Search This Blog

Showing posts with label numpang baca di kantor. Show all posts
Showing posts with label numpang baca di kantor. Show all posts

Thursday, December 18, 2014

The Somplak Life

Judul : the Somplak Life
Pengarang : Ayra
Penyunting : Rezka
Sampul : Aan_Retiree
Cetakan: 1, November 2014
Tebal : 184 hlm
Penerbit : DIVA Press

23587953


“Menulis itu bukan apa, kenapa, atau siapa, tapi masalah komitmen diri sendiri akan apa yang ingin diraih.” (hlm 154)

Perkenalkan Ayra, 20 tahun, mahasiswi kedokteran gigi di salah satu perguruan tinggi swasta di Bali, jomblo 2 tahun, penulis yang puluhan naskahnya ditolak oleh penerbit, dan menderita somplak tahap akut. Gadis biasa yang sangat menyukai drama Korea ini mengaku sebagai pribadi yang luar biasa, pribadi yang ceplas-ceplos serta apa adanya, namun juga berotak cerdas, ibadah jarang bolong, dan cerdas. Sebagai seorang ketua BEM (saya masih sulit membayangkan tampang seorang ketua BEM kampus dengan sifat somplak seperti Ayra ini), dia juga tegas saat memimpin rapat. Sepertinya, Ayra memiliki seluruh karakter tak sempurna yang diharapkan dicintai oleh para pembaca muda di era modern ini, karakter biasa dengan kualitas yang diam-diam luar biasa. Berkebalikan dengan drama Korea yang sering dia tonton, di mana pria sempurna jatuh hati kepada gadis biasa, Ayra sadar betul bahwa dirinya jomblo karena dirinya tidak cantik atau pandai berdandan. Tapi, Ayra tidak ambil pusing dan tetap maju dengan hidupnya. Alih-alih mengasihani diri sendiri, dia dengan bangga berkata:

“Hidup, kan, nggak kayak di drama Korea favorit gue, di mana cowok sempurna selalu jatuh cinta sama cewek biasa. Tapi, masalahnya gue kan nggak biasa. Gue luar biasa." (hlm 16)

Tapi, ada satu hal yang membuat Ayra dan novel ini berbeda dibanding karya-karya teenlit lainnya. Meskipun sama-sama berkisah tentang anak muda yang jomblo alias tunas asmara, Ayra masih memiliki cerita lain untuk dia bagikan, yakni tentang menulis. Sebagaimana telah disinggung di muka, Ayra adalah seorang penulis gagal yang puluhan naskahnya telah ditolak oleh banyak penerbit. Tidak ada satupun yang diterima, dengan revisi sekalipun. Dari awal membaca novel ini, pembaca sudah disuguhi oleh surat penolakan naskah dari penerbit, yang pasti sudah akrab bagi para penulis dan calon penulis. Bagi Ayra, naskahnya sama dengan dirinya yang masih jomblo, yakni sama-sama belum menemukan jodohnya. Nah, bagian menulis inilah yang unik dari novel somplak ini. Ayra tetap berjuang dan ceria meskipun naskahnya terus menerus ditolak.

“Hidup adalah pilihan dengan segala risikonya. “ (hlm 142)

Kualitas inilah yang menjadikan The Somplak Life sebuah novel remaja yang tidak biasa. Selain mengangkat tema cinta dan persahabatan, pembaca juga akan disuguhi dengan banyak sekali kalimat motivasi tentang menulis. Namun, hal ini tidak kemudian membuat novel ini kehilangan gregetnya sebagai sebuah cerita. Karena pada dasarnya, sebuah novel adalah bercerita dan bukan berceramah. Jadi, tenang saja. Pembaca masih tetap bisa menikmati kisah somplak Ayra dan kawan-kawannya (yang benar-benar diceritakan dengan sangat lucu dan khas anak muda) sekaligus mendapatkan banyak kalimat-kalimat penyemangat untuk menulis yang mungkin klise tetapi masih manjur untuk diterapkan, salah satunya tentang writer’s block yang merupakan momok utama bagi para penulis.

“Writer’s block syndrome itu memang ada. Tapi hanya berlaku buat mereka yang bergantung sama mood dalam menulis. Menurutku pribadi, Ay, mood itu nggak seharusnya jadi acuan utama dalam melakukan pekerjaan apapun, baik menulis atau lain hal. “ (Hlm 153)

Sambil menikmati kehidupan Ayra sebagai mahasiswi dokter gigi, pembaca juga akan menemukan kisah-kisah cinta Ayra di masa lalu. Juga, cowok-cowok keren yang berusaha mendekatinya. Khas kisah anak muda, pembaca juga akan menjumpai penggalauan si tokoh, adegan jatuh cinta, masa-masa ketika jantung dag-dig-dug tak karuan, dan elemen-elemen kisah remaja lainnya. Ini membuat The Somplak Life masih nikmat untuk dibaca. Dengan kata lain, meskipun menyisipkan pesan-pesan yang agak banyak mengenai dunia tulis-menulis, novel ini tidak kehilangan warnanya sebagai sebuah karya cerita. Ini adalah cara yang unik sekaligus baru untuk mengajak pembaca agar tidak pantang menyerah saat menulis. Sebuah perpaduan antara novel dengan buku tentang teknik menulis, unik bukan?

"Gue belum jadi siapa-siapa di dunia tulis-menulis. Tapi, gue yakin, (suatu) hari nanti gue bisa jadi penulis beken yang nggak sekadar ngetik naskah, kirim, terus terima royalty. Gue pengen jadi penulis yang menginspirasi dan melahirkan karya yang bicara, bukan sekadar buku bacaan yang habis dibaca, ditelantarkan begitu saja.” (hlm 61)

Bagi pembaca yang menginginkan membaca novel teenlit yang beda, yang tetap lucu namun juga bermutu, The Somplak Life dapat menjadi pilihan buku yang tepat untuk dibaca.

