Search This Blog

Showing posts with label Humor. Show all posts
Showing posts with label Humor. Show all posts

Monday, March 12, 2018

Catatan Menantu Sinting, Curhat Kocak seorang Menantu Batak

Judul: Catatan Harian Menantu Sinting
Pengarang: Rosi L. Simamora
Tebal: 232 hlm
Cetakan: 1, januari 2018
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



Dari ulasan yg bersliweran di media sosial, saya menangkap buku ini bakal kayak MSB series. Tinggal ganti saja karakter Pak Bos yang jahara adalah emak mertua yang bikin darah tinggi. Satu dua bab pertama memang mirip. Tapi,mulai bab2 selanjutnya saya menemukan ada yg beda dari buku ini. Buku ini ternyata lumayan vulgar saudara-saudari. Vulgar bagian apa? Bagian ranjang tentunya. Namanya juga pengantin baru, urusan ranjang mah sah sah saja. Tapi bagi pembaca yang dr beragam kalangan bisa jadi bakal 3 efek yg timbul saat baca novel ini: (1) maklum sambil senyum senyum, (2) eneg, atau (3) pengen. Saya masuk yg nomor 3 #okesip eh okeskip.Hampir setiap bab ada yang nyengol soal ranjang. Nggak apa2 sih cm kayak gimana gitu. Untungnya, masih banyak cerita lain yang dipaparkan.

Friday, November 3, 2017

Sunan Ngeloco: Diari Rahasia ABG Cowok

Judul: Sunan Ngeloco
Pengarang: Edi AH Iyubenu
Cetakan: Pertama, November 2017
Tebal: 175 hlm
Sampul: Suku Tangan
Penerbit: Basabasi


36506931



Membaca Pelisaurus sepertinya kurang lengkap jika tidak sekalian membaca Sunan Ngeloco. Bisa dibilang, dua buku ini ibarat dua cerita yang saling melengkapi, sebagaimana Trijoko yang tak lengkap tanpa Sundari serta kamu yang tak lengkap tanpa timbunan buku yang belum terbaca. Dari segi judul, dua buku ini lumayan sama-sama seru eh saru karena mengandung dua kata yang intim dengan para laki-laki. Terutama untuk para pembaca yang besar di Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur) atau setidaknya memahami bahasa Jawa, dua buku ini akan mampu memunculkan gelak tawa serta sindiran yang lebih heboh  dan menggena ketimbang bila dibaca oleh pembaca dari luar suku Jawa. Banyak sindirian, istilah slang, dan terutama pisuhan (umpatan) yang Jogja-Solo banget di dua buku ini. Lucunya sangat kontekstual alias sangat tergantung pada situasi dan kondisi ketika cerita itu berlangsung, begitu kalau kata orang pinteran. Walaupun begitu, mereka yang pernah kuliah atau sekolah di Jogja-Solo sedikit banyak pasti juga akan turut mesem-mesem. Jadi, sebagai peringatan pertama, lucunya buku ini lumayan Jawa banget jadi buat pembaca non-Jawa, setidaknya bisa konsultasi ke temennya yang Jawa atau pernah di Jawa.

Thursday, September 14, 2017

Bajak Laut & Purnama Terakhir: Sebuah Komedi Sejarah?

Judul: Bajak Laut dan Purnama Terakhir
Pengarang: Aditya Mulya
Tebal: 340 hlm
Cetakan: Kedua, 2016
Penerbit: Gagas Media 



Saya selalu suka membaca buku sejarah, apalagi jika ada novel yang mengunakan satu babakan peristiwa dalam sejarah tempo dulu di nusantara sebagai setting waktunya. Salah satunya yang paling baru adalah Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi yang walau linimasa sejarahnya agak campur baur, tapi entah bagaimana kok tetap asyik diikuti. Novel Bajak Laut dan Purnama Terakhir ini juga menggunakan latar sejarah sebagai settingnya, yakni sekitar abad 17 atau 18 masehi. Kala itu, lautan nusantara memang masih dikuasai oleh para bajak laut yang berbasis di pulau yang kini bernama Singapura. Mereka ini menjadi duri dalam daging bagi pemerintah VOC karena sering merompak kapal dagang perusahaan. Nah, salah satu diantara bajak laut yang bersliwearn di nusantara kala itu adalah kelompok Kerapu Merah. Namanya memang lebih mengingatkan kita pada nama  rumah makan seafood, dan ternyata pemimpin gerombolan ini memang sama manjurnya dengan hidangan laut: sama-sama bikin darah tinggi wkwkwk.

