Search This Blog

Showing posts with label buntelan. Show all posts
Showing posts with label buntelan. Show all posts

Friday, August 14, 2015

Wrecking Eleven


Judul: Wrecking Eleven
Pengarang: Haris Firmansyah
Editor: Dyas
Tebal: 178 hlm
Cetakan: 1, Agustus 2015
Penerbit: Ping!!!
 

 

"Di lapangan, kita satu tim. Di luar lapangan, kita sahabat."


Bermain bola, bagi sebagian besar anak cowok, adalah sepenggal pengalaman masa kecil dan remaja yang takkan pernah terlupakan. Selebrasi ketika merayakan gol, traktiran mie ayam ketika timnya menang, menunduk bareng saat tim kalah, main takling dan serobot sana-sini, serta baru pulang ketika matajari mulai redup di ufuk barat, dengan bau keringat yang memenuhi badan. Semua pengalaman itu tak akan pernah bisa tergantikan. Meskipun kini kepopulernya mulai tergeser oleh game sepakbola. Sama-sama main bola, tapi yang satu dengan kaki, tangan, dan seluruh tubuh. Sementara game, hanya butuh pencetan jari, mata yang kuat ngak berkedip, dan juga mungkin kepiawaian otak dalam mengatur strategi. Hilangnya lahan kosong yang dulu sering digunakan anak-anak se RT untuk main bola juga turut berperan dalam semakin sepinya lapangan sepak bola di sore hari. Bermain sepak bola, sekarang mungkin hanya bisa kita lakukan di lapangan berumput plastik dengan ukuran yang lebih kecil, dan harus bayar. Ah, saya rindu masa-masa ketika main bola hanya butuh urunan uang buat beli bola plastik. Kakinya pun nyeker, gak rewel pake sepatu bergigi jarum yang harganya juga cukup mengigit itu.


Tuesday, June 16, 2015

The House of Secrets



Judul : The House of Secrets
Pengarang : Chris Columbus dan 
Penerjemah : Lulu Fitri Rahman
Penyelaras Aksara : Nunung Wiyati
Tebal: 438 hlm
Cetakan: Pertama, 2015
Penerbit : Noura Books

25477385

"Orang-orang yang menyerah tak pernah menulis sejarah!"

Nama besar JK Rowling yang tertera di depan, plus nama agung Chris Columbus yang sukses menggarap beberapa film seri Harry Potter nan dahsyat itu rupanya (menurut saya loh) kurang bisa menjamin buku ini WOW. Buku ini ceritanya seru, itu poin plusnya. Susah sekali meletakkan buku ini kalau belum selesai. Saya sampai bawa ke kantor dan mencuri-curi baca agar bisa tahu bagaimana kelanjutan petualangan 3 bersaudara Walker bersama Will si penerbang dari masa Perang Raya. Tema dan pembukaan yang bagus, tapi sayang, eksekusinya kurang.

Thursday, June 4, 2015

Half Wild


Judul   : Half Wild
Pengarang       : Sally Green
Penerjemah      : Reni Indardini
Penyunting      :Nunung Wiyati
Sampul            : Fahmi Ilmansyah
Tebal               : 459 hlm
Cetakan           : 1, April 2015
Penerbit           : Mizan Fantasy



 25477397

“Hewan tidak baik, tapi juga tidak jahat.” (hlm 149)

            Petualangan Nathan si separuh penyihir putih-separuh penyihir hitam berlanjut dan semakin seru di buku kedua ini. Lebih banyak aksi, lebih banyak pertarungan, lebih banyak darah dan organ tubuh berceceran, lebih banyak perjalanan, dan lebih banyak kisah manis antara Nathan dan Gabriel #eaaaa. Dalam buku pertama, Nathan akhirnya mendapatkan anugrahnya dari sang ayah, Marcus si penyihir hitam. Dari judul buku ini yang setengah liar dan kutipan yang saya gunakan di depan, sudah bisa ditebak kan apa anugrah yang dimiliki Nathan? Sayangnya, hal itu harus dibayar mahal. Nathan terpisah dari teman-temannya, dia tertembak dan hampir saja mati karena racun dari peluru pemburu putih, serta—yang paling buruk—kehilangan Analise yang ditidurkan paksa oleh penyihir hitam Mercury sebagai jaminan agar Nathan mau membunuh Marcus.

