Search This Blog

Showing posts with label horor. Show all posts
Showing posts with label horor. Show all posts

Monday, May 14, 2018

Review and Pengumuman Pemenang Giveaway: Karung Nyawa


Judul: Karung Nyawa
Pengarang: Haditha
Penyunting: MB Winata
Sampul: Haditha
Cetakan: Pertama, Maret 2018
Penerbit: Bukune

 34665709

Kita tumbuh dewasa salah satunya bersama kisah horor. Dawet yang dibuat dari biji mata, menanam kepala manusia sebagai tumbal pembangunan jembatan, hingga pemulung yang suka menculik anak kecil dalam karungnya. Entah kisah-kisah itu terbukti benar atau tidak, sebagian besar dari kita pernah mendengar kisah-kisah horor yang kurang lebih mirip. Kisah-kisah itu mungkin diceritakan orang dewasa kepada anak-anak sebagai sarana untuk belajar waspada, juga untuk menyadarkan kita yang kecil dulu bahwa dunia ini tidak melulu berisi orang-orang baik semata. Bisa juga, kisah-kisah horor seperti ini terus diceritakan karena kecenderungan kita untuk tertarik sekaligus takut kepada hal-hal yang belum kita ketahui. Membaca Karung Nyawa mungkin menghasilkan dampak seperti itu. Buku ini mengajak pembaca bernostalgia kembali dengan kisah-kisah seram yang pernah mewarnai sudut kecil dari masa kecil kita dahulu.

Ide cerita utama Karung Nyawa adalah tentang pesugihan toklu (ketok gulu/potong leher) yang menumbalkan kepala manusia. Di Purwosari, salah satu wilayah urban di Bojonegoro, dulu sempat beredar kabar tentang seorang pemulung yang suka menculik anak-anak untuk  ditumbalkan. Si pemulung memanen korban dengan cara mengaitkan kait setajam arit ke leher korban. Seperti biasa, kisah ini sukses menakut-nakuti anak-anak yang suka lupa waktu kalau lagi main. Cerita lain dengan versi berbeda juga banyak dijumpai di wilayah pedesaan Jawa tahun 90-an awal. Tetapi ketika pada suatu siang Johan Omar yang berusia 12 tahun menemukan sesosok wanita tanpa kepala mengambang di sungai,orang-orang mulai bertanya apakah Toklu memang benar-benar nyata adanya? 

Tujuh tahun berlalu, peristiwa serupa terjadi. Warga Purwosari kembali gempar dengan penemuan sesosok mayat wanita tanpa kepala. Johan Omar yang masih trauma dengan peristiwa terdahulu memilih untuk menutup diri. Tapi, Jabil sahabatnya malah mengajaknya untuk menyelidiki peristiwa berdarah itu. Nalurinya sebagai detektif amatir bangkit, tetapi ia membutuhkan teman-teman yang lain untuk membentuk empat sekawannya  sendiri. Tentu saja Johan menolak, awalnya. Tetapi setelah tahu bahwa dalam kelompok itu ada Janet Masayu, pacarnya, dan Tarom Gawat yang punya kelebihan spiritual, Johan memutuskan untuk ikut bergabung. Satu hal yang tidak ia beritahukan kepada teman-temannya, tentang sosok hantu wanita tanpa kepala yang terus menampakkan diri kepadanya sejak peristiwa tragis tujuh tahun lalu.

Orang bijak bilang, tak ada obat untuk suatu ketakutan kecuali menghadapi ketakutan itu sendiri. Baik Johan Omar, Tarom Gawat, Janet Masayu, maupun Jabil ternyata memiliki ketakutan-ketakutannya sendiri yang mau tak mau harus mereka hadapi. Terbentuknya empat sekawan ini di satu sisi telah membantu mereka mengalahkan ketakutannya. Di sisi lain, keberanian atau mungkin kenekatan itu mungkin akan menjerumuskan mereka dalam marabahaya. Fokus penyelidikan mereka hanya untuk menyelidiki si Toklu. Benarkan pemulung berdarah itu memang benar-benar ada? Siapa dia sebenarnya dan apa tujuannya? Sementara itu, desa semakin gawat kondisinya dengan banyaknya orang yang mendadak kesurupan, kemunculan penampakan hantu berkapak yang mengganggu para peronda, hingga tumbuhnya pohon-pohon aneh di sekitar Purwosari. Terlarut dengan semangat penyelidikannya, empat anak muda itu malah luput menyadari sosok pembunuh itu ternyata lebih dekat dari yang mereka sangka. 

