Search This Blog

Showing posts with label detektif. Show all posts
Showing posts with label detektif. Show all posts

Tuesday, January 24, 2017

Kejeniusan Cinta Mr. X

Judul:  Kesetiaan Mr. X
Pengarang: Keigo Higashino
Penerjemah: Faira Ammadea
Editor: Dessy Harahap
Tebal: 320 hlm
Cetakan: 1, 2016
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

31142330

Cinta itu universal, dan setiap orang--juga setiap mahkluk--berhak memilih sendiri bagaimana mereka mencintai. Ada yang mencintai terang-terangan hingga si pujaan hati kadang malah jadi ilfil. Di lain pihak, ada juga yang mencintai diam-diam sampai yang dicintai tidak tahu kalau dia dicintai seseorang. Kasus yang kedua ini sepertinya lebih sering kita lihat dalam kehidupan. Tidak ada salahnya mencintai secara diam-diam. Tetapi bisa berbahaya ketika cinta itu sedemikian besarnya namun tetap dibiarkan tak terungkapkan. Hasilnya bisa jadi adalah kenekatan (atau mungkin keberanian) atas nama cinta seperti yang dialami oleh Ishigami. Si jenius matematika yang mengabdikan diri mengajar matematika di SMA ini jatuh cinta kepada wanita tetangganya, Yasuko--yang kebetulan adalah janda beranak satu.  Jatuh cintanya luar biasa dahsyat, hingga logika yang selama ini jadi pegangannya langsung menguap entah ke mana.

"Mana yang paling sulit: menciptakan soal yang sulit atau memecahkannya? Hanya ada satu jawaban pasti."

Tuesday, March 15, 2016

Sherlock Holmes, The Sign of Four

Judul: Sherlock Holmes, The Sign of Four
Pengarang: Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah: Sendra B. Tanuwidjaja
Cetakan: 3, Januari 2006
Tebal: 213 hlm
Penerbit: Gramedia

(sudutbukuhani.blogspot.com)

                Saat membaca Empat Pemburu Harta, entah kenapa saya tidak mendapatkan efek wow seperti saat saya selesai membaca seri-seri Sherlock Holmes yang lainnya. Mungkin karena kebiasaan madat Holmes yang langsung menerjang pembaca di awal (dan di akhir cerita) atau karena pemecahan kasus ini yang sepertinya sangat minim twits, tidak seperti kisah-kisahnya yang lain. Saya tidak menemukan momen manggut-manggut saat Holmes menjelaskan dugaannya. Sebagai tambahan, setelah pelaku tertangkap, harta karunnya ternyata … ah sudahlah daripada spoiler. Kalau boleh bilang, seri ini secara cerita dan puntiran cerita kurang kece dibanding The Hound of Baskerville atau A Study in Scarlet, misalnya.

Monday, March 14, 2016

Miss Marple's Final Case

Judul: Miss Marple's Final Case
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah: 
Tebal: 172 hlm
Cetakan: 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

(books-parade4indah.blogspot.com)



Sebagai pembaca awal karya-karya Agatha Christie (baru tahun 2003 saya berkenalan dengan penulis ini lewat Iklan Pembunuhan), saya sering merasa kasihan sama Miss Marple yang seolah redup di bawah kebesaran Hercule Poirot. Kecenderungan para pembaca awal karya Agatha Christie adalah ingin membaca karya-karya yang ada Poirotnya karena konon kata teman-temannya yang sudah baca duluan, Poirot ini keren. Akibatnya, Miss Marple yang sebenarnya asyik ini jadi tersisihkan. Padahal, bersama di pasangan TT, ketiganya adalah tokoh-tokoh rekaan Tante Agatha yang asyik dengan ciri khasnya masing-masing. Saya tahu, luar biasa susah untuk menolak pesona Hercule Poirot dengan kumis kebanggaannya itu. Bandingkan juga seri Poirot yang mencapai 45 buku dengan seri Miss Marple yang hanya 16 buku saja. Tentu saja, penggemar Poirot lebih banyak. Ah, kalau saja mereka tahu pesona Miss Marple yang rumpik habis itu!

Tidak bisa dipungkiri, kesan pertama memang turut mempengaruhi penilaian saya. Saya lebih dulu bertualang bersama Sherlock Holmes ketimbang Hercule Poirot, sehingga tetap Sherlock-lah yang paling hebat di antara keduanya (menurut saya). Begitu pula, saya lebih dahulu bertemu Miss Marple sebelum kemudian disadarkan oleh teman saya tentang kehebatan Hercule Poirot. Dalam banyak hal, Poirot memang lebih mampu memenuhi ekspektasi kebanyakan pembaca yang merindukan sosok senyentrik dan tidak kalah dari Sherlock Holmes (banyak kritikus yang menduga, Tante Agatha mencipta tokoh Hercule Poirot untuk menandingi Sherlock Holmes). Sosoknya yang berwibawa memang jauh kalau dibandingkan dengan Miss Marple yang sudah nenek-nenek, suka rumpik pula wkwkwk. Tapi, justru dalam ke-rumpi-annya inilah, pesona Miss Marple berada. 