Kerapu Merah dipimpin oleh Jaka Kelana, seorang pemuda berusia 30 tahunan yang lebih sering memuji dirinya sendiri ketimbang merompak kapal dagang. Menurutnya, dia adalah seorang visioner dengan pemikiran yang melampui zamannya (misalnya saja, dia sudah tahu kue cucur padahal di abadke-17, kue ini belum ditemukan). Sementara anak buahnya berpendapat kalau pimpinannya adalah orang yang paling tepat untuk diabaikan saja. Loh, ini buku sejarah apa buku humor? Saya sebenarnya bingung mengelompokkan novel ini sebagai jenis ini. Soalnya, sejarahnya ada (walau ada banyak bagian yang direka-reka sendiri oleh penulisnya), ada naganya juga (yes, you heard me right, there is a dragon in thisss book. Imagine!), dan humor yang menjurus ke pisuh memisuh juga banyak.  Campur aduk gini malah jatuhnya bikin salah fokus. Awalnya, pembaca diajak mundur ratusan tahun lampau ke nusantara yang masih dikuasai VOC, lalu tiba-tiba ada perompak koplak yang minta ditimpuk. Saya memutuskan untuk menikmati jalan ceritanya saja ketimbang ceriwis.

Selain kekocakan khas Aditya Mulya, hal asyik lain dari novel ini ada pada cara si penulis menfiksikan sejarah. Satu babakan dalam sejarah Majapahit dituliskan ulang dengan versi rekaannya sendiri. Rekaan ini kemudian dipaskan dengan tarikh sejarah yang kita kenal sehingga menjadi semacam cocoklogi yang enak dinikmati.  Konon, salah satu sebab berjayanya Majapahit tidak bisa dilepaskan dari keberadaan 9 orang istimewa yang disebut para arya. Merekalah yang setia mendampingi Raden Wijaya dalam perjuangannya mendirikan Majapahit. Penulis mereka ulang sejarah gelap Majapahit ini dengan menyebut sepuluh pusaka yang membantu Raden Wijaya naik takhta dan memenangkan hampir seluruh kepulauan nusantara. Bagian pusakanya agak-agak fantasi sih, tapi sosok-sosok arya itu benar-benar adalah para tokoh nyata dalam sejarah. Patih Nambi, Lembu Sora, dan tokoh-tokoh lain yang biasanya kita dengarkan sambil lalu dalam pelajaran sejarah dimunculkan ulang dalam karakter-karakter yang kuat. Kualitas ini yang mungkin bikin banyak pembaca bisa belajar sejarah secara lebih menyenangkan.

Banyak informasi untuk yang bisa kita dapatkan dari novel ini, di antaranya asal muasal dari sejumlah kata yang masih kita gunakan hari ini, semisal preman dan KUTANG. Dalam catatan kaki yang diberikan penulis, pembaca juga bisa mendapatkan informasi-informasi ringkas namun penting dalam sejarah nusantara. Walau semakin ke belakang, catatan kaki yang muncul lebih sering bikin ngakak ketimbang bikin paham sejarah. Walau ada embel-embel “Sebuah Komedi Sejarah” pada judul novel ini, nuansa fantasi dan sejarah lebih sering hadir. Keberadaan Jaka Kelana lebih sebagai selingan ketika ceritanya menjadi terlampau serius sejarah atau terlalu kental fantasinya. Saya juga agak merasa keberadaan Jaka Kelana cs ini digunakan sebagai penambal sejumlah bolong logika yang beberapa kali bertebaran di buku ini. Misalnya saja, ada adegan ketika kapal tercepat milik VOC yang dilengkapi meriam dan layar raksasa ternyata tidak mampu mengejar kapal phinisi yang ditunggangi Jaka cs.  Juga, adegan pembobolan kraton Mataram yang kayaknya receh banget. Tapi, sekali lagi, ini kan komedi sejarah. Jadi, lebih baik kita nikmati saja  humornya ketimbang pusing mikirin kurangnya.  

Wednesday, May 20, 2015

Weird Things Customers Say in Bookshop

Judul : Weird Things Customers Say in Bookshop
Pengarang : Jen Campbell
Tebal : 128 hlm (Kindle edition)
Tahun Terbit : 2012
Penerbit : Constable

14290063


CUSTOMER: Do you have any old copies of Dickens? 

BOOKSELLER: We’ve got a copy of David Copperfield from 1850 for £100. 
CUSTOMER: Why is it so expensive if it’s that old? 

