Search This Blog

Showing posts with label 1001 Books. Show all posts
Showing posts with label 1001 Books. Show all posts

Friday, February 13, 2015

Lukisan Dorian Gray



Judul : Lukisan Dorian Gray
Penulis: Oscar Wilde
Penerjemah: Dion Yulianto (#uhuk)
Penyunting : Addin Negara
Tebal : 276 hlm
Cetakan: 1, Februari 2015
Penerbit: Laksana


                “Setiap kita memiliki sisi malaikat dan sisi setan dalam dirinya. (hlm 228)

            Adalah sebuah fitrah bagi setiap manusia untuk memiliki sifat baik dan buruk, dan dalam sepanjang kehidupannya yang fana, kedua sifat ini terus bergelut, saling mencoba mendominasi dan menjatuhkan, sampai salah satunya menang. Inilah anugrah sekaligus ujian yang diberikan kepada manusia: kebebasan untuk memilih. Hidup sudah memberikan jalannya, manusia sebagai sang pejalan diberi kebebasan untuk tetap berjalan lurus ataupun berbelok, dengan konsekuensi yang tengah menanti di setiap ujungnya. Karena, untuk setiap anugrah yang kita dapatkan, selalu ada ujian yang menyertainya. Dan, baik atau buruknya manusia dalam kehidupannya tergantung pada apakah dia lolos ujian itu atau tidak.

“Dia ini adalah makhluk indah tanpa pikiran, yang semestinya harus berada di sini saat musim dingin, ketika tidak ada bunga yang mekar untuk kita pandangi, dan saat musim panas, ketika kita membutuhkan sesuatu untuk menyejukkan pandangan.” (hlm 13)

Dorian Gray, seorang anak muda yang dianugerahi oleh kelebihan fisik berupa paras wajah yang luar biasa menawan. Semua orang terpesona melihatnya, begitu indah sampai-sampai cermin pun mungkin terpesona saat memantulkan wajahnya. Keindahan paras inilah yang kemudian turut menjerat Basil Hallward, sahabatnya, sehingga Basil pun memutuskan untuk melukis Dorian Gray agar keindahan itu tetap abadi di dalam kanvas. Namun, ujian itu datang dalam bentuk Lord Henry, sahabat Basil. Pria inilah yang kemudian datang dalam kehidupan Dorian yang semula polos, mencekokinya dengan pandangan-pandangan baru dan nyeleneh, hingga membuat anak muda yang polos itu berubah. Selamanya.

“Ada bencana dalam setiap kelebihan fisik maupun kelebihan intelektual, bencana yang telah menjatuhkan raja-raja lemah sepanjang sejarah.” (hlm 13)

Dari Lord Henry, Dorian tersadarkan—sayangnya dalam cara yang salah. Keelokan parasnya adalah asset yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Sejak pertama bertemu, Lord Henry sudah mencekoki anak muda tampan itu dengan petuah-petuah beracun, disampaikan dengan begitu halus hingga Dorian tidak menyadarinya. Ketampanan wajah akan memudar seiring usia, karena itu Dorian harus menggunakannya mumpung masih muda. Atau, dalam istilah zaman sekarang, lebih baik nakal di waktu muda, daripada nakal di hari tua. Karena saat masih muda, ada kelebihan-kelebihan fisik yang mendukung kenakalannya. Luar biasa racun memang Lord Henry ini.

“Menurutku, sungguh sebuah tragedi jika kau menyia-nyiakan anugrahmu. Karena masa muda hanya bertahan tidak lama—sungguh sangat sebentar.” (hlm 47)

            Racun Lord Henry semakin membuat Dorian galau. Lord Henry benar, ketampanannya hanya akan bertahan sebentar saja. Waktu akan mencuri sedikit demi sedikit dari dirinya. Ketika lukisan potret diri karya Basil itu selesai, Dorian baru menyadari betapa fana keelokan parasnya. Tanpa sadar, dia memohon dalam hati, entah kepada kekuatan apa, agar dirinya bisa tetap muda selamanya dan biarlah lukisan itu yang menua. Permohonannya terkabul. Lukisan potret Dorian Gray karya Basil Hallward menjadi semacam sihir pemantul usia. Perjalanan waktu tidak bisa mengubah fisik Dorian. Pemuda itu tetap muda dan tampan sebagaimana remaja, sementara sosok dalam lukisan terus menua. Sayangnya, lukisan itu ternyata juga melambangkan kondisi jiwa pemiliknya. Kebusukan Dorian Gray juga akan turut terekam di dalamnya.