Thursday, January 21, 2016

Kasus-Kasus Perdana Poirot



Judul: Kasus-Kasus Perdana Poirot
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah: Lany Wasono
Cetakan: 6, Agustus 2007
Penerbit: Gramedia

(gambar: bacaanbzee.files.wordpress.com)


Hercule Poirot, detektif terhebat di abad kedua puluh dalam kisah rekaan Tante Agatha Christie, memiliki basis penggemar fanatic yang mungkin kadarnya bisa ditandingkan dengan penggemar Sherlock Holmes. Kalau saja belum ada Ben Cum yang memerankan Sherlock, kayaknya dua kelompok bias eh penggemar ini bisa saling gontok-gontokan demi mengangkat idola masing-masing. Saya terlebih dulu mengenal Holmes ketimbang Poirot, sehingga inilah yang menjadikan saya lebih ke Sherlockian ketimbang Poirotisme (halah), sementara teman saya yang lebih dulu membaca Poirot ketimbang Sherlock juga begitu memuja detektif karya Tante Agatha. Apakah perjumpaan pertama mempengaruhi kecenderungan ini? Dalam artian mereka yang lebih suka Sherlock menyukainya karena mereka terlebih dulu membaca karya Sir Athur Conan Doyle ini ketimbang membaca Agatha Christie? Entahlah.

Tuesday, September 29, 2015

Murder on the Orient Express


Judul: Murder on the Orient Express
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah: Gianny Buditjahja
Cetakan: 2007
Tebal: 360 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



                 Saya membaca novel detektif-pembunuhan, saya selalu merasa kalau si penulislah sang penjahat utama yang sesungguhnya. Bila dipikir-pikir, penulis adalah si pembunuh yang kemudian menutupi jejaknya dengan menghadirkan banyak karakter serta peristiwa (kadang sampai mundur dulu ke masa lalu) sehingga pembaca gagal fokus untuk ujung-ujungnya dikagetkan dengan siapa si pelaku sesungguhnya, yang biasanya membuat pembaca kaget dan nggak menyangka! Sialan, gue nggak nyangka *sambil membanting bukunya ke kasur (sayang aja sih kalau rusak bukunya, kan bisa dijual lagi #eh hahaha nggak ding. Ini buku spesial jadi rugi banget kalau sampai dijual lagi.)

Thursday, April 23, 2015

Konstantinopel



Judul: Konstantinopel
Pengarang : @sughabuzz
Penyunting: Ambra
Cetakan: 1, April 2015
Tebal: 272 hlm
Sampul: Aan
Penerbit: DIVA Press
ISBN: 9786022960881

25405106

Saya tidak menyangka kalau akhirnya saya sangat menikmati membaca Konstantinopel. Buku thriller lokal ini tidak kalah dengan buku sejenis yang hasil terjemahan. Settingnya yang di Indonesia tidak lantas membuat buku ini jadi konyol atau terkesan meniru. Tidak, buku ini seperti punya jiwanya sendiri, sesuatu yang membuat saya hanyut dalam lembar-lembar di dalamnya. Ikut deg-degan menebak siapa korban berikutnya. Geregetan melihat ulah si pembunuh. Ikut asyik menebak siapakah sebenarnya sang pembunuh. Ketika tanpa sadar halaman terakhir sudah di depan mata, barulah saya berharap seandainya saja buku ini lebih tebal sehingga bisa terus menemani aksi Putra Bimasakti dalam mengungkap kejahatan.

Monday, December 30, 2013

Gadis Ketiga

Judul : Gadis Ketiga
Pengarang : Agatha Christie
Penerjemah : (maaf lupa ngak dicatat hiks)
Tebal : 351 halaman
Cetakan : 16, 2009
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

http://gramediapustakautama.com/uploads/dirimg_buku/re_buku_picture_77815.jpg

                Sepanjang karir kepenulisannya, Agatha Christie telah menghasilkan lebih dari 70 karya cerita detektif yang telah memukau dunia. Dari sebagiannya, ada beberapa karya yang begitu tak tertebak, membuat pembaca menepuk jidat sambil berkata “Ah, kenapa nggak kepikiran ya kalau pelakunya dia?”  (dalam Buku Catatan Josephine, misalnya). Beberapa karya yang lain membuat deg-degan pembaca, membuat pembaca menebak dan menerka kira-kira akan dibawa kemana ceritanya (seperti dalam 10 Anak Negro), sementara ada kalanya Tante Agatha membuat pembaca bercucuran air mata saat membaca Tirai. Karya-karya beliau begitu luar biasa dan menetap di hati pembaca, menjadikannya layak menyandang gelar Ratu Cerita Detektif Se-Dunia.