Friday, September 12, 2014

Sabtu Bersama Bapak


Judul : Sabtu Bersama Bapak 
Penulis : Adhitya Mulya 
Penerbit : GagasMedia 
Tahun terbit : Juni 2014 
Cetakan : Pertama 
Tebal : 278 hlm 

ISBN : 979-780-721-5 



22544789


Bayangkan sebuah perpaduan antara buku parenting, sebuah novel karya Mitch Alboms, dan buku humor-galau-jomblo (yang lagi nge-hits saat ini) yang semuanya lalu dijadikan dalam satu buku tipis. Maka, resep unik itu akan menghasilkan buku baru berjudul Sabtu Bersama Bapak yang kece ini. Saat menemukan judul yang unik ini di salah satu toko buku online, saya sedikit banyak langsung teringat sama salah satu novel bestseller Mitch Albom yang judulnya Tuesday with Morrie. Hampir agak terlalu mirip bukan? Satu lagi kemiripan di antara kedua novel tersebut, dua-duanya sama-sama inspiratif, dan juga sama-sama bestseller. Tapi, mentang-mentang judulnya mirip, apa kemudian buku ini menjiplak karya Albom? Setelah saya membaca sendiri kedua buku tersebut, ternyata keduanya berbeda, masing-masing unik dengan caranya masing-masing. Dan, saya menyukai keunikan dalam buku Sabtu Bersama Bapak ini. Lalu, sebenarnya, buku ini tentang apa sih kok bisa heboh?

Sabtu Bersama Bapak berkisah tentang dua saudara, kakak-beradik bernama Satya dan Cakra yang keduanya terpaut usia 3 tahun. Bapak mereka meninggal karena kanker saat keduanya masih kecil dan belum mengerti apa itu hidup. Sang Bapak, yang divonis dokter hanya punya sisa waktu satu tahun lagi untuk hidup, memutuskan bahwa ia harus mencari cara agar dirinya bisa tetap mendampingi anak-anaknya meskipun dia sudah tidak ada. Maka, dia mengabadikan dirinya lewat rekaman kaset di handy cam. Melalui kaset video, sang Bapak merekam petuah – petuah yang telah dia pelajari mengenai kehidupan, mulai dari mencari cinta, menjadi suami yang harus bisa membahagiakan istri, tentang pentingnya perencanaan sebelum menikah, hingga pentingnya nilai IPK di atas 3. Rekaman-rekaman ini dibagi dalam kaset-kaset yang kemudian akan diputar seminggu sekali, setiap hari Sabtu bakda ashar.

Maka, ketika anak-anak lain seusianya sibuk ngemal atau pacaran ngak jelas di Sabtu sore, Satya dan Cakra malah asyik di rumah untuk menonton kaset rekaman dari mendiang ayah mereka. Melalui media kaset itulah sang Bapak mendidik dan menemani putra-putranya tumbuh besar. Model pengabadian diri lewat kaset rekaman ini sudah pernah saya baca dalam salah satu kumpulan kisah inspiratif di internet, tapi Aditya Mulya punya cara lain untuk membuat buku ini berbeda—walaupun tetap inspiratif—yakni dengan membully Cakra (dan juga para jomblo sebangsa dan setanah lapang). Sumpah deh, kaum jomblo dimanapun Anda berada bakal disentil habis-habisan oleh buku ini. Hanya saja, kesentilnya di sini itu kesindir sekaligus terhibur, bisa ngakak kepontal-pontal.

HATINYA-HATINYA!
JEROAN DIJUAL MURAH!
HATINYA, BU! MASIH SEGAR! HATI JOMBLO BU, LIHAT INI BANYAK BEKAS LUKANYA
HIDUPNYA BERAT INI, BU! (hlm 169)

Ceritanya, si Cakra ini sukses dalam pekerjaannya, tapi merana dalam percintaannya. Dalam usia 30 tahun, dia sudah punya rumah dan mobil sendiri, tapi boboknya belum ada yang menemani (halah). Sampai Satya udah punya anak tiga, si Cakra ini masih saja betah dengan kesendiriannya (gimana ngak betah, rumah sendiri, rezeki tercukupi, makanan enak menanti, PS keren peneman sepi). Sang Ibu sudah berulang kali mencarikan calon menantu, tetapi Cakra keukeuh adem aja, pengen konsen ke kariernya katanya. Hebohnya lagi, selain di-bully dalam setiap acara keluarga, Cakra ini juga di-bully sama bawahan-bawahan di kantornya. Heran saya, bawahannya Cakra ini bocor pada orang-orangnya, tapi sekaligus asik. Ini menunjukkan betapa Cakra sejatinya adalah seorang pimpinan yang merakyat, tidak gampang marah, asyik diajak bercanda (tapi dia jomblo wkwkwk). 