Mirip salah satu kisah Scooby Doo ya? Tapi ini beda. Lokalitasnya yang kental membuat buku ini juara. Haditha membawa persilangan segar antara horor lokal (yang diawali oleh Abdullah Harahap dan dirayakan ulang oleh Eka Kurniawan dan kawan-kawan) lewat Karung Nyawa ini. Mungkin, ini yang bikin saya merasakan aroma Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas saatmengawali membaca novel ini. Haditha mengatakan kalau naskah ini ditulis sebelum membaca novelnya Eka. Jadi, lebih adil kalau dibilang keduanya sama-sama terpengaruh oleh maestro Abdullah Harahap.  Satu hal  yang khas di buku yang mengingatkan saya pada karya Eka adalah nama-nama karakter di novel ini yang Indonesia-punya banget: nama depan yang dipadukan dengan nama julukan. Kemudian, dalam menarasikan cerita,  penulis berulang kali menyebut nama lengkap setiap tokohnya di buku ini (Yoga Keling, Hanoman Ganteng, Tarom Gawat). Ini mirip dengan teknik Eka dalam menulis beberapa karyanya.

Membandingkan Karung Nyawa dengan karya pertama Haditha yang saya baca, terlihat sekali betapa jauh perkembangan yang berhasil dicapainya. Novel ini adalah bukti fisik dari ratusan jam praktis menulis dengan rutinitas dan disiplin tinggi. Di awal-awal buku memang coraknya masih sibuk bernarasi, tetapi semakin memasuki semesta Purwosari, pembaca akan langsung terseret pada rasa penasaran. Cerdiknya si penulis, misteri utama digeber dari awal, lalu misteri-misteri lain mulai ditaburkan dengan porsi yang tidak berlebihan sepanjang cerita. Belum selesai kasus Toklu diselidiki, pembaca malah disuguhi Hantu Belangkon dan Hantu Berkapak. Ini adalah teknik cerdik untuk menjerat pembaca agar tetap membaca cerita sekaligus mendistraksi pembaca dari misteri yang sebenarnya. Kemudian di ending, pembaca akan disuguhi plottwist cerdas serta pertempuran penghabisan yang masih membuat saya tak percaya mengapa penulisnya memilih ending begitu.

Saya suka aroma horor lokal yang kental di buku ini. Beberapa di antaranya pernah saya dengar sehingga rasanya mudah saja ikut masuk di cerita. Saya juga suka dengan teknik bercerita horor ala kisah fantasi Haditha yang tidak melupakan elemen lokalitas Indonesia. Buku-buku seperti ini kembali mengingatkan saya akan horor kawasan pedesaan yang dulu sempat menjadi karakteristik karya-karya maestro horor Indonesia Abdullah Harahap. Juga teknik penamaan di Karung Nyawa yang nyaman sekali terdengar di telinga saya sebagai orang yang besar di desa. Satu yang kurang dari buku ini mungkin ending-nya yang masih kurang tuntas. Puas sih tapi kurang tuntas. Namun  begitu, bagi saya kenikmatan novel ini ada pada aroma horor yang terus menyapa di sepanjang cerita. Ketika Haditha mengisahkan kondisi malam hari di Purwosari yang lokal banget, cocok dengan malam hari di wilayah pedesaan di Jawa. Jadi, kebayang kan seremnya macam gimana? 

Sebagaimana gosip, cerita horor akan terasa semakin seram kalau dinikmati bersama-sama. Terima kasih sudah menyimak ulasan saya. Sebagai hadiah, Penerbit Bukune telah menyiapkan satu buku misterius GRATIS untuk salah satu pembaca yang beruntung. 



Selamat untuk Dedik Ariyanto (twitter @ardeto_khan) yang beruntung di kuis kali ini. Saya akan menghubungi kamu lewat media sosial, selamat ya. Terima kasih juga untuk teman-teman yang lain yang sudah ikutan.

