Search This Blog

Showing posts with label English Edition. Show all posts
Showing posts with label English Edition. Show all posts

Sunday, March 22, 2015

World War Z, An Oral History of the Zombie War

Judul : World War Z, An Oral History of the Zombie War
Pengarang: Max Brooks
Cetakan: 1, mass market edition
Tebal : 420 hlm
Penerbit : Three Rivers Press

22049163

                Mungkinkah dibutuhkan dulu adanya suatu pandemi akbar yang menimpa seluruh dunia agar umat manusia bisa saling bersatu? Bisa jadi, buku ini membuktikannya.  Pertama kali semenjak berakhirnya Perang Dunia Kedua, umat manusia kembali dihantam oleh bencana yang hampir memusnahkan eksistensinya dari muka bumi. Bukan perang nuklir atau radiasi bom atom, bukan pula bencana tsunami atau letusan supervolcano. Ancaman itu berasal dari jazad renik yang menginfeksi manusia sehat, membunuhnya, dan kemudian, membangkitkan mereka menjadi mayat-mayat hidup yang selalu lapar. Perang kali ini adalah perang akbar melawan zombie.

                Tidak ada yang tahu darimana infeksi itu berasal, tapi dari cerita awal di buku ini, semuanya bermula dari “pasien nol” yang ditemukan di dusun New Dachang, di pedalaman Tiongkok. Seorang anak usia 12 tahun dirantai karena telah mengigit ibunya sendiri dan beberapa orang lain di sekitarnya. Luka gigitan itu sangat aneh, tidak ada darahnya, sementara korban menunjukkan gejala aneh, lebih parah dari korban penyakit rabies. Kurangnya kontrol lembaga kesehatan dan kacau balaunya birokrasi membuat virus ini menyebar, lewat kapal kargo, lewat pesawat, juga lewat pihak keluarga yang menutup-nutupi anggota keluarganya yang telah terinfeksi. Mirisnya, banyak yang digigit oleh mayat hidup yang dulunya adalah keluarga mereka sendiri, orang-orang terkasih. 

https://pmcdeadline2.files.wordpress.com/2013/07/world-war-z10__130614054107.jpg
Zombie-nya bisa lari kenceng ... ngeri euy

                Korban pun bergelimpangan. Mayat-mayat yang tergigit dan terinfeksi kembali bangkir dari kematian. Dengan kulit berlumuran darah, bibir sobek, tangan putus, dan bola mata yang tergantung keluar, mereka bergerombol mencari korban. Rasa lapar yang tak terpuaskan mengendalikan gerombolan itu, memangsa semua manusia yang ada di hadapannya. Serangan zombie kali ini cukup mengerikan karena zombie-zombie versi terbaru ini bisa bergerak dengan cepat, rasa lapar seolah menjadi kekuatan yang tak pernah habis. Mereka tidak akan berhenti sampai mendapatkan korbannya, mengigitnya, membunuhnya, dan memunculkan lagi zombie-zombie baru yang sama laparnya. Hanya ada satu cara untuk menghentikan mereka, yakni dengan menghancurkan otaknya. Tetapi, ketika pemerintah dunia menyadarinya, semuanya telah terlalu terlambat.

                Kepanikan melanda seluruh dunia—hingga memunculkan istilah Panik Besar—akibat  meluasnya wabah zombie di seluruh dunia. China, Amerika, Afrika, Israel, Korea Utara, Prancis, Islandia, Indonesia, Rusia, Australia; hampir seluruh kota-kota di dunia tumbang karena serangan zombie. Dalam kepanikan yang merajalela, para saksi mata mengisahkan tragedi, petualangan, perjuangan mempertahankan hidup, dan pelarian mereka demi menyelamatkan diri dan orang-orang yang disayangi. Dunia diambang kepunahan, jutaan nyawa melayang—hanya untuk bangkit lagi seabagi pasukan zombie yang kelaparan dan menuntut korban.