“Baginya, lukisan potret itu adalah cermin yang paling ajaib. Tidak saja cermin itu menunjukkan bagaimana rupa raganya, tetapi juga wujud jiwanya. Dan ketika lukisan itu menua karena beban kehidupan, dirinya yang asli akan tetap muda dan bersemangat dalam kenikmatan kehidupan.” (hlm 142)

Sebuah novel yang diberikan Lord Henry kepada Dorian adalah awal dari bencana itu. Jadi, siapa bilang sebuah buku tidak akan berbahaya? Ada buku-buku yang berpotensi menimbulkan bencana besar ketika buku itu dibaca oleh mata yang salah. Dorian menjadi saksinya. Kehidupan hedonis dalam buku itu telah mempengaruhi Dorian sedemikian rupa, ditambah dengan keabadian paras mudanya membuat anak muda itu merasa bebas dari dosa. Ia pun terjatuh dalam lembah perbuatan tercela, melakukan berbagai hal-hal buruk dan bahkan membuat orang-orang di sekitarnya menderita. Jiwanya membusuk sementara paras mukanya tetap tampan sedemikian rupa. Sungguh, penampilan luar selamanya tidak selalu bisa dijadikan patokan dalam menilai seseorang. Hanya lukisan jiwa, kalaupun itu ada, yang akan menunjukkan sejatinya seorang manusia.

Bacalah karya ini, dan dirimu tidak akan pernah sama lagi.


Monday, April 7, 2014

Never Let Me Go (Jangan Lepaskan Aku)

       Judul: Never Let Me Go (Jangan Lepaskan Aku)
Pengarang: Kazuo Ishiguro
Penerjemah: Gita Yuliani K.       
Tebal : 360 hlm
Cetakan: pertama, 2011
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama




Di balik tembok Hailsham, sebuah sekolah asrama yang terletak di sudut terlupakan Inggris, anak-anak usia SD sampai SMP menjalani hari-hari mereka sebagaimana anak-anak seusia mereka. Para siswa itu membuat prakarya, melakukan olahraga, belajar matematika dan ilmu eksakta, menulis puisi, dan juga mulai mengenal cinta pertama. Sekilas, anak-anak di Hailsham tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain di sekolah-sekolah asrama Inggris. Kecuali satu hal, anak-anak Hailsham adalah anak-anak hasil teknik kloning yang organ-organ tubuhnya dipersiapkan sebagai donor bagi manusia-manusia di luar. Dengan kata lain, mereka adalah anak-anak yang dibesarkan untuk kemudian organ-organ tubuhnya diambil sebagai organ donor bagi manusia yang tengah sakit. Istilahnya, mereka dibesarkan untuk mendonasikan organ-organ tubuhnya.

Anak-anak ini hanya bisa tinggal di Hailsham hingga usia 13 tahun sebelum mereka dipindahkan ke sebuah rumah pertanian sebagai bentuk persiapan mereka sebelum membaur ke dunia luar. Pada usia tertentu, para donor yang sudah dewasa harus menjalani kewajiban mereka sebagai perawat untuk merawat donor-donor lain yang baru saja mengalami donasi pertama atau keduanya. Setelah itu, para perawat itulah yang harus menjalankan kewajibannya sebagai donor selanjutnya. Begitu seterusnya sampai anak-anak ini akhirnya meninggal setelah donasi ketiga atau keempatnya.

Never Let Me Go mengambil setting akhir tahun 1990-an, tetapi penggambaran suasananya yang futuristic membuat kita seolah membaca novel genre dystopian. Padahal, novel ini jauh lebih dalam dari itu. Sebuah dunia dimana orang-orangnya sudah sakit tapi mereka berhasil mengembangkan teknik pengkloningan manusia, dimana manusia-manusia hasil kloningan ini lalu dibesarkan untuk kemudian “dipanen” organnya.  Melalui Never Let Me Go, penulis berupaya mempertanyakan kembali, apakah manusia-manusia kloningan itu benar-benar “manusia” atau bukan. Atau dalam bahasa Kath, apakah anak-anak kloningan ini memiliki jiwa?

