah satu yang memunculkan pesona mistis di Rimba Gunung Hitam. 

                   "Sambil menutup hidung, anak-anak muda tak puasnya menatap bunga bangkai. Warnanya putih tak bersih, bercampur kuning dan ungu, dan disebelah bawah gagang terdapat ribuan bunga betina mengelilingi kaki bunga. Daunnya hanya sehelai yang adalah pula daun yang terbesar di dunia, dapat mencapai sepuluh meter persegi." (hlm 84)


               Pesona flora dan fauna hutan dipaparkan begitu lengkap dan dengan narasi yang menawan, membuat pembaca seolah bisa membayangkan dirinya tengah berada di tengah hutan Sumatra, di antara rapatnya Bukit Barisan yang kala itu masih sangat terisolir. Ini masih ditambah dengan aneka ilustrasi tentang satwa dan flora Sumatra seperti bermacam anggrek, macan kumbang, jenis-jenis burung, dan tentu saja, bunga terbesar di dunia Rafllesia Arnoldii.

           
                Ditulis pada tahun 1980-an, jelas buku ini bisa dibilang “jadul” dan beraroma 80-an banget. Tapi, dari situlah nostalgia itu merebak muncul. Petualangan yang disajikan tidak sekadar petualangan mengurai misteri dan menaklukkan penjahat. Lebih dari itu, penulis juga mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat jenis-jenis flora dan fauna yang hamper punah, lengkap dengan tata cara dan kebiasaan hidup mahkluk-mahkluk tersebut di alam liar. Isinya lengkap memaparkan segala keindahan sekaligus kerentanan para penghuni hutan Sumatra.  Narasinya pun sangat elok, menggurui namun pembaca tidak merasa tergurui—bahkan malah mungkin meminta lagi. Saya sendiri dengan tegas menyatakan bahwa kekurangan buku ini adalah halamannya yang kurang tebal.


             Membaca buku ini di abad 21 mungkin ketinggalan zaman, bukan hanya karena narasi penceritaannya yang jadul, tapi mungkin hutan liar Sumatra yang digambarkan dalam buku ini mungkin sudah berganti menjadi perkebunan kepala sawit. Sungguh miris. Pun seandainya itu terjadi, Berkelana Dalam Rimba bisa menjadi semacam dokumentasi tertulis dari hutan perawan Sumatra bagi anak-cucu kelak, yang mungkin tidak berkesempatan lagi menyaksikan hutan tropis Sumatra yang beragam dan kaya raya, yang di masa depan tergantikan oleh sabuk kelapa sawit yang mendominasi Bukit Barisan. Buku ini telah membuat saya mencintai alam dan bertekad untuk terus merawatnya. Semoga para pembaca yang lain pun demikian adanya setelah membaca buku luar biasa ini.

Monday, October 21, 2013

Aurora di Langit Alengka, Tangan-Tangan Hebat Penyelamat Dewi Sinta



Judul : Aurora di Langit Alengka, Tangan-Tangan Hebat Penyelamat Dewi Sinta
Pengarang : Agus Andoko
Editor : Misni P
Halaman : 606 halaman
Cetakan: 1, Maret 2013
Penerbit : DIVA Press

18658043


            Jika ada sebuah cara yang begitu menyenangkan untuk kita bisa belajar tentang dunia wayang, maka membaca buku ini adalah salah satunya. Penggabungan yang sangat berani antara cerita fantasi dan dunia Ramayana yang begitu apik, dengan beragam pengetahuan lokal tentang makanan, obat-obatan, tradisi, serta kekayaan alam Nusantara. Aurora di Langit Alengka adalah sebuah buku tebal yang sarat akan isi. Pembaca akan mencapatkan 3 hal sekaligus dengan membaca buku ini: penghiburan lewat kisahnya yang seru, pengetahuan tentang dunia wayang dan Ramayana, serta khazanah kekayaan lokal (terutama bangsa Jawa). Sebuah buku yang patut diapresiasi, tidak heran jika bahkan Dalang Ki Mantep Soedhaesono pun ikut memberikan dukungan bagi penulisan novel ini.