                Empat bintang tanpa ragu saya berikan untuk buku ini karena keunikan format “berceritanya”, juga karena detail geografis, etnologis, psikologis, medis, hingga sejarah yang melengkapi rincian penceritaan di dalamnya. Pengisahan dari sudut pandang orang pertama semakin memunculkan nuansa seram itu,seperti ketika kita tengah mendengar seseorang mengisahkan kisah-kisah seram. Format narasi dari WWZ ini agak berbeda dengan novel kebanyakan. Sebagaimana judulnya, buku ini adalah kumpulan hasil wawancara antara si penulis dengan para saksi mata tentang kengerian yang mereka alami selama berlangsungnya perang zombie. Terasa seperti buku kumpulan kesaksian, tapi ini novel fiksi tentu saja, jadi jangan khawatir.

                Awalnya, agak kagok juga membaca novel rasa nonfiksi seperti ini. Tapi, begitu kita menyimak cerita para saksi mata, secara tidak langsung, penulis membawa kita memasuki ceritanya. Semua kesaksian dikumpulkan dari penjuru dunia, dari setiap saksi mata atau saksi hidup yang mengalami sendiri peristiwa itu. Lebih kerennya lagi, wawancara dengan puluhan orang berbeda di buku ini begitu detail, masing-masing narasumber memiliki karakter-karakter yang berbeda, tentu dengan detail latar belakang dan bidang kemampuan yang berbeda. Benar-benar seperti mendengarkan puluhan orang yang berbeda tengah menceritakan versinya masing-masing. Beberapa diantaranya sangat spooky, ada yang lucu, juga miris. Paling menyeramkan menurut saya adalah kesaksian dari seorang otaku di Tokyo saat apartemen 19 lantainya dikepung oleh zombie zombie yang kelaparan.


http://onlinemovies.pro/wp-content/uploads/2013/10/World-War-Z-2013.jpg

                Kehebatan penulis juga tampak dalam caranya mengurutkan semua narasumber di buku ini. Pada bab-bab awal,  dia menyuguhkan wawancara dengan orang-orang yang menjadi saksi dimulainya wabah zombie. Di bagian tengah, mereka yang menyaksikan Kepanikan Besar, dan begitu seterusnya hingga dimulainya perang melawan para zombie ini. Sepertinya, kita seperti sedang membaca kumpulan cerita orang per orang, tapi secara keseluruhan, semua kisah itu membentuk semacam plot yang runtut, dan anehnya tidak membosankan. Semakin ke belakang, semakin penasaran dibuatnya.  Ingin mencari kisah zombie yang berbeda, atau mungkin sudah menonton versi filmnya yang dibintangi oleh Tom Cruise (atau Brad Pitt ya? Tolong saya ga bisa bedakan LOL!) dan sangat spooky secara visual itu? Coba baca juga versi novelnya, rasanya benar-benar berbeda! 


gambar: https://pmcdeadline2.files.wordpress.com/2013/07/world-war-z10__130614054107.jpg



Thursday, October 10, 2013

George Marvelous Medicine

Judul : George Marvelous Medicine
Pengarang : Roald Dahl
Ilustrasi : Quentin Blake
Halaman : 89 hlm
Terbit : 1991
Penerbit : Puffin


http://www.hiddentreasuresbookstore.com/wp-content/uploads/products_img/med.jpg

                “Fiery broth and witch’s brew
                Foamy froth and riches blue
Fume and spume and spoondrift spray
                Fizzle swizzle shout hooray
                Watch it sloshing, swashing, sploshing
Hear it hissing, squishing, spissing
Grandma better start to pray.” (p. 28)

                “This book is for doctors everywhere,” demikian bunyi kalimat pertama yang menyambut pembaca sebelum memasuki dunia George, dokter-anak luar biasa yang kisahnya begitu konyol dan mengocok perut. Semua berawal dari neneknya. George memiliki seorang nenek paling tidak  menyenangkan yang bisa dibayangkan seorang anak. Wanita tua itu pemalas, gemar sekali mencibir dan menyindir, tidak pernah puas atau bersyukur, sakit-sakitan, tidak bersemangat hidup namun sangat pemarah, dan suka menyuruh George seenaknya sendiri. George kecil yang tidak tahan akhirnya hendak melakukan pembalasan dendam kecil-kecilan untuk neneknya. Bukan pembalasan yang berbahaya, tapi cukup untuk membuat si nenek terkejut dan (diharapkan) tidak memarahi George lagi.