            “Jangan kau benci dirimu sendiri. Jangan membenci bagian dari dirimu sendiri, yang manapun juga.” (hlm 150)

Monday, April 20, 2015

Half Bad

Judul : Half Bad
Pengarang : Sally Green

Penerjemah : Reni Indardini
Penyunting : Rina Wulandari
Cetakan  : 1, Maret 2015
Tebal  : 430 hlm
Penerbit : Mizan Fantasy

 25082027


Jika ingin bertemu Harry Potter versi badass alias badung ngak ketulungan, kau bisa menemukannya di novel ini. Terlahir dari seorang penyihir putih dan penyihir hitam, Nathan berbeda dengan kakak-kakaknya yang berasal dari galur murni penyihir putih. Dia berbeda, dia tidak diinginkan, kakak pertamanya bahkan bertekad memburunya. Nathan adalah seorang bastar, setengah penyihir hitam dan setengah peyihir putih yang hidup dalam masyarakat yang didominasi oleh kaum penyihir putih di Inggris.

“Itu tubuhmu, bukan dirimu. Dirimu yang sejati tidak tersangkut paut dengan penyihir hitam. …. Aspek ragawi itu, gen yang kau warisi, Anugrahmu, bukan itu yang menjadikanmu penyihir hitam.” (hlm. 121)

Tuesday, April 14, 2015

Halaman Terakhir

Judul : Halaman Terakhir
Pengarang : Yudhi Herwibowo
Penyunting : Miranda Harlan
Sampul : AAA
Cetakan: 1, Februari 2015
Tebal: 434 hlm
Penerbit: Noura Books

24810905

Buku tentang Jenderal Polisi Hoegeng ini adalah satu dari sedikit buku yang seperti memaksa saya untuk segera menuliskan review begitu selesai membacanya. Jenis buku bergizi yang entah telah mengubah saya ataupun memberikan sesuatu yang baru setelah membacanya. Begitu sampai pada halaman terakhir buku ini, saya segera sadar kalau buku ini harus banyak dibaca oleh semakin banyak gerenasi muda. Terutama kami yang lahir di era 90-an sebagai generasi yang mengalami baik masa orde baru, masa reformasi, hingga Indonesia Baru seperti saat ini. Harusnya, ada lebih banyak orang yang tahu tentang sepak terjang seorang jenderal legendaris bangsa, salah satu dari tokoh polisi terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia, Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso.

“Sebuah jalanan yang dirawat dengan baik akan selalu menumbuhkan bunga-bunga wangi di sepanjang jalannya.” (hlm 375)

Monday, March 23, 2015

Good Night, Zombie!

Judul     : Good Night, Zombie! (Scary Tales #3)
Pengarang : James Freller
Ilustrator : Iacopo Bruno
Penerjemah : Nuraini Matsura
Penyunting : Noor H Dee
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Penerbit: Noura Books



 19395738
        
                Dibandingkan dua seri sebelumnya, saya paling suka dengan seri ketiga ini. Tidak lain dan tidak bukan karena horor yang diangkat di buku ketiga ini adalah horor yang benar-benar horor menurut saya, yakni tentang mayat hidup alias zombie! Sosok-sosok tua berpakaian seperti orang masa lampau, kulitnya kisut, giginya hitam dan membusuk, dan paling mengerikan adalah matanya, bola mata yang terbalik dan kosong, tidak menunjukkan apapun selain awan putih menyeramkan di rongga mata. Saat membaca buku ini, pada waktu tengah malam, saya sibuk lirik kiri dan kanan sampai harus menyeret kucing saya masuk rumah hanya agar ada suara, ada yang bergerak di tengah keheningan malam. Bergerak dan hidup maksud saya.