            Dari segi cerita, Aurora di Langit Alengka memadukan antara kisah fantasi dengan dunia perwayangan. Dikisahkan, empat orang sahabat (Bara, Radit, Laras, dan Mambang) yang masih remaja tanpa sengaja menemukan sebuah jalan rahasia untuk masuk ke dunia Ramayana saat mereka berlibur di rumah eyangnya di Klaten. Tahu-tahu, mereka muncul di bukaan pohon beringin yang ternyata ada di tengah alun-alun ibu kota Kosala. Bayangkan keterkejutan (sekaligus kegembiraan) mereka  karena kebetulan keempat anak muda ini juga sangat menggemari dunia wayang. Laras, satu-satunya cewek dalam kelompok itu, tentu saja merasa sangat senang karena ia akhirnya bisa menyaksikan langsung idolanya di dunia wayang, Dewi Sinta.

            Tak butuh lama, keempatnya kemudian berbaur ke kehidupan Alengka. Mereka tinggal bersama sebuah keluarga sederhana, menikmati keindahan dari masa-masa tempo dulu ketika teknologi belum ada: membajak sawah dengan kerbau, mandi di sungai, berburu di hutan sepertlunya, menyantap makanan yang sederhana namun nikmat, mengikuti upacara sesaji desa yang penuh kehangatan, dan puncaknnya, menghadiri acara pernikahan antara Rama dan Sinta. Bahkan, mereka bisa melihat para bidadari dari kayangan yang asli, serta para dewa-dewi, batara-batari penguasa alam. Puas dengan segala keajaiban itu, Laras yang begitu nge-fans dengan Sinta memutuskan untuk mengubah jalannya cerita Ramayana. Ia ingin menyelamatkan Sinta dari penculikan yang dilakukan Rahwana.
            Maka rencana disusunlah. Keempatnya kemudian masuk ke Hutan Dandaka, lokasi di mana Sinta akan  diculik oleh Rahwana. Selama di hutan, keempat anak muda itu telah belajar ilmu berburu kepada Suku Hutan jadi ketika akhirnya mereka bertemu dengan rombongan Rama, Laksmana, dan Sinta; keempatnya terbukti menjadi sahabat-sahabat yang senasib-sepenanggunggan, sama-sama berburu dan berjuang menghabiskan masa pembuangan di hutan. Cerita pun bergulir sebagaimana Ramayana dikisahkan. Salah satu antek Rahwana mencoba menarik Sinta dengan mengubah diri menjadi kijang kencana. Tapi, Laras yang sudah tahu hal ini memperingatkan Sinta. Rahwana gagal menculik Sinta, tapi sebagai akibatnya, Laras lah yang diculik dan dibawa ke negeri Alengka.  

            Entah bagaimana, kisah pun bergulir mengikuti pakem yang sudah ditetapkan dalam Ramayana, kecuali dalam hal ini yang diculik adalah Laras dan bukannya Sinta. Merasa berutang budi, Rama pun betekad membebaskan sahabatnya itu. Dikumpulkannya semua tokoh-tokoh yang ada du pewayangan untuk menggempur Alengka. Dan, perang besar pun menanti di depan. Sebuah perang epic tentang Ramayana yang luar biasa, penuh keajaiban dan juga darah, namun banyak mengajarkan tentang kesetiaan, nasionalisme, pengurbanan, jiwa ksatria, serta keberanian.

 Saya belajar banyak sekali tentang tokoh-tokoh Ramayana dari buku ini walaupun belum membaca versi yang asli. Siapa orang tua Sinta, tentang gugurnya Kumbakarna, tentang berbagai senjata milik pada tokoh pewayangan, tentang Jatayu, Hanoman, dan Sugriwa, mengapa Rama dan Sinta dibuang ke Dandaka, asal-usul Rahwana, juga tentang garis besar dari pertempuran dalam Ramayana yang sangat epic itu. Sebagai tambahan, penulis juga menyisipkan berbagai pengetahuan lokal (local genius) yang begitu berlimpah dalam buku ini. Tentang beragam jenis makanan dan obat-obatan, tentang kebiasaan dan kehidupan orang-orang zaman dulu, tentang adat-istiadat di negeri-negeri jauh, juga tentang sikap-sikap luhur yang dulu  pernah begitu dijunjung tinggi oleh para leluhur. Ini benar-benar sebuah buku fantasi karya anak negeri yang digarap dengan sangat kreatif dan berbobot.