Tuesday, October 28, 2014

The Tip of Bones

Judul : The Tip of Bones
Pengarang : Jacob Julian
Penyunting : Novita Ita W
Tebal : 232 hlm
Sampul : Aan
Cetakan : 1, Oktober 2014
Penerbit : De Teens

23423389 

Bumi hampir hancur. Makhluk-makhluk aneh bermunculan dari langit yang telah robek dan dasar bumi. Neil kehilangan kekasihnya sehabis kencan. Salah satu makhluk itu menculiknya. Agar kekasihnya kembali, Neil harus menemukan sebuah tulang terlebih dahulu. Tulang? Tulang apa? Untuk apa?

Bersama dua penjaga gerbang dunia atas dan bawah, Seaman dan Syamalan, Neil harus menghadapi Amon, salah satu makhluk kuno yang amat jahat. Jika tulang itu tidak ada pada Amon, lalu siapa?



Penulis yang satu ini sepertinya terobsesi pada dramatisme katastofa yang mengguncang dunia mengingat tulisan-tulisannya senantiasa merenggut korban manusia dalam jumlah luar biasa. Tidak terkecuali di novel terbarunya ini, The Tip of Bones.  Dari blurb-nya saja yang sangat membikin penasaran, pembaca sudah diarahkan ke dunia ala-ala dystopia yang mungkin nanti ada sedikit romansanya, tentang seorang pemuda yang tetap mencintai kekasihnya meskipun dunia sudah mencapai ujungnya. Saya hampir saja menyerah membaca pertiga pertama buku ini, sebelum akhirnya saya kukuh melanjutkan dan ternyata novel ini cukup readable, terutama setelah penulisnya mengaku terinspirasi tulisan Neil Gaiman sebelum menulis novel ini.

Neil Gaiman? Pantas tokoh cowok di novel ini namanya Neil (entah disengaja atau tidak) dan pantas pula kalau sekilas novel ini terasa absurd di awalnya. Tahu-tahu saja langit koyak dan tanah berbelah, lalu mahkluk-makhluk kegelapan muncul ke Dunia Tengah (atau Bumi) dan dengan seenak hati menyantap manusia-manusia yang ada. Dalam kondisi genting seperti ini, Neil kehilangan kekasihnya, yang direnggut oleh salah satu mahkluk bayangan dari atas langit. Dan, sementara dia berjuang mencari kekasihnya yang hilang, saat seluruh kota hancur lebur oleh serangan mahkluk2 jahat, dia malah menjumpai seekor anjing husky dan burung merpati unyu tengah saling bertarung. Kurang absurd apa coba, anjing sama burung dara bertengkar, trus bertengkarnya gimana coba? Tapi, ya kembali lagi pada maksud penulis yang memang ingin absurd, jadi dibaca aja lanjut.

Kemudian, setelah berhasil melerai kedua mahkluk unyu itu, Neil mendapati bahwa kedua hewan itu ternyata adalah dua penjaga dunia atas dan dunia bawah, namanya Seaman dan Syamalan. Dari penamaan keduanya ini, saya mengira sang penulis pasti habis baca kalau nggak Sandman ya Neverwhere, atau mungkin American Gods. Apapun itu, Neil kemudian bertemu dengan pemandangan lain yang lebih  absurd. Dia melihat seorang kakek tua naik kerbau, yang menyuruhnya mencari sebuah tulang jika ingin menemukan kembali kekasihnya. Tulang apa? Dan apa gunanya sebuah tulang di dunia yang hampir kolaps seperti itu? Benar-benar absurd. Sebentar, tetaplah bertahan membaca novelnya.

Sampai pertengahan novel, ceritanya mulai mengalir dan keabsurd-an serta aneka hal ganjil yang bertebaran di awal novel ini mulai mendapatkan jawabannya. Satu demi satu pertanyaan dijawab. Dan karakter Neil ini memang unik serta mulai mendapatkan tempat di hati para pembaca ketika sampai di halaman belakang. Oh ya, nanti di bagian-bagian akhir bakal ada dialog filsafati tentang penciptaan yang mengingatkan saya pada percakapan di alam putih antara Dumbledore dan Harry Potter di buku ketujuh. Ya pokoknya model-model perenungan begitulah. Jadi, selain aksi dan cinta, novel fantasi ternyata juga mampu menghasilkan perenungan.


Friday, December 20, 2013

Penjaja Cerita Cinta

Judul : Penjaja Cerita Cinta
Penulis : @edi_akhiles
Cetakan : 1, Desember 2013
Tebal : 192 halaman
Penerbit : DIVA Press



        Jika ada satu kualitas yang paling saya kagumi dari sosok Edi Muyono, salah satunya pasti adalah produktivitas beliau dalam menulis. Tidak kurang dari 700-an cerpen telah ia tulis sejak tahun 1995, yang semuanya bertebaran di media-media massa daerah maupun nasional. Sebuah pencapaian yang menjadikan dirinya dimasukkan dalam Angkatan Sastra tahun 2000 oleh sastrawan Korrie Layun Lampan. Berbeda dengan banyak penulis lain yang biasanya fokus ke menulis dan meninggalkan bisnis, Edi Akhiles memilih untuk memadukan kedua dunia ini. Ia menulis sekaligus berbisnis. Kecintaannya menulis ini semakin didukung dengan pilihan bisnisnya yang jatuh kepada industri penerbitan, sebuah pilihan yang sangat tepat karena tiada bisnis lain yang begitu dekat dengan kegiatan menulis selain bisnis penerbitan.

      Penjaja Cerita Cinta adalah kumpulan cerpen ke sekian yang telah diproduksi sang penulis. Sebagaimana kita ketahui, tidak mudah untuk menuliskan sebuah cerpen karena cerpen itu terbatasi oleh jumlah kata. Tidak seperti novel dimana penulis bisa lebih mengolah dan memaksimalkan tulisannya, konsep cerpen yang “pendek” memaksa penulis untuk hemat kata dan irit kalimat, untuk bisa memasukkan banyak makna dan cerita dalam beberapa lembar tulisan. Bukan berarti menulis cerpen lebih susah dari menulis novel, keduanya memiliki tantangan masing-masing (dan banyak orang yang kelelahan dan tidak mampu menyelesaikan menulis novelnya karena terlalu panjang bukan?)