Monday, October 2, 2017

Pengumuman Pemenang Blogtour dan Giveaway: Moonlight's Lullaby

Judul: Moonlight’s Lullaby
Pengarang: Khi-Khi Kiara
Penyunting: Diara Oso
Cetakan: Pertama, September 2017
Tebal: 232 hlm
Penerbit: Laksana



Kystaline Robyn Venushara Blackwood, kita panggil saja Alisha (kok bisa Alisha ya? Ternyata, asal usulnya begini: Ali dari ‘KystALIne’ dan sha dari ‘VenuSHAra’). Gadis kecil ini tinggal bersama ayahnya dan abangnya, Euro di Brooklyn, New York. Tidak ada yang beda dari gadis kecil. Kenyataannya, Alisha termasuk gadis yang beruntung karena memiliki ayah dan abang yang sangat mencintainya. Mereka juga termasuk keluarga menengah sehingga gadis kecil itu tidak pernah kekurangan secara materi. Alisha hanya kekurangan kasih sayang seorang ibu. Setiap kali ia menanyakan perihal ibunya kepada ayah dan abangnya, jawabannya selalu sama, bahwa wanita itu sudah pergi ke tempat yang jauh. Dari abangnya, dia mengetahui kalau kedua orang tua mereka telah bercerai. Walau kasih sayang dari ayah dan abangnya tak pernah surut, Alisha sesekali merindukan juga sosok seorang ibu yang menemani tidurnya, membacakan dongeng untuknya, bermain dengannya.  

Itu sebelum peristiwa kecelakaan itu. Dalam sebuah perjalanan ke Lousiana, mobil yang ditumpangi keluarga Blackwood mengalami kecelakaan karena tertabrak truk. Alisha yang duduk di kursi depan mengalami luka yang paling parah pada bagian kepalanya. Gadis itu harus menjalani rawat inap secara intensif selama satu bulan di rumah sakit sebelum akhirnya dokter mengizinkannya dirawat di rumah. Semenjak kejadian itu, Alisha sering mengalami serangan sakit kepala mendadak. Dokter mengatakan telah terjadi kerusakan pada otak si gadis kecil sehingga wajar jika sesekali muncul sakit kepala asalkan Alisha tidak berpikir yang berat-berat. Tetapi, selain sakit kepala, Alisha juga kerap dihantui dengan halusinasi. Dia bisa mendengarkan suara-suara musik seperti orang yang sedang bermain piano atau biola. Anehnya, hanya dia yang bisa mendengarkan suara-suara itu.

"Lagu itu terdengar dekat, tepat di sampingku, mampir sebentar lalu hilang. Sementara itu, kulihat tidak ada yang main piano. Tidak ada orang di ruang keluarga." (hlm. 48)

Ketika Alisha menanyakan itu kepada ayahnya, jawabannya tetap sama: Alisha sedang berhalusinasi. Tetapi bagaimana bisa halusisasi sejernih itu suaranya. Anehnya lagi, halusinasi itu semakin spesifik. Setiap jam 11 malam, Alisha mendengar nada ‘Fur Elisi’ tengah dimainkan di ruang keluarganya. Awalnya, Alisha mengira ayahnya yang bermain piano, tetapi ternyata bukan. Rasa penasaran akhirnya mendorong Alisha untuk mengecek sendiri ke ruang keluarga. Bukan sang ayah yang ia jumpai sedang bermain piano di sana, tetapi sesosok wanita berambut pirang dan bermata biru dengan kaki yang tak menapak tanah. Satu hal yang aneh dari sosok itu, dia hanya muncul saat bulan purnama atau saat sedang ada cahaya bulan. Sosok itu juga hangat dan dapat dipegang oelh Alisha. Siapa sebenarnya sosok itu? Baik atau jahatkah dia? Benarkah dia memang ingin bersahabat dengan Alisha ataukah itu sekadar kedok untuk mengelabuhi dan kemudian memangsa si gadis cilik?

"Tubuhnya mengurus, nyaris terlihat semua tulang-tulangnya, dengan gurat-gurat hitam yang menjalar dari tangan sampai ke kepala. Mulutnya menganga, melebar dari bawah. Darah keluar dari leher, mulut, hidung, dan mata." (hlm. 221)