                Siang itu, beberapa waktu sebelum waktu pemberian obat untuk nenek, George memutuskan akan membuat obat untuk nenek hasil ramuannya sendiri. Kebetulan, di rumah saat itu hanya ada nenek dan dirinya. Maka, dicarilah berbagai bahan ajaib ala George. Ia masukan ke dalam ramuan obatnya bermacam benda di kamar mandi: shampoo, sabun, sikat gigi, semir; lalu aneka cairan pembersih, juga cat, terpentin, bensin, bibit kenari, bumbu kari, saos cabe,  pewarna rambut, dan semua bahan yang hanya bisa kita bayangkan. Begitu banyaknya campuran yang masuk sehingga George lupa mencatat urutan dan isi obat ajaibnya. Semuanya ia masukkan berdasarkan silogisme versi dirinya sendiri yang sangat polos dan bikin ngakak. Misalnya saat hendak memasukkan obat untuk sakit tenggorokan untuk kuda dalam campuran bahan obat:

                “Grandma may not have a hoarse throat, but she’s centainly got a sharp tongue. May be they’ll cure that instead.” (page 24)

                Muahahahahahaha *guling-guling di deket kuali
                Ketika akhirnya obat ajaib itu selesai—dan George menambahkan cat warna cokelat agar ramuan itu warnanya sama dengan warna obat Grandma—maka dimulailah keajaiban itu. Begitu meminumnya, tubuh Grandma mengalami kejutan-kejutan dan lonjakan-lonjakan aneh, asap keluar dari mulut dan lubang hidungnya, ia merasakan kepanasan sambil jungkir balik tak karuan. Keanehan berikutnya muncul, tumbuh sang nenek meninggi—bukan membesar—sampai kepalanya menembusa atap. Ia merasa lebih energik. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menjadi pusat perhatian.

                Sang ayah yang tiba belakangan begitu terobsesi pada obat George. Mereka kemudian mengujicobakannya ke seluruh binatang ternak, dan semua binatang itu pun membesar begitu meminum obatnya. Setelah itu, ia memaksa George untuk membuatnya lagi. Tapi, George lupa. Alih-alih jadi ramuan pembesar, obat baru itu memiliki efek lain yang tidak kalah mengejutkan. Gimana nasib George selanjutnya? Dan juga nasib sang nenek? Apakah seterusnya George berada dalam bayang-bayang Grandma yang kejam? Ending dari buku ini begitu konyol dan menyenangkan, jadi tenang saja karena tidak ada hal-hal suram di dalamnya.

                Pantas sekali jika Roald Dahl menjadi penulis favorit anak-anak. Ide-idenya simpel namun mengena. Tulisannya reflektif sekali mencerminkan alam pikiran seorang anak. Kreativitasnya—yang walaupun mungkin jayus jika kita adalah seorang pembaca yang cerewet—patut diacungi jempol. Saya merampungkan buku ini dengan tertawa-tertiwi puas karena kekonyolan di dalamnya. Tapi, karena ada beberapa bagian yang melibatkan dendam dan pembalasan, buku ini sebaiknya dibaca oleh anak usia 8 tahun ke atas, dengan bimbingan orang tuanya tentu saja. So, kesampingkan dulu segala hal tentang editing atau proofreading atau bolong logika atau kreativitas semu. Saat membaca karya-karya Dahl, menikmati jauh lebih menyenangkan ketimbang mengkritisi.  


Postingan resensi ini diikutkan dalam event baca bareng buku anak yang di-host oleh >>> Bacaan Bzee