                Membaca Penjaja Cerita Cinta bisa saya ibaratkan dengan membaca sebuah sastra yang ter-gadget-isasi. Karya yang begitu dipengaruhi oleh hiruk-pikuk media sosial, di mana penyebaran dan penulisannya sama-sama tidak bisa dilepaskan dari peran teknologi internet yang digandrungi anak-anak muda modern di zaman ini. Total ada 16 cerpen dalam buku ini, masing-masing memiliki gaya dan tipikalnya sendiri-sendiri. Jangan berharap untuk membaca kumcer ini dengan penuh keseriusan atau sambil berkontemplasi, karena penulis menyodorkan 16 cerita dengan tema yang berbeda-beda. Ada yang serius berbalut senja, termehek-mehek atas nama cinta, mengharu-biru menjunjung orang tua, hingga kisah filsafati yang ditulis renyah-ceria. Ibarat permen, kumcer ini bisa dibilang rame rasanya. Ibarat minuman, kumcer ini adalah es buah dengan aneka rasa.

       Kisah pertama, Penjaja Cerita Cinta menurut saya adalah yang paling “nyastra” diantara cerpen-cerpen yang lain. Masih mengangkat tema yang sama: senja. Seno Gumira Ajidarma rupanya telah menjadikan senja begitu rupa indahnya sehingga menginspirasi banyak orang untuk mencintai dan (lagi-lagi) menulis tema tentang senja. Kisah ini mengangkat kisah penantian cinta seorang wanita di kala senja. Diksi dan ceritanya bagus sekali, tapi saya rasa cerita ini terlalu panjang untuk bisa dibilang sebagai cerita pendek. Ada bagian-bagian yang bisa dimampatkan sehingga lebih mengena.

       Dua kisah berikutnya, Cinta is Ketek dan Cinta yang Tak Berkata-Kata bertema sangat remaja. Yang pertama kisahnya abegeh banget, sementara yang kedua bisa dibilang romantik-inspiratif, bahwa “cinta yang sejati dibuktikan lewat tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata (hlm 60). Sayangnya, saya menemukan beberapa typo dalam cerita yang unik ini. Cerita selanjutnya Dijual Murah Surga Seisinya mungkin adalah yang menginspirasi penulis mengadakan program #AksiSejutaBukuuntukTamanBacaandanPerpsutakaan, begitu menyentil kesadaran diri.

      Dalam kisah-kisah berikutnya, pembaca akan menjumpai kisah-kisah khas yang langsung mengingatkan pembaca pada sosok penulis sendiri. Sebagian kisah ini mungkin memang terinspirasi oleh kejadian-kejadian nyata yang dialami si penulis, juga perenungan-perenungan beliau yang kadang diberi catatan kaki ala-ala filsuf. Saya paling suka dengan cerita   Si X, si X, dan God serta Lengking Hati Seorang Ibu yang Ditinggal Mati Anaknya, kedua cerita itu sukses membuat saya termenung-menung di sela mengerjakan tugas di kantor (Hyaaa ketahuan membaca buku di jam kerja kamu Yon!)

      Ada kelebihan, pasti ada juga kelemahan. Agar adil, saya harus paparkan juga beberapa kelemahan kumcer ini agar bisa menjadi masukan yang semoga dapat membangun ke depannya. Walau digarap dengan tema warna-warni, hampir sebagian besar cerpen di kumcer ini masih sangat berasa banget Edi Akhilesnya. Mulai dari penggulangan diksi-diksi yang serupa artinya, penulisan satu kalimat satu kata untuk menegaskan, bau-bau filsafat dan ceplas-ceplos ala Pak Edi entah mungkin tanpa sengaja sering menyusup masuk dalam sejumlah besar cerpen. Ini menjadikan cerpen-cerpen ini menjadi “berasa agak serupa meskipun judul dan temanya berbeda.” Selain itu, ada beberapa cerita yang menurut saya (maafkan pengetahuan saya yang cetek ini) lebih cocok disebuh curblog (curhatan dalam blog) ketimbang sebuah cerpen. Atau mungkin saya yang terlalu membatasi diri akan makna dari sebuah cerpen?

       Terakhir, kumcer ini diakhiri dengan tidak biasa—sebagaimana penulisnya yang dikenal sebagai sosok yang tidak biasa. Dalam bab terakhir, pembaca akan disuguhi sekelumit pelajaran tentang bagaimana menjadi penulis yang baik: yakni (1) selalu menambah pengetahuan, (2) menjunjung tinggi detail, dan (3) bagaimana memiliki sikap atau attitude yang baik. Simpel tapi sangat mengena dan bermanfaat.
                 
                 



                

Monday, December 2, 2013

Bloody River


 Judul : Bloody River
 Pengarang : Esa Nalendra
 Editor : RN
 Halaman : 214 hlm
 Cetakan : pertama, Oktober 2013
 Penerbit : GACA
             

         Lima abg dari kota, merasa penat dengan sumpeknya kota, memutuskan untuk berkemah di alam liar.  Udara segar yang mereka cari, pemandangan indah yang mereka nanti; tapi sayang, yang menunggu di depan adalah tragedi. Mereka berkemah di tempat dan di waktu yang salah! 

18957264



                Semua berawal ketika keputusan berkemah itu dilakukan secara terburu-buru, dan mengabaikan peringatan dari orang tua. Biasalah, tipikal anak-anak remaja yang cenderung suka membangkang, tidak gampang dinasehatin, dan jagonya ngeles. Tapi, kali ini, kelima remaja itu akan merasakan sendiri akibat dari tidak mematuhi nasihat dari orang tua. Kawasan tepian sungai yang hendak  mereka gunakan untuk berkemah tiba-tiba berubah menjadi hutan yang menyesatkan. Seharian mereka berputar-putar dan tak tampak sekalipun jalan keluar. Kelima anak abg itu, enam orang ditambah satu anak dari sekitar situ, tersesat di kawasan tepian sungai yang terkenal angker. Mereka telah melangkahi akar mumang (akar mimang).