---

Pagi, Pak Cakra
Pagi, Wati
Udah sarapan, Pak?
Udah, Wati
Udah punya pacar, Pak?
Diam kamu, Wati

---

Pagi, Pak
Pagi, Firman
Pak mau ngingetin dua hal aja, Bapak ada induksi untuk pukul 9 nanti di ruang meeting
Oh, iya. Thanks. Satu lagi apa?
Mau ngingetin aja, Bapak masih jomblo
Enyah, kamu. (hlm 43)

Selang-seling kisah Cakra dan Satya di buku ini. Sementara Cakra sibuk mencari jodoh, Satya sibuk memikirkan ulang perannya sebagai suami dan ayah yang baik bagi ketiga anaknya. Rutinitas kerja yang klise, telah menjauhkannya dari istri dan ketiga anaknya secara fisik (dan akhirnya secara mental). Dalam kondisi inilah, Satya mendapatkan kembali motivasi dari rekaman kaset almarhum Bapaknya. Kita bisa belajar banyak tentang ilmu parenting dari kisah Satya ini, setelah sebelumnya dibuat ngakak total oleh kisah cinta Cakra yang mengenaskan itu. Membaca buku ini ibarat memakan kue lapis legit, satu lapisan manis, dan satunya lagi anyep, tapi sama-sama enak. Setelah tertawa-tawa sampai bocor membaca kisah Cakra (sambil ngaca), kita juga diajak belajar akan pentingnya makna hidup oleh kisah Satya dan ibunya.

“Ya Allah, berikanlah kepada Kang Saka, jodoh secepatnya.”
“AMIIIN.”
“Loh? Pak Ustaz.. doanya tentang rumah ini aja.”
“Oh. Baik.”
“Ya Allah, jadikanlah rumah ini, tempat yang Engkau restui. Tempat barokah-Mu turun, ya, Allah…”
“AMIIIN.”
“Berikanlah kepada rumah ini, wanita yang mengurusnya, istri untuk Kang SAka.”
“AMIIIN”

“Loh? Loh?? Loh!!?? Pak…”
"Ah, sudahlah..."

Terlepas dari kisah miris Cakra dan kematian Bapak mereka yang terlalu dini, bisa dibilang Satya dan Cakra adalah pria pria yang beruntung. Mereka memiliki Bapak yang perhatian, yang tahu pentingnya pendidikan dan perencanaan. Jadi, meskipun mereka hanya bisa “bertemu” Bapak mereka sekali seminggu, tetapi mereka adalah contoh anak yang sukses dibesarkan. Mandiri, mapan, dan membangun keluarga sendiri (kecuali si Cakra yang agak telah *ditampol Cakra), keduanya adalah tipe pria idaman para mertua. Meskipun banyak kalimat-kalimat yang kesannya mengurui dan sok sempurna di buku ini, tetapi kelincahan penulis mampu melarutkan kekakuan yang sering muncul saat kita membaca buku motivasi, terutama dengan membully si Cakra (*sambil ngaca ke diri sendiri). Sebuah buku yang unik, asyik, dan inspiratif. Patut dibaca bagi para pemuda yang ingin menjadi kesayangan calon mertua. Saya juga setuju dengan Dhila, tokoh Bapak dan Ibu di buku ini terlalu gaul untuk ukuran zamannya. 

Sebentar, jadi bagaimana nasib si Cakra? Tenang, seperti kata iklan, semua akan indah pada waktunya *kibas rambut

Friday, May 30, 2014

K-Pop Salah Gaul

Judul : K-Pop Salah Gaul
Penulis : @vjheru93 dan @shaunmbeesheep, @DNRivernate, Widuri Astarini P dan yetsa Gustaviano (Buseyettt ini nulis buku apa mau tawuran yak?)
Penyinting eh penyunting : @andri_Nastar
Sampul : Kicky Maryana
Cetakan : 1. 2013
Penerbit : Wahyu Media





                Saya jarang bisa tertawa saat membaca buku humor. Entah humornya yang terlalu garing atau humornya terlalu berat, kemungkinan besar sih humornya sudah pernah saya baca. Tapi, segaring-garingnya manusia, lebih garing tahu kemul.Segaring-garingnya saya, lebih garing  Kpop Salah Gaul. Awalnya iseng baca buku ini di kantor, tak taunya saya ketawa sendiri pas jam kerja. Lebih hebatnya lagi, saya kemudian memburu seri buku ini dan bahkan iseng cari tahu di googling siapa itu Yoona, Amber, Sulii, Boa, Taemin, Chang Min, Jesicca, dan Sungjae. Nggak tau kan mereka? Sama, setelah googling dan nonton videonya, saya juga susah membedakan orang-orangnya yang kayaknya serupa tapi tak berbeda itu. Yang jelas, saya suka F(x) #halah


Yoseob             : Ya Tuhan Bang. Gue terharu banget. Sekian lama  lost contact sama Nyokap akhirnya dia sms gue juga
Junhyung       : Sms apaan?
Yoseob             : Mama minta pulsa. (hlm 41)
                               
                Ngahahaha, saya nggak tahu siapa itu Yoseob dan yang mana Junhyung. Entah mereka potongan belah tengah atau gaya mandarin (ceile mandarin, 90-an banget), yang jelas saya langsung ketawa spontan membaca humor yang garing ini. Siapa itu Kris dan apa itu Lee Jon saya juga ngak peduli. Yang jelas ketika para penulis memparodikan bintang-bintang Kpop itu dalam acara “Termehek-mehek Salah Gaul” mau tak mau saya harus ngampet ketawa juga.