Thursday, October 17, 2013

Throne of Jade (Tahta Langit)

Judul :  Throne of Jade (Tahta Langit)
Pengarang : Naomi Novik
Penerjemah : ine milasari hidayah
Cetakan : 1, 2012
Halaman : 602 halaman
Penerbit : Elex Media Komputindo

18243769


                Takhta Langit adalah seri kedua dari serial Temeraire, menyambung dari buku pertamanya His Majesty’s Dragon. Sebagaimana buku pertama, Takhta Langit masih mengangkat petualangan naga Temeraire dan penunggangnya Will Laurence dengan setting waktu pada masa era Perang Napoleon tahun 1800-an. Berbeda dengan buku pertama yang lebih sarat aksi pertempuran naga di langit, buku ini cenderung lebih kalem dan “lebih politis”. Kalau saya tidak keliru, hanya terjadi tiga pertarungan naga di buku kedua ini: satu saat di lepas pantai Perancis, satu di Samudra Hindia, dan satu lagi di Peking. Namun, bukan berarti buku ini kemudian menjadi tidak menarik. Justru sebaliknya, buku ini istimewa dengan caranya sendiri. Jika di buku pertama kita disuguhi adegan pertempuran, di  buku kedua ini kita diajak untuk berdiplomasi. Lawrence belajar banyak tentang hubungan politik antar negara, yang dituliskan dengan begitu bergairah oleh penulis, sehingga pembaca pun turut belajar banyak. 

                Menyambung cerita pertama, diketahui fakta bahwa Temeraire ternyata adalah seekor naga Celestial yang sangat langka dan berasal dari Kekaisaran China. Adat mengharuskan bahwa seekor Celestial hanya boleh dipasangkan dengan seorang kaisar atau kerabatnya. China kemudian mengirimkan utusan ke Inggris demi menjemput kembali naga Celestialnya. Perundingan politik berlangsung a lot, dan pembaca akan disuguhi dengan betapa rumitnya membicarakan hal-hal yg sifatnya diplomasi antara negara. Tidak boleh asal tebas, semua hal harus dipikirkan secara matang dan hati-hati karena taruhannya sangat besar. Laurence terpaksa menyetujui pemindahan Temeraire ke China. Naga itu mungkin akan dirampas darinya sesampainya di China, tapi paling tidak mereka masih punya waktu 6 bulan untuk bersama di sepanjang perjalanan laut menuju China. Bagaimana langkah selanjutnya setelah sampai di sana, biar takdir yang memutuskan.

                Maka dimulailah perjalanan panjang membawa Temeraire ke China menggunakan sebuah kapal angkut raksasa milik AL Inggris, Allegiance. Di sini, Laurence terpaksa menghadapi masalah lagi saat para penerbang dan marinir—yang memang sejak awal kurang akur—terpaksa hidup bersama di atas sebuah kapal selam 6 bulan. Ini belum ditambah dengan keberadaan rombongan utusan China yang dipimpin oleh  Pangeran Yongxing. Mereka lebih menimbulkan kerepotan di tengah segala ketenangan dan ritual ala Chinanya yang ribet. Sepanjang perjalanan, baik Laurence dan Temeraire harus menghadapi berbagai intrik serta plot rahasia yang rupanya disusun untuk saling memisahkan keduanya. Selain badai yang mengganas di samudra, mereka juga harus bersiap dengan badai yang mengamuk di dalam kapal, perselisihan serta pertikaian yang muncul ketika sekelompok orang tinggal bersama di sebuah kapal selama berbulan-bulan. Hebatnya lagi, Novik mampu menciptakan karakterisasi yang utuh dalam tokoh-tokohnya, semuanya begitu khas dan mudah terbedakan.

                Setelah akhirnya  mereka sampai di China, rombongan Lawrence dipisahkan dari Allegiance. Intrik dan plot baru sudah menunggu. Di negeri asing nan eksotis itu, kembali jalinan persahabatan antara Lawrence dan Temeraire diuji. Bangsa China yang telah terlebih dulu membiakkan naga terbukti sudah jauh lebih mapan ketimbang Eropa dalam memperlakukan naga-naga  di sana. Belum hilang kekaguman Lawrence, sebuah kabar mengejutkan muncul. Sebuah serangan serta intrik rumit tengah disusun oleh para penghuni istana untuk memisahkan sang naga dengan penunggangnya. Bisakan Temeraire dan Laurence bertahan dalam cobaan kali ini? Bagaimana nasib “status Celestial” yang disandang sang naga? Haruskah Laurence mengembalikan naga yang sejak semula memang lebih layak tinggal di China ketimbang di Inggris? Semua akan terjawab dengan sangat memuaskan setelah buku ini selesai dibaca.