Akar Mimang berasal dari Pohon Dewandaru. Sejak zaman dahulu akar mimang sering digunakan masyarakat jawa sebagai sarana untuk menjaga rumah atau gedung yang menyimpan barang berharga dari orang yang berniat jahat (pencuri). Rumah atau kantor yang halamannya ditanam Akar Mimang akan mampu membuat bingung pencuri yang masuk. Akar Mimang ini berwarna kuning kecoklatan. Akar ini sering di sebut dengan oyot mimang atau akar mimang karena menonjol pada permukaan tanah, bumi. Akar ini sangat terkenal mistik, konon siapa saja yang melangkahi akar ini di dalam hutan maka akan bingung dan tersesat, akar ini maupun kayunya sangat di yakini mempunyai memiliki nilai tuah tersendiri. (sumber: pusatbendabertuah.wordpress.com)



                Keadaan semakin diperparah dengan munculnya danyang atau mahkluk gaib penguasa sungai yang mengincar nyawa salah satu dari enam anak muda itu. Sudah menjadi keyakinan lokal bahwa wilayah pertemuan dua sungai adalah wilayah yang wingit alias keramat. Di tempat-tempat seperti inilah dipercaya sebagai tempat bersemayamnya jin-jin penunggu sungai. Lebih parahnya lagi, sungai itu konon selalu meminta tumbal manusia setiap tahunnya saat banjir, dan saat-saat sungai banjir itu bertepatan dengan waktu ketika enam anak remaja kota itu sedang berkemah.  Sang danyang penunggu sungai yang bermata merah dan basah pun menghantui rombongan anak kota ini. Dan, saat itulah anak-anak itu tahu bahwa terkadang mitos lokal itu ada benarnya. Bahwa ada kekuatan-kekuatan alam yang sebaiknya tidak diganggu dan diusik. 


                Bloody River bisa dibilang cerita horor yang menghibur. Saya tidak menyangka bisa menikmati novel ini, padahal saya suka ilfil kalau melihat novel-novel horor Indonesia yang ditulis dari skenario film layar lebar. Tanpa sadar, saya larut dan berulang kali merasa merinding membacanya, juga penasaran mengetahui akhir dari cerita ini, tentang siapa yang akan menjadi korban, dan apakah atau siapakah mahkluk gaib yang selalu meneror mereka. Ada twist di bagian belakang buku yang ternyata tidak tertebak.  

                Penulis pandai sekali memainkan emosi pembaca, membuat pembaca terus deg-deg dan penasaran, ini ditambah dengan deskripsi dan narasinya yang singkat tapi tidak meluber ke mana-mana. Karakter-karakternya pun digarap dengan tidak lebai, khas tipikal anak-anak muda, tapi tidak berusaha sok dewasa. Penyelesaian masalah pun dilakukan secara logis, meskipun yang mereka hadapi adalah mahkluk supranatural. Tulisannya rapi, khas penulis yang sudah banyak berkarya, atau kalau tidak pasti telah memiliki sense of writing yang ciamik. Walau genrenya teenlit, buku Bloody River adalah buku horor lokal yang tidak rugi dibaca.  

               











Monday, October 21, 2013

Aurora di Langit Alengka, Tangan-Tangan Hebat Penyelamat Dewi Sinta



Judul : Aurora di Langit Alengka, Tangan-Tangan Hebat Penyelamat Dewi Sinta
Pengarang : Agus Andoko
Editor : Misni P
Halaman : 606 halaman
Cetakan: 1, Maret 2013
Penerbit : DIVA Press

18658043


            Jika ada sebuah cara yang begitu menyenangkan untuk kita bisa belajar tentang dunia wayang, maka membaca buku ini adalah salah satunya. Penggabungan yang sangat berani antara cerita fantasi dan dunia Ramayana yang begitu apik, dengan beragam pengetahuan lokal tentang makanan, obat-obatan, tradisi, serta kekayaan alam Nusantara. Aurora di Langit Alengka adalah sebuah buku tebal yang sarat akan isi. Pembaca akan mencapatkan 3 hal sekaligus dengan membaca buku ini: penghiburan lewat kisahnya yang seru, pengetahuan tentang dunia wayang dan Ramayana, serta khazanah kekayaan lokal (terutama bangsa Jawa). Sebuah buku yang patut diapresiasi, tidak heran jika bahkan Dalang Ki Mantep Soedhaesono pun ikut memberikan dukungan bagi penulisan novel ini.

            Dari segi cerita, Aurora di Langit Alengka memadukan antara kisah fantasi dengan dunia perwayangan. Dikisahkan, empat orang sahabat (Bara, Radit, Laras, dan Mambang) yang masih remaja tanpa sengaja menemukan sebuah jalan rahasia untuk masuk ke dunia Ramayana saat mereka berlibur di rumah eyangnya di Klaten. Tahu-tahu, mereka muncul di bukaan pohon beringin yang ternyata ada di tengah alun-alun ibu kota Kosala. Bayangkan keterkejutan (sekaligus kegembiraan) mereka  karena kebetulan keempat anak muda ini juga sangat menggemari dunia wayang. Laras, satu-satunya cewek dalam kelompok itu, tentu saja merasa sangat senang karena ia akhirnya bisa menyaksikan langsung idolanya di dunia wayang, Dewi Sinta.

            Tak butuh lama, keempatnya kemudian berbaur ke kehidupan Alengka. Mereka tinggal bersama sebuah keluarga sederhana, menikmati keindahan dari masa-masa tempo dulu ketika teknologi belum ada: membajak sawah dengan kerbau, mandi di sungai, berburu di hutan sepertlunya, menyantap makanan yang sederhana namun nikmat, mengikuti upacara sesaji desa yang penuh kehangatan, dan puncaknnya, menghadiri acara pernikahan antara Rama dan Sinta. Bahkan, mereka bisa melihat para bidadari dari kayangan yang asli, serta para dewa-dewi, batara-batari penguasa alam. Puas dengan segala keajaiban itu, Laras yang begitu nge-fans dengan Sinta memutuskan untuk mengubah jalannya cerita Ramayana. Ia ingin menyelamatkan Sinta dari penculikan yang dilakukan Rahwana.
            Maka rencana disusunlah. Keempatnya kemudian masuk ke Hutan Dandaka, lokasi di mana Sinta akan  diculik oleh Rahwana. Selama di hutan, keempat anak muda itu telah belajar ilmu berburu kepada Suku Hutan jadi ketika akhirnya mereka bertemu dengan rombongan Rama, Laksmana, dan Sinta; keempatnya terbukti menjadi sahabat-sahabat yang senasib-sepenanggunggan, sama-sama berburu dan berjuang menghabiskan masa pembuangan di hutan. Cerita pun bergulir sebagaimana Ramayana dikisahkan. Salah satu antek Rahwana mencoba menarik Sinta dengan mengubah diri menjadi kijang kencana. Tapi, Laras yang sudah tahu hal ini memperingatkan Sinta. Rahwana gagal menculik Sinta, tapi sebagai akibatnya, Laras lah yang diculik dan dibawa ke negeri Alengka.  