Kris: Park Lee atau Om Joon. Saya harus memanggil Anda dengan sebutan apa nih?
Lee Joon: Panggil saja saya, Cinta
Kris: Ah, nampan kayu! Kami akan bantu lo buat menemukan sesuatu yang berharga itu. Lu nggak perlu khawatir karena ada gue dan Tao yang akan membantu pencarianmu.
Lee Joon: Gue nggak sanggup kehilangan itu.
Tao: Sabar Joon. Orang sabar pant*tnya lebar, idungnya mekar #buset
Kris: Coba  ceritakan sedikit kisahnya. Biar kita bisa mulai ensiklopedi ini.
Tao: EXPEDISIIIIII … EXPEDISIIIII
Kris: Iya itu maksud gue. Ah berisik aja lo Tao
Lee Joon: Udah kalian berkelamin saja. Eh berkelahi saja. Ini saya mau cerita. Dengerin ya, duduk semuanya.
Tao: Ini udah kayak denger ceramah saja disuruh duduk.
Lee Joon: Waktu itu sih gue naik delman di situ tuh *tunjuk-tunjuk
Tao: Oh di situ *melet-melet
Kris: Di situ ya? *kedip kedip
GUE: *kejang-kejang*   (hlm 104 - 107)


Yang ini juga agak lucu (kalo kata saya sih):
Ilheon                  : Ntar Minggu, Gikwang ngajak gue flashmob nih dek.                  Mau ikut?
Sungjae                : Flashmob song apa?
Ilheon                  : poco-poco
Sungjae               : Yassalam ----- (hlm 42)

Sebenarnya, banyak guyonan garing dalam buku ini. Misalnya saja model humor-humor “dihatimu #eaaaa”. Tapi, karena pengemasannya beda, yakni menjerumuskan artis-artis Kpop yang manis-manis plastic itu (eh) ke dalam humor, jadinya sih ya agak lucu. Sebenarnya, humornya akan tambah lucu bila kita tahu siapa  orang-orang yang diparodikan dalam buku ini. Dan, ngebayangin mereka berbuat seperti dalam parodi ini memang sukses bikin ngakak. Salah satunya adalah Hyorin yang entah mengapa sering dipanggil “melon” dalam buku ini. Setelah saya googling ternyata … *keselek sapu*.

Hyorin                  : Kok mahal banget mba harga melonnya?
Mbk Kasir            : Lho, kan emang ibu belinya 3 buah
Hyorin                  : Gua beli cuma satu
Mbk Kasir            : *mikir keras* ----- (hlm 5) *maaf agak seksis*



Seenaknya sendiri ini para admin salah gaul, memplesetkan nama-nama boy band dan girlband Korea, yang malah bikin saya melongo ngak mudeng. Tapi, setelah saya tanya ke sodara yang Kpoper mutlak (haiyah bahasanya),  saya baru mudeng.  2 PM jadi Tupiyem, 2 am jadi Tuayam.


Joo, solois JYP yang cantik. Nama Panjang: Joooooooo. Fansclub: Sahabat Joo. Official lightstick: Abu-abu nyamuk kebon.



Begitulah dunia penerbitan. Sekarang ini, pembacalah yang lebih sering menentukan buku apa yang sebaiknya dicetak penerbit. Kesuksesan seri Kpop Salah Gaul sehingga bisa terus cetak ulang adalah karena kreativitas pada admin dan juga kejelian pihak penerbit dalam membidik pasar serta memanfaatkan tren yang baru. Industri kreatif memang terus bergerak, dan setiap kemungkinan bisa jadi merupakan celah keberhasilan selanjutnya. Seperti biasa, walau ini review buku humor tetap saja saya tidak bisa tidak berceramah di akhir review ck ck ck. 

sumber foto: smtsg.wordpress.com

Friday, May 23, 2014

Asoi Geboi Bohai, Cerita Jayus Mahasiswa Gokil

Judul : Asoi Geboi Bohai, Cerita Jayus Mahasiswa Gokil
Pengarang : Yudhi Herwibowo
Penyunting : Khun
Ilustrasi : Tka dan Michan
Tebal : 191 hlm
Cetakan : kedua, 2008
Penerbit: Gradien



