Search This Blog

Loading...

Thursday, December 15, 2011

Last Tango in Paris

Judul                      : Last Tango in Paris
Penulis                  : Robert Alley
Penerjemah         : Rama Romindo Utomo
Penyunting            : M.Sidik Nugraha dan Anton Kurnia
Cetakan                 : 1, Januari 2011
Penerbit                 : Serambi Ilmu Semesta



         Sungguh, saya juga bingung apa hikmah atau makna yang hendak disampaikan penulis melalui novel kontroversial ini. Sebagaimana pendapat para resensor sebelumnya yang juga rata-rata kebingungan mencari tahu maksud dibalik dituliskannya novel yang alurnya lebih mirip alur drama ini. Satu hal yang disepakati oleh banyak pembaca, buku ini mengandung—atau mungkin mengumbar—aneka adegan ranjang antara pria dan wanita yang tidak terikat oleh ikatan pernikahan. Disetting dengan latar belakang kota Paris tahun 1960-an atau 1970-an, The Last Tango in Paris seperti hendak menunjukkan bagaimana kehidupan dan prinsip kebebasan hidup yang terlalu over di benua Eropa dan Amerika Serikat pada kurun masa itu. Sebagaimana kita ketahui, masa-masa 60-an dan 70-an adalah masanya para hippies yang berorientasi untuk mencari dan menikmati kebebasan, yakni kebebasan yang sebebas-bebasnya, termasuk dalam urusan seks.

        Paul, seorang lelaki paruh baya dari Amerika Serikat secara tidak sengaja berjumpa dengan Jeanne, seorang gadis Perancis yang masih muda dan (sok) polos. Keduanya tidak saling mengenal identitas masing-masing—dan masih tidak saling mengetahui identitas dan alamat masing-masing hingga di bagian akhir buku ini. Justru ketiadaan identitas inilah yang ternyata mampu menyulut api gairah di antara keduanya. Tanpa nama, tanpa identitas, tanpa latar belakang keluarga atau status; ketiadaan itu malah memunculkan sebuah ranah bebas di mana keduanya bisa saling menyalurkan hasrat badani mereka secara leluasa, secara bebas. Mungkin, ketiadaan identitas itu juga yang membuat keduanya bisa melepaskan diri dari pakaian mereka. Untuk telanjang dari segala pernak-pernik status sosial dan ekonomi, telanjang dari gosip dan bisik-bisik dunia, telanjang yang benar-benar telanjang--termasuk telanjang secara fisik dibuka semuah...hiyahhhh.

        Paul yang tertekan, karena istrinya yang nekat bunuh diri tanpa alasan yang jelas, bertemu dengan Jeanne yang masih muda dan haus akan petualangan serta sensasi baru. Sebagai seorang pria yang kesepian, Paul menemukan surga lelaki pada tubuh Jeanne nan sintal.  Sebagai seorang gadis yang pacarnya kurang romantis, Jeanne menemukan sosok lelaki maskulin yang bisa memuaskan hasrat badaninya pada diri Paul. Dan, dalam sebuah apartemen sewaan rahasia, keduanya bergelut penuh nafsu dan saling memuaskan hasrat seksual mereka dengan mengabaikan segala bentuk institusi di luar sana. Dari sini, tampak bahwa penulis sepertinya ingin sekali menunjukkan pendobrakan atas nilai-nilai pernikahan dan sosial kemasyarakatan yang dirasa mengekang kebebasan manusia. Jika dipandang dengan kaca mata Timur, hal ini mungkin terkesan terlalu vulgar dan kebablasan. Namun, jika ditenggok latar belakang novel ini yang ditulis pada era tahun 1970-an, pembaca mungkin bisa sedikit memaklumi karena masa-masa tersebut tema kebebasan tengah dijunjung tinggi di generasi muda Eropa.

         Walaupun tidak sevulgar penggambaran adegan ranjang seperti yang digunakan dalam novel-novel romance seri HR yang banyak bermunculan dewasa ini, ketiadaan hubungan yang jelas antara kedua tokoh utama inilah yang cukup membuat novel ini beitu kontroversi. Tidak ada ikatan kekasih, apalagi suami istri, hanya sekadar pelampiasan suka sama suka di atas ranjang. Dalam beberapa halaman novel ini, digambarkan pula beberapa contoh hubungan seksual yang agak kebablasan, termasuk—maaf—lewat jalur belakang. Masih dengan unsur bingung namun penasaran, pembaca akan digiring untuk lebih mendalami karakterisasi dari Paul dan Jeanne: apa yang membuat mereka berperilaku demikian, bagaimana identitas masing-masing, dan bagaimana keadaan psikologis keduanya. Menurut saya, seks yang agak bertebaran dalam novel ini hanyalah penguat, hal yang hendak ditonjolkan mungkin sisi kedalaman psikologis dari kedua tokoh tersebut, terutama dengan latar kota Paris dan euphoria kebebasan tanpa batas yang tengah digambar-gemborkan kala itu.

                Ditulis dengan gaya memikat khas novel klasik yang kaya akan deskripsi tempat serta pemgembangan unsur psikologis yang mendalam, Last tango in Paris menawarkan sebuah episode singkat dari suatu era melalui kehidupan Paul dan Jeanne. Kita bisa mengetahui apa dan bagaimana paham kebebasan yang dianut masyarakat Eropa kala itu. Dari bagian akhir cerita, paling tidak penulis bisa menyisipkan sedikit kebijaksanaan atau imbauan tentang nilai-nilai yang seharusnya tetap dijaga dan tidak diacak-acak. Mungkin, versi film dari buku ini akan lebih mampu memukau imaji karena novel ini benar-benar membutuhkan tambahan visualisasi nyata untuk lebih mempertegas deskripsinya (hahaha). Karena versi film dari novel ini masuk dalam jajaran 100 film terpopuler sepanjang masa, mungkin pembaca bisa melengkapi pembacaan novel kontroversial ini dengan menonton filmnya. 

8 comments:

  1. wkwkwkw heboooh nih bukunya =D mungkin lebih heboh lagi filmnya ya? hihi...

    ReplyDelete
  2. Wah cuma 2 bintang ya? Jadi ragu mau coba. Modelnya kayak The Great Gatsby mungkin ya?

    ReplyDelete
  3. Aku uda donlot filmnya tapi blm ditonton, baru ngintip openingnya aja sih, beberapa menit yg lamban dan monoton serta ketiadaan subtitle jadinya bosen *close movie player * :P

    ReplyDelete
  4. @astrid: kalo kontroversinya si bikin heboh tp adegannya kurang dan kayaknya bykan di sensor wkwkw

    @Fanda: iya mirip2 gt mbak, tapi dua bintang kan menurut aku loh, bisa jd orang lain beza wkakakak aku cm binun ini novel maksudnya mau menyampaikan apa gt tp malah geje gini jdnya cukup 2

    ReplyDelete
  5. @Mbak Esti: mau donk mbak xixixi
    @Okeyszz: aduh aku baca ceritanya aja sudah bosen nih hehehe tp mungkom movienya lbh ngena

    ReplyDelete
  6. @yayun: wkwkwk masih kalah garang sama novel2 HR zaman sekarang kok, ini sih masih ada embel2 klasiknya mbak

    ReplyDelete