            Entah bagaimana, kisah pun bergulir mengikuti pakem yang sudah ditetapkan dalam Ramayana, kecuali dalam hal ini yang diculik adalah Laras dan bukannya Sinta. Merasa berutang budi, Rama pun betekad membebaskan sahabatnya itu. Dikumpulkannya semua tokoh-tokoh yang ada du pewayangan untuk menggempur Alengka. Dan, perang besar pun menanti di depan. Sebuah perang epic tentang Ramayana yang luar biasa, penuh keajaiban dan juga darah, namun banyak mengajarkan tentang kesetiaan, nasionalisme, pengurbanan, jiwa ksatria, serta keberanian.

 Saya belajar banyak sekali tentang tokoh-tokoh Ramayana dari buku ini walaupun belum membaca versi yang asli. Siapa orang tua Sinta, tentang gugurnya Kumbakarna, tentang berbagai senjata milik pada tokoh pewayangan, tentang Jatayu, Hanoman, dan Sugriwa, mengapa Rama dan Sinta dibuang ke Dandaka, asal-usul Rahwana, juga tentang garis besar dari pertempuran dalam Ramayana yang sangat epic itu. Sebagai tambahan, penulis juga menyisipkan berbagai pengetahuan lokal (local genius) yang begitu berlimpah dalam buku ini. Tentang beragam jenis makanan dan obat-obatan, tentang kebiasaan dan kehidupan orang-orang zaman dulu, tentang adat-istiadat di negeri-negeri jauh, juga tentang sikap-sikap luhur yang dulu  pernah begitu dijunjung tinggi oleh para leluhur. Ini benar-benar sebuah buku fantasi karya anak negeri yang digarap dengan sangat kreatif dan berbobot.

Friday, October 12, 2012

Sweet Sins



Judul                 : Sweet Sins
Pengarang        : Rangga Wirianto Putra
Editor               : Ratna Mariastuti
Penerbit            : DIVA Press
Cetakan            : Oktober 2012

 

“Cinta itu adalah untuk diperjuangkan. Benar atau pun salah. Benar adalah bagi  mereka yang jatuh cinta. Salah? Itu cuma berlaku bagi mereka yang berpikiran heteronormatif. Love is about YOU and ME, not about THEM.” (hlm 183)

             
          Sebuah kisah jujur tentang mencintai, itulah Sweet Sins. Adalah Reino Regha Prawira, seorang mahasiswa sekaligus merangkap gigolo, dan Ardo Praditya, seorang eksekutif muda kenamaan dengan karir cemerlang. Keduanya sama-sama dipertemukan oleh ikatan takdir untuk saling bertemu, saling merawat, saling menguatkan, saling mencintai. Semua tentang pasangan ini seolah serbasempurna, Rei yang muda dan tampan dan atletis, serta Ardo yang cerdas, dewasa, pengertian, dan kekasih yang hebat. Hanya satu yang tidak sempurna—dan memang tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini—mereka adalah dua lelaki yang saling mencintai satu sama lain.

            “Karena setiap orang mempunyai alasan sendiri untuk jatuh cinta.” (hlm 240)

            Rei yang kehilangan sosok ayahnya merasa menemukan perlindungan emosional dari sosok Ardo, sementara Ardo dengan orientasi seksualnya yang agak berbeda juga menemukan keindahan dalam diri Rei. Begitu rupa tautan terlarang yang mempersatukan keduanya sehingga cinta sejenis itu bukannya penuh lubang tapi malah saling melengkapi dan menguatkan. Tanpa sadar, hubungan terlarang itulah yang menghebatkan keduanya. Berkat Ardo, Rei mulai meninggalkan dunia gelapnya sebagai gigolo yang setiap malam clubbing  dan berakhir di ranjang tante-tante girang. 
            
          Keduanya sama-sama bertumbuh dewasa dalam cinta itu. Sebagaimana sebuah ungkapan dalam buku ini, cinta itu mendewasakan, cinta itu menghebatkan. Dari Ardo, Rei belajar banyak hal tentang pelajaran kehidupan, tentang pekerjaan, tentang bersyukur, dan tentang cinta itu sendiri. Yang ada di antara Rei dan Ardo bukan semata cinta fisik, tapi keduanya adalah manifestasi cinta murni dalam bentuk yang agak “di luar kebiasaan”.

            “Love is about chemistry but sex is about physics. Love is nude but sex is naked. Love is erotic but sex is pornography.” (hlm 187)

            “Cinta itu diperjuangkan. Yang datang sendiri itu bukan cinta tapi nafsu.” (216)

Terlepas dari hubungan tidak biasa di antara kedua pria ini, Sweet Sins tidak terlalu menimbulkan rasa mual di perut sebagaimana pembacaan Lelaki Terindah. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan selain gambaran tentang hubungan fisik dan kasih sayang sesama pria. Sweets Sins mengajak kita untuk memandang orang-orang yang berbeda dengan sudut pandang berbeda. Untuk memandang dari banyak sisi, dan untuk belajar mensyukuri cinta, bagaimanapun cara cinta itu termanifestasi.