                Ceritanya, ada tiga anak SD yang terperangkap di sekolah mereka pada Jumat malam. Mereka adalah Carter, Esme, dan Arnold. Ketiganya tidak saling mengenal, dan ketiganya terjebak di sekolah yang telanjur dikunci pada suatu petang di akhir pekan. Yang lebih aneh, pintu-pintu itu dikunci alias digembok dari dalam. Dalam artian, ada orang lain di dalam gedung sekolah sekalin ketiga anak itu. Lalu, mengapa pintunya digembok dari dalam? Seolah-olah, gembok itu sengaja dipasang untuk mencegah agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam gedung sekolah di saat malam.

                Lalu, apakah itu? Apa yang ada di luar gedung sekolah yang tidak seharusnya masuk ke dalam? Yang jelas, ketiga anak itu harus mencari jalan keluar. Tetapi, semua pintu dan jendela telah digembok rapat sehingga satu-satunya jalan keluar adalah mencari  petugas piket malam, Tuan Van Der Klemp yang sama misteriusnya. Pria tua yang kurus itu malah melarang ketiganya untuk keluar. Dialah yang mengunci dan mengembok semua pintu di keluar, agar mereka yang sudah mati tidak bisa masuk ke dalam. Dan, tahulah ketiga siswa itu bahwa mereka telah terperangkap di gedung sekolah bersama seorang penjaga malam yang aneh. Sementara di luar, di tengah keheningan malam dan kabut dingin yang turun, terdengar suara garukan kuku yang sudah patah, langkah-langkah sempoyongan, serta tubuh-tubuh membusuk para zombie yang mengitari halaman sekolah.

                Dibanding dua buku sebelumnya, Good Night Zombie ini  adalah yang paling seram menurut saya. Posisi ketiga anak yang terjebak di sekolah pada malam hari, tidak bisa keluar kecuali setelah fajar, dengan mayat-mayat hidup yang mengepung di luar, ini semua memunculkan semacam kesan terperangkap yang ngeri. Suatu kondisi ketika kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali tetap tenang, diam, dan menunggu sampai malam berlalu. Tapi, suara apakah itu? Kaca jendela yang pecah? Dan gedebuk langkah-langkah gontai yang berjalan di lorong sekolah, apakah zombie-zombie itu akhirnya masuk ke sekolah? Benar-benar mendebarkan membaca buku ini. 

I Scream, You Scream! (Scary Tales #2)



Judul     : I Scream, You Scream! (Scary Tales #2)
Pengarang : James Freller
Ilustrator : Iacopo Bruno
Penerjemah : Nuraini Matsura
Penyunting : Aan Wulandari Usman
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Penerbit: Noura Books
 
23441507



Tidak salah jika banyak pembaca yang menyebut seri #ScaryTales ini sebagai penerus Goosebums di era Millenium. Dari segi cerita, polanya hampir mirip—tokohnya anak-anak, memasuki wahana di taman hiburan yang misterius, dan kemudian dia mendapati kalau taman bermain itu bukan taman bermain biasa. Ide cerita seperti ini mungkin pernah kit abaca entah dimana, atau kita tonton dalam serial Goosebums dengan bintang-bintang yang masih jadul banget. Bedanya, seri Scary Tales ini sudah menyinggung tentang penggunaan internet dalam ceritanya. Internet, sesuatu yang telah begitu mengubah kehidupan generasi muda. Mereka yang baru lahir tahun 90-an mungkin belum bisa merasakan, tapi mereka yang lahir tahun 80-an hingga awal 90-an  pasti merasakan betapa berubahnya dunia mereka sekarang karena internet (maaf, malah melantur kemana-mana).