Ketika teknologi sudah mencapai paripurna, dan jawaban dari berbagai masalah kesehatan telah muncul di depan mata lewat teknik kloning manusia, muncullah masalah baru. Bagaimana posisi manusia-manusia kloningan tersebut?  Apakah mereka sepenuhnya manusia? Dan jikapun demikian, tidak terpikirkanlah oleh kita yang manusia biasa bagaimana perasaan manusia-manusia hasil kloningan tersebut? Yang sejak kecil sudah mengetahui bahwa kelak mereka harus mendonasikan organ-organ tubuh mereka, yang sudah harus bersiap-siap seandainya mereka gagal dalam donasi pertamanya (yang berarti mati), serta yang tidak memiliki pilihan apapun tentang masa depan mereka.

Kelihaian penulis benar-benar mengena telak karena dia menulis novel ini dari sudut pandang Kath, salah satu manusia kloningan tersebut. Dikisahkan bagaimana masa-masa kecilnya di Hailsham yang benar-benar tidak jauh berbeda dengan sekolah-sekolah lain. Bahwa dia juga jatuh cinta, bisa merasa iba atau gembira, dan kadang memiliki impian tentang masa depannya. Meskipun ia tahu bahwa tak ada pilihan masa depan bagi para manusia klonning. Kita diajak melihat lebih mendalam perasaan Kath, bisikan-bisikan di hati terdalamnya yang benar-benar tidak jauh berbeda dengan anak-anak remaja normal seusianya. Lantas, masihkan kita bersikukuh bahwa manusia kloning itu tidak memiliki jiwa?

Alur novel ini sangat lambat, kadang mengisahkan hal-hal simpel yang ternyata entah bagaimana malah  terus terbayang di benak para pembaca. Ini tentu berkat kepiawaian sang penulis yang mampu menghadirkan gejolak batin yang dialami oleh anak-anak hasil kloning ini. Bagaimana mereka berusaha menjadi normal sebagaimana anak-anak manusia lainnya, dan di waktu yang sama mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa memiliki masa depannya sendiri. Masa depan mereka telah ditentukan, yakni untuk menyerahkan tubuh dalam proses donasi. Perang batin inilah yang digelar habis-habisan oleh penulis, luar dan dalam sehingga pembaca bisa merasakan bagaim,ana tepatnya yang dirasakan anak-anak kloning itu. Di satu sisi, model penceritaan seperti ini sangat membosankan dan lambat banget, dengan fokus yang tidak beralih dari subjek yang itu-itu saja. Tapi di sisi lain, teknik ini menghadirkan sosok utuh dari anak-anak kloningan, luar-dalam, sampai-sampai pembaca bisa dibilang “bosan” saking detailnya deskripsi.

Novel ini konon juga masuk dalam 1001 buku yang harus dibaca sebelum mati. Entah apa yang membuat buku ini masuk dalam daftar tersebut tetapi memang temanya yang sangat menyentuh sisi kemanusiaan kita sebagai pembaca. Sebuah bacaan yang menurut saya layak dibaca sekali seumur hidup, tapi cukup satu kali saja, bukan untuk diulang soalnya gregetnya sudah hilang. Selamat membaca, dan semoga berhasil. 


Monday, September 30, 2013

Fahrenheit 451

Judul : Fahrenheit 451
Pengarang : Ray Bradbury
Alih Bahasa : Cecilia Ros
Editor : Allodia Yovita
Cetakan : 1,  2013, 232 halaman

Penerbit : Elex Media Komputindo





451 derajat Fahrenheit adalah temperatur yang mampu membakar kertas buku dan menghanguskannya. 