            Berterimakasihlah sesering mungkin. Bersyukur atas segala kelebihan, menerima kekurangan, mencari persamaan, dan menghormati perbedaan.” (hlm 156)

            “Jangan pernah mengingkari cinta karena cinta adalah salah satu dari rahmat Tuhan yang paling besar yang Dia turunkan ke dunia. Karena cintalah manusia ada sejak dahulu, sekarang, dan untuk masa yang akan  datang. (hlm 180)

Keindahan macam apa yang dipandang  Ardo dari sosok Rei, saya tidak bisa mengambarkannya. Saya malah terus merasa kalau Rei ini cewek dalm novel Mira W. Tapi. Sebagai mana kata Ardo, tidak semua keindahan itu tampak sama di mata orang. Jika pembaca bertanya keindahan macam apa yang membuat Ardo berani mengandeng tangan Rei di Telaga Sarangan, maka jawabannya mungkin: 

            Kadang, keindahan adalah bukan untuk dideskripsikan. Hanya untuk dinikmati.” (hlm 231)

            Dan, ketika cinta terlarang di antara keduanya makin kuat, datanglah masa-masa ujian cinta. Setelah mendapatkan, kita harus mempertahankan cinta itu. Masalahnya, cinta Rei dan Ardo sangatlah rumit. Cinta mereka sudah berbeda sejak awal, dan keduanya sama-sama menyadari bahwa cinta mereka tidaklah abadi, walaupun perasaan kasih di antara keduanya tak terhapuskan. Ardo diminta untuk menikah oleh orang tuanya. Sebuah permintaan terakhir seorang ayah  yang ingin melihat anaknya bahagia menjelang ajal, sebuah permintaan yang tak kuasa ditolak oleh Ardo. Kegalauan pun melanda. Rei tahu bahwa hubungan nya dengan Ardo tidak akan pernah mulus sejak awal. Terlalu banyak pandangan yang berbeda, norma yang melarang, serta batasan-batasan sosial serta alamiah yang menghalangi keduanya untuk bisa menjadi kekasih abadi. Rei pun sadar, ia harus rela melepaskan untuk mencintai.

            Mengambil tema yang agak mirip dengan Lelaki Terindah, novel Sweet Sins adalah sebuah kisah tentang pertemuan, perjuangan cinta, dan kemudian kerelaan untuk melepaskan. Namun, saya kurang menyukai ending Lelaki Terindah yang masih galau. Sweet Sins diakhiri dengan manis, dengan penutup yang indah layaknya opera aria yang dilantunkan dengan mempesona oleh sang diva. Dalam bab terakhir, berderet-deret makna dan petuah kehidupan yang dipaparkan dengan begitu lembutnya. Tentang kerelaan berkorban dan tentang melepaskan sebagai bentuk tertinggi dari mencintai. Memang, beberapa bagian dalam novel ini cukup erotis, cukup vulgar dalam menggambarkan adegan seksual antar sesama pria. Tapi, kevulgarannya merupakan cerminan dari kejujuran buku ini. Bahwa Sweet Sins bukan sekadar cerita yang terlihat pura-pura, jelas sekali tidak muncul kemunafikan dalam ceritanya. Rei dan Ardo memang saling  mencintai dan mereka melakukan hubungan yang terlarang, tetapi pada akhirnya, keduanya akan menemui ujung kehidupan cinta yang paling indah dengan sangat manisnya. 

            Siang dan malam, panas dan dingin, tambah dan kurang, hitam dan putih, materi dan non materi, fisik dan jiwa, yin dan yang, begitulah alam semesta ini bekerja. Semuanya saling berpasangan, saling melengkapi, saling menguatkan. Cinta itu, sekali lagi, memang menghebatkan.

Thursday, August 23, 2012

Neo Werewolf

Judul:Neo Werewolf
Pengarang: Ali Reza
Cetakan: Pertama, Juli 2012
Penerbit: Laksana (DIVA Presss)



Manusia serigala di Indonesia? Premis ceritanya sendiri sudah cukup menarik dan mengundang rasa penasaran. Bisakah makhluk-makhluk yang berjuluk “para putra rembulan” itu beraksi di negeri tropis seperti di Indonesia? Bagaimana cara menyatukan mitologi asli dari Eropa dan Amerika itu ke dalam setting nusantara yang notabene memiliki latar belakang budaya yang sangat berbeda? Lalu, bagaimana ceritanya manusia serigala yang buas itu bisa sampai di Indonesia? mari kita simak alurnya. Dikisahkan, Junaedi adalah seorang anak SMA yang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti semacam “beasiswa studi” untuk belajar selama 6 bulan di kota kecil Vowelsville, di Amerika Serikat. Di kota ini, ia tinggal bersama keluarga Smith yang sangat baik kepadanya, yang merawat dan menjaganya seperti anak mereka sendiri.

Sementara, di kota itu sendiri tengah santer beredar rumor tentang kembalinya si manusia serigala, yang berkeliaran membunuhi mangsa di malam hari. Ternyata, masa lalu kota Vowelsville sendiri memang kelam. Nama Vowelsville berasal dari anagram kata wolves ville atau desa serigala. Dulu, pernah terjadi peristiwa mengerikan sehubungan dengan pembunuhan yang dilakukan oleh seorang eh seekor manusia serigala terhadap seorang dokter muda yang brilian. Ternyata, dokter itu tengah berupaya menemukan serum untuk mengobati temannya yang terkena gigitan werewolf. Malang, serum itu gagal bekerja dan sang dokter pun tewas dicabik-cabik oleh temannya yang keburu berubah menjadi manusia sergala. Begitu mengerikannya kejadian itu sehingga penduduk kota Vowlesville tak akan pernah melupakannya.

Lima belas tahun berlalu. Malam itu, Jun sedang mengayuh sepedanya menuju ke toko Mr. Chua karena dimintai tolong oleh Mrs Smith  untuk membelikan bahlam lampu dapur yang putus. Tepat jam 12 malam ketika Jun menyadari bahwa malam itu adalah malam bulan purnama, malam ketika manusia serigala berubah wujud. Dikayuhnya sepeda dengan bergegas ketika di tengah jalan ia menyadari ada sesuatu yang aneh. Alam tampak sepi tak seperti biasanya, dan ada bayangan berkelebat di balik pepohonan pinggir jalan. Dan sedetik kemudian, bayangan hitam itu menyambar dadanya, membuatnya terjatuh tak sadarkan diri ke aspal dengan tubuh berlumuran darah. Ia telah dicakar dan digigit oleh seorang werewolf. Beruntung ada seorang polisi yang tengah berpatroli. Ia menembaki serigala jadi-jadian itu sebelum sempat memangsa Jun.