                Kembali ke buku ini, jika sudah membaca seri pertama, pasti langsung paham kalau setiap buku dalam seri ini berbeda-beda. Karakternya berbeda, dan anak-anak yang jadi karakter utama di dalamnya pun berbeda-beda. Jika di buku pertama Home Sweet Horor pembaca disuguhi rumah yang berhantu, maka di buku kedua ini temanya adalah Taman Hiburan Maut (biar ala-ala trio detektif hehehe). Ceritanya, seorang gadis kecil bernama Sam Carver—dia ini suka banget naik berbagai wahana permainan—mendapatkan tiket gratis untuk menaiki sebuah wahana bernama Taring Naga milik Dokter Z yang misterius.  Tapi, ada yang aneh, hanya Sam saja yang dipebolehkan menaiki wahana Taring Naga, sementara ayah dan ibunya harus menunggu di luar. Sam juga dilarang membawa telepon genggamnya (hal yang tidak bakal kita temukan di serial Goosebums) sehingga begitu masuk ke wahana, maka terputuslah dirinya sepenuhnya dengan orang tuanya.

                Awalnya, orang tua Sam tidak setuju. Tapi begitu melihat ada belasan anak lain yang juga ikut naik wahana bersama Sam, maka mereka mengizinkan Sam naik wahana Taring Naga, meskipun dengan perasaan yang berat hati dan entah bagaimana terasa janggal. Dan, Taring Naga pun dibuka. Seluruh peserta telah duduk di kursinya masing-masing. Roller coaster mulai meluncur, semakin lama semakin cepat, masuk lebih dalam, lebih gelap, lebih cepat. Sebelum tiba-tiba terdengar suara ledakan, dan permainan Taring Naga langsung berubah menjadi arena maut yang mengerikan. Sam, terjebak bersama salah satu anak, mencoba menyelamatkan diri. Tapi, teriak mereka kali ini bukanlah teriakan karena senang campur ngeri. Teriakan kali ini adalah teriakan minta tolong.

                Sound familiar? Ya, bagi yang pernah membaca seri Goosebumps pasti merasa seperti diajak bernostalgia. Tapi, ya, dibutuhkan lebih banyak buku horor untuk anak semacam ini karena kelak mereka juga akan mengenang masa kecilnya saat membaca seri Scary Tales sebagaimana kita yang juga terkenang dengan Goosebumps. Plus, ilustrasi seram di buku ini begitu unik, rasanya hitam tapi hitam yang indah. Nuasa gotik yang kental berpadu dengan lingkungan modern, menghasilkan ilustrasi hitam yang terang, mendetail, dan entah bagaimana spooky namun tetap nyeni.

Thursday, March 19, 2015

JAWARA (Jadi Siswa Juara) Matematika kelas 7, 8,dan 9 SMP

Judul : JAWARA (Jadi Siswa Juara) Matematika kelas 7, 8,dan 9 SMP
Penyusun : Purie Anggita, S.Si
Editor : Rizky Maulana Ibrahim
Cover: Yulai Tse
Layout : Mawardi Noor
Tebal: 270 hlm
Cetakan: Pertama, 2014
Penerbit : Tangga Pustaka


http://www.yes24.co.id/Upload/ProductImage/dd/1203293_L.jpg

                Menemukan buku ini, khayalan saya langsung terbang ke belasan tahun lalu. Seandainya saja buku ini (atau buku semacam ini) sudah terbit ketika saya masih SMP dulu, tentunya saya tidak akan segaptek seperti saat ini terhadap matematika. Ya, sebagaimana banyak orang lain di luar sana, matematika masih menjadi mata pelajaran yang paling susah bagi saya saat SMP dulu. Persamaan dan pertidaksamaan adalah yang paling saya ingat, satu dari sekian banyak materi matematika yang paling membingungkan saya tapi juga paling sering keluar dalam ujian.  Menghitung berapa nilai x dan y, apa rumus untuk persamaan linier satu variable hingga variasinya yang semakin lama semakin panjang. Bagi saya, itu hanya deretan angka dan huruf yang ditambahin simbol-simbol pecahan, tapi entah mengapa sulit sekali memecahkannya. Jika boleh jujur, saya baru bisa memahami sepenuhnya perihal soal persamaan ini ketika kelas 3 SMA. #GagalJadiIlmuwan