                Seperti di awal saya bilang, buku ini sangat “politik” dan minim adegan pertempuran, namun buku ini sangat istimewa dengan caranya sendiri. Novik menggali karakter Lawrence lebih dalam lagi, juga karakter orang-orang di sekitarnya. Semua karakter ia bikin abu-abu, tidak sepenuhnya jahat maupun baik. Karakter paling kompleks dan kaya adalah sang diplomat Hammond. Tokoh yang sepertinya menyebalkan ini ternyata memberikan banyak sekali hal-hal yang bisa dipelajari pembaca tentang tugas dan kewajiban seorang diplomat. Selain itu, buku kedua ini juga memiliki ending yang memuaskan, walau tidak se-epik buku pertama dengan segala pertempurannya. Namun, sekali lagi, buku ini istimewa dengan caranya sendiri. 


Wednesday, October 16, 2013

Bobbsey Twins, Rahasia Gua Perompak

Judul : Bobbsey Twins, Rahasia Gua Perompak
Pengarang : Laura Lee Hope
Ilustrasi : Ruth Sanderson
Terjemahan : Projosoegito
Cetakan : 1, Mei 1983
Penerbit : Indira



FOTO COVER TIDAK DITEMUKAN 
SAKING TUANYA USIA BUKU HIHIHI


                Mohon maaf sebelumnya, tapi serial petualangan ini bisa dibilang sebagai serial yang gagal karena serba-nanggung.  Alih-alih memiliki ide cerita yang agak berbeda dengan serial Lima Sekawan nan legendaris itu, serial ini seperti hanya menjiplak dan membuat bersi lain dari kisah-kisah Enid Blyton. Lebih parahnya lagi, jiplakan itu gagal total karena serba nanggung, baik dari alur kisahnya, karakterisasi tokohnya, persambungan antar cerita, konflik, dan juga ketegangan yang ditawarkan. Serial ini, mohon maaf, seolah-olah muncul sekadar sebagai bentuk euforia tahun 1980-an yang—untungnya—dibanjiri oleh buku-buku serial petualangan karangan Enid Blyton. Dibandingkan dengan The Hardy’s Boys, serial ini masih sangat mentah. Walau sama-sama membawa aroma Lima Sekawan ke setting Amerika, setidaknya The Hardy’s Boys masih memiliki orisinalitasnya sendiri dari segi cerita dan ketengangan. Sementara kalau seri ini, nanggung!

                Bobbsey Twins adalah seri cerita anak petualangan dengan tokoh sentral anak-anak kembar keluarga Bobbsey. Mungkin, ini awal karakterisasi yang bagus—walaupun masih sangat kentara bagaimana penulis mencoba menghilangkan jejak-jejak Lima Sekawan-nya. Mereka digambarkan masih seusia anak-anak SD, tapi sudah sering membantu penyelidikan kepolisian. Dalam buku ini, anak-anak itu diajak berlibur ke Bermuda, sebuah pulau di kawasan Laut Karibia yang terkenal akan sejarah bajak lautnya. Keanehan muncul ketika mereka sampai di bandara, ketika beberapa anak muda mencoba mengagalkan upaya Bert yang tengah iseng memotret para penumpang. Setelah itu, mereka juga mulai dibuntuti oleh orang-orang asing.

                Kejadian selanjutnya pasti bisa ditebak: kamera itu hilang, ada orang yang ingin mereka segera pergi dar Bermuda, dan misteri-misteri lain yang muncul susul-menyusul. Sebenarnya premis ceritanya bagus, tapi entah mengapa kurang kuat. Antara adegan dan satu dengan adegan yang lain seperti tidak menyambung. Ada kejadian ketika mereka tengah mengejar seseorang yang dicurigai, tapi beberapa halaman setelah itu scene berpindah ke kegiatan bersenang-senang. Dan sayangnya, perpindahan scene ini tidak sehalus Enid Blyton. Adegan-adegan utamanya memang jelas, tapi secara garis besar benang merah dari buku ini tidak bisa saya ikuti, walaupun akhirnya selesai juga ceritanya.