                Satu lagi karya kocak seorang Yudhi Herwibowo yang berhasil membuat saya tergelak sekaligus sedikit iri (sedikit sih) karena tidak pernah merasakan gimana serunya menjadi anak kos. Buku ini menjadi salah satu dari beberapa buku lain tentang romansa kos yang sempat  booming tahun 2008 – 2009 karena memang isinya sangat mencerminkan ‘anak kos’, dan mengulas tanpa malu-malu segala kelakuan anak-anak kosan yang kadang bikin geleng-geleng muda. Perpaduan antara masa muda, waktu luang yang banyak (sebagai mahasiswa, kita punya banyak waktu luang untuk dinikmati sekaligus tidak merasa takut akan pandangan orang yang mengira kita menyia-nyiakan waktu), kondisi hidup jauh dari pengawasan orang tua; semua factor ini menjadikan anak-anak kos (terutama jika sudah rame-rame) menjadi “tega” berbuat yang kadang tak akan pernah terpikirkan oleh mereka ketika sendirian. Salah banyaknya ya adegan-adegan kocak yang dikisahkan dalam buku ini.

                Bab-bab dalam buku ini dibagi ke dalam empat bagian, masing-masing bab dikelompokkan sesuai tema besar yang akrab banget dengan anak kos. Yang pertama adalah tema tentang hantu. Sudah jamak kalau anak-anak kos ngumpul itu kalo ngak ngomongin hantu ya main kartu (sayangnya kebiasaan sosialisasi yang sangat legendaries ini mulai tergusur oleh gadget yang membuat anak muda sekarang jarang cekakak cekiki bersama kayak dulu). Di bagian pertama inilah Mas Yudhi mengisahkan aneka cerita horror yang dialaminya bersama teman-teman satu kosan, mulai dari mencoba melihat penampakan hingga misteri hantu penghuni pojokan kost yang setiap malam suka menggalau sendiri. Hiyya … ini buku humor apa buku seram sih? Tapi, cerita seram memang baru terasa seru dan entah mengapa malah semakin menakutkan saat di-share bareng teman-teman di malam yang gelap. Kesannya, takut-takut seru karena banyak temennya gitu.

                Bagian kedua adalah balada-baladi (halah bahasanya 80-an banget, Mas Yudhi wkwkwk) alias lika-liku (bahasamu juga 90-an gitu yon wkwkwk) alias aneka kisah (nah ini baru bahasa 2000-an) khas anak kos. Kalau zaman 90-an dulu, anak kos itu identik banget sama makan hemat di nasi kucing atau burjo (itu Jogja dink :p) sampai ada istilah intel (indomie telor) dan tante (tanpa telor). Kisah makan hemat dan aneka tips hemat ala anak kos inilah yang dibahas habis di bagian dua ini. Dalam hal ini, buku ini benar-benar mencerminkan apa yang dialami oleh anak kos. Meskipun saya bukan anak kos, tapi membaca bab 2 ini saya seperti mengalami sendiri pahit getir perjuangan anak kos (dan saya pun mendapatinya terjadi pada teman-teman kos saya waktu kuliah—kapan kamu kuliah Yon? Dulu bangetttt, udah lampauuu, past perfect tense aja pake bingits wkwkwk). Misalnya saja, suka merendam cucian kelamaan, berebutan memakai kamar mandi, rame-rame ikutan kuis berhadiah, orang gila di sebelah kosan, pinjem-pinjeman computer, dan lain-lain. Semua itu dikisahkan ulang sama Mas Yudhi dengan ada apanya apa, lebai dikit tetapi entah bagaimana nggak jayus (walau judul buku ini pake “jayus-jayusan”) dan terasa benar-benar terjadi. Penulis keren sih emang gini.

                Bagian tiga berkisah tentang c-i-n-t-a. Apa lagi sih hal yang bisa menyatukan anak kosan selain cinta dan pacaran? Sudah jamak banget kalau di kosan (kosan cowok apalagi) yang pemandangannya gersang karena isinya cowok semua sehingga penghuninya mendambakan pemandangan yang berbeda berupa bidadari-bidadari centil alias cewek. Sebagai anak muda, gelora jiwa mereka akan cinta sedang mencapai titik didih sehingga aneka hal tentang cewek dan pacaran menjadi tema yang selalu asyik untuk dibahas. Nah, pengen tahu gimana ceritanya ketika Mas Yudhi jatuh cinta? Ehem yuk baca bagian ini.

                Bagian terakhir buku ini khusus untuk 21+ alias membahas tentang kisah-kisah anak kos yang bertema “dewasa”. Selain hantu, topic paling mengasyikkan bagi anak kos (cowok lho) adalah ngomongin tentang seks. Satu hal yang pasti pernah dialami anak-anak kos adalah nonton film porno rame-rame. Jaman 90-an dulu baru sedikit mahasiswa yang punya computer pribadi sendiri, ada yang beruntung bisa membawa TV ke kosan, dan lebih beruntung lagi yang punya VCD. Maka, setiap hari tertentu diadakanlah iuran Selasa ceria yang uangnya kemudian digunakan untuk menyewa VCD porn*. Zaman dulu belum ada 3gp jadi bayangkan saja betapa malunya saat kita ke rental VCD dan ngomong ke Mbaknya: “Mbak, ada video unyil?” #eh. Saya ngakak total ketika di buku ini mas Yudhi menceritakan temannya yang sampai harus mengembalikan VCDnya karena isinya “negro” *guling-guling masuk kulkas.