                Kondisi kelas yang terlalu ramai, guru yang sudah (maaf) agak berumur sehingga kurang semangat (beberapa bahkan sangat galak), hingga minimnya penjelasan, menjadikan matematika masih sebagai pelajaran yang paling tidak disukai anak-anak SMP. Guru terkesan asal menyampaikan materi, tidak mau peduli apakah anak-anak didiknya sudah paham atau belum. Hal seperti ini, maaf, masih sering saya jumpai di sekolah negeri. Seolah ketika suatu materi selesai disampaikan, maka habis perkara. Perihal apakah anak-anak didik sudah memahami atau belum, itu lain urusan. Sedih sekali mendengarnya, karena akhirnya banyak siswa yang stres. Materi diberikan terlalu singkat, sementara soal ujian sama rumitnya dengan materi di buku. Karena itulah, banyak siswa yang kemudian mengambil les privat matematika di luar kelas.

                Hal-hal seperti ini sebenarnya bisa ditangani dengan cara-cara kratif. Misalnya, guru mengenalkan kepada siswa bahwa matematika itu asyik (dan bagi yang sudah tahu, matematika memang menakjubkan). Atau, bisa juga siswa mencari sumber materi lain di luar sekolah, misalnya saja dengan membaca buku-buku panduan materi di luar buku sekolah. Mungkin, untuk tujuan inilah buku Jawara Matematika ini ada. Jika siswa bosan dengan tata letak buku-buku materi dari sekolah yang membosankan, maka buku ini akan membuat mata segar dan ceria. Dicetak dengan halaman-halaman berwarna terang, tapi tidak silau di mata. Warnanya pun segar, dengan perpaduan tinta hitam, merah, dan latar belakang merah klasik, sungguh nyaman di mata. Kertasnya pun ringan, warnanya tidak membuat silau. Plus, ukuran buku yang mungil dan pas di saku, siswa bisa membawanya ke mana-mana sebagai bahan hafalan sebelum ujian (asal jangan dibawa pas ujian lo ya!).

                Tentang materi di dalamnya, hampir semua materi yang sering keluar dalam ujian turut disertakan, misalnya saja tentang himpunan dan aritmatika, persamaan dan pertidaksamaan, persamaan garis lurus dan sistem persamaan linear dua variable, segitiga dan teorema Phytagoras, sudut dan garis, serta bilangan berpangkat. Masing-masing dikumpulkan dalam bab terpisah dengan pembahasan yang ringkas, memudahkan, serta tak lupa dilengkapi dengan contoh soal dan pembahasan. Salut untuk tata letak buku ini yang sangat segar dan tidak membuat bosan. Meskipun beberapa materi di dalamnya agak rumit, dengan tata letak dan kertas seperti di buku ini, siswa jadi tidak bosan. Memegang dan membaca buku ini, secara fisik, terasa menyenangkan, dan semoga hal ini akan membantu siswa agar tetap bersemangat saat menjumpai materi yang belum dia mengerti.