Segera, Jun dibawa ke rumah sakit. Lukanya sangat parah dan malam harinya Jun mengalami mimpi buruk yang berkaitan dengan  darah dan bulan pernama. Paginya, ia dinyatakan sebuh karena luka-luka di tubuhnya telah sembuh dan hilang sepenuhnya. Dokter menyebutnya keajaiban medis, tapi Mr Smith dan sejumlah tetua di kota Vowelsville tahu yang sebenarnya, Jun kini adalah seorang penjelma. Ia telah menjadi manusia serigala dan Jun tidak mengetahuinya.

 Beberapa minggu setelah kejadian itu, Jun menyelesaikan masa belajar di Vowelsville. Ia harus kembali ke Indonesia. Dengan terharu-biru, ia berpamitan dengan keluarga Smith dan warga kota yang telah sangat baik kepadanya. Setting kemudian berpindah ke Jakarta, tepatnya ke Bekasi di mana Emaknya sudah menanti. Jun pun kembali ke hari-hari biasanya sebagai anak SMA kebanyakan. Pulang-pergi naik angkot, meminjam buku ke perpus, sesekali  main ke mal, dan berjalan-jalan dengan temannya. Tapi, Jun yang sekarang berbeda dengan Jun yang dulu. Di samping lebih cerdas, lebih berpikiran terbuka,  dan juga lebih tajir (ia dibekali uang saku dalam jumlah yang sepertinya terlalu banyak oleh Mr. Smith), Jun yang sekarang jauh lebih kuat dan lebih buas. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa dalam dirinya kini bersemayam mahkluk buas yang siap menguasai dirinya saat purnama tiba.

Jun menganggap semua perubahan yang sebenarnya luar biasa itu sebagai hal yang biasa. Ia memang menjadi lebih kuat, lebih gesit, dan juga lebih pandai berkelahi. Namun, ia juga menyadari bahwa dirinya menjadi lebih gampang marah, cepat emosi, dan menimbulkan aura ketakutan pada sekitarnya. Semuanya mungkin akan tetap demikian hingga Mr. Smith dan beberapa temannya datang ke Jakarta. Peristiwa ini juga didahului oleh pembunuhan seorang profesor terkenal dari AS yg juga baru berkunjung ke Jakarta. Dia dibunuh dengan peluru perak. Sekarang, serigala yg dulu melukai Jun di Vowelsville datang ke Jakarta. Ia hendak  menantang Jun—yang saat itu belum sempurna tahapan perubahannya. Mampukah Jun melawan balik? Bagaimana dengan emak dan teman-temannya, apakah mereka juga akan menjadi korban dari manusia serigala jadi-jadian dari AS itu? Lalu, seandainya pun Jun selamat, bagaimana jika kelak ia berubah jadi werewolf dan melukai orang-orang dekatnya? Baca sendiri ya wkwkwk.

Novel kecil ini mirip dengan serial Teen wolf (yang kok ya nggak diputer di Indonesia ya?), tentang remaja yang jadi manusia serigala namun dia tidak jahat-jahat amat (ya iya donk kan tokoh protagonist). Novel ini alurnya sudah dapat, untuk karya sastra lokal novel ini terbilang cukup berani karena mengangkat mitos manusia serigala yang notabene asing di Indonesia. untungnya, si penulis cukup pandai berlogika  dengan mengubah settingnya ke sebuah kota kecil di Amerika Serikat, jadifeel­ werewolf  ala Baratnya dapat lah. Kekurangannya mungkin pada alur logika di belakang yang agak dipaksakan cepet rampung (walaupun bisa dinikmati lah) serta sejumlah bagian-bagian dalam cerita  yang tidak berkaitan dan seharusnya bisa dihilangkan. Tapi, secara overall, novel ini layak dikoleksi bagi para penggemar fiksi-dark-fantasi karya lokal.

Wednesday, June 20, 2012

Chiru’un, Disciples of Luan (Si gadis dari Suku Selatan)



Judul                      : Chiru’un, Disciples of Luan (Si gadis dari Suku Selatan)
Penulis                  : Tasfan
Editor                     : Ratna Mariastuti
Korektor                 : A.S. Sudjatna
Sampul                  : Moon Eclipse Studio
Cetakan                 : Pertama, Mei 2012
Penerbit                 : DIVA Press



                Sekitar tiga tahun yang lalu, dunia fiksi Indonesia sempat dihebohkan oleh novel Tanril, sebuah novel  semisilat-fantasi yang ditulis dengan sangat apik oleh Nafta Shintiel Meika. Tanril begitu memuaskan pembaca yang mengharapkan adanya gebrakan baru dalam dunia fiksi-fantasi lokal sehingga inilah satu di antara sedikit fiksi fantasi lokal yang mendapat bintang empat di Goodreads. Kalau saja bukan karena model lay out­-nya yang memusingkan mata karena setiap dialog dicetak miring semua, tentu banyak yang akan memberi nilai hampir sempurna. Untungnya, penulis tidak berlama-lama menghilang, ia muncul kembali dengan prekuel dari Tanril, yang mengisahkan apakah Luan itu (yang menjadi sesuatu yang begitu misterius di Tanril), apakah Dao Di itu, dan mengapa pergerakan takdir bisa sedemikian cepat di padang-padang rumput selatan dan Zirconia.

                Kisah diawali dengan munculnya Suku Selatan yang menguasai dunia bagian selatan dengan lima konfederasinya. Salah satunya adalah Konfederasi Bayu yang memiliki tugas melindungi sebuah suku suci penjaga rahasia suci alam semesta yang konon telah ada bahkan sebelum Dewa Maha Kuasa dan Maharaja Dunia Clem muncul. Rahasia itu bernama luan, dan inilah kisah tentang rahasia itu. Adalah Chiru’un, seorang gadis kecil bandel yang bersama delapan gadis lainnya dari Suku Selatan telah terpilih sebagai para pewaris luan yang selanjutnya. Mereka semua dikumpulkan oleh Sang Wanita Suci Penguasa Luan, Anbelle yang  bertugas menjaga cahaya pelangi suci, luan itu sendiri.