                Gadis Ketiga diawali dengan kedatangan seorang gadis muda ke kantor Poirot. Kepada detektif tua itu, ia mengaku telah membunuh seseorang. Ketika Poirot menanyanya lebih jauh, gadis itu menjawab bahwa ia merasa telah membunuh tapi ia tidak tahu kapan dan bagaimana dan siapa yang ia bunuh. Poirot pun memutar otak, instingnya mengatakan memang telah terjadi pembunuhan tetapi  ia tidak menemukan satupun mayat. Kasus ini ditambah seru dengan kehadiran Nyonya Ariadne Oliver, seorang penulis cerita detektif, yang ikut-ikutan  penasaran dan nekat menyelidiki kasus ini.

                Dari penelusuran mandiri, diketahui kalau si gadis tinggal satu flat (satu petak) bersama dua gadis lain. Gadis itu memutuskan pindah dari rumah ayahnya, yang kini punya istri baru (ibu tirinya). Wajarlah jika seorang gadis membenci ibu tirinya, tapi si gadis merasa bahwa kebenciannya tidak sebegitu besarnya sehingga membuatnya hendak meracuni si ibu tiri. Si ibu tiri terus menerus sakit (walau dia akhirnya selamat), ditemukan racun sianida dalam dosis kecil dalam makanannya.

               Seluruh mata seolah menuduh sang gadis sebagai si tersangka, dan si gadis pun merasa bahwa dirinya memang telah berbuat seperti itu. Kasus yang sepertinya sederhana ini ternyata janggal di mata Poirot. Melalui pikiran dan pengamatan serta antisipasinya yang tajam, Poirot tahu bahwa ada yang salah, bahwa orang yang benar malah tengah terancam bahaya. Kasusnya makin pelik ketika nyonya Ariadne Oliver yang ceroboh ikut melakukan penyelidikan sendiri. Sekarang, bukan hanya satu orang yang terancam bahaya, penulis tua itu juga tengah diincar. Mampukah Poirot bertindak tepat pada waktunya sebelum jatuh korban yang kedua?

                Lepas dari keistimewaan beliau, Tante Agatha juga hanyalah seorang manusia yang kadang mengalami pasang-surut dalam berkarya. Jika sebagian buku-bukunya begitu hebat dan luar biasa, ada beberapa (sedikit sih) yang bisa dibilang biasa-biasa saja. Meskipun yang biasa-biasa dari beliau adalah luar biasa bagi kita. Tidak semua karyanya terasa “menyenangkan” pembaca, ada beberapa yang bisa dibilang standar-standar saja, entah karena alasan apa. Dan, salah satunya (menurut saya) adalah Gadis Ketiga.

                Ada beberapa poin yang membuat Gadis Ketiga terasa aman-aman saja alias standar-standar saja meskipun dalam karya ini Tante Agatha tetap mempertunjukkan kepiawaiannya dalam mengamati dan mengolah karakter. Salah satunya adalah alur cerita yang terlalu panjang sementara endingnya bisa dibilang “hanya begitu doang!” Setelah beratus-ratus halaman  kita disuguhi sepak terjang Poirot dan Nyonya Oliver, lalu tahu kalau endingnya hanya  begitu saja, rasanya kok kurang puas ya. Walau jujur, saya juga gagal menebak kalau pelakunya si itu dan si anu (hihhihihi spoiler). Tapi, tetap saja sulit untuk melepaskan buku ini kalau belum ketahuan siapa pelakunya (atau dalam kasus ini, benang merah kasusnya).


Friday, September 13, 2013

And Then There Were None (Sepuluh Anak Negro)

Judul: And Then There Were None
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah:Mareta
Sampul: Satya Hadi Utama
Cetakan: 9, 2011
Halaman: 291 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

               
                Dari sekian banyak novel misteri pembunuhan karya maestro fiksi detektif Agatha Christie, And Then There None adalah salah satu yang paling tidak biasa sekaligus banyak disukai pembaca. Dengan label “Cerita detektif tanpa detektif”, buku ini tetap memukau dengan caranya sendiri, tetap membuat pembaca terhenyak di akhir cerita dan kemudian bertepuk tangan akan kepiawaian penulis dalam “menyesatkan” pembaca. Bagi saya, novel ini adalah salah satu novel Agatha Christie yang paling cepat saya baca karena saking serunya dan karena penasaran mengetahui siapa pembunuhnya. Efek membaca Lalu Semuanya lenyap ini sama dahsyatnya dengan ketika saya membaca Buku Catatan Josephine.