                Maafkan saya karena tidak berkomentar banyak tentang isinya karena (seperti yang sudah saya curcolkan di atas) saya bukanlah ahli di bidang matematika ini. Metode pengajaran matematika yang keliru saat saya masih SMP (saat di SD saya masih suka pelajaran matematika karena gurunya menyenangkan) membuat matematika sebagai salah satu bidang yang saya sangat lemah di dalamnya. Padahal (saya belajar tentang fakta ini saat kelas 3 SMA) pelajaran matematika tidaklah semustahil kelihatannya jika kita mau berinisiatif belajar mandiri, dengan tetap belajar di sekolah tentunya, dan banyak berlatih sendiri. Tidak harus menunggu guru matematika, pokoknya digarap saja dan kemudian baru tanyakan ke guru jika menjumpai hal-hal yangmembingungkan. Sepertinya, begitulah konsep belajar matematika yang cocok bagi siswa mengingat keterbatasan guru di sekolah. Buku ini, akan menjadi teman yang sangat menyenangkan untuk tujuan tersebut. 

Terima kasih atas buntelannya, Penerbit Tangga Pustaka

 

Wednesday, March 11, 2015

Winnetou Apache IV – Versus Comanche



Judul : Winnetou Apache IV – Versus Comanche
Pengarang : Karl May
Penerjemah : P.R. Prabowo
Penyunting : Lis Sutinah
Cetakan : 1, 2014
Tebal: 256 hlm
Penerbit : Visimedia




            “Memiliki perasaan bersalah adalah sebuah hukuman!” (hlm 232)

            Petualangan Old Shatterhand dan Old Death di Wild West masih berlanjut. Setelah dalam buku 3 mereka berpetualang menyusuri Sungai Missisippi nan legendaries, di buku 4 ini aroma padang liar di barat Amerika kembali menyapa pembaca. Dan, Winnetou muncul dalam porsi yang lumayan banyak, tentu saja dengan segala hal terkait suku Indian Amerika yang sangat eksotis. Saya masih terkagum-kagum dengan kepiawaian penulis dalam bercerita. Begitu rinci dan detail, dan aroma indiannya sangat terasa, seolah kita tengah ikut bersama ld Shatterhand dan Old Death mengisap cerutu perdamaian bersama suku Indian. Saya tidak suka merokok, tapi saya setuju kalau dalam banyak kasus, merokok memang menjadi salah satu lambang persaudaraan di kalangan kaum Adam. Sebagaimana kata Old Death

            “Jika cerutu memiliki daya tarik lebih daripada permusuhan, maka kau tidak mungkin seburuk itu.” (17)

            Meskipun masih masuk seri Winnetou, tokoh utama dalam buku 4 ini adalah Old Death. Winnetou baru muncul di separuh akhir, tetapi pesona si tua Old Death tetap mampu menyihir pembaca dengan gaya khasnya. Jika Winnetou mewakili tokoh dari suku Indian yang legendaries, maka Old Death adalah wakil dari kaum kulit putih yang layak mendapatkan apresiasi. Tokoh ini sudah dipekenalkan di buku 3, namun di buku 4 kita akan lebih bisa menyaksikan kepiawaian Old Death. Tidak hanya jago berperang, menyelinap, dan mengatur strategi, Old Death juga piawai bernegosiasi. Dalam sebagian buku ini, orang tua nyentrik itu seolah menjadi dalang yang menentukan jalannya cerita, entah bagaimana seolah kisah buku ini disetir olehnya.

“Tidak akan merugikan usia mudamu sedikit pun jika kau mengambil beberapa saran dari Old Death.” (hlm 16)

            Masih bekutat dengan upaya pengejaran terhadap Gibson dan putra Mr. Ohlert, Old Shatterhand bersama Old Death kembali menjelajaji daratan luas Amerika, namun posisinya mendekati perbatasan dengan Meksiko. Di buku ini, kita dikenalkan dengan suku Indian Comanche yang hendak melanggar batas-batas dan berkomplot dengan orang-orang kulit putih. Dan, tanpa sengaja, kedua tokoh utama kita itupun terseret dalam konflik antara suku apache dan Comanche. Sebagai saudara Winnetou, Old Shatterhand tentu akan membantu Apache, namun berkat saran bijak dari Old Death, mereka akhirnya mengambil posisi sebagai pihak yang netral. Ini tentunya tidak digunakan untuk cari aman tetapi dengan pertimbangan matang. Memang, yang namanya pengalaman adalah hal yang tak ternilai harganya.