Karya klasik yang ditulis pada tahun 1950-an ini bersetting sekitar tahun 1980-an atau 1990-an menurut versi tahun 1950-an. Buku bergenre dystopia ini bercerita tentang sebuah masa di masa depan ketika mereka yang berkuasa memilih untuk menghancurkan buku dengan dalih membahagiakan manusia, karena beberapa buku dapat menyulap atau mengubah emosi manusia sedemikian rupa saat membacanya, dan oleh karena itu haruslah dimusnahkan dengan cara dibakar. Dunia dalam Fahrenheit 451 adalah dunia yang dikuasai oleh televisi dinding. Hampir setiap hari, manusia dikepung dan diberondong oleh tayangan visual yang menguasai 3 sisi dari 4 sisi dinding rumah mereka. Di kamar tidur, di ruang tamu, di dapur; semua dinding  adalah televisi.

Konon, rumah-rumah di seluruh dunia sudah dilapisi dengan plastik anti api pada saat itu sehingga kebakaran adalah hal yang sangat jarang terjadi. Karena tidak memiliki pekerjaan, para pemadam kebakaran yang tugasnya adalah untuk mencegah kebakaran pun dialihtugaskan untuk membakar, kali ini yang dibakar adalah buku-buku yang terlarang untuk dibaca seperti karya Shakespeare, Milton, dan Dante. Guy Montag adalah salah satu pemadam kebakaran itu. Kesukaannya membakar buku begitu meledak-ledak, sampai akhirnya ia bertemu seorang gadis aneh bernama Clarisse yang begitu bebas, serta seorang wanita tua yang rela membakar dirinya demi buku-bukunya. Kedua peristiwa penting inilah yang mengubah kehidupan sang pembakar buku itu.

“Pasti ada sesuatu di dalam buku-buku tersebut, sesuatu yang tidak bisa kita bayangkan, yang membuat seorang wanita tetap tinggal dalam sebuah rumah yang terbakar; pasti ada sesuatu di sana. Kau tidak mungkin tinggal kalau tak ada apa-apa.” (hlm 61)

Pertemuan Guy dengan Faber, seorang pensiunan profesor juga semakin menggelisahkan jiwanya. Ada sesuatu dengan buku, ada sesuatu yang salah dengan membakar buku. Dorongan dan kegelisahan itu begitu rupa sehingga sang pemadam kebakaran memutuskan untuk mengkhianati istrinya sendiri, mengkhianati atasannya sendiri yang begitu dendam terhadap buku (sekaligus cerdas dalam caranya sendiri), dan pada akhirnya, mengkhianati dunia yang telah terlebih dahulu mengkhianati dirinya sendiri dengan cara membakar buku-buku. Ia akan menyelamatkan dunia dengan menyelamatkan buku-buku itu.
***

                Sebuah buku yang cukup berat dibaca, bisa dibilang begitu. Entah karena penerjemahannya yang kurang luwes atau memang naskah aslinya yang sangat berbobot sehingga pembacaan buku ini cukup membuat pembaca berpikir (dan buku yang bagus memang biasanya seperti itu). Namun, buku ini istimewa sekali dalam menggambarkan masa depan. Mengesampingkan fakta bahwa karya klasik ini ditulis tahun 1950-an, pembaca yang tidak fokus akan menemukan betapa setting dalam dunia Fahrenheit 451 seperti tidak ada bedanya dengan dunia modern saat ini. Dan, apa yang diramalkan penulis sedikit banyak mulai mewujud nyata, seperti dunia yang sudah begitu dikuasai televisi hingga mobil-mobil berkecepatan tinggi yang menghilangkan gaya hidup aktif.


Sejatinya, Fahrenheit 451 adalah sindiran sekaligus kritikan bagi dunia yang mengalami gagap kebudayaan. Teknologi berkembang, semua menjadi serba instan dan cepat. Hal-hal seperti duduk-duduk dan saling bertegur sapa dengan tetangga, menikmati bau bunga liar, atau memandang bintang-bintang dianggap ketinggalan zaman. Lebih parahnya lagi, membaca dianggap lambat dan boros waktu, sehingga seluruh informasi harus ditayangkan via televisi. Saking pentingnya televisi, dinding setiap rumah adalah televisi itu sendiri. Ini seharusnya menyindir kita yang kadang memiliki sebuah televisi di setiap ruangan, tapi hampir-hampir tidak ada buku di dalamnya. Semoga, ramalan Bradbury tentang sebuah dunia yang membakar buku dalam Fahrenheit 451 ini tidak menjadi kenyataan. Karena, sebagaimana kata sang pengarang: “… Membaca adalah pusat kehidupan kita. Perpustakaan adalah otak kita. Tanpa perpustakaan, kau tidak memiliki peradaban.” (hlm 224).

Thursday, September 12, 2013

Seri Petualangan Oliver Twist

Judul     : Seri Petualangan Oliver Twist
Pengarang : Charles Dickens
Penyadur  : Dion Yulianto ....(uhuk)
Halaman   : 
Cetakan    : 1, Agustus 2013
Penerbit    : Laksana 


    Adalah sebuah kehormatan besar bagi saya karena dipercaya penerbit untuk menyadur salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Inggris Oliver Twist. Karangan terbaik Charles Dickens yang ditulis pada paruh pertama abad kesembilan belas ini telah begitu banyak diterjemahkan, disadur, dan diangkat dalam layar lebar karena muatan nilai-nilai kemanusiaan universal yang dikandungnya. Saya sebagai orang yg ditunjuk untuk menerjemahkan (lebih tepatnya menyadur) tentu sangat senang karena diikutsertakan dalam upaya menerbitkan kembali karya-karya klasik yang mengandung muatan-muatan nilai universal yang tak lekang ditelan zaman.
            Kisah tentang seorang anak yatim-piatu yang disia-siakan memang mudah menarik simpati siapa saja untuk membacanya. Tapi, Oliver Twist bukanlah sekadar cerita sedih untuk mencari simpati dan menguras air mata pembaca. Lebih dari itu, novel ini dengan indahnya memotret karakter terdalam dari manusia. Dalam Oliver Twist, tema-tema standar tentang ketekunan, kesabaran, dan kasih sayang saling berjalin dalam satu cerita bersama tema-tema kelam seperti ketamakan, rasa pengecut, dan kekejian. Dengan membaca novel ini, pembaca dapat belajar banyak mengenai karakter manusia yang terdalam, yang mungkin tertutupi oleh topeng bernama martabat atau kekuasaan.
           Bukan hal yang mudah untuk menyadur  naskah asli Oliver Twist yang dalam draf  asli berada dalam kisaran lebih dari 500 halaman menjadi sebuah naskah saduran utuh setebal 100-an halaman saja. Upaya penyaduran dilakukan untuk lebih memperkenalkan karya ini kepada para pembaca muda, yang rata-rata lebih memilih buku bacaan yang tidak tebal dan bisa selesai dalam sekali-dua kali duduk. Dalam prosesnya, tidak bisa dihindari akan ada banyak bagian dari cerita asli yang terpaksa dihilangkan. Saya sudah berupaya agar esensi kisah Oliver Twist yang asli tetap utuh. Upaya ini dilakukan dengan penggunaan tiga versi naskah Oliver Twist sebagai bahan perbandingan selama pengerjaan novel kecil ini.
            Beberapa potongan cerita asli dihilangkan, sejumlah tokoh  dalam draft novel asli juga tidak disertakan dalam buku ini. Begitu pula sejumlah komentar dan tanggapan penulis yang sering disisipkan oleh Dickens dalam naskah aslinya. Agar lebih lengkapnya, pembaca bisa menyempatkan diri untuk membaca versi utuh dari Oliver Twist yang versi terjemahan bahasa Indonesianya kini sudah diterbitkan oleh beberapa kawan penerbit di Indonesia.
          Akhirnya, tidak ada yang sempurna dari sebuah karya. Kami menyadari masih banyak sekali kekurangan dalam buku kecil ini. Semoga yang sedikit ini bisa menjadi sumbangan bagi perkembangan penerbitan kesusastraan dunia di negara kita. Semoga bermanfaat.

Rating: Karya ini bisa dibacakan untuk anak usia 5  - 15 tahun karena bahasanya yang ringan.

Tuesday, April 30, 2013

The Name of the Rose


Judul     : The Name of the Rose
Pengarang          : Umberto Eco
Penerjemah       : Nin Bakdi Soemanto
Sampul                 : Andreas K
Pengantar           : St. Sunardi
Tebal                     : 624 halaman
Cetakan               : 1, Maret 2008
Penerbit              : Bentang



                Jika ada sebuah buku yang bisa membunuh pembacanya, maka buku itu pastilah begitu luar biasa. Buku itu akan menyimpan rahasia dari awal peradaban dunia, dijaga dan dilindungi oleh labirin berkelok-kelok dan membingungkan, serta diletakkan sedemikian rupa agar para pembaca yang terlalu ingin tahu dirancang untuk menemui ajalnya. Ditulis dengan empat bahasa ilmu pengetahuan: seperempat bahasa Arab, seperempat Syria, seperepat Yunani, dan seperempat Aramaic (bahasa sang Yesus). Buku itu disimpanlah dalam sebuah ruang rahasia, finis Africae, yang disegel dan dikunci di kedua sisi, dan diperam oleh kesunyian bangunan biara Benekdiktin.

“Kadang-kadang bisa begitu. Buku-buku sering membicarakan buku lain…. Kalau membaca buku Albert, tidak dapatkah aku mempelajari apa yang mungkin dikatakan Aquinas? Atau kalau membaca buku Thomas, aku jadi tahu apa yang dikatakan oleh Averroes?” (hlm 334)

                Adalah William dari Baskerville dan muridnya, Adso dari Melk, dua orang novis Katholik yang ditugaskan menyelidiki terjadinya pembunuhan seorang tukang lukis halaman buku di sebuah biara Benekdiktin yang terpencil. Sesampainya di sana, mereka dikejutkan dengan kemegahan kompleks biara itu, bukan hanya karena bangunan gerejanya yang indah-berukir serta kaya akan pusaka luar biasa, namun juga karena keberadaan Aedificium nan menjulang tinggi. Aedificium ini bahkan menyimpan permata yang luar biasa: naskah, buku, dan perkamen kuno dari Yunani, Andalusia, Romawi, dan pelosok Eropa. Di dalamnya, mereka menemukan berbagai risalah kuno yang diduga telah lama hilang, buku-buk ilmu pengetahuan dari negeri kafir (kaum Arab/Saracen), serta lembar-lembar Injil yang paling pertama.

                Tapi, pesona dan misteri kedua keburu muncul. Sesosok rahib ditemukan tewas tenggelam dalam kuali penuh berisi darah, kemudian rahib lain ditemukan meninggal di bak penampungan air. Keduanya memiliki ciri yang sama, jari dan lidahnya menghitam. Hari keempat, sang ahli herbal ditemukan meninggal juga, ia dipukul sampai mati oleh seseorang. William dan Adsi harus bergegas menemukan siapa pembunuhnya, sebelum korban jatuh. Maka, malam-malam keduanya pun dipakai untuk menjelajahi labirin sekaligus perpustakaan misterius di Aedificum. Di antara pekatnya misteri dan suasana pembunuhan, keduanya menemukan berbagai buku berharga sebagai saksi kejayaan masa dari berbagai negara dan kerajaan. Di sana mereka menemukan simpanan naskah-naskah kuno yang pasti membuat para pustakawan pingsan: berbagai kitab ilmu karya Averoes, Ibnu Hikam, AL Khwarizmi, perkamen para ahli zaman Yunani kuno, hingga potrongan-potongan yang mungkin merupakan bagian dari Injil yang asli. Tapi, misteri harus dituntaskan karena pada hari kelima terjadi lagi pembunuhan dengan ciri yang sama. Hanya ada satu petunjuk, dan keduanya yakni bahwa ada sebuah buku yang menyebabkan kelima orang di biara tersebut mati.

Ketika akhirnya mereka berhasil memasuki ruang rahasia di labirin dan menemukan buku itu, semuanya telah terlambar. Korban keenam telah jatuh dan korban ketujuh adalah si penjahat yang mengorbankan dirinya demi kesalihan. Bencananya tidak cukup sampai disitu. Perpustakaan itu, segala buku-buku kuno yang tersimpan di dalamnya, tersuulut api dan membara dalam sebuah kebakaran agung yang tidak terpadamkan. Maka begitulah, lenyap sudah buku yang menjadi sumber dari semua malapetaka ini, yang keberadaannya telah meyakinkan seseorang untuk mengambil segala daya dan upaya yang ia bisa agar buku itu tidak jatuh ke tangan yang salah. Maka, dengan dalih melindungi kemurnia Kerajaan Kristus, ia dengan tega telah bermain racun dan melenyapkan jiwa-jiwa malang yang “terlalu ingin tahu.”
Membaca The Name of the Rose memang membutuhkan kesabaran ekstra.  Di antara peliknya misteri pembunuhan yang melatari novel ini, narrator harus bersaing dengan limpahan ilmu pengetahuan dari abad-abad lampau yang kini sudah tidak dikenal lagi. Buku ini begitu kental membicarakan banyak hal tentang Abad Pertengahan, mulai dari konflik antara Paus Yohanes dengan Raja Eropa, hingga berbagai jenis upacara keagamaan yang harus rutin dilakukan dalam sebuha biara Katholik. Ulasannya begitu  lengkap sehingga kadang membuat membacanya jenuh karena seperti membaca buku sejarah, walau di tangan seorang ahli sejarah atau antropologi buku ini ibarat harta karun kepustakaan tentang kehidupan Abad Pertengahan. 

Namun, plot dan jalan ceritanya sungguh menarik, begitu pula cara penalaran dan metode berpikir William yang cerdas, mengingatkan kita pada Holmes. Nuansa Katholik juga begitu kental, dengan segala kisah gerejawi dan sejarah kepausan, hingga seluruh santo dan Para Rasul yang banyak diselipkan dalam percakapan. Mmebutuhkan sebuah buku panduan bagi orang awam seperti saya untuk bisa mengetahui siapa si A dan siapa si B. Secara garis besar, ini adalah buku yang hebat, padat, dan penuh informasi.

“Kebaikan sebuah buku terletak pada keadaannya yang bisa dibaca.” (hlm 462)

Friday, August 31, 2012

Treasure Island


Judul   : Treasure Island
Pengarang    : Robert Louis Stevenson
Penerjemah  : Mutia Dharma
Penyunting    : Ida Wajdi dan Pujia Pernami
Isi                 : H. Mahfudin
Cetakan        : 1, April 2011 , 353 halaman
Penerbit        : Atria




“Lima belas orang dalam peti mati—Yo-ho-ho dan sebotol rum”

            Bicara tentang Pulau Harta Karun, tentunya tidak bisa dilepaskan dari bajak laut dan kapal layar bertiang tiga. Dan, kisah tentang para bajak laut yang menguasai lautan dan menyembunyikan harta hasil jarahan atau rampasannya di sebuah pulau terpencil mungkin adalah salah satu kisah petualangan yang paling disukai. Dalam hal ini, novel Treasure Island karya R.L. Stevenson ini adalah epiknya, sang inisiator pertama, karya yang muncul pertama kali dan menginspirasi kisah-kisah lainnya tentang bajak laut. 

          Jauh sebelum bajak laut muncul dalam Peter Pan atau dalam film Pirates of the Caribbean (yang dimainkan dengan sangat bagus sekali oleh Johnny Depp), R.L. Stevenson telah merangkai sebuah cerita hebat tentang bajak laut, yang kemudian disebut-sebut sebagai novel pertama tentang bajak laut. Begitu fenomenalnya novel ini, hampir-hampir tidak ada cerita sejenis lain yang dituliskan sebelumnya, sehingga menjadikan Treasure Island ini begitu dikenang dan masuk dalam 1001 Books to Read before Die.

            Treasure Island bercerita tentang petualangan seorang anak muda berusia 17 tahun bernama Jim Hawkins. Awalnya, Jim hanyalah seorang anak muda biasa yang berupaya membantu keluarganya mengelola penginapan bernama Admiral Benbow. Namun, jalan hidupnya berubah drastis ketika penginapan mereka mendapatkan kunjungan dari seorang bajak laut tua yang pemarah dan sangat menyeramkan bernama Billy Bones dengan bekas luka sayatan di wajahnya. Pria itu membawa serta sebuah peti misterius. Singkat cerita, Adminal Benbow kembali kedatangan tamu asing, bajak laut juga sehingga terjadi semacam pertumpahan darah yang menewaskan Billy. Dengan ketakutan karena penginapan mereka kini menjadi sasaran para bajak laut, Jim dan ibunya membuka peti milik Billy dan menemukan sebuah peta menuju harta karun. Peta inilah yang akan mengubah jalan hidup Jim untuk selamanya.

            Dengan membawa serta Dokter Livesey, Hakim Trelawney, dan Kapten Smollett, berangkatlah Jim untuk mencari harta karun itu dengan sebuah kapal layar bertiang tiga bernama HISPANIOLA. Dalam pelayaran itu, mereka membawa serta seorang tukang masak berkaki pincang, yang ternyata adalah Long John Silver, pimpinan bajak laut paling ganas di dunia. Suatu malam, tanpa sengaja, Jim mendengarkan pembicaraan rahasia antara Silver dan para awak kapal yang dibawanya, ternyata mereka semua adalah anggota bajak laut yang tengah menyamar dan hendak merencanakan makar untuk mengambil alih kapal. Jim tidak tinggal diam. Ia segera melapor pada Kapten Smollett dan kawan-kawan. Sehingga ketika akhirnya HISPANIOLA tiba di pulau harta, yakni Pulau Tengkorak, seluruh awak HISPANIOLA telah terbagi menjadi dua, yakni kelompok orang-orang jujur (dengan Jim di dalamnya) dan kelompok perompak mematikan yang dipimpin oleh Long John Silver. Dan kedua kubu pun saling bertarung. Pistol menyalak, mesiu meledak, sabetan pedang menyayat, dan pukulan terlontar.

            Untungnya, peta masih berada di tangan Hakim Trewlaney sehingga untuk sementara mereka ada di atas angin. Namun, Jim berbuat kesalahan dengan keluar dari kelompok dan kemudian berupaya mengambil alih HISPANIOLA. Dengan keberuntungan, ternyata ia berhasil mengalahkan salah seorang bajak laut dan kemudian mengemudikan HISPANIOLA ke ceruk tersembunyi. Namun, sial, ia tertangkap oleh komplotan Silver saat ia hendak mencari teman-temannya di pulau. Maka, dimulailah upaya besar-besaran untuk menjelajahi pulau demi menemukan harta karun legendaris itu. Apakah Jim berhasil selamat dari cengkraman Long John Silver? Apakah harta karun itu benar-benar ada? Siapakah orang asing yang telah tinggal di Pulau Tengkorak dan mengamati Jim? Silakan dibaca sendiri.

            Treasure Island memiliki cerita yang simpel, namun sangat khas dan berkarakter. Membaca buku ini, kita akan dibawa ke era penjelajahan samudra, saat dunia masih begitu luas dan tak terpetakan, saat mengarungi lautan adalah hal yang cukup berbahaya, dan masa-masa ketika bajak laut merajai lautan. Penggambaran karakter yang khas Inggris, lengkap dengan detail yang mampu menggambarkan masa-masa petualangan zaman lama, benar-benar dapat dijumpai dalam buku ini. Membacanya, kita seolah ikut merasakan hembusan angin samudra, gempuran ombak nan ganas, layar kapal yang terkembang, dan pemandangan Pulau Tengkorak yang muncul di ufuk. Pun, adegan perkelahian dengan pistol dan pedang, serta intrik-intrik yang diselingi dengan humor para gentleman khas Inggris, semuanya diramu apik dalam novel petualangan ini. Ilustrasi menawan di dalamnya juga cukup memberi kesegaran dalam lembar-lembar halamannya. Sungguh, buku luar biasa ini memang harus dibaca (paling tidak sekali) dan menjadi bagian dari perpustakaan pribadi maupun umum, agar semua orang bisa turut terlarut dalam petualangan besar di dalamnya. 

          Resensi ini dibuat dalam rangka posting bareng BBI dengan tema 1001 Books to Read before Die. Mari isi hidup dengan membaca!