                Dalam Lalu Semuanya Lenyap, pembaca akan diajak rehat sebentar dari keseharian Miss Marple dan kecerdasan Hercule Poirot. Tidak ada yang menyangsikan kecerdasan keduanya dalam menguak kasus, tapi selingan ini juga cerdas dalam cara yang berbeda. Tidak ada detektif dalam novel ini. Tidak ada penyelidikan di dalamnya. Yang ada hanyalah teror, rasa penasaran, penjabaran dari jenis-jenis emosi dasar manusia ketika mereka tengah terancam dan saling mencurigai.

                10 orang yang tidak saling mengenal diundang ke sebuah rumah mewah yang ada di Pulau Negro, di seberang pantai Devon. Tidak ada yang mengenal siapa sang pengundang, yang jelas 10 orang itu hanya tinggal berangkat dan menikmati waktu mereka di pulau itu. Maka, satu per satu tamu berdatangan ke pulau terisolir itu dan pada hari yang telah ditentukan, genap berkumpul 10 orang tamu undangan (8 tamu dan 2 orang yang ditugasi sebagai pelayan) di pulau Negro. Acara yang semula penuh dengan ekspektasi kegembiraan berubah menjadi horor ketika sebuah kaset rekaman diperdengarkan, isinya mengancam akan ada balasan bagi 10 orang bersalah yang ada di pulau itu. Tidak lama setelahnya, korban pertama jatuh. Pemuda gagah itu tiba-tiba memekik dan jatuh mati begitu saja begitu menyesap minumannya setelah makan malam. Beberapa jam berikutnya, korban kedua jatuh di kamarnya sendiri. Dua dari  sepuluh, masih tersisa delapan.

                Dicekam ketakutan dan teror, 8 orang yang masih selamat menemukan bahwa masing-masing mereka akan menjadi korban berikutnya. Polanya mengikuti sebuah sajak berjudul 10 anak negro yang menghilang satu demi satu. Ada seorang pembunuh cerdas di rumah itu, menanti para korbannya lemah sementara mereka tidak bisa keluar atau melarikan diri dari pulau itu. Dan, sang pembunuh tidak membunuh secara acak, namun mengikuti pola yang ada dalam nyanyian sajak sepuluh anak negro. Dan akhirnya, satu per satu korban berjatuhan. Dan, ketidakadilan pun terbalaskan. Apa dan mengapa serangkaian pembunuhan itu dilakukan? Siapa sebenarnya si pembunuh misterius? Dan bagaimana ia membunuh satu per satu korbannya? Tante Agatha memang jagonya bikin pembaca penasaran. Sebuah buku yang wajib dibaca bagi penggemar cerita misteri.

                Seorang teman memberi tahu saya bahwa And There Were None pernah difilmkan, katanya sih settingnya di Indonesia. Yang lebih unik lagi, sajak 10 Anak Negro diterjemahkan dalam lirik lagi di bahasa Indonesia yang sudah kita kenal. Sayang dia lupa menyebutkan dimana ia mendapatkan film itu. Tentunya akan sangat asyik melihat bagaimana sajak itu diterjemahkan. Saya akan mencoba menerjemahkan dan menyadurnya di sini. Iseng amat ya hagagaga

            Tek kotek-kotek-kotek, Anak ayam  turun sepuluh
            Mati satu tersedak minuman, anak ayam tinggal sembilan.
            Mati satu ketiduran, anak ayam tinggal delapan
Mati satu dan tidak pulang, anak ayam tinggal bertujuh
Mati satu terkena potongan, anak ayam tinggal berenam
Mati satu kena sengatan, anak ayam tinggal berlima
Mati satu di depan pengadilan, anak ayam tinggal berempat
Mati satu karena tenggelam, anak ayam tinggal bertiga
Mati satu dimakan beruang, anak ayam tinggal berdua
Mati satu kepanasan, anak ayam tinggal satu-satunya.
Mati satu sendirian, anak ayam habislah sudah. 