Novel ini sebenarnya berpotensi seram, terlebih dengan dukungan ilustrasi creepy di halaman belakang. Tetapi, menjadi nanggung karena menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal dari seorang anak gadis berusia 8 - 9 tahun yang sering mengalami sakit kepala. Novel ini seperti kehilangan unsur detailnya. Ya, wajar sih anak kecil tidak bisa menggambarkan segala sesuatunya hingga detail. Termasuk yang kurang detail adalah penggambaran tentang hantunya yang kurang deskriptif di tengah. Penulis berulang kali menggambarkannya sebagai wanita pirang bermata biru (yang diulang-ulang entah berapa kali). Suasana saat sang hantu termanifestasi (kok macam Lockwood aja) juga kurang diekpos sehingga saya sebagai pembaca jadi kurang merasakan suasana horornya. Selain itu, setting tempat yang di Amerika Serikat juga kurang terasa di novel ini. jadi Alisha ini tinggal di Brooklyn tapi sepanjang buku ini saya tidak menemukan pemandangan pencakar langit atau kemacetan jalanan khas New York. Lagi-lagi, balik ke si pencerita yang masih kecil sehingga sedikit bisa dimaklumi--meskipun hal-hal semacam itu harusnya juga tidak luput dari pandangan mata seorang anak kecil. (less)




THE WINNER

Penasaran sama sosok serem itu, baca aja yok di novel Moonlight’s Lullaby ini. Lagi bokek? Duh masih tanggal muda masak sudah bokek saja. Baiklah, Penerbit DIVA Press memberi kesempatan buat teman-teman semua untuk mendapatkan 4 novel ini gratis sepanjang bulan Oktober 2017 ini. Salah satunya di blog Baca Biar Beken. Saya telah membaca semua jawaban masuk, dan langsung menyadari betapa ketakutan itu memang ada banyak. Masing-masing orang memiliki ketakutan masing-masing, begitu pula saya. Sebagai pecinta kucing, saya kaget ternyata ada orang yang takut juga sama kucing (tetapi ini bisa dimaklumi karena teman saya ada yang takut sama ayam) karena kalau dipikir-pikir, kucing kalau nyakar sakit juga sih.

Ketakutan-ketakutan lain juga pernah dan masih saya rasakan, misalnya saja takut bertemu orang baru, takut kehilangan orang terkasih, takut merasa sendirian, takut dituduh sebagai orang yang bersalah, juga takut kehilangan buku yang dipinjamkan tapi tidak dikembalikan. Saya juga seringkali masih takut sama jalan raya, rasanya kadang jalan raya itu tak ubahnya medan laga tempat semua ego saling bersalipan. Tetapi, masih ada satu ketakutan yang sampai sekarang sering menghampiri dan berusaha saya taklukan: menerima tanggung jawab. Sebagaimana Ikhwan Maulana, saya juga mendapatkan tanggung jawab baru akhir-akhir ini. Ketakutan bahwa saya tidak akan mampu mengemban tanggung jawab itu masih sering menghantui, tetapi akan terus saya lawan dengan pemikiran bahwa setiap orang memiliki tanggung jawabnya masing-masing.

Kita semua pernah, masih, dan akan memiliki ketakutan masing-masing. takut pada sesuatu bukan merupakan bentuk kelemahan, melainkan bahwa tanda bahwa kita manusia normal sebagaimana yang lainnya. Keberanian untuk menghadapinya, pada akhirnya itu semua akan menjadikan kita manusia-manusia luar biasa. Selamat kepada teman-teman semua yang telah berani ikutan kuis ini juga. Kalian huebat.


Friday, October 30, 2015

13: Kumpulan Cerpen Horor

Judul: 13, Kumpulan Cerpen Horor
Penulis: PAST! (Primadonna Angela & Shandy Tan)
Terbit: Juni 2015
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-602-03-1784-7
Halaman: 200 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama


25736886


Entah sejak kapan angka 13 identik dengan sesuatu yang jahat, menyeramkan, menakutkan, atau bikin sial. Mitos ini mungkin diperkuat oleh serial film Friday, 13th yang dulu semacam jadi tontonan wajib generasi 90-an. Kesuksesan film horor dari barat ini yang mungkin tertanam dalam benak banyak orang sehingga anggapan bahwa angka 13 sebagai angka sial semakin kuat mengakar. Dalam buku kumcer hasil kolaborasi dua penulis ternama ini, mitos angka 13 digali dengan leluasa, kemudian menjadi ide atau setting atau subjek atau bahkan mungkin penyebab beragam peristiwa menakutkan yang dalam buku ini cenderung tragis.