                Aneka kisah di buku ini, baik ataupun buruk, niscaya pernah dialami oleh mereka yang sempat merasakan indahnya dunia nge-kos. Pahit getir, banyak canda tawa tapi juga kebersamaan dan kekompakkan sesama anak-anak perantauan. Tidak indah sering, banyak perjuangan itu pasti, tapi saya yakin (meskipun belum pernah mengalaminya sendiri)bahwa pengalaman nge-kos akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan dalam hidup seseorang. Terutama masa-masa 90-an dan 2000-an awal, ketika dunia belum secanggih dan sesesibuk serta seindividual seperti saat ini. Beruntunglah mereka yang merasakan nge-kos di masa itu, karena masa-masa itu memberikan banyak sekali pelajaran hidup tentang makna kemandirian, persahabatan, dan perjuangan, juga kebersamaan.


Thursday, November 28, 2013

Humor Guru : Ulangan Mendadak, Undian dan Jebakan



Judul: Humor Guru: Ulangan Mendadak, Undian dan Jebakan
Komikus : Pica dan Erroc
Alih Bahasa : Lia Adhiyani
Cetakan: Pertama, 2010
Penerbit : M & C Comics

sumber: bookopedia.com

                Lebih kuat dari Zorro, lebih berani dari Indiana Jones, dan dengan gaji lebih kecil dari James Bond.

                Di tengah maraknya demonstrasi antar-profesi jabatan yang marak akhir-akhir ini, sungguh menarik untuk menyelami salah satu bidang profesi yang kadang juga tak lepas dari demo ini: Guru. Para pahlawan tanpa tanda jasa, itulah julukan mereka. Mereka mendidik, mengajar, dan mewarnai paling tidak 12 tahun masa awal kehidupan kita (SD – SMA). Merekalah pembentuk karakter setiap kita setelah orang tua dan keluarga, dan dari mereka pula kita mendapatkan pengaruh serta wawasan yang pertama-tama.

              Sungguh disayangkan jika profesi ini tidak mendapatkan gaji serta tunjangan yang selayaknya. Jika kita masih menganggap sebelah mata profesi guru, dua komik Humor Guru karya Pica dan Erroc ini mungkin bisa membantu untuk menyelami lebih dalam tentang profesi guru yang tidak mudah. Dari tulisan di sampul belakang saja sudah bisa ditebak betapa beratnya tugas para guru, dalam hal ini guru negeri di Prancis (tentu saja membacanya sambil ngakak karena ini komik humor):

                Mereka menyusup ke dalam hutan yang menyesakkan napas yang disebut SMA untuk menghadapi kawanan murid-murid yang bersikap bermusuhan. Mereka harus tetap tampil berwibawa di antara ratuan lembar kertas ulangan yang harus diperiksa.

                Membaca Humor Guru, kita akan belajar melalui gambar-gambar yang lucu bahwa profesi guru itu tidak mudah untuk dijalani, memiliki tanggung jawab yang besar.Dan siapa bilang guru tidak ada lemburan? Bahkan mereka kadang harus begadang sampai jam 3 pagi untuk mengecek lembar ulangan siswa saat musim ujian. Belum lagi kelakuan para siswa di Prancis yang terkenal sangat bebas dan liberal. Tidak seperti di Indonesia, murid-murid SMA yang digambarkan di sini ibarat remaja-remaja tidak tahu adat yang bahkan berani melempar guru dengan buku, penggaris, dan benda-benda lain saat guru berbuat anarkhis, mengadakan ulangan mendadak misalnya. 

https://p.gr-assets.com/max_square/fill/books/1287889494/9564829.jpg
                sumber foto: Goodreads.com

Tokoh-tokohnya pun digambarkan dengan unik, tipikal usia mapan yang berdedikasi pada pekerjaannya. Walau harus menghadapi cobaan berat dari para murid, tapi mereka yakin bahwa pendidikan adalah utama, dan bahwa para guru inilah yang jauh lebih berperan membentuk karakter seorang murid, setelah orang tua. Humor Guru akan menyadarkan kepada kita—melalui kelakar-kelakar gambarnya—bahwa jargon “pahlawan tanpa tanda jasa” itu memang benar adanya.