Tuesday, September 10, 2013

Tangan Kelima, I Mobil, 4 Nama, 5 Misteri



Judul     : Tangan Kelima, I Mobil, 4 Nama, 5 Misteri
Pengarang          : Christian Armanto
Penyunting        : Muthia Esfand
Sampul                 : Nuruli Khotimah
Cetakan               : 1, Mei 2013
Halaman              : 366 hlm
Penerbit              : Visi Media


                Kadang, sebuah misteri seru dan petualangan arkeologis ala Indiana Jones tidak melulu harus menyusur gua dan menembus hutan. Petualangan mencari harta karun peninggalan leluhur bisa juga terjadi di kota metropolitan seperti Jakarta, dengan kejutan serta misteri yang tidak kalah menegangkan. Begitulah yang dialami oleh Rantau, seorang mahasiswa arkeologis yang insting eksplorasinya langsung terpancing ketika pada suatu sore ia menemukan sebuah mobil antik Mercedez Benz SL klasik warna merah di garasi rumah ayahnya yang telah meninggal beberapa bulan yang lalu. Untuk ukuran tahun 2000-an, mobil ini termasuk langka dan harganya sangat mahal. Lebih mengherankan lagi, Rantau menemukan surat BPKB masih tergeletak begitu saja di dalam mobil. Seingatnya, sang ayah bukanlah penyuka mobil antik. Lalu, milik siapakah mobil mahal itu?

                Sesuai dengan namanya, Rantau pun seolah ditakdirkan untuk merantau menelusuri 4 nama pemilik sebelumnya yang tertera dalam BPKB yang sudah beberapa kali dibalik namanya. Ia harus menemukan siapa sebenarnya pemilik mobil itu, sang tangan kelima. Satu per satu ia datangi orang-orang yang ada dalam surat itu. Penelusurannya membawa pada seorang gadis cantik keturunan Indo bernama Anna yang mengaku sebagai adik dari Leo, sang pemilik ketiga. Bersama-sama, keduanya kemudian larut dalam upaya menelusuri dan mencari siapa saja pemilik mobil klasik itu sebelumnya.

                Dan, dimulailah pencarian itu. Berbagai orang mereka datangi, berbagai peristiwa mereka selidiki. Dan, memang terbukti bahwa itu bukanlah mobil biasa. Belum sempat mereka menemukan tangan kedua, ada pihak-pihak yang sepertinya tidak suka dengan upaya pencarian mereka. Beberapa kali Rantau melihat orang tidak dikenal menyelinap mendekati mobilnya. Beberapa kali pula banyak orang yang ngotot ingin menawar mobil itu, berapapun harganya. Masalah semakin pelik karena mobil itu entah bagaimana memiliki kaitan dengan peristiwa September tahun 1965. Tanpa disadari, banyak tangan yang rupanya bermain terhadap mobil ini. Rantau harus mempertaruhkan jiwa arkelogisnya untuk menguak kebenaran. Ia harus mencari tahu siapa pemilik yang berhak dari mobil ini, meskipun dengan demikian ia harus mempertaruhkan keselamatan diri, keselamatan Anna, dan juga sahabat terbaiknya.

                Membaca Tangan Kelima adalah sebuah penghiburan terhadap kurangnya novel detektif di Indonesia akhir-akhir ini. Membandingkan Tangan Kelima dengan karya-karya Dan Brown mungkin terlalu berlebihan. Namun, novel ini merupakan awal yang baik bagi bangkit dan majunya lagi genre novel misteri dan detektif di Indonesia. Novel ini memiliki alur dan twist yang bisa dibilang ringan dan menyenangkan, namun unsur kejutannya memang tidak seseru yang dibayangkan meskipun cukup membuat penasaran. Embel-embel kata “Kelima” pada judulnya serta potongan gambar demo mahasiswa tahun 1965 di sampul depan cukup menjadi penarik perhatian, membuat pembaca berharap akan membaca karya sekelas Negara Kelima­-nya ES Ito. Sayangnya, novel ini tidaklah seberat Negara Kelima. Kalau saja pembaca mau lebih teliti membaca judulnya, pasti ketebak buku ini bercerita tentang apa. Satu lagi yang kurang mengena, gaya menulis yang digunakan dalam Tangan Kelima terlalu agak “berbunga-bunga dan nyastra, sepertinya kurang cocok digunakan untuk genre novel ini sehingga efek tegangnya malah berkurang. Namun, secara cerita bisa dibilang Tangan Kelima terbilang cukup memuaskan pembaca. Semoga, karya ini turut mengilhami terbitnya novel-novel bergenre misteri dan penyelidikan di tanah air.

NB: Jangan membaca lipatan bergambar amplop di sampul belakang buku ini sebelum Anda selesai membacanya. Jawaban tentang siapa Tangan Kelima pemilik mobil itu ada di sana. Jangan bilang saya belum memperingatkan Anda!