Monday, April 27, 2015

Gerbang Dialog Danur

Pengarang : Risa Saraswati
Penyunting :  Irsyad Zulfahmi
Sampul : Fariza Dzatalin Cetakan : Pertama, 2015
Tebal : 223 hlm
Penerbit : Bukune 

25191081 



“Kau tahu kan apa itu danur? Itu adalah air berbau busuk yang keluar dari mayat yang mulai membusuk.” (hlm 195)

                Apa yang membuat seorang Risa Saraswati berbeda dengan anak-anak SD seusianya? Dia sering bicara sendiri, berlarian ke sana kemari seraya tertawa, juga sendiri. Di kali lain, ketika jam menunjuk pukul satu malam, dia sering dijumpai tengah berbicara seorang diri di loteng rumah yang sepi. Apakah Risa benar-benar sendiri? Gerbang Dialog Danur adalah segala pengakuan Risa tentang dirinya yang tak pernah sendiri. Dia melihat apa yang tidak pernah kita lihat. Dia mendengar apa yang tidak bisa kita dengar. Dia berinteraksi dengan apa yang selama ini kita sebut sebagai hantu. Ya, Risa tidak pernah sendirian. Mereka selalu menemaninya, kadang membantunya, dan sering sekali menampakkan diri di hadapannya dengan wujud kematiannya.

Monday, March 23, 2015

Good Night, Zombie!

Judul     : Good Night, Zombie! (Scary Tales #3)
Pengarang : James Freller
Ilustrator : Iacopo Bruno
Penerjemah : Nuraini Matsura
Penyunting : Noor H Dee
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Penerbit: Noura Books



 19395738
        
                Dibandingkan dua seri sebelumnya, saya paling suka dengan seri ketiga ini. Tidak lain dan tidak bukan karena horor yang diangkat di buku ketiga ini adalah horor yang benar-benar horor menurut saya, yakni tentang mayat hidup alias zombie! Sosok-sosok tua berpakaian seperti orang masa lampau, kulitnya kisut, giginya hitam dan membusuk, dan paling mengerikan adalah matanya, bola mata yang terbalik dan kosong, tidak menunjukkan apapun selain awan putih menyeramkan di rongga mata. Saat membaca buku ini, pada waktu tengah malam, saya sibuk lirik kiri dan kanan sampai harus menyeret kucing saya masuk rumah hanya agar ada suara, ada yang bergerak di tengah keheningan malam. Bergerak dan hidup maksud saya.

                Ceritanya, ada tiga anak SD yang terperangkap di sekolah mereka pada Jumat malam. Mereka adalah Carter, Esme, dan Arnold. Ketiganya tidak saling mengenal, dan ketiganya terjebak di sekolah yang telanjur dikunci pada suatu petang di akhir pekan. Yang lebih aneh, pintu-pintu itu dikunci alias digembok dari dalam. Dalam artian, ada orang lain di dalam gedung sekolah sekalin ketiga anak itu. Lalu, mengapa pintunya digembok dari dalam? Seolah-olah, gembok itu sengaja dipasang untuk mencegah agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam gedung sekolah di saat malam.

                Lalu, apakah itu? Apa yang ada di luar gedung sekolah yang tidak seharusnya masuk ke dalam? Yang jelas, ketiga anak itu harus mencari jalan keluar. Tetapi, semua pintu dan jendela telah digembok rapat sehingga satu-satunya jalan keluar adalah mencari  petugas piket malam, Tuan Van Der Klemp yang sama misteriusnya. Pria tua yang kurus itu malah melarang ketiganya untuk keluar. Dialah yang mengunci dan mengembok semua pintu di keluar, agar mereka yang sudah mati tidak bisa masuk ke dalam. Dan, tahulah ketiga siswa itu bahwa mereka telah terperangkap di gedung sekolah bersama seorang penjaga malam yang aneh. Sementara di luar, di tengah keheningan malam dan kabut dingin yang turun, terdengar suara garukan kuku yang sudah patah, langkah-langkah sempoyongan, serta tubuh-tubuh membusuk para zombie yang mengitari halaman sekolah.