             
           Kertasnya luks halus, dengan gambar berwarna. Goresan yang detail pada mimik dan karakter adalah keunggulan utama komik ini. Juga, setiap halaman menampilkan satu panel dengan cerita yang berbeda-beda, inilah yang paling membuat saya suka. Komik model tidak berseri seperti ini bisa dibaca berulang kali, saat waktu senggang, saat sedang butuh hiburan, saat ingin mensyukuri pekerjaan apapun yang kita jalani saat ini.  Panel-panel warnanya pun bersih, dengan warna-warni yang cerah dan segar, sangat nyaman untuk mata. Ini semua ditambah dengan gurauan-gurauan nampol yang bikin ngakak sekaligus bersyukur. Kondisi murid-murid di Indonesia  ternyata jauh lebih sopan kepada guru-gurunya ketimbang murid-muris SMA di Prancis yang slengeannya sudah kebangetan banget kayak di komik ini. 

Monday, December 3, 2012

123 Anti Kere #1 dan #2


Judul              : 123 Anti Kere #1 dan #2
Penyusun       : @in9a dan 3 Temannya
Penyunting    : Gina S. Noer
Sampul                      : Fahmi Ilmansyah
Desain dan ilustrasi     : Teguh Mashora
Cetakan                       : Pertama, Februari 2012                     
Penerbit                       : @_PlotPoint dan Bentang Pustaka 


123 Anti Kere (Seri 123, #1)




Ada banyak cara untuk hemat dan kaya, salah satunya dengan tertawa lewat buku ini. Boro-boro dapat tips keuangan ala motivator kenamaan, yang ada kita dibuat ngakak terpingkal-pingkal saat membaca buku ini. Dengan cara ini, dua tiga utang terlampaui. Tipsnya dapet, ngakaknya juga dapet. Lengkap deh pokoknya.

Jurus AntiKere #2. Bawa duit ngepas sebelum keluar rumah
            Di kala uang kamu habis dan kamu pengen beli barang, ngak jadi beli deh karena duitnya nggak ada. Alangkah pasnya kalau nggak Cuma duit aja yang nge-pas. Tapi baju, celana, dan tampang juga minimal harus pas-pasan. (AntiKere #2 hlm 3)

            Buku setengah komik ini rupanya menyasar anak-anak SMA dan kuliahan. Para penulisnya memiliki tujuan mulia untuk mendidik adek-adeknya agar bisa mengelola keuangan (baca: irit) tapi dengan cara-cara yang sebisa mungkin tidak mengurangi kadar keren ala anak muda zaman sekarang. Untuk remaja, mereka sih paling males kalau dinasehatin dengan gaya sok tau dan sok dewasa. Yang ada malah kita mendapat balasan: “Trus, guwe harus bilang WOW sambil salto gitu!” (Kapak mana inih kapak!)

123 Anti Kere (Seri 123, #2)

Jurus AntiKere #24. Jalan Kaki
            Mens sana in corpora sano! Yang artinya, jalan kaki adalah sebagian dari ngeceng! (AntiBego #1 hlm 30).

            Tuh kan, kelihatan banget kepiawaian para penulis dalam mengolah konsumen anak muda. Bagi anak muda zaman sekarang yang kemana-mana naik motor dan mobil, jalan kaki mungkin menjadi pilihan terakhir saat bepergian. Tapi, jalan kaki mau tidak mau merupakan jurus ampuh untuk menghemat uang transport dan bensin. Selain sehat dan murah, kita juga bisa sambil ngeceng alias tebar pesona di sepanjang jalan. Hemat dapet, ajang narcis dan hasrat “eksibionis”nya juga dapet. Jiahahaha.

            Masih ada banyak lagi jurus-jurus berhemat yang praktis dan sangat bisa diterapkan, di samping ramah dan tidak mengurangi kadar norak ala anak muda zaman sekarang. Kadang, jadi norak itu sesekali membanggakan sih cause nothing is perfect in this world. Di antara jurus-jurus tersebut antara lain: membeli tiket konser setelah dua tiga lagu pertama dimainkan, gaul di taman kota, menunggu musim sale, beli roti di bakery saat menjelang tokonya mau ditutup, hunting di kaskus.com, ambil katalog di supermarket, jangan belanja untuk menghilangkan stres, hindari dipalak tapi usahakan untuk selalu ditraktir, olahraga, dan kasih  hadiah dalam bentuk jasa bukan barang.

            Semua tips-tips tersebut dideskripsikan dengan santai dan tidak memaksa, bahkan kadang malah menjurus ke mana-mana. Yang awalnya mau membahas tentang jurus hemat dengan berolahraga eh ujung-ujungnya malah ngomongin gado-gado. Apa hubungannya coba? Ini masih ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi konyol yang menghiasi halaman-halamannya. Pokoknya, kalao mau cari cara hemat tapi tetep keren, buku ini cocok sebagai referensi—di samping sebagai penghilang stres dan buku humor.