         Manusia hidup mengabdi pada kewajiban
         Karenanya hatinya sesungguhnya
         Lebih tinggi dari gunung
         Lebih dalam dari lautan
         Karena jiwanya sesungguhnya murni
         Hanya terlihat setelah tempaan dan beban
         Ia bisa mengatasi segalanya dan melepas segalanya
         Itulah inti dari jalan pelangi

                Sembilan anak suci itu kemudian dikumpulkan dan dididik di Balai  Bayourunaa, sebuah bangunan biara di tengah padang rumput tempat Anbelle, sang Tetua Tertinggi Penguasa tinggal. Di tempat inilah Chiru’un dan delapan gadis lainnya ditempa, baik fisik, pikiran, dan terutama hati mereka dalam jalan pelangi. Tidak ada asal-usul, atau karakter, atau perbedaan fisik atau apapun yang dipertahankan disini, mereka semua adalah sama, sesama saudari yang diikat oleh tali pelangi yang menyatukan mereka. Hari-hari dijalani dengan berlatih menyulam dan bersemadi, masuk ke alam pelangi itu sendiri. Dari yang semula hanya menjahit dengan benang biasa, akhirnya sembilan pewaris luan itu bisa mengeluarkan benang-benang cahaya sewarna pelangi dari jari mereka. Inilah wujud luan yang paling dasar.

                Segera saja, mereka larut dalam kegembiraan. Segera saja, mereka berlomba menghasilkan aneka bentuk benang-benang cahaya  yang mampu menipu mata dan bisa digunakan untuk melihat cahaya tak kasat mata. Saat itulah Chiruun mampu memahami potensi besar dalam diri, sebuah luapan energi besar yang harus disalurkan dan dijalankan dengan semestinya, yakni dengan belajar luan. Dan hari demi hari, tahun demi tahun, pelajaran dan didikan diberikan oleh Anbelle dengan segenap kesabaran dan pengetahuan dalam dirinya. Begitu rupa penulis menggambarkan masa delapan tahun pelajaran mereka, lengkap dengan karakterisasi yang sangat kuat dan jalinan cerita yang rumit hingga akhirnya datanglah masa-masa menjelang prahara. Kesembilan penerus luan harus bersiap. Di depan mereka, terbentang masa yang penuh marabahaya yang hanya bisa diatasi oleh jiwa yang pemberani dan memiliki bekal untuk menggunakan  pengetahuan luan. Lalu, bisakah Chiruun dan delapan kawannya lulus sebagai para penguasa luan?  Bagaimana nasib dunia dan suku selatan selanjutnya? Semuanya bergantung pada penguasaan dan pemahaman mereka akan luan itu.

                Chiru’un--dengan jumlah halaman yang lebih dari 500--kurang menampilkan episode-episode khas dari sebuah fiksi fantasi (yakni pengantar, pemicu, konflik, dan penyelesaian). Alurnya mungkin bisa dibilang datar dan agak membosankan karena hampir tidak ditemukan adegan tentang perang secara fisik. Penulis rupanya lebih menonjolkan pengembangan karakter serta konsep antropologis dari bangsa Suku Selatan dan bangsa-bangsa di sekitarnya. Lebih dari itu, penulis bahkan menciptakan bahasanya sendiri, sebagaimana Tolkien. Lebih hebatnya lagi, walaupun bahasa itu rekaan, tapi penulis menyusun kosakatanya secara konsisten, tidak asal comot atau merangkai huruf tak bermakna. Bahasa dalam Chiru’un  begitu metodologis, yang hampir-hampir membuat pembaca percaya bahwa bahasa itu ada. Novel ini juga secara mendetail membahas tentang aspek-aspek geografis dan terutama ciri-ciri fisik dan budaya dari bangsa-bangsa yang berdiam di dunia rekaannya. Sungguh, hampir-hampir novel ini bisa menjadi rujukan antropologis dari dunia fantasi yang diciptakan oleh sang penulis.

                Sebagaimana saya bilang di atas, alur Chiru’un begitu lambat dan hampir-hampir datar. Hal ini berbahaya karena dapat membuat pembaca bosan dan langsung melempar buku ini ke rak. Tapi anehnya, buku ini sama sekali tidak membosankan. Kepiawaian penulis dalam merangkai kata dan kalimat adalah sangat luar biasa, hampir-hampir membuai bak seorang tukang cerita yang kehadirannya sendiri sudah mempesona pembaca. Kita akan diajak ke dunia Luan, belajar tentang diri sendiri dan juga orang lain, serta karakter-karakter manusia pada umumnya. Aneka nasihat dan nilai kehidupan disampaikan dengan begitu bagusnya, dengan typo yang minim dan model penceritaan yang sangat rapi dan menyenangkan.

         Banyak orang di dunia ini mengalami penderitaan dan kesusahan. Tapi, di kelak hari, mereka melihat derita dan kesusahan itu sebagai kenangan indah.”  (hlm 169)


         “Apakah kalian memahami rahasia alam semesta ini: bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan di masa lalu atau masa depan, melainkan di masa kini.” (hlm 521)

                Begitu banyak pelajaran tentang kehidupan dalam novel ini, saya sendiri sampai terpaku melihat betapa piawainya penulis bertutur tanpa terkesan menggurui, betapa hal-hal besar itu dapat disampaikan melalui sebuah cerita fiksi-fantasi tanpa menghilangkan alur cerita ataupun mengubahnya menjadi sebuah buku motivasi populer. Dan, bagi pembaca yang telah terlebih dulu terpesona dengan Tanril,  maka Chiru’un akan membuat keterpesonaan itu kian lengkap. Akhirnya, apakah luan itu? Apakah yang dimaksud dengan jalan pelangi itu? Bacalah dan Anda akan paham bahwa dalam diri masing-masing insan selalu ada pelangi yang akan mengusir awan kelap dalam jiwa.

                “Luan adalah sinar pembimbing hidup kami. Jalan jiwa dan jantung hati kami. Anyaman kasih an harapan kami. Cahaya kami. Sekarang, dan selamanya.” (hlm 516)

                Selamat berpetualang dalam luan.