                Dibanding dua buku sebelumnya, Good Night Zombie ini  adalah yang paling seram menurut saya. Posisi ketiga anak yang terjebak di sekolah pada malam hari, tidak bisa keluar kecuali setelah fajar, dengan mayat-mayat hidup yang mengepung di luar, ini semua memunculkan semacam kesan terperangkap yang ngeri. Suatu kondisi ketika kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali tetap tenang, diam, dan menunggu sampai malam berlalu. Tapi, suara apakah itu? Kaca jendela yang pecah? Dan gedebuk langkah-langkah gontai yang berjalan di lorong sekolah, apakah zombie-zombie itu akhirnya masuk ke sekolah? Benar-benar mendebarkan membaca buku ini. 

I Scream, You Scream! (Scary Tales #2)



Judul     : I Scream, You Scream! (Scary Tales #2)
Pengarang : James Freller
Ilustrator : Iacopo Bruno
Penerjemah : Nuraini Matsura
Penyunting : Aan Wulandari Usman
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Penerbit: Noura Books
 
23441507



Tidak salah jika banyak pembaca yang menyebut seri #ScaryTales ini sebagai penerus Goosebums di era Millenium. Dari segi cerita, polanya hampir mirip—tokohnya anak-anak, memasuki wahana di taman hiburan yang misterius, dan kemudian dia mendapati kalau taman bermain itu bukan taman bermain biasa. Ide cerita seperti ini mungkin pernah kit abaca entah dimana, atau kita tonton dalam serial Goosebums dengan bintang-bintang yang masih jadul banget. Bedanya, seri Scary Tales ini sudah menyinggung tentang penggunaan internet dalam ceritanya. Internet, sesuatu yang telah begitu mengubah kehidupan generasi muda. Mereka yang baru lahir tahun 90-an mungkin belum bisa merasakan, tapi mereka yang lahir tahun 80-an hingga awal 90-an  pasti merasakan betapa berubahnya dunia mereka sekarang karena internet (maaf, malah melantur kemana-mana).

                Kembali ke buku ini, jika sudah membaca seri pertama, pasti langsung paham kalau setiap buku dalam seri ini berbeda-beda. Karakternya berbeda, dan anak-anak yang jadi karakter utama di dalamnya pun berbeda-beda. Jika di buku pertama Home Sweet Horor pembaca disuguhi rumah yang berhantu, maka di buku kedua ini temanya adalah Taman Hiburan Maut (biar ala-ala trio detektif hehehe). Ceritanya, seorang gadis kecil bernama Sam Carver—dia ini suka banget naik berbagai wahana permainan—mendapatkan tiket gratis untuk menaiki sebuah wahana bernama Taring Naga milik Dokter Z yang misterius.  Tapi, ada yang aneh, hanya Sam saja yang dipebolehkan menaiki wahana Taring Naga, sementara ayah dan ibunya harus menunggu di luar. Sam juga dilarang membawa telepon genggamnya (hal yang tidak bakal kita temukan di serial Goosebums) sehingga begitu masuk ke wahana, maka terputuslah dirinya sepenuhnya dengan orang tuanya.

                Awalnya, orang tua Sam tidak setuju. Tapi begitu melihat ada belasan anak lain yang juga ikut naik wahana bersama Sam, maka mereka mengizinkan Sam naik wahana Taring Naga, meskipun dengan perasaan yang berat hati dan entah bagaimana terasa janggal. Dan, Taring Naga pun dibuka. Seluruh peserta telah duduk di kursinya masing-masing. Roller coaster mulai meluncur, semakin lama semakin cepat, masuk lebih dalam, lebih gelap, lebih cepat. Sebelum tiba-tiba terdengar suara ledakan, dan permainan Taring Naga langsung berubah menjadi arena maut yang mengerikan. Sam, terjebak bersama salah satu anak, mencoba menyelamatkan diri. Tapi, teriak mereka kali ini bukanlah teriakan karena senang campur ngeri. Teriakan kali ini adalah teriakan minta tolong.

                Sound familiar? Ya, bagi yang pernah membaca seri Goosebumps pasti merasa seperti diajak bernostalgia. Tapi, ya, dibutuhkan lebih banyak buku horor untuk anak semacam ini karena kelak mereka juga akan mengenang masa kecilnya saat membaca seri Scary Tales sebagaimana kita yang juga terkenang dengan Goosebumps. Plus, ilustrasi seram di buku ini begitu unik, rasanya hitam tapi hitam yang indah. Nuasa gotik yang kental berpadu dengan lingkungan modern, menghasilkan ilustrasi hitam yang terang, mendetail, dan entah bagaimana spooky namun tetap nyeni.