            “Orang ceroboh lebih berbahaya daripada yang benar-benar jahat. Orang berbahaya (? mungkin maksudnya ‘orang jahat’) bisa dikenali dari jauh, sedangkan orang ceroboh biasanya orang baik.” (hlm 233)

            Buku 4 ini dipenuhi oleh strategi diplomasi, tapi tetap dibumbui dengan aksi-aksi heroic yang menawan. Strategi perang, bagaimana mencari jejak di alam liar, etika berdiplomasi; semuanya bisa kita pelajari sambil menyimak alur ceritanya yang sangat seru. Walau begitu, adegan aksinya juga ada di belakang, sesuai dengan judulnya yakni pertempuran melawan suku Comanche. Siapakah pemenangnya, dan bagaimana strategi yang kali ini akan digunakan oleh Winnetou dalam melawan sesama suku Indian tersebut? Siapakah sebenarnya Old Death juga akan kita ketahui di akhir buku ini. Sebuah cerita yang akan menjelaskan segalanya, juga mengubah hidup Old Shatterhand setelahnya.
           
            “Tuan, jangan pernah lupa, ada keadilan ilahi yang membuat keadilan duniawi benar-benar seperti permainan anak-anak. Pengadilan abadi ada di hati nuranimu dan menggemuruhkan vonis kepadamu siang dan malam.” (hlm 232)

Karl May juga tetap konsisten dengan setting tempat yang begitu detail di buku ini, terutama bagian yang menggambarkan suku Indian: kehidupan mereka, prinsip mereka dalam berperang, bagaimana mereka berkata-kata, hingga apa dan mana saja yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh para pejuang suku Indian. Tidak banyak penulis yang bisa menulis dengan sedemikian detail seperti ini. Dan, hal yang lebih luar biasa, Karl May menulis buku ini sekitar seratus tahun yang lalu, ketika belum ada internet dan berita atau informasi memerlukan waktu yang sangat lama untuk sampai ke seberang benua. Dan Karl May berkata kalau dia belum pernah mengunjungi Wild West saat menulis buku ini? Luar biasa!
             Satu-satunya kekurangan buku ini mungkin ada pada sisi penerjemahannya. Sayang sekali seri ini tidak diterjemahkan oleh satu orang yang sama sehingga saya seperti menemukan ‘rasa’ yang berbeda saat membaca keempat serinya. Khusus untuk buku 4 ini, ada beberapa kalimat yang diterjemahkan kurang luwes, beberapa bahkan kalimatnya nggak nyambung. Tetapi, semua itu tertutupi oleh serunya kisah yang ditulis oleh Karl May ini. Kesalahannya kecil dan tipis sekali, tak disadari, tapi kalau jeli pasti kerasa. Misalnya pada kalimat ini:

            “Begitu hidung anjing tua sepertiku telah menemukan jejak, dia tidak akan menyerah sampai mangsanya tertangkap. Kau dapat mengandalkan itu.” (hlm 2)

“itu-nya” itu siapa ya di sini?

            Bergembiralah! Sherrif terhormat memberikan masalah dengan para perempuannya, tetapi kau bisa tenang karena aku akan menebus kesalahan.” (hlm 3)

            Memberikan masalah?

Secara keseluruhan, terjemahannya bisa dibaca dan dipahami, hanya saja ada sesuatu yang membuat membacanya tersendat-sendat, terutama pada bagian-bagian awal. Tapi, karena ceritanya yang memang sudah sangat seru, kekurangluwesan itu mungkin bisa diabaikan. Faktanya, saya menikmati dan bisa membaca buku ini sampai selesai.

Bagi para pecinta Winnetou, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca maupun ditimbun dikoleksi.

gambar: tokopedia.com