                Dari yang sekadar anak hilang, kemudian mengarah ke pencurian salib emas, lalu para pebncari harta karun, dan akhirnya penemuan sebuah gua misterius; ah terlalu banyak tema yang diangkat dalam buku yang ternyata hanya setebal 120 halaman ini—dan font-nya gede-gede lho! Banyak sekali hal yang hilang, cerita yang tak tertampilkan, juga ending yang terlalu melompat dan kurang bisa dinikmati. Secara umum, saya kurang menikmati membaca buku ini. mungkin karena saya bukan anak-anak lagi hehehehe. Tapi, saya masih bisa menikmati bahkan sangat menyukai membaca Lima Sekawan, Trio Deteketif, dan The Hardy’s Boys. Membaca karya-karya itu ibarat penghiburan, sementara membaca buku ini tak meninggalkan bekas yang berarti. Saya bahkan kesulitan mengingat kronologi ceritanya. Untuk ukuran buku ringan seperti ini, anak-anak berusia 5 tahun ke atas bisa membacanya dengan lancar, karena minim adegan-adegan yang agak “keras” seperti di The Hardy’s Boys.  

Review ini disertakan dalam RC yang diadakan oleh Bacaan Bzee.

Monday, October 14, 2013

Old Shatterhand, the Wild West Journey

Judul : Old Shatterhand, the Wild West Journey
Pengarang : Karl May
Penerjemah : Melody Violine
Penyunting : Muthia Esfand
Sampul : Nuruli Khotimah

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifEosKlRzFnv10WpWvxrChFX13hPhVznvZ7HjDBz9GgHXe3dyegdIRyM68ED42_uuzHu87rKRN3Vd3tin03u22APGtWLjFl1tR28kWO2EMBZogpy3j9EAjTxx83Ad3wgPEUqPVoiOs4EXq/s1600/18587293.jpg
                
              Kalau ada seorang pengarang fiksi petualangan yang karyanya begitu digemari dan memiliki kesan mendalam di benak para tokoh besar dunia, maka Karl May tidak diragukan lagi adalah salah satunya. Tidak kurang dari tokoh-tokoh besar sekaliber Einstein, Herman Hesse, bahkan Hitler begitu terpesona dengan kisah petualangan ala padang prairi karyanya. Tulisan Karl May begitu khas. Sosok protagonisnya sedikit banyak menggambarkan sosok si penulis. Ini belum ditambah dengan jalinan cerita yang memikat, yang “sangat petualang”, dan detailnya memesona. Keistimewaan ini semakin sempurna karena fakta bahwa Karl May belum pernah mengunjungi Wild West atau kawasan liar di barat dataran Amerika Serikat ketika ia menulis seri Winnetou, Kepala Suku Apache ini. Belum lagi karakter-karakternya yang sangat “Wild West”. Semua tokoh dalam seri ini begitu khas, dengan ciri uniknya masing-masing, sangat tak terlupakan. Juga cara bicara mereka, gaya kesehariannya; pembaca pasti tidak akan kesulitan untuk membedakannya.

                “Jalan Tuhan sering kali ajaib, tapi tetap sangat alami.” (hlm 132)

                Selama puluhan tahun, tidak terhitung berapa banyak pembaca (terutama remaja pria) yang begitu terpesona dan ingin menjadi sosok seorang Old Shatterhand, atau Winnetou. Gaya bercerita Karl May memang “cowok banget” sehingga tidak heran jika pembaca pria langsung menyukai buku ini, mungkin mereka menemukan sosok ideal seorang pria dalam diri Old Shatterhand atau Winnetou. Bagi pembaca wanita, kisah tentang Winnetou ini juga tidak kalah memikatnya. Dua sosok sentral ini begitu “gentlemen”—sebuah kualitas yang kini sudah banyak ditinggalkan oleh banyak pria modern: (sikap ksatria, jujur, memiliki harga diri, dan menjunjung sumpah setia). Bagi pembaca umum, kisah WInnetou sudah begitu detail dan sangat hidup sehingga hampir-hampir tidak ada alasan untuk tidak membaca seri ini—walaupun hanya sekali.

                “Kalau manusia punya keberanian, berarti dia punya kekuatan untuk mengalahkan binatang terkuat sekalipun.” (hlm 115)

Membaca buku ini, pembaca akan dibawa menjelajahi keindahan dan eksotisme alam liar di Wild West yang digambarkan dengan begitu hidup oleh Karl May. Kekuatan detailnya tentang sosok suku Indian, tentang tata cara menaklukkan mustang liar, tentang perburuan banteng, juga tentang berbagai tips dan trik bertahan hidup di alam liar. Sulit sekali membayangkan bahwa buku ini ditulis oleh seseorang yang sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di kawasan Wild West. Pada seri ini, dikisahkan bagaimana Charlie mendapatkan julukannya “Old-Shatterhand”, juga pertemuannya yang pertama dengan sosok Winnetou yang kelak menjadi sahabat Indiannya. Pertama kali  berjumpa, aura kewibawaan Winnetou begitu kuatnya sehingga bahkan orang-orang yang belum pernah mengenalnya pun akan memberikan penghormatan kepadanya. Kualitas-kualitas sosok seorang Indian pemberani dan juga cerdas, inilah yang membuatnya dikagumi.

“Hanya orang yang kasar dan lemah hati yang meremehkan seseorang dengan kekurangan fisik di luar kuasanya.” (hlm 109)

                Old Shatterhand merupakan seri pertama dari beberapa seri Winnetou, Kepala Suku Apache yang ditulis Karl May pada tahun 1890-an. Seri ini mengangkat kisah tentang seorang pemuda Jerman bernama Charlie yang mencoba menyambung nasib di kawasan liar Wild West di Amerika Serikat. Kala itu, Wild West adalah padang prairie liar yang masih sangat berbahaya. Tempat itu diisi oleh suku-suku Indian yang masih suka berperang, dihantui oleh beruang grizzy yang ganas, dikuasai oleh bison-bison liar, serta kuda-kuda perkasa. Alam liar yang tak terjamah. Pemerintah Amerika hendak membangun jaringan rel kereta api melintasi kawasan itu, dan Charlie pun terpilih sebagai salah satu pengukur karena fisiknya yang kuat serta pikirannya yang cerdas.

                “kadang-kadang kita bisa melakukan sesuatu yang tidak kita pahami sama sekali, asalkan kita benar-benar bertekad melakukannya.” (hlm 263)

                Charlie dan kelompoknya kemudian terlibat dalam konflik dengan suku Indian Apache. Bangsa kulit putih dianggap telah merampas dan menodai tanah suku Indian. Pantas saja  suku asli Amerika ini berang karena tanah suci mereka diterobos tanpa izin, binatang buruan mereka diburu hanya untuk bersenang-senang. Berbeda dengan suku Indian yang mengambil seperlunya dari alam, bangsa kulit putih ingin menguasai semuanya. Karl May seolah menyindir sikap sok arogan bangsa kulit putih lewat tindakan mereka yang kelewat batas dalam mengeksploitasi alam dan menekan suku Indian.

                “Apakah hak kami lebih sedikit daripada kalian? Kalian mengaku kalian adalah orang Kristen dan selalu berbicara tentang kasih. Tapi kemudian kalian berkata kalian boleh mcncuri dari kami, sedangkan kami harus jujur kepadamu. Apakah itu kasih? kalian berkata Tuhan adalah bapak bagii smeua orang kulit merah dan semua orang kulit putih. Apakah Dia bapak tiri kami, tapi bapak kandung kalian? (hlm 128)



                Winnetou dan ayahnya berdiri di garis depan melindungi suku dan wilayahnya. Charlie tahu bahwa adalah hak suku Indian untuk membela diri. Tapi keadaan semakin rumit dengan pembunuhan yang dilakukan salah satu rekan pengukur Charlie, yang akibatnya malah memperuncing pertikaian antara kelompok itu dengan suku Indian Apache. Kemudian, datang lagi suku Indian Kiuai yang bukannya membantu tetapi malah semakin membuat cerita bertambah kompleks karena mereka adalah seteru suku Indian Apache. Dengan menggunakan akal, ketangkasan, dan kecerdikannya, Old Shatterhand harus bergerak cepat untuk menyelamatkan dirinya sendiri, dan juga Winnetou. Kelak, kedua tokoh hebat ini akan dipersatukan sebagai dua orang sahabat yang sangat akrab. Buku pertama ini menandai awal persahabatan dua tokoh besar itu, yang dalam buku-buku selanjutnya ditakdirkan untuk mengalami berbagai petualangan yang luar biasa seru di alam liar Wild West.

            Ditulis pertama kali pada tahun 1890-an, seri Winnetou karya Karl May ini tetap abadi dan dikenang oleh mereka yang pernah membacanya. Dan, petualangan di Wild West ala Old Shatterhand menjadi salah satu petualangan paling epik dan tak terlupakan. Anda harus membacanya, walau cuma sekali. Empat bintang penuh untuk buku hebat ini.