Search This Blog

Friday, July 12, 2019

Merayakan Ibu dalam Kumcer Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya Melahirkan Seorang Ibu

Judul: Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya 
Melahirkan Seorang Ibu 
Pengarang: Benny Arnas
Tebal: 228 hlm
cetakan: Februari 2017
Penerbit: DIVA Press



"Dalam keterbatasannya, ibu adalah sebuah kelapangan yang sering kali disalahartikan dan baru disadari ketika anak telah dewasa. Pada akhirnya, mungkin hanya diperlukan satu alasan bagi setiap orang untuk melahirkan ibu dalam dirinya, untuk mengibu: kasih." (hlm. 30)

Meskipun sama-sama bertumpu pada realitas, ada perbedaan jelas antara fiksi dengan sekadar curhatan atau laporan kaku khas media berita. Rasa yang muncul dalam diri pembaca adalah yang membedakan ketika kita membaca sebuah karya fiksi dan sekadar tulisan kabar berita. Jika berita hanya sekadar memuaskan rasa ingin tahu, maka fiksi bergerak lebih jauh dari itu. Fiksi dapat memunculkan aneka rasa bagi pembaca. Kisah-kisah pendek tentang ibu di buku ini membuktikan ungkapan bahwa sastra tidak semata laporan berita yang berbunga-bunga. Dalam sembilan belas cerpen di buku ini, Benny Arnas mengambarkan sosok ibu dan kompleksitas hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. 


"Membaca ibu dan keibuan yang dihidupkan kembali melalui gugusan setebal tdk lebih daripada semalam suntuk ini adalah sebuah pengalaman menelusuri kembali pusat dan periferi sang medium antargenerasi," ungkap Bramantio dalam sambutannya untuk buku ini.

Dengan kata lain, membaca cerpen-cerpen di buku ini bikin kita kangen sama sosok ibu dengan segala warna-warni keibuannya. Dalam sembilan belas cerpen di buku ini, akan kita temukan beranekawarna sosok ibu, tapi tetap konsisten dengan kekhasan seorang ibu. Wajah-wajah ibu dengan segala doa, harap, dan cemasnya akan sang anak mewarnai lembar-lembar buku ini. Bikin baper dan kangen ibu pokoknya. Dalam sejumlah cerpen, sosok ibu dengan segala keagungannya dipaparkan sedemikian rupa lewat kisah-kisah yang menghangatkan hati. Pun, kita diingatkan untuk berbakti kepada ibu senyampang masih diberi kesempatan, jangan seperti anak-anak ibu di cerpen 'Jadilah Debu.' Tapi, ibu tetap sosok manusia yang sesekali pernah juga berbuat keliru. Cerpen 'Tuhan Maja' dengan begitu halus menggambarkannya tanpa melukai.

Simak juga pengorbanan seorang ibu yang selalu bersedia menerima anak-anaknya, sebagaimana adanya mereka, baik & buruknya, normal & tidaknya. Ibu ibarat pekebun. Dan, "pekebun yang baik takkan lelah melindungi bibit. Yang subur menyuburkan. Yang suci mensucikan." Selain berlimpahnya kisah-kisah tentang ibu, kumcer ini juga membawa rasa 'Sumatra' yang kental tapi segar, menyenangkan sekali dibacanya. Cara penulis berkisah pun elok nian, kalimat-kalimatnya jelas, lugas, pendek tapi tetap menyisipkan kekhasan sastrawan Melayu nan amboi. Baik dibaca urut dari depan ataupun selang-seling seturut kesukaan, buku ini menghadiahkan kepada pembacanya aneka cerita tentang sosok ibu. 

"Ibu takkan tergantikan. Tak seorang pun yang mampu mengusir dia dan kebersamaan kami dari hidupku." (hlm. 12

No comments